<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2697845295052805777</id><updated>2012-01-19T00:28:16.959-08:00</updated><category term='Info Kajian'/><category term='Fiqh'/><category term='Manhaj'/><category term='Biografi'/><category term='Muslimah'/><category term='Aqidah'/><category term='Download'/><category term='Fatwa'/><category term='Daurah'/><category term='Bahasa Arab'/><category term='Nasehat'/><title type='text'>Salafy UNM</title><subtitle type='html'>Mempererat Ukhuwah, Menebar Nasihat</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://salafiyunm.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2697845295052805777/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://salafiyunm.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2697845295052805777/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>salafy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01883732528935283225</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>246</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2697845295052805777.post-332832813232863717</id><published>2011-12-05T21:01:00.001-08:00</published><updated>2011-12-05T21:01:51.840-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqh'/><title type='text'>Hari Asysyuro, Keutamaan dan Hukum-Hukumnya</title><content type='html'>&lt;p&gt;Segala puji hanyalah milik Allah, sholawat dan salam semoga tercurah  atas penutup Rosul-Nya dan orang terbaik dari para makhlukNya Nabi kita  Muhammad &lt;em&gt;shalallaahu ‘alaihi wassalam&lt;/em&gt; beserta para pengikut dan sahabatnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kemudian setelah itu, dalam pembahasan ini kami akan memaparkan apa  yang dijalani oleh ahlussunah berupa sikap peneladanan dan pertengahan  terkait dengan hari ‘asysyuro’ serta apa yang dijalani oleh para ahli  bid’ah dan kesesatan berupa sikap ekstrim, kasar dan menyimpang dari  kebenaran. Dan juga apa yang dijalani oleh Rasulullah &lt;em&gt;shalallaahu ‘alaihi wassalam&lt;/em&gt; berupa agama yang lurus terkait dengan hari ini.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;strong&gt;Pertama&lt;/strong&gt; : Keistimewaan Asysyuro dan keutamaan berpuasa pada hari tersebut&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Telah datang (hadist/riwayat) tentang keutamaan Asysyuro bahwasanya ini adalah hari dimana Allah menyelamatkan Nabi-Nya Musa &lt;em&gt;‘alaihis salam&lt;/em&gt;  dan kaum mukminin yang bersamannya. Dia menenggelamkan Fir’aun dan  pengikutnya pada hari tersebut. Yaitu dari Ibnu ‘Abbas bahwa Rasulullah  tiba di Madinah lalu mendapati kaum yahudi berpuasa asysyuro maka  bersabdalah Rasulullah kepada mereka : &lt;em&gt;“Hari apa ini yang kalian berpuasa padanya ? ”&lt;/em&gt; Mereka berkata : &lt;em&gt;“Ini hari yang besar , Allah menyelamatkan Musa dan kaumnya padanya dan menenggelamkan fir’aun beserta pengikutnya”.&lt;/em&gt; Maka Musapun berpuasa pada hari tersebut sebagai rasa syukur, sehingga kami juga berpuasa. Lantas Rasulullah bersabda : &lt;em&gt;“Kalau begitu kami lebih berhak dan lebih utama terhadap Musa daripada kalian”.&lt;/em&gt; Maka Rasulullah pun berpuasa pada hari tersebut dan memerintahkan untuk berpuasa &lt;strong&gt;(HR.Al Bukhori No 2004 dan Muslim No 11330)&lt;/strong&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dan sungguh telah datang penjelasan tentang keutamaan puasa Asysyuro dalam hadist Abu Qotadah bahwa Nabi &lt;em&gt;shalallaahu ‘alaihi wassalam&lt;/em&gt; ditanya tentang puasa Asysyuro maka beliau bersabda : &lt;em&gt;“Menghapus dosa – dosa setahun yang lalu”&lt;/em&gt; dan dalam riwayat lain : &lt;em&gt;“Puasa Asysyuro, aku  berharap bahwa Allah akan menghapus dosa tahun yang sebelumnya”&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(HR Muslim no 1162).&lt;/strong&gt; Dan dalam hadist yang lain  : &lt;em&gt;“barang siapa yang puasa Asysyuro maka Allah akan mengampuninya dosa – dosa selama setahun ”&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(HR Al Bazzar, lihat : Mukhtashor Zawaid al Bazzar 1/407, dihasankan oleh Al Albani dalam Shohih at Targhib wa Tarhib 1/422).&lt;/strong&gt; Bahkan sesungguhnya puasa tersebut sebanding dengan puasa setahun sebagaimana dalam sebuah riwayat : &lt;em&gt;“itu adalah puasa setahun” &lt;/em&gt;&lt;strong&gt;(HR Ibnu Hibban 8/394,3631,&lt;/strong&gt; Syu’aib Al Arnauth berkata : “sanadnya sesuai syarat muslim”&lt;strong&gt;)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ibnu ‘abbas menggambarkan semangat Nabi &lt;em&gt;shalallaahu ‘alaihi wassalam&lt;/em&gt; untuk berpuasa padanya. Beliau berkata : &lt;em&gt;“Aku  tidak melihat Nabi begitu perhatian terhadap sebuah puasa yang beliau  utamakan dari yang lain, selain hari ini yaitu hari Asysyuro dan bulan  ini yaitu bulan Ramadhan ”&lt;/em&gt;.&lt;strong&gt;(HR Al Bukhori 2006)&lt;/strong&gt;.  Ibnu Hajar mengatakan : “Ini tidak berarti lebih mengutamakannya dari  pada hari arofah , karena sesungguhnya puasa ini (hari arofah -pent)  menghapus dosa dua tahun, dan teristimewakan dengan tambahan keutamaan  karena ada ibadah-ibadah, ampunan dan pembebasan (dari api neraka) yang  terjadi padanya. Kemudian sesungguhnya (puasa) ini diapit oleh bulan –  bulan harom sebelum dan sesudahnya dan juga puasa ini termasuk diantara  kekhususan syariat kita lain halnya dengan Asysyuro, sehingga puasa  ‘Arofah dilipat gandakan karena barokah Al Musthofa”  &lt;strong&gt;(Al Fath : 4/292)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;strong&gt;Kedua&lt;/strong&gt; : Tahapan-tahapan pensyariatan puasa Asysyuro&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Puasa Asysyuro melewati beberapa tahap pensyariatan (lihat Al Lathoif : &lt;strong&gt;102-109&lt;/strong&gt;).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tahap pertama : Bahwa Nabi &lt;em&gt;shalallaahu ‘alaihi wassalam&lt;/em&gt; pada awalnya berpuasa Asysyuro di mekah dan tidak menyuruh orang-orang untuk berpuasa padanya&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tahap kedua : Saat tiba di Madinah beliau menjumpai kaum yahudi  berpuasa pada hari tersebut. Maka beliaupun berpuasa dan memerintahkan  orang-orang untuk berpuasa pula. Sampai-sampai beliau menyuruh orang  yang sudah terlanjur makan pada hari itu untuk berpuasa pada sisa hari  tersebut. Kejadian itu terjadi ditahun kedua hijriyah, sebab beliau tiba  di Madinah pada Robi’ul Awwal&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tahap ketiga : Tatkala puasa ramadhan diwajibkan pada tahun kedua,  kewajiban puasa Asysyuro dihapus dan menjadi mustahab (sunnah). Jadi  perintah untuk puasa tersebut tidak terjadi kecuali hanya selama  setahun. &lt;strong&gt;(Al Fath 4/289) &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ada beberapa hadist yang mendukung (penjelasan) tentang tahapan-tahapan ini :&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Hadist ‘Aisyah &lt;em&gt;radhiyallaahuanha&lt;/em&gt; beliau berkata dahulu suku  Quroisy melakukan puasa Asysyuro dimasa jahiliyah. Dan Rasulullah juga  berpuasa. Lalu ketika beliau hijrah ke Madinah, beliau pun berpuasa dan  memerintahkan untuk berpuasa. Kemudian tatkala puasa ramadhon diwajibkan  beliau bersabda : &lt;em&gt;”Barang siapa yang ingin berpuasa (Asysyuro) maka silahkan,  barang siapa yang ingin (tidak berpuasa) silahkan dia tinggalkan ”.&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(HR Muslim 1125)&lt;/strong&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hadist Rubayyi’ bintu Mu’awwidz dia berkata : “Rasulullah &lt;em&gt;shalallaahu ‘alaihi wassalam &lt;/em&gt;mengutus (orang) pada pagi hari Asysyuro kepada kampung-kampung penduduk Anshor yang berada disekitar Madinah : &lt;em&gt;“Barang  siapa yang berpuasa diantara kalian maka hendaknya menyempurnakan  puasanya, dan barang siapa dipagi harinya berbuka maka hendaknya  berpuasa pada sisa harinya”&lt;/em&gt;. Maka setelah itu kami  berpuasa  (Asysyuro), dan melatih anak-anak kecil kami untuk berpuasa, kami  membawa mereka ke masjid serta membuatkan mereka mainan dari kapas. Maka  pergilah kami bersama mereka. Kalau mereka minta makanan kepada kami,  kami beri mereka mainan untuk membuat mereka lupa sehingga mereka bisa  menyempurnakan puasa.”. &lt;strong&gt;(HR Muslim 1136)&lt;/strong&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p&gt;Tahapan keempat : Perintah untuk menyelisihi yahudi dalam (tatacara) pelaksanaan puasa Asysyuro.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pada awalnya Nabi senang menyamai ahli kitab (yahudi dan nasrani)  pada hal-hal yang beliau tidak disuruh berbeda. (Sebagaimana riwayat  yang shohih dari Ibnu ‘abbas dalam &lt;strong&gt;Shohih Al Bukhori no 5917&lt;/strong&gt;)  Sampai pada akhirnya beliau diperintahkan untuk menyelisihi mereka dan  dilarang untuk menyamai mereka. Sehingga beliaupun bertekad untuk tidak  hanya berpuasa pada hari Asysyuro saja. Jadi  (bentuk) penyelisihan  beliau terhadap mereka berupa meninggalkan puasa Asysyuro secara  bersendirian. Ada beberapa hadist yang mendukung hal tersebut,  diantaranya :&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dari Ibnu ‘Abbas dia berkata : “Ketika  Rasulullah &lt;em&gt;shalallaahu ‘alaihi wassalam&lt;/em&gt;  puasa Asysyuro dan menyuruh berpuasa, mereka (para sahabat-pent)  berkata : “Sesungguhnya itu adalah hari yang diagungkan oleh yahudi dan  nasrani !”, maka Rasulullah &lt;em&gt;shalallaahu ‘alaihi wassalam&lt;/em&gt; bersabda: &lt;em&gt;‘Apabila tahun depan tiba insya Allah kita akan puasa tanggal 9’&lt;/em&gt;  ” Dia (Ibnu ‘abbas) berkata : “Ternyata tidaklah datang tahun  berikutnya sampai Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wassalam meninggal ”. &lt;strong&gt;(HR Muslim 1134) &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;strong&gt;Ketiga : &lt;/strong&gt;Tatacara menyelisihi yahudi dalam melaksanakan puasa Asysyuro&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tampak dari penjelasan yang lalu pada hadits-hadist –wallahu A’lam-  bahwa yang paling sempurna adalah puasa tanggal 9 dan 10, karena itulah  yang nabi bertekad untuk melakukannya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;strong&gt;Keempat : &lt;/strong&gt;Berbagai amalan orang-orang dihari Asysyuro menurut timbangan syariat&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Orang yang memperhatikan kondisi masyarakat sekarang akan melihat  bahwa mereka mengkhususkan Asysyuro dengan bermacam kegiatan diantaranya  :&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Puasa, dan telah kita ketahui sisi pensyariatannya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menghidupkan malam Asysyuro dan bersemangat untuk berlebih-lebihan  membuat makanan serta melakukan penyembelihan secara meluas untuk  mengambil dagingnya dan menampakkan keceriaan serta kegembiraan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Apa yang terjadi dibanyak negeri berupa perkumpulan-perkumpulan  (perayaan) yang berisi berbagai  simbol (upacara) tertentu yang  dilakukan oleh kaum Rofidhoh (Syiah) dan selain mereka.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p&gt;Supaya kita bisa mengetahui sejauh mana disyariatkannya amalan-amalan  tadi sehingga merupakan pendekatan diri kepada Allah, atau justru tidak  disyariatkan sehingga merupakan bid’ah-bid’ah dan ajaran yang  diada-adakan yang bisa menjauhkan seorang hamba dari Allah. Maka  sesungguhnya kita harus mengetahui dengan baik bahwa amalan yang akan  diterima oleh Allah memiliki beberapa syarat, diantaranya : hendaknya  orang yang beramal mengikuti Rasulullah &lt;em&gt;shalallaahu ‘alaihi wassalam&lt;/em&gt;  dalam (tatacara) amalannya. Apabila kita memperhatikan perbuatan  orang-orang dihari Asysyuro –sama saja yang terjadi dizaman sekarang  atau dahulu ataupun yang baru saja berlalu (lihat tentang bid’ah-bid’ah  Asysyuro : &lt;strong&gt;Al Madkhol karya Ibnu Al Haaji’ 1/208-209&lt;/strong&gt;)- maka kita akan melihat bahwa perbuatan tersebut bisa dikelompokkan menjadi beberapa bentuk :&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Yang masuk dalam kategori ibadah yang mana mereka mengkhususkan hari  ini dengan beberapa ibadah seperti sholat malam ‘asyuro, ziarah kubur  pada siang harinya, sedekah, memajukan atau mengakhirkan zakat dari  waktu wajibnya dengan tujuan agar bertepatan dengan hari Asysyuro,  membaca surat yang berisi penyebutan Musa pada sholat shubuh hari  Asysyuro. Maka pada perbuatan-perbuatan ini dan yang semisalnya terdapat  penyelisihan (terhadap syariat) dari sisi sebab amalan, yaitu  mengkhususkannya pada waktu yang pembuat syariat (Allah dan RosulNya)  tidak mengkhususkannya dengan amalan-amalan ini. Seandainya dia (pembuat  syariat) menghendakinya atau menginginkannya pasti dia akan memberikan  dorongan untuk melakukannya, sebagaimana dia telah menganjurkan untuk  berpuasa pada hari tersebut. Jadi perbuatan tersebut tidak diperbolehkan  dengan alasan membatasi waktu (mengkhususkan), meskipun pada asalnya  memang disyariatkan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Yang masuk dalam kategori adat kebiasaan yang biasa dilakukan pada  hari Asysyuro dalam rangka menyamakannya dengan hari raya, diantaranya :  mandi, memakai celak, memakai bukhur (sejenis kayu yang berbau wangi),  pesta makan dan minum, menggiling biji-bijian, memasak makanan khusus,  menyembelih untuk dimakan dagingnya, menampakkan keceriaan dan  kegembiraan. Dan sebagiannya ada berbagai kebiasaan yang tidak lepas  dari perbuatan mungkar yang jelek. Perbuatan-perbuatan ini pada mulanya  muncul dan terjadi sebagai bentuk reaksi balik terhadap acara  perkumpulan Rofidhoh (Syiah) yang mereka laksanakan sebagai wujud duka  cita atas terbunuhnya Al Husain. Yakni diantara nashibah atau nawashib  (mereka adalah orang-orang yang memancangkan permusuhan terhadap ahli  bait (keluarga nabi), berseberangan dengan Rofidhoh yang  berlebih-lebihan memperlakukan mereka (ahlul bait)) ada yang menampakkan  sikap gembira atas bencana yang menimpa orang lain dan suka cita, serta  mengada-adakan berbagai perkara yang tidak diajarkan agama pada hari  itu. Jadi mereka terjatuh dalam perbuatan menyerupai yahudi yang  menjadikan hari tersebut sebagai hari raya -sebagai mana yang telah  lalu-  (sebagaimana yang disebutkan Syaikhul Islam dalam kitabnya &lt;strong&gt;Iqtidho’ Ash Shirot Al Mustaqim 2/129 – 134&lt;/strong&gt;) Adapun  mandi, memakai celak dan menyemir rambut maka tidak ada satupun riwayat  yang benar tentangnya. Dan ketika Ibnu Taimiyah mengisyaratkan kepada  hadist-hadist yang diriwayatkan berkaitan dengan keutamaan Asysyuro  berliau berkata : “Semua ini adalah kedustaan atas Rasulullah &lt;em&gt;shalallaahu ‘alaihi wassalam&lt;/em&gt;, tidak ada (riwayat) yang benar tentang hari Asysyuro selain (riwayat tentang ) keutamaan berpuasa ”. (&lt;strong&gt;Minhaj As Sunnah An Nabawiyah 7/39&lt;/strong&gt;).  Dan dengan itulah diketahui bahwa syariat tidak mengkhususkan Asysyuro  dengan suatu amalan apapun selain puasa. Dan inilah jalan Rasulullah &lt;em&gt;shalallaahu ‘alaihi wassalam.&lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Sungguh telah ada bagi kalian pada diri Rasulullah shalallaahu  ‘alaihi wassalam suri tauladan yang baik bagi orang yang mengharapkan  (perjumpaan) dengan Allah dan hari akhir serta banyak mengingat Allah”&lt;/em&gt;  (QS. Al Ahzab : 12.) Batapa banyak terluput sikap mengambil teladan  kepada Nabi dan mengamalkan sunnah beliau dari orang-orang yang  tersibukan dengan berbagai bid’ah itu !&lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Acara-acara perkumpulan syi’ah (Rofidhoh dan Batiniyah) :&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Adapun berkaitan dengan acara-acara perkumpulan syi’ah maka  sesungguhnya tidak ada perbedaan perndapat tentang keutamaan Al Husain.  Yakni beliau termasuk ulama dari kalangan sahabat nabi dan pemimpin kaum  muslimin di dunia maupun akherat yang mana mereka terkenal dalam  ibadah, keberanian dan kedermawanan. Beliau juga putra dari putri  (Fatimah) dari manusia termulia &lt;em&gt;shalallaahu ‘alaihi wassalam&lt;/em&gt;.  Yang mana dia (Fatimah) adalah putri beliau yang paling utama.  Pembunuhan yang terjadi terhadap beliau (Al Husain) adalah sebuah  perbuatan mungkar lagi sangat jelek yang membuat sedih setiap muslim.  Dan sungguh Allah telah membalas orang-orang yang membunuh beliau (Al  Husain) sehingga Dia menghinakan mereka di dunia dan menjadikan mereka  sebagai pelajaran bagi yang lain. Yakni telah menimpa mereka berbagai  penyakit dan fitnah dan sedikit dari mereka yang selamat. Yang  sepantasnya ketika menyebutkan musibah Al Husain dan yang lain adalah  bersikap sabar dan ridho terhadap ketetapan Allah dan taqdirnya, dan  bahwa Dia memilihkan untuk hambanya yang terbaik kemudian mengharap  pahala musibah tersebut dari Allah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Akan tetapi apa yang diperbuat oleh kaum syi’ah berupa menampakkan  kesusahan dan kesedihan yang kebanyakannya sangat terlihat terlalu  dibuat-buat dan memberat-beratkan diri adalah sama sekali tidak baik.  Sungguh  dahulu bapaknya (Al Husain) yaitu ‘Ali, lebih utama darinya  juga telah terbunuh. Akan tetapi mereka (Syiah) tidak menjadikan  kematian beliau sebagai hari berkumpul (perayaan). Demikian pula  terbunuhnya ‘Utsman, Umar dan meninggalnya Abu Bakr yang mereka semua  lebih utama darinya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dan pimpinan para makhluk (Nabi) telah meninggal pula, tapi tidak  dilakukan pada hari kematian beliau seperti pada hari kematian Al  Husain. Membuat (perayaan-perayaan) bukanlah termasuk ajaran agama kaum  muslimin sama sekali, bahkan itu lebih mirip dengan perbuatan masyarakat  jahiliyah. (&lt;strong&gt;Al Fatawa&lt;/strong&gt; karya &lt;strong&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah 25/307-314&lt;/strong&gt;, dan &lt;strong&gt;Iqtidho Ash Shorot Al Mustaqim 2/129-131&lt;/strong&gt;)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ibnu Rajab berkata tentang hari Asysyuro : “Adapun menjadikannya  sebagai perayaan sebagaimana yang dilakukan kaum Rofidhoh dalam rangka  memperingati kematian Al Husain bin ‘Ali pada hari tersebut, maka hal  itu termasuk perbuatan orang-orang yang sia-sia usahanya di kehidupan  dunia sedangkan dia menyangka bahwa dia sedang berbuat baik. Allah dan  RosulNya juga tidak memerintahkan untuk menjadikan hari terjadinya  musibah terhadap para nabi dan kematian mereka sebagai perayaan, maka  bagaimana dengan orang yang tingkatannya di bawah mereka ? ”. &lt;strong&gt;(Lathoif Al Ma’arif 113)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dan yang perlu diperhatikan bahwa acara perkumpulan Rofidhoh pada  hari Asysyuro tidak berkaitan dengan satu prinsip islam pun, sedikit  ataupun banyak. Karena tidak ada hubungannya acara mereka dengan  selamatnya Musa, begitu pula puasa nabi. Justru kenyataannya mereka  memanfaatkan kesempatan untuk mengalihkannya kearah yang lain. Dan ini  termasuk suatu jenis penggantian terhadap agama Allah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dinukil oleh Saudari Ummu Zubair dari Libia&lt;/p&gt; &lt;p&gt;dari&lt;a href="http://www.sahab.net/home/?p=584"&gt; http://www.sahab.net/home/?p=584&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Diterjemahkan oleh : Abdul Qowiyy&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Murojaah oleh Al Ustadz Qomar ZA, Lc.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2697845295052805777-332832813232863717?l=salafiyunm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://salafiyunm.blogspot.com/feeds/332832813232863717/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://salafiyunm.blogspot.com/2011/12/hari-asysyuro-keutamaan-dan-hukum.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2697845295052805777/posts/default/332832813232863717'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2697845295052805777/posts/default/332832813232863717'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://salafiyunm.blogspot.com/2011/12/hari-asysyuro-keutamaan-dan-hukum.html' title='Hari Asysyuro, Keutamaan dan Hukum-Hukumnya'/><author><name>salafy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01883732528935283225</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2697845295052805777.post-4304768109517614590</id><published>2011-12-05T20:55:00.000-08:00</published><updated>2011-12-05T20:56:28.338-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Download'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Daurah'/><title type='text'>[Download] Daurah Bandung 1 Oktober 2011 bersama Al Ustadz Muhammad As Sewed</title><content type='html'>&lt;p&gt;Bismillah.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align:center;"&gt;&lt;a href="http://alklateniy.files.wordpress.com/2011/10/daurah-bandung-oktober-2011.jpg"&gt;&lt;img class="aligncenter size-medium wp-image-677" title="Daurah Bandung Oktober 2011" src="http://alklateniy.files.wordpress.com/2011/10/daurah-bandung-oktober-2011.jpg?w=300&amp;amp;h=239" alt="" height="239" width="300" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Alhamdulillah telah terlaksana daurah ilmiyah Islamiyah pada:&lt;/p&gt; &lt;ul&gt;&lt;li&gt;Hari / Tanggal :Sabtu, 3 Dzulqo’dah 1432 / 1 Oktober 2011&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tempat : Masjid Ma’had Adhwa’us Salaf, Bandung.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pemateri : Al Ustadz Muhammad ‘Umar As Sewed&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tema : Tidak Diterapkan Sunnah Hngga Terbukti Riwayah dan Diroyahnya&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;p&gt;Rekaman bisa didownload di sini:&lt;/p&gt; &lt;blockquote&gt; &lt;p style="text-align:center;"&gt;Sesi Pertama&lt;br /&gt;&lt;span style="text-align:left;display:block;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align:center;"&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/alklateniy/Dauroh/20111001_daurah_bandung/01-Ustadz_Muhammad_Assewed-Tidak_Diterapkan_Sunnah.mp3" target="_blank"&gt;Klik untuk Download | MP3 | 7.98 MB&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;/blockquote&gt; &lt;blockquote&gt; &lt;p style="text-align:center;"&gt;Sesi Kedua&lt;br /&gt;&lt;span style="text-align:left;display:block;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align:center;"&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/alklateniy/Dauroh/20111001_daurah_bandung/02-Ustadz_Muhammad_Assewed-Tidak_Diterapkan_Sunnah.mp3" target="_blank"&gt;Klik untuk Download | MP3 | 11.99 MB&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;/blockquote&gt; &lt;blockquote&gt; &lt;p style="text-align:center;"&gt;Sesi Tanya Jawab&lt;br /&gt;&lt;span style="text-align:left;display:block;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align:center;"&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/alklateniy/Dauroh/20111001_daurah_bandung/03-Ustadz_Muhammad_Assewed-Tidak_Diterapkan_Sunnah-Tanya_Jawab.mp3" target="_blank"&gt;Klik untuk Download | MP3 | 3.21 MB&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;/blockquote&gt; &lt;p style="text-align:left;"&gt;Barakallahu fiikum jami’an.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2697845295052805777-4304768109517614590?l=salafiyunm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://salafiyunm.blogspot.com/feeds/4304768109517614590/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://salafiyunm.blogspot.com/2011/12/download-daurah-bandung-1-oktober-2011.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2697845295052805777/posts/default/4304768109517614590'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2697845295052805777/posts/default/4304768109517614590'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://salafiyunm.blogspot.com/2011/12/download-daurah-bandung-1-oktober-2011.html' title='[Download] Daurah Bandung 1 Oktober 2011 bersama Al Ustadz Muhammad As Sewed'/><author><name>salafy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01883732528935283225</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2697845295052805777.post-8423884240765331791</id><published>2011-12-05T19:31:00.000-08:00</published><updated>2011-12-05T19:32:05.761-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Daurah'/><title type='text'>Rekaman DAURAH NASIONAL FIQIH &amp; USHUL FIQIH Makassar</title><content type='html'>&lt;p&gt;Bismillah. Alhamdulillah dengan kemudahan dari Allah, akhirnya kami bisa menyelesaikan proses upload rekaman lengkap &lt;strong&gt;Daurah Fiqih &amp;amp; Ushul Fiqih Makassar&lt;/strong&gt; yang diadakan pada tanggal &lt;strong&gt;16-24 Rajab 1432 H / 18-26 Juni 2011&lt;/strong&gt; di &lt;strong&gt;Ponpes As-Sunnah Makassar&lt;/strong&gt;.  Sebenarnya sejak ramadhan 1432H lalu kami ingin menguploadnya, tetapi  karena kesibukan dan beberapa kendala teknis, barulah kesempatan ini  kami bisa menyediakan downloadnya. Jazakumullahu khairan atas  kesabarannya.&lt;span id="more-796"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Seluruh file ini adalah copyright sepenuhnya dari &lt;strong&gt;Panitia Daurah Fiqih &amp;amp; Ushul Fiqih Makassar&lt;/strong&gt;, jadi &lt;span style="color: #0000ff;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;dibolehkan seluas-luasnya dalam bentuk apapun untuk menyebarkannya&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; selama &lt;span style="color: #ff0000;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;tidak ada unsur  komersial&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;. Bagi yang ingin memiliki &lt;strong&gt;DVD MP3&lt;/strong&gt;nya  dengan kualitas suara terbaik (total 46 File Mp3 &amp;amp; e-book materi  kitab yang dibahas), bisa membelinya langsung ke panitia di &lt;strong&gt;&lt;span style="color: #0000ff;"&gt;085299057243&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;. Untuk info selanjutnya, silahkan klik di &lt;a href="http://an-nashihah.com/?p=178"&gt;&lt;strong&gt;Penawaran DVD Rekaman Daurah Fiqih &amp;amp; Ushul Fiqih&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Adapun isi dari rekaman ini terbagi menjadi 4 :&lt;/p&gt; &lt;p&gt;1. &lt;strong&gt;Rekaman 100 Kaidah Ilmu Fiqih&lt;/strong&gt; (Rekaman Kaidah 1-100)&lt;br /&gt;2. &lt;strong&gt;Rekaman Kaidah Ushul Fiqih&lt;/strong&gt; (File No. 31-44)&lt;br /&gt;3. &lt;strong&gt;Taushiyah&lt;/strong&gt; (ba’da dhuhur) yang diisi oleh beberapa ustadz yang juga mengikuti Daurah Nasional Fiqih dan Ushul Fiqih ini.&lt;br /&gt;4. &lt;strong&gt;Rekaman tanya jawab&lt;/strong&gt; dari Peserta yang hadir di lokasi daurah dan yang mendengarkan via Radio Streaming &lt;strong&gt;www.an-nashihah.com&lt;/strong&gt; (termasuk rekaman khusus sesi tanya jawab di hari terakhir daurah yang berdurasi sekitar 1 jam 19 menit)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Untuk materi e-book, silahkan di download :&lt;/p&gt; &lt;p&gt;1. &lt;strong&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com//kajian/users/makassar/an-nashihah/Daurah-Nasional-Fiqih-Ushul-Fiqih-II/Materi/kawaid_alkulliyyah_.pdf"&gt;Kitab Al-Qawa’id Al-Kulliyyah wa Adh-Dhawabith Al-Fiqhiyyah&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;2. &lt;strong&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com//kajian/users/makassar/an-nashihah/Daurah-Nasional-Fiqih-Ushul-Fiqih-II/Materi/alwaraqat.pdf"&gt;Kitab Ushul Fiqih Al-Waraqat&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jazakumullahu khairan untuk &lt;a href="http://ilmoe.com/"&gt;&lt;strong&gt;ILMOE.COM&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;  yang telah menyediakan space untuk file hosting rekaman kajian daurah  ini. Bagi yang ingin mendownload kajian ilmiah islami lainnya, silahkan  kunjungi &lt;a href="http://ilmoe.com/"&gt;&lt;strong&gt;www.ilmoe.com&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt; untuk mendownloadnya secara gratis.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Daftar Download&lt;/strong&gt; (jika ada link yang error mohon untuk konfirmasinya via web &lt;strong&gt;&lt;a href="http://an-nashihah.com/"&gt;www.an-nashihah.com&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt; / &lt;strong&gt;&lt;a href="http://almakassari.com/"&gt;www.almakassari.com&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;, agar kami dapat memperbaikinya) :&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com//kajian/users/makassar/an-nashihah/Daurah-Nasional-Fiqih-Ushul-Fiqih-II/01.%20Muqaddimah%20Daurah%20Nasional%20Fiqih%20&amp;amp;%20Ushul%20Fiqih.mp3"&gt;01. Muqaddimah Daurah Nasional Fiqih &amp;amp; Ushul Fiqih&amp;gt;&lt;/a&gt; 11M&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com//kajian/users/makassar/an-nashihah/Daurah-Nasional-Fiqih-Ushul-Fiqih-II/02.%20Pendahuluan,%20Kaidah%201-4%20Pembagian%20Hadats,Pembagian%20Thaharah,Syarat%20Thaharah,Sunnah%20Wudhu.mp3"&gt;02. Pendahuluan, Kaidah 1-4 Pembagian Hadats,Pembagian Thaharah,Syarat Thaharah,Sunnah Wudhu.mp3&amp;gt;&lt;/a&gt; 13M&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com//kajian/users/makassar/an-nashihah/Daurah-Nasional-Fiqih-Ushul-Fiqih-II/03.%20Taushiyah%20Hari%201-Ustadz%20Khidir.mp3"&gt;03. Taushiyah Hari 1-Ustadz Khidir.mp3.&amp;gt;&lt;/a&gt; 7.0M&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com//kajian/users/makassar/an-nashihah/Daurah-Nasional-Fiqih-Ushul-Fiqih-II/04.%20Kaidah%205-6-7%20Kewajiban%20Wudhu,Pembagian%20Mandi,Hal%20Yang%20Tertahan%20oleh%20Sebab%20Haid%20dan%20yang%20Wajib%20Dilakukan%20ketika%20Haid.mp3"&gt;04. Kaidah 5-6-7 Kewajiban Wudhu,Pembagian Mandi,Hal Yang Tertahan oleh Sebab Haid dan yang Wajib Dilakukan ketika Haid.mp3&amp;gt;&lt;/a&gt; 12M&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com//kajian/users/makassar/an-nashihah/Daurah-Nasional-Fiqih-Ushul-Fiqih-II/05.%20Tanya%20Jawab%20Hari%20Ke-1.mp3"&gt;05. Tanya Jawab Hari Ke-1.mp3&amp;gt;&lt;/a&gt; 2.3M&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com//kajian/users/makassar/an-nashihah/Daurah-Nasional-Fiqih-Ushul-Fiqih-II/06.%20Kaidah%208-12%20Sunnah%20Mandi,%20Apa%20yang%20Keluar%20dari%20Kemaluan%20Laki-laki,%20Apa%20yang%20Keluar%20dari%20Kemaluan%20Perempuan,%20Beberapa%20Keadaan%20Perempuan%20yang%20Istihadhah,%20Perubahan%20Kebiasaan%20Haid.mp3"&gt;06.  Kaidah 8-12 Sunnah Mandi, Apa yang Keluar dari Kemaluan Laki-laki, Apa  yang Keluar dari Kemaluan Perempuan, Beberapa Keadaan Perempuan yang  Istihadhah, Perubahan Kebiasaan Haid.mp3&amp;gt;&lt;/a&gt; 11M&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com//kajian/users/makassar/an-nashihah/Daurah-Nasional-Fiqih-Ushul-Fiqih-II/07.%20Kaidah%2013-16%20Sesuatu%20yang%20Dipakai%20Bersuci,%20Syarat%20Wajib%20dan%20Sahnya%20Shalat,%20Pembagian%20Shalat%20Ditinjau%20dari%20Hukumnya,%20Pembagian%20Shalat%20Ditinjau%20dari%20Tata%20Cara%20Shalat.mp3"&gt;07.  Kaidah 13-16 Sesuatu yang Dipakai Bersuci, Syarat Wajib dan Sahnya  Shalat, Pembagian Shalat Ditinjau dari Hukumnya, Pembagian Shalat  Ditinjau dari Tata Cara Shalat.mp3&amp;gt;&lt;/a&gt; 15M&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com//kajian/users/makassar/an-nashihah/Daurah-Nasional-Fiqih-Ushul-Fiqih-II/08.%20Kaidah%2017-21%20Shalat%20yang%20Memiliki%20Khutbah%20&amp;amp;%20Dimulai%20dgn%20Apa%20Khutbah%20tsb,%20Pembagian%20Ibadah%20Dilihat%20dari%20Waktunya,%20Jenis%20Duduk%20dalam%20Shalat,%20Rukun-rukun%20Shalat,%20Kewajiban%20Shalat.mp3"&gt;08.  Kaidah 17-21 Shalat yang Memiliki Khutbah &amp;amp; Dimulai dgn Apa Khutbah  tsb, Pembagian Ibadah Dilihat dari Waktunya, Jenis Duduk dalam Shalat,  Rukun-rukun Shalat, Kewajiban Shalat.mp3&amp;gt;&lt;/a&gt; 11M&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com//kajian/users/makassar/an-nashihah/Daurah-Nasional-Fiqih-Ushul-Fiqih-II/09.%20Kaidah%2022-25%20Sunnah%20Shalat,%20Sebab%20Sujud%20Sahwi,%20Waktu%20Terlarang%20Shalat,%20Pembagian%20Shalat%20di%20Waktu%20Terlarang.mp3"&gt;09. Kaidah 22-25 Sunnah Shalat, Sebab Sujud Sahwi, Waktu Terlarang Shalat, Pembagian Shalat di Waktu Terlarang.mp3&amp;gt;&lt;/a&gt; 9.4M&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com//kajian/users/makassar/an-nashihah/Daurah-Nasional-Fiqih-Ushul-Fiqih-II/10.%20Taushiyah%20Hari%20Ke-2%20Ustadz%20Luqman%20Jamal.mp3"&gt;10. Taushiyah Hari Ke-2 Ustadz Luqman Jamal.mp3&amp;gt;&lt;/a&gt; 5.6M&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com//kajian/users/makassar/an-nashihah/Daurah-Nasional-Fiqih-Ushul-Fiqih-II/11.%20Tanya-Jawab%20Hari%20Ke-2.mp3"&gt;11. Tanya-Jawab Hari Ke-2.mp3&amp;gt;&lt;/a&gt; 3.6M&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com//kajian/users/makassar/an-nashihah/Daurah-Nasional-Fiqih-Ushul-Fiqih-II/12.%20Kaidah%2026-31%20Harta%20yang%20Wajib%20Zakat,%20Syarat%20Wajib%20Zakat,%20Hukum%20Dikeluarkannya%20Hewan%20Jantan%20dalam%20Zakat%20,%20Hukum%20Zakat%20pada%20Waqash%20%28antara%202%20Kewajiban%29,%20Yang%20Berhak%20dan%20Tidak%20Berhak%20Menerima%20Zakat,%20Pembagian%20Puasa.mp3"&gt;12.  Kaidah 26-31 Harta yang Wajib Zakat, Syarat Wajib Zakat, Hukum  Dikeluarkannya Hewan Jantan dalam Zakat , Hukum Zakat pada Waqash  (antara 2 Kewajiban), Yang Berhak dan Tidak Berhak Menerima Zakat,  Pembagian Puasa.mp3&amp;gt;&lt;/a&gt; 14M&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com//kajian/users/makassar/an-nashihah/Daurah-Nasional-Fiqih-Ushul-Fiqih-II/13.%20Kaidah%2032-35%20Syarat%20Wajib%20Haji,%20Tempat%20dan%20Waktu%20Haji,%20Larangan%20ketika%20Ihram,%20Rukun%20dan%20Kewajiban%20Haji.mp3"&gt;13. Kaidah 32-35 Syarat Wajib Haji, Tempat dan Waktu Haji, Larangan ketika Ihram, Rukun dan Kewajiban Haji.mp3&amp;gt;&lt;/a&gt; 14M&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com//kajian/users/makassar/an-nashihah/Daurah-Nasional-Fiqih-Ushul-Fiqih-II/14.%20Kaidah%2036-39%20Sumber-sumber%20Harta,%20Bentuk%20Aqad,%20Syarat%20Jual%20Beli,%20Syarat%20pada%20Jual%20Beli%20yang%20Dibolehkan%20dan%20Dilarang.mp3"&gt;14. Kaidah 36-39 Sumber-sumber Harta, Bentuk Aqad, Syarat Jual Beli, Syarat pada Jual Beli yang Dibolehkan dan Dilarang.mp3&amp;gt;&lt;/a&gt; 11M&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com//kajian/users/makassar/an-nashihah/Daurah-Nasional-Fiqih-Ushul-Fiqih-II/15.%20Kaidah%2040-42%20Pembagian%20Khiyar%20dalam%20Jual%20Beli,%20Syarat-syarat%20Jual%20Beli%20Salam,%20Penguat%20Hak-hak.mp3"&gt;15. Kaidah 40-42 Pembagian Khiyar dalam Jual Beli, Syarat-syarat Jual Beli Salam, Penguat Hak-hak.mp3&amp;gt;&lt;/a&gt; 8.8M&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com//kajian/users/makassar/an-nashihah/Daurah-Nasional-Fiqih-Ushul-Fiqih-II/16.%20Taushiyah%20Hari%20Ke-3%20Ustadz%20Shodiqun.mp3"&gt;16. Taushiyah Hari Ke-3 Ustadz Shodiqun.mp3&amp;gt;&lt;/a&gt; 5.2M&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com//kajian/users/makassar/an-nashihah/Daurah-Nasional-Fiqih-Ushul-Fiqih-II/17.%20Tanya%20Jawab%20Hari%20Ke-3.mp3"&gt;17. Tanya Jawab Hari Ke-3.mp3&amp;gt;&lt;/a&gt; 4.3M&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com//kajian/users/makassar/an-nashihah/Daurah-Nasional-Fiqih-Ushul-Fiqih-II/18.%20Kaidah%2043-48%20Tempat%20yang%20Disyariatkan%20Penahanan%20%28Al-Habs%29,%20Tanda-tanda%20Baligh,%20Apa-apa%20yang%20Ditujukan%20Padanya%20Jual%20Beli%20dan%20Hibah%20%20,%20Jenis%20Syarikat%20%28kerjasama%29,%20Syarat%20Ijarah%20%28sewa%20menyewa%29,%20Syarat%20Syuf%27ah.mp3"&gt;18.  Kaidah 43-48 Tempat yang Disyariatkan Penahanan (Al-Habs), Tanda-tanda  Baligh, Apa-apa yang Ditujukan Padanya Jual Beli dan Hibah  , Jenis  Syarikat (kerjasama), Syarat Ijarah (sewa menyewa), Syarat  Syuf’ah.mp3&amp;gt;&lt;/a&gt; 13M&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com//kajian/users/makassar/an-nashihah/Daurah-Nasional-Fiqih-Ushul-Fiqih-II/19.%20Kaidah%2049-53%20Tangan-tangan%20Kepemilikan,%20Hal%20yang%20Menyebabkan%20Kepemilikan,%20Jenis%20dan%20Hukum%20Barang%20Temuan,%20Syarat%20Waqaf,%20Rukun%20Wasiat.mp3"&gt;19.  Kaidah 49-53 Tangan-tangan Kepemilikan, Hal yang Menyebabkan  Kepemilikan, Jenis dan Hukum Barang Temuan, Syarat Waqaf, Rukun  Wasiat.mp3&amp;gt;&lt;/a&gt; 11M&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com//kajian/users/makassar/an-nashihah/Daurah-Nasional-Fiqih-Ushul-Fiqih-II/20.%20Kaidah%2054-57%20Sebab-sebab%20Mewarisi,%20Siapa%20Saja%20yang%20Mewarisi%20dan%20Pembagiannya,%20Hak%20Waris%20yang%20Telah%20Ditentukan%20di%20Al-Quran,%20Mewarisi%20secara%20Fardh%20atau%20Ta%27shib%20atau%20Keduanya%20secara%20Bersamaan.mp3"&gt;20.  Kaidah 54-57 Sebab-sebab Mewarisi, Siapa Saja yang Mewarisi dan  Pembagiannya, Hak Waris yang Telah Ditentukan di Al-Quran, Mewarisi  secara Fardh atau Ta’shib atau Keduanya secara Bersamaan.mp3&amp;gt;&lt;/a&gt; 9.6M&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com//kajian/users/makassar/an-nashihah/Daurah-Nasional-Fiqih-Ushul-Fiqih-II/21.%20Kaidah%2058-62%20Syarat-sah%20Nikah,%20Jenis-jenis%20Mahram%20dalam%20Pernikahan,%20Aib%20yang%20Dapat%20Menentukan%20Pilihan%20dalam%20Nikah,%20Syarat%20Ila%27,%20Pembagian%20Perempuan%20yang%20Menjalani%20Iddah.mp3"&gt;21.  Kaidah 58-62 Syarat-sah Nikah, Jenis-jenis Mahram dalam Pernikahan, Aib  yang Dapat Menentukan Pilihan dalam Nikah, Syarat Ila’, Pembagian  Perempuan yang Menjalani Iddah.mp3&amp;gt;&lt;/a&gt; 13M&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com//kajian/users/makassar/an-nashihah/Daurah-Nasional-Fiqih-Ushul-Fiqih-II/22.%20Taushiyah%20Hari%20Ke-4%20Ustadz%20Abu%20Ahmad.mp3"&gt;22. Taushiyah Hari Ke-4 Ustadz Abu Ahmad.mp3&amp;gt;&lt;/a&gt; 4.2M&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com//kajian/users/makassar/an-nashihah/Daurah-Nasional-Fiqih-Ushul-Fiqih-II/23.%20Kaidah%2063-68%20Jenis%20Membunuh,%20Syarat%20Qishash%20dan%20Pelaksanaannya,%20Anggota%20Tubuh%20Manusia%20,%20Syarat%20Halalnya%20Hewan%20Buruan%20dan%20Sembelihan,%20Jenis%20Kaffarah,%20Syarat%20Qadhi%20%28Hakim%29%20dan%20Mujtahid.mp3"&gt;23.  Kaidah 63-68 Jenis Membunuh, Syarat Qishash dan Pelaksanaannya, Anggota  Tubuh Manusia , Syarat Halalnya Hewan Buruan dan Sembelihan, Jenis  Kaffarah, Syarat Qadhi (Hakim) dan Mujtahid.mp3&amp;gt;&lt;/a&gt; 15M&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com//kajian/users/makassar/an-nashihah/Daurah-Nasional-Fiqih-Ushul-Fiqih-II/24.%20Kaidah%2069-74%20Dasar-dasar%20Hukum,%20Tempat-tempat%20Saksi%20Diminta%20Bersumpah,%20Orang-orang%20yang%20Wajib%20untuk%20Bersumpah,%20Keadaan%20Barang%20Sengketa,%20Sumber%20Persaksian,%20Syarat%20Diterima%20atau%20Tidaknya%20Persaksian.mp3"&gt;24.  Kaidah 69-74 Dasar-dasar Hukum, Tempat-tempat Saksi Diminta Bersumpah,  Orang-orang yang Wajib untuk Bersumpah, Keadaan Barang Sengketa, Sumber  Persaksian, Syarat Diterima atau Tidaknya Persaksian.mp3&amp;gt;&lt;/a&gt; 10M&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com//kajian/users/makassar/an-nashihah/Daurah-Nasional-Fiqih-Ushul-Fiqih-II/25.%20Kaidah%2075-79%20Bentuk%20Persaksian%20%28Ditinjau%20dari%20apa%20yang%20dipersaksikan%29,%20Keadaan-keadaan%20Sumpah,%20Bentuk2%20Bolehnya%20Mengambil%20Brg%20Org%20Lain%20tnp%20Izin%20Pemiliknya,%20Kepemilikan%20yang%20belum%20Sempurna,%20Sebab%20Berpisahnya%20Suami%20Istri.mp3"&gt;25.  Kaidah 75-79 Bentuk Persaksian (Ditinjau dari apa yang dipersaksikan),  Keadaan-keadaan Sumpah, Bentuk2 Bolehnya Mengambil Brg Org Lain tnp Izin  Pemiliknya, Kepemilikan yang belum Sempurna, Sebab Berpisahnya Suami  Istri.mp3&amp;gt;&lt;/a&gt; 11M&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com//kajian/users/makassar/an-nashihah/Daurah-Nasional-Fiqih-Ushul-Fiqih-II/26.%20Kaidah%2080-87%20Bentuk%20Kepemilikan,%20Keadaan%20Si%20Pemilik%20Dilarang%20Menggunakan%20Miliknya,%20Hukum%20seputar%20Perempuan,%20Pengguguran%20Hkmn%20Mati,%20Sesuatu%20yg%20tdk%20Diganti%20kalau%20Dirusak,%20Sebab2%20Tdk%20Blh%20Jima%27%20dgn%20Istri,%20Hukum%20Tanggungan.mp3"&gt;26.  Kaidah 80-87 Bentuk Kepemilikan, Keadaan Si Pemilik Dilarang  Menggunakan Miliknya, Hukum seputar Perempuan, Pengguguran Hkmn Mati,  Sesuatu yg tdk Diganti kalau Dirusak, Sebab2 Tdk Blh Jima’ dgn Istri,  Hukum Tanggungan.mp3.&amp;gt;&lt;/a&gt; 9.9M&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com//kajian/users/makassar/an-nashihah/Daurah-Nasional-Fiqih-Ushul-Fiqih-II/27.%20Taushiyah%20Hari%20Ke-5%20Ustadz%20Abdurrahim.mp3"&gt;27. Taushiyah Hari Ke-5 Ustadz Abdurrahim.mp3&amp;gt;&lt;/a&gt; 4.5M&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com//kajian/users/makassar/an-nashihah/Daurah-Nasional-Fiqih-Ushul-Fiqih-II/28.%20Tanya%20Jawab%20Hari%20Ke-5.mp3"&gt;28. Tanya Jawab Hari Ke-5.mp3&amp;gt;&lt;/a&gt; 3.2M&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com//kajian/users/makassar/an-nashihah/Daurah-Nasional-Fiqih-Ushul-Fiqih-II/29.%20Kaidah%2088-94%20Menempuh%20Salah%20Satu%20dr%202%20Mafsadat%20utk%20Menghlngkn%20Mafsadat%20yg%20lbh%20Besar,%20Brg2%20yg%20Penggunaannya%20Perlu%20Izin%20Hakim,Jenis2%20Brg2%20Dirusak%20yg%20hrs%20Ditanggung,Sebab%20Ganti%20Rugi,Jenis2%20Maksiat.mp3"&gt;29.  Kaidah 88-94 Menempuh Salah Satu dr 2 Mafsadat utk Menghlngkn Mafsadat  yg lbh Besar, Brg2 yg Penggunaannya Perlu Izin Hakim,Jenis2 Brg2 Dirusak  yg hrs Ditanggung,Sebab Ganti Rugi,Jenis2 Maksiat.mp3&amp;gt;&lt;/a&gt; 12M&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com//kajian/users/makassar/an-nashihah/Daurah-Nasional-Fiqih-Ushul-Fiqih-II/30.%20Kaidah%2095-100%20Hukuman%20yg%20dibayar%20dgn%20Harta,Keadaan%20dimana%20Diam=Berbicara,Menyegarakan%20Sst%20sblm%20Waktunya,Hukum%20yg%20Disandarkan%20kpd%20Sangkaan,Keyakinan%20dan%20Keraguan,%20Jenis2%20Kesamaran.mp3"&gt;30.  Kaidah 95-100 Hukuman yg dibayar dgn Harta,Keadaan dimana  Diam=Berbicara,Menyegarakan Sst sblm Waktunya,Hukum yg Disandarkan kpd  Sangkaan,Keyakinan dan Keraguan, Jenis2 Kesamaran.mp3&amp;gt;&lt;/a&gt; 9.9M&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com//kajian/users/makassar/an-nashihah/Daurah-Nasional-Fiqih-Ushul-Fiqih-II/31.%20Pendahuluan%20Ushul%20Fiqih%20dan%20Kitab%20Al-Waraqaat.mp3"&gt;31. Pendahuluan Ushul Fiqih dan Kitab Al-Waraqaat.mp3&amp;gt;&lt;/a&gt; 10M&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com//kajian/users/makassar/an-nashihah/Daurah-Nasional-Fiqih-Ushul-Fiqih-II/32.%20Definisi%20Ushul%20Fiqih%20secara%20Bahasa%20%28Al-Ushul,%20Fiqih,%20Hukum,%20Hukum%20Taklifiyah,%20Hukum%20Wadi%27iyah%29.mp3"&gt;32. Definisi Ushul Fiqih secara Bahasa (Al-Ushul, Fiqih, Hukum, Hukum Taklifiyah, Hukum Wadi’iyah).mp3&amp;gt;&lt;/a&gt; 8.7M&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com//kajian/users/makassar/an-nashihah/Daurah-Nasional-Fiqih-Ushul-Fiqih-II/33.%20Taushiyah%20Hari%20Ke-6%20Ustadz%20Nashr%20bin%20Abdul%20Karim.mp3"&gt;33. Taushiyah Hari Ke-6 Ustadz Nashr bin Abdul Karim.mp3&amp;gt;&lt;/a&gt; 6.5M&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com//kajian/users/makassar/an-nashihah/Daurah-Nasional-Fiqih-Ushul-Fiqih-II/34.%20Tanya%20Jawab%20Hari%20Ke-6.mp3"&gt;34. Tanya Jawab Hari Ke-6.mp3&amp;gt;&lt;/a&gt; 3.6M&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com//kajian/users/makassar/an-nashihah/Daurah-Nasional-Fiqih-Ushul-Fiqih-II/35.%20Anwa%27ulAhkam%20%28Jenis-jenis%20Hukum%29.mp3"&gt;35. Anwa’ulAhkam (Jenis-jenis Hukum).mp3&amp;gt;&lt;/a&gt; 13M&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com//kajian/users/makassar/an-nashihah/Daurah-Nasional-Fiqih-Ushul-Fiqih-II/36.%20Defenisi%20Ilmu,%20Jahl,%20Nazhr,%20Istidlal,%20Dalil,%20Dzhan,%20Syak,%20Ushul%20Fiqih.mp3"&gt;36. Defenisi Ilmu, Jahl, Nazhr, Istidlal, Dalil, Dzhan, Syak, Ushul Fiqih.mp3&amp;gt;&lt;/a&gt; 9.6M&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com//kajian/users/makassar/an-nashihah/Daurah-Nasional-Fiqih-Ushul-Fiqih-II/37.%20Aqsamul%20Kalaam-Al%20Amr%20%28perintah%29.mp3"&gt;37. Aqsamul Kalaam-Al Amr (perintah).mp3&amp;gt;&lt;/a&gt; 13M&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com//kajian/users/makassar/an-nashihah/Daurah-Nasional-Fiqih-Ushul-Fiqih-II/38.%20Nahyu-Aam.mp3"&gt;38. Nahyu-Aam.mp3&lt;/a&gt; 12M&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com//kajian/users/makassar/an-nashihah/Daurah-Nasional-Fiqih-Ushul-Fiqih-II/39.%20Khaash,%20Takhshish.mp3"&gt;39. Khaash, Takhshish.mp3&amp;gt;&lt;/a&gt; 10M&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com//kajian/users/makassar/an-nashihah/Daurah-Nasional-Fiqih-Ushul-Fiqih-II/40.%20Mujmal,%20Mubayyan,%20Zhahir,%20Muawwal,%20Al-Af%27al,%20Taqrir.mp3"&gt;40. Mujmal, Mubayyan, Zhahir, Muawwal, Al-Af’al, Taqrir.mp3&amp;gt;&lt;/a&gt; 12M&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com//kajian/users/makassar/an-nashihah/Daurah-Nasional-Fiqih-Ushul-Fiqih-II/41.%20Nasakh,%20At-Ta%27arudh%20Baynal%20Adillah.mp3"&gt;41. Nasakh, At-Ta’arudh Baynal Adillah.mp3&amp;gt;&lt;/a&gt; 11M&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com//kajian/users/makassar/an-nashihah/Daurah-Nasional-Fiqih-Ushul-Fiqih-II/42.%20Taushiyah%20Hari%20Ke-8%20Ustadz%20Azhari.mp3"&gt;42. Taushiyah Hari Ke-8 Ustadz Azhari.mp3&amp;gt;&lt;/a&gt; 4.4M&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com//kajian/users/makassar/an-nashihah/Daurah-Nasional-Fiqih-Ushul-Fiqih-II/43.%20Ijma%27-Qoulus%20Shahabiy-Al-Akhbar-Qiyas.mp3"&gt;43. Ijma’-Qoulus Shahabiy-Al-Akhbar-Qiyas.mp3&amp;gt;&lt;/a&gt; 20M&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com//kajian/users/makassar/an-nashihah/Daurah-Nasional-Fiqih-Ushul-Fiqih-II/44.%20AlHazhr%20wal%20Ibaahah,%20AlIstishaab,%20Tartibul%20Adillah,%20Syurutul%20Mufti%20wa%20Al-Mustafty,%20AlIjtihaad.mp3"&gt;44. AlHazhr wal Ibaahah, AlIstishaab, Tartibul Adillah, Syurutul Mufti wa Al-Mustafty, AlIjtihaad.mp3&amp;gt;&lt;/a&gt; 12M&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com//kajian/users/makassar/an-nashihah/Daurah-Nasional-Fiqih-Ushul-Fiqih-II/45.%20Taushiyah%20Hari%20Ke-9%20Ustadz%20Shobaruddin.mp3"&gt;45. Taushiyah Hari Ke-9 Ustadz Shobaruddin.mp3&amp;gt;&lt;/a&gt; 5.7M&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com//kajian/users/makassar/an-nashihah/Daurah-Nasional-Fiqih-Ushul-Fiqih-II/46.%20Tanya%20Jawab%20Hari%20Terakhir.mp3"&gt;46. Tanya Jawab Hari Terakhir.mp3&amp;gt;&lt;/a&gt; 10M&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2697845295052805777-8423884240765331791?l=salafiyunm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://salafiyunm.blogspot.com/feeds/8423884240765331791/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://salafiyunm.blogspot.com/2011/12/rekaman-daurah-nasional-fiqih-ushul.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2697845295052805777/posts/default/8423884240765331791'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2697845295052805777/posts/default/8423884240765331791'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://salafiyunm.blogspot.com/2011/12/rekaman-daurah-nasional-fiqih-ushul.html' title='Rekaman DAURAH NASIONAL FIQIH &amp; USHUL FIQIH Makassar'/><author><name>salafy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01883732528935283225</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2697845295052805777.post-5519027998178121423</id><published>2011-11-05T20:57:00.000-07:00</published><updated>2011-12-05T20:57:51.727-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Download'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Daurah'/><title type='text'>Waspadai NII (Daurah SMA ke 7, Mahad Daarus Salaf 25-26 Juni 2011)</title><content type='html'>&lt;p&gt;Bismillah..&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Alhamdulillah telah terlaksana daurah SMA ke 7 yang diselenggarakan di Ma’had Daarus Salaf, Surakarta.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pada hari ke 2, disampaikan pembahasan mengenai Sejarah NII yang disampaikan oleh &lt;span style="color:#ff6600;"&gt;&lt;strong&gt;Al Ustadz Ayip Syafruddin&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;, dan dilanjutkan dengan Kisah perjalanan Al Akh Abu Haidar yang dulunya adalah anggota NII KW 9.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Berikut rekamannya:&lt;/p&gt; &lt;blockquote&gt; &lt;p style="text-align:center;"&gt;Al Ustadz Ayip – Sejarah NII&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align:center;"&gt;&lt;span style="text-align:left;display:block;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align:center;"&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/alklateniy/Dauroh/20110626-daurah_sma-penjelasan_nii/01-Ustadz-Ayip-Sejarah-NII.mp3" target="_blank"&gt;Download | Mp3 | 8.83 MB&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;/blockquote&gt; &lt;blockquote&gt; &lt;p style="text-align:center;"&gt;Al Akh Abu Haidar – Kisah perjalanan menjadi anggota NII KW 9&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align:center;"&gt;&lt;span style="text-align:left;display:block;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align:center;"&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/alklateniy/Dauroh/20110626-daurah_sma-penjelasan_nii/02-Abu-Haidar-Kisah-Perjalanan-di-NII-KW9.mp3" target="_blank"&gt;Download | MP3 | 7.76 MB&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;/blockquote&gt; &lt;p style="text-align:left;"&gt;Barakallahu fiikum jami’an.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2697845295052805777-5519027998178121423?l=salafiyunm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://salafiyunm.blogspot.com/feeds/5519027998178121423/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://salafiyunm.blogspot.com/2011/11/waspadai-nii-daurah-sma-ke-7-mahad.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2697845295052805777/posts/default/5519027998178121423'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2697845295052805777/posts/default/5519027998178121423'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://salafiyunm.blogspot.com/2011/11/waspadai-nii-daurah-sma-ke-7-mahad.html' title='Waspadai NII (Daurah SMA ke 7, Mahad Daarus Salaf 25-26 Juni 2011)'/><author><name>salafy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01883732528935283225</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2697845295052805777.post-5138712722869277646</id><published>2011-05-16T18:06:00.000-07:00</published><updated>2011-05-16T18:08:32.593-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Daurah'/><title type='text'>Info Daurah Fiqih &amp; Ushul Fiqih (16-24 Rajab 1432 H / 18-26 Juni 2011)</title><content type='html'>&lt;p align="center"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, Times, serif;font-size:130%;"&gt;السلام عليكم ورحمة الله وبركاته&lt;br /&gt;الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله&lt;br /&gt;وبعد &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;&lt;strong&gt;DAURAH NASIONAL FIQIH &amp;amp; USHUL FIQIH&lt;br /&gt;  (Makassar, 16-24 Rajab 1432 H / 18-26 Juni 2011)&lt;br /&gt;  (Info Update :&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;11 Mei 2011 &lt;/span&gt;) &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color:blue;"&gt;[Kirimkan Artikel ini Ke Teman Anda]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; &lt;a href="http://almakassari.com/artikel-islam/aqidah/info-daurah-fiqih-ushul-fiqih.html/email/" title="Kirim Ke Teman" rel="nofollow"&gt;&lt;img class="WP-EmailIcon" src="http://almakassari.com/wp-content/plugins/wp-email/images/email.gif" alt="Kirim Ke Teman" title="Kirim Ke Teman" style="border: 0px none;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a href="http://almakassari.com/wp-images/daurah-fiqih-II.jpg"&gt;&lt;img src="http://almakassari.com/wp-images/daurah-fiqih-II-m.jpg" align="left" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Alhamdulillah,  segala pujian yang sempurna hanyalah milik Allah. Shalawat dan salam  semoga selalu terlimpah kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi  wassallam, keluarga, sahabat beliau dan orang-orang yang mengikuti  beliau hingga akhir masa. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;  InsyaAllah pada bulan Rajab 1432 H / Juni 2011 ini akan kembali diadakan &lt;strong&gt;Daurah Nasional Fiqih dan Ushul Fiqih &lt;/strong&gt; di kota Makassar.&lt;br /&gt;&lt;span id="more-782"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; Daurah ini insyaAllah akan dilakukan selama 9 hari, jadi bagi kaum  muslimin di luar makassar yang ingin mengambil faedah dari daurah ini  diharapkan bisa mempersiapkan dirinya untuk mengikuti daurah ini selama 9  hari. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Berikut ini adalah &lt;strong&gt;Info Daurah Nasional Fiqih dan Ushul Fiqih &lt;/strong&gt; :&lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;strong&gt;Tema :&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;  &lt;strong&gt;1. “&lt;span style="font-size:130%;color:#0000ff;"&gt;Al-Qawa’id Al-Kulliyyah wa Adh-Dhawabith Al-Fiqhiyyah&lt;/span&gt; ”&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;  &lt;strong&gt;100 Kaidah dalam Ilmu Fiqih karya Ibnu Abdil Hady -rahimahullah-. &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;2. “&lt;span style="font-size:130%;color:#0000ff;"&gt;Ushul Fiqih Al-Waraqat&lt;/span&gt; ”&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;  &lt;strong&gt;Pembahasan Ushul Fiqih karya Imam Al-Haramain -rahimahullah-. &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Pemateri : &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;  &lt;strong&gt;&lt;span style="color:#006600;"&gt;Al-Ustadz Dzulqarnain&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Daurah insya Allah akan dilaksanakan pada:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;  &lt;strong&gt; Waktu:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;  Tanggal 16-24 Rajab 1432 H / 18-26 Juni 2011&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tempat: &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;  &lt;strong&gt;Ma’had As-Sunnah Makassar&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;  Jl. Bajirupa Makassar &lt;/p&gt; &lt;p&gt;  &lt;strong&gt; Peserta : &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;  Ikhwan/Laki-laki&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Informasi Pendaftaran :&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;  Alamat : Ma’had As-Sunnah Makassar Lt. II, Jl. Bajirupa Makassar&lt;br /&gt;  Email : &lt;strong&gt;panitia @ an-nashihah.com&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;  &lt;strong&gt;&lt;span style="color:red;"&gt;Pendaftaran Online&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; : &lt;a href="http://an-nashihah.com/?page_id=147"&gt;&lt;strong&gt;http://an-nashihah.com/?page_id=147&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt; / &lt;a href="http://daftar.almakassari.com/"&gt;&lt;strong&gt;www.daftar.almakassari.com&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;  Info Website : &lt;strong&gt;www.an-nashihah.com&lt;/strong&gt; / &lt;strong&gt;www.almakassari.com&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Info : 085242920351 / 085299057243 / 085242144732&lt;/p&gt; &lt;p&gt;   Jazakumullah khairan atas perhatiannya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Panitia Pelaksana Daurah Fiqih Nasional&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2697845295052805777-5138712722869277646?l=salafiyunm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://salafiyunm.blogspot.com/feeds/5138712722869277646/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://salafiyunm.blogspot.com/2011/05/info-daurah-fiqih-ushul-fiqih-16-24.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2697845295052805777/posts/default/5138712722869277646'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2697845295052805777/posts/default/5138712722869277646'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://salafiyunm.blogspot.com/2011/05/info-daurah-fiqih-ushul-fiqih-16-24.html' title='Info Daurah Fiqih &amp; Ushul Fiqih (16-24 Rajab 1432 H / 18-26 Juni 2011)'/><author><name>salafy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01883732528935283225</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2697845295052805777.post-7917260549198453008</id><published>2011-04-03T20:08:00.000-07:00</published><updated>2011-04-03T20:10:00.625-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Download'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Daurah'/><title type='text'>Rekaman Kajian Ilmiyah Islamiyah 3 Hari di kota Bandung</title><content type='html'>DOWNLOAD REKAMAN KAJIAN DAUROH 3 HARI DIBANDUNG :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bersama Al Ustadz Dzulqarnain bin Muhammad Sunusi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com.s98986.gridserver.com/kajian/users/bandung/Dauroh-Bandung/Daurah-3-Hari-Ustadz-Dzulqarnain/"&gt;http://statics.ilmoe.com.s98986.gridserver.com/kajian/users/bandung/Dauroh-Bandung/Daurah-3-Hari-Ustadz-Dzulqarnain/&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://adhwaus-salaf.or.id/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2697845295052805777-7917260549198453008?l=salafiyunm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://salafiyunm.blogspot.com/feeds/7917260549198453008/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://salafiyunm.blogspot.com/2011/04/rekaman-kajian-ilmiyah-islamiyah-3-hari.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2697845295052805777/posts/default/7917260549198453008'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2697845295052805777/posts/default/7917260549198453008'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://salafiyunm.blogspot.com/2011/04/rekaman-kajian-ilmiyah-islamiyah-3-hari.html' title='Rekaman Kajian Ilmiyah Islamiyah 3 Hari di kota Bandung'/><author><name>salafy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01883732528935283225</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2697845295052805777.post-6747665124053919305</id><published>2011-02-15T19:04:00.000-08:00</published><updated>2011-02-15T19:05:07.897-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aqidah'/><title type='text'>Inilah 22 Argumen Orang-Orang yang Membolehkan Perayaan Maulid Tanggal 12 Robi’ul Awwal Beserta Bantahannya</title><content type='html'>&lt;p align="center"&gt;&lt;strong&gt;Oleh: Al-Ustadz Abu Muawiah&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Orang-orang yang membolehkan perayaan maulid ini memiliki banyak  dalil (baca:syubhat), dan di sini kami akan menyebutkan 22 dalil sebagai  wakil dari dalil-dalil mereka yang tidak tersebutkan di sini. Itupun  semua dalil mereka hanya berkisar pada 4 keadaan:&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Ayat atau hadits yang shohih akan tetapi salah pendalilan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hadits lemah, bahkan palsu yang tidak bisa dipakai berhujjah.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Perkataan sebagian ulama, yang mereka ini bukan merupakan hujjah  bila menyelisihi dalil.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Alasan yang dibuat-buat untuk mencapai maksud mereka yang rusak.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p&gt;Berikut uraiannya:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span id="more-778"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;1. Firman Allah -&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Subhanahu wa Ta’ala&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;- dalam  surah Y&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;u&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;nus ayat 58:&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;“Katakanlah: Dengan  karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira.  Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik daripada sesuatu yang  mereka kumpulkan”.&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Mereka berkata, “Allah -&lt;em&gt;Subhanahu wa Ta’ala&lt;/em&gt;- memerintahkan  kita untuk bergembira dengan rahmat-Nya. Sedang Nabi -&lt;em&gt;Shollallahu  ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam&lt;/em&gt;- adalah rahmat-Nya yang paling  besar. Oleh karena itulah, kita bergembira dan merayakan maulid (hari  lahir) beliau”.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di antara yang berdalilkan dengan ayat ini adalah seorang yang  bernama Habib Ali Al-Ja’fary Ash-Sh&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;u&lt;/span&gt;fy dalam sebuah kasetnya yang berjudul &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Maq&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;o&lt;/span&gt;shidul Mu`minah wa Qudwatuh&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt; fil Hay&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;h&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;Bantahan:&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Berdalilkan dengan ayat ini untuk membolehkan maulid adalah suatu  bentuk penafsiran firman Allah -&lt;em&gt;Ta’ala&lt;/em&gt;- dengan penafsiran yang  tidak pernah ditafsirkan oleh para ulama salaf dan mengajak kepada suatu  amalan yang tidak pernah dikerjakan oleh para ulama salaf. Ini adalah  perkara yang tidak diperbolehkan sebagaimana telah berlalu penegasannya  pada bab Pertama.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p&gt;Ibnu ‘Abdil H&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;dy -&lt;em&gt;rahimahullah&lt;/em&gt;-  berkata dalam &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Ash-Sh&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;o&lt;/span&gt;rimil Munky fir Roddi ‘alas Subky&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;,&lt;strong&gt;&lt;em&gt;  &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;hal. 427, &lt;em&gt;“… dan tidak boleh memunculkan penafsiran  terhadap suatu ayat atau sunnah dengan penafsiran yang &lt;strong&gt;tidak  pernah ada&lt;/strong&gt; di zaman para ulama salaf,yang mereka tidak  diketahui dan tidak pernah pula mereka jelaskan kepada ummat. Karena  perbuatan ini mengandung (tudingan) bahwa mereka tidak mengetahui  kebenaran, lalai darinya. Sedang yang mendapat hidayah kepada kebenaran  itu adalah sang pengkritik yang datang belakangan, maka bagaimana lagi  jika penafsiran tersebut &lt;strong&gt;menyelisihi dan bertentangan&lt;/strong&gt;  dengan penafsiran mereka ?!”.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Para pembesar ulama tafsir telah menafsirkan ayat yang mulia ini dan  tidak ada sedikitpun dalam penafsiran mereka bahwa yang diinginkan  dengan rahmat di sini adalah Rasulullah -&lt;em&gt;Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala  alihi wasallam&lt;/em&gt;-. Yang ada hanyalah bahwa rahmat yang diinginkan di  sini adalah &lt;strong&gt;Al-Qur`an dan Al-Islam&lt;/strong&gt; sebagaimana yang  diinginkan dalam ayat sebelumnya, yaitu firman Allah -&lt;em&gt;Ta’ala&lt;/em&gt;-:&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepada kalian pelajaran  dari Tuhan kalian dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada)  dalam dada, serta petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.&lt;/em&gt;  &lt;em&gt;Katakanlah: Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya …”. &lt;/em&gt;(&lt;strong&gt;QS.  Y&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;u&lt;/span&gt;nus : 57-58&lt;/strong&gt;)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Inilah penafsiran yang disebutkan oleh Al-Imam Abu Ja’far Muhammad  bin Jar&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;i&lt;/span&gt;r Ath-Thobary -&lt;em&gt;rahimahullah&lt;/em&gt;-  dalam &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Tafsir&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; beliau (15/105).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Imam Al-Qurthuby -&lt;em&gt;rahimahullah&lt;/em&gt;- berkata ketika menafsirkan  ayat di atas, &lt;em&gt;“Abu Sa’&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;i&lt;/span&gt;d  Al-Khudry dan Ibnu ‘Abb&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;s  -radhiyallahu ‘anhuma- berkata, “Karunia Allah adalah Al-Qur`an dan  rahmat-Nya adalah Al-Islam”. Juga dari keduanya (berkata), “Karunia  Allah adalah Al-Qur`an dan rahmat-Nya adalah dia menjadikan kalian ahli  Qur`an”. Dari Al-Hasan, Adh-Dhoh&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;k, Mujahid, dan Qot&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;dah, mereka menafsirkan, “Karunia Allah adalah iman  dan rahmat-Nya adalah Al-Qur`an”.&lt;/em&gt;[Lihat &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Al-J&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;mi’ li Ahk&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;mil Qur’&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;n&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; (8/353)]&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Imam Ibnul Qoyyim -&lt;em&gt;rahimahullah&lt;/em&gt;- berkata dalam &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Ijtim&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;’ul Juy&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;u&lt;/span&gt;sy Al-Isl&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;miyah ‘ala Ghozwul  Mu’aththilah wal Jahmiyah &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;hal. 6, &lt;em&gt;“Perkataan para  ulama salaf berputar di atas penafsiran bahwa karunia Allah dan  rahmat-Nya adalah Al-Islam dan As-Sunnah”.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Sesungguhnya yang menjadi rahmat bagi manusia bukanlah kelahiran  beliau, akan tetapi rahmat terhasilkan hanyalah ketika beliau diutus  kepada mereka. Makna inilah yang ditunjukkan oleh nash-nash syari’at:&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi)  rahmat bagi semesta alam”. &lt;/em&gt;(&lt;strong&gt;QS. Al-Anbiy&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;` : 107&lt;/strong&gt;)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Rasulullah -&lt;em&gt;Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam&lt;/em&gt;-  telah bersabda:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Sesungguhnya saya tidaklah diutus sebagi orang yang suka  melaknat, akan tetapi saya diutus hanya sebagai rahmat”.&lt;/em&gt; (&lt;strong&gt;HR.  Muslim&lt;/strong&gt; no. 2599 dari Abu Hurairah -&lt;em&gt;radhiyallahu ‘anhu&lt;/em&gt;-)&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Syaikh Abdullah bin Muhammad bin Humaid -&lt;em&gt;rahimahullah&lt;/em&gt;-  berkata ketika menyebutkan tentang Abu Sa’id Al-Kaukabury [Dia adalah  orang yang pertama kali merayakan maulid di negeri Maushil sebagaimana  yang telah berlalu penjelasannya], &lt;em&gt;“Dia mengadakan perayaan tersebut  pada malam kesembilan (Rabi’ul Awal) menurut yang dikuatkan oleh para  ahli hadits bahwa beliau -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam-  dilahirkan pada malam itu (kesembilan) &lt;strong&gt;dan beliau wafat pada  tanggal 12 Rab&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;i&lt;/span&gt;’ul Awal  menurut kebanyakan para ulama&lt;/strong&gt;” &lt;/em&gt;[Lihat kitab beliau &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Ar-Rasa`ilul  His&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;n fii Fadh&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;o&lt;/span&gt;`ihil Ikhw&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;n &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;hal. 49].&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Maka betapa mengherankannya para pelaku maulid ini, mereka  bergembira dan bersenang-senang pada tanggal diwafatkannya Nabi -&lt;em&gt;Shollallahu  ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam&lt;/em&gt;- (12 Rab&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;i&lt;/span&gt;’ul Awwal), sementara hari  kelahiran beliau adalah tanggal 8 Rab&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;i&lt;/span&gt;‘ul Awwal menurut pendapat yang paling kuat, maka  apakah ada kerusakan dan kerancuan akal yang lebih parah dari ini?!&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ibnul H&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;jj -&lt;em&gt;rahimahullah&lt;/em&gt;-  berkata dalam &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Al-Madkhal &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;(2/15), &lt;em&gt;“Kemudian  yang sangat mengherankan, bisa-bisanya mereka merayakan maulid disertai  dengan nyanyian, kegembiraan, dan keceriaan karena kelahiran beliau  -‘Alaihis shol&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;tu  wassal&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;m- -sebagaimana  yang telah berlalu- pada bulan yang mulia ini. Padahal pada bulan ini  juga beliau -‘Alaihis shol&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;tu  wassal&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;m- berpindah  menuju kemuliaan Tuhannya -’Azza wa Jalla- (yakni wafat-pen.) yang  mengagetkan ummat (para sahabat-pen.). Mereka (para sahabat) ditimpa  oleh musibah besar yang tidak ada satu musibahpun yang mampu  menandinginya selama-lamanya. Oleh karena itu, keharusan atas setiap  muslim adalah menangis, banyak-banyak bersedih, dan merenungi dirinya  masing-masing terhadap musibah ini …”.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Kemudian kita katakan kepada mereka, “Bukankah ayat ini turun kepada  Nabi -&lt;em&gt;Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam&lt;/em&gt;- ?! Lantas  kenapa beliau tidak pernah merayakan maulid sebagai bentuk pengamalan  bagi ayat?! Kenapa juga beliau tidak pernah memerintahkan para sahabat  dan keluarga beliau untuk melakukannya?! Padahal beliau adalah orang  yang paling bersemangat mengajari manusia dengan perkara yang bermanfaat  bagi mereka dan yang mendekatkan mereka kepada Penciptanya”.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p&gt;(Rujukan: &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Al-Bida’ Al-Hauliyah &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;hl. 173-177  dan &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Ar-Roddu ‘ala Syubuh&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;ti man Aj&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;zal  Ihtif&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;l bil Maulid &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;syubhat  pertama)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;2. Firman Allah -&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;- dalam surah Al-Ahz&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;a&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;b ayat 56 :&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;“Sesungguhnya Allah  dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang  beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam  penghormatan kepadanya”.&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Mereka mengatakan bahwa perayaan maulid bisa memotifasi sekaligus  sarana untuk bersholawat kepada Rasul -&lt;em&gt;Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala  alihi wasallam&lt;/em&gt;-.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;Bantahan:&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Sama dengan bantahan pertama pada syubhat pertama.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Syaikh Ham&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;u&lt;/span&gt;d  At-Tuwaijiry -&lt;em&gt;rahimahullah&lt;/em&gt;- berkata dalam &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Ar-Roddul  Qowy&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;,&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;hal. 70-71, &lt;em&gt;“Sungguh Nabi  -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- telah memotifasi untuk  memperbanyak bersholawat kepada beliau di waktu-waktu tertentu, seperti  pada hari Jum’at, setelah adzan, ketika nama beliau -Shollallahu ‘alaihi  wa ‘ala alihi wasallam- disebut, dan waktu-waktu lainnya. Sekalipun  demikian, beliau tidak pernah memerintahkan atau memotifasi untuk  bersholawat kepada beliau pada malam maulid beliau. Jadi, seyogyanya  diamalkan sesuatu yang diperintahkan oleh Rasululullah -Shollallahu  ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- dan ditolak segala sesuatu yang beliau  tidak perintahkan”.&lt;/em&gt; -Selesai dengan sedikit perubahan-&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p&gt;Syaikh Al-Muqthiry dalam &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Al-Mawrid &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;hal. 18  menyatakan, &lt;em&gt;“Bersholawat kepada Nabi adalah perkara yang dituntut  terus-menerus, bukan hanya di awal tahun atau dalam dua hari sepekan.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;Allah -Ta’ala- berfirman:&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi.  Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan  ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”.&lt;/em&gt; (&lt;strong&gt;QS. Al-Ahz&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;b : 56&lt;/strong&gt;)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;Beliau -‘alaihish sholatu wassalam- bersabda:&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Barangsiapa yang bersholawat atasku satu kali, maka Allah akan  bersholawat atasnya sepuluh kali”&lt;/em&gt; (HR. Muslim&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;no.  384, 408 dari ‘Abdullah bin ‘Amr ibnul ‘&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;A&lt;/span&gt;sh dan Abu Hurairah -&lt;em&gt;radhiyallahu ‘anhuma&lt;/em&gt;-)&lt;em&gt;.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;Beliau telah memerintahkan untuk bersholawat kepadanya setelah  adzan, dalam sholat dan demikian pula ketika nama beliau -Shollallahu  ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- disebut.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;Beliau bersabda:&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Kecelakaan bagi seseorang yang mendengar namaku disebut di  sisinya, lantas dia tidak bershalawat kepadaku” &lt;/em&gt;(Telah berlalu  takhrijnya)&lt;em&gt;.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Orang yang kikir adalah orang yang namaku disebutkan di sisinya,  lalu dia tidak bersholawat atasku” &lt;/em&gt;(HR. At-Tirmidzy (3546) dan  An-Nas&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;`iy dalam &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Al-Kubr&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;o&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;(8100, 9883)  dari Al-Husain bin ‘Ali -&lt;em&gt;radhiyallahu ‘anhuma&lt;/em&gt;- dan dishohihkan  oleh Al-Alb&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;ny dalam &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Shoh&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;i&lt;/span&gt;hul J&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;mi’ &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;no. 2878)&lt;em&gt;.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(Rujukan: &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Ar-Roddu ‘ala Syubuh&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;ti man Aj&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;zal Ihtif&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;l bil Maulid &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;syubhat  kedua dan &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Al-Mawrid fii Hukmil Ihtif&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;l bil Maulid &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;hal.  18)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;3. As-Suy&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;u&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;thy berkata dalam &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;Al-H&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;a&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;wy &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;(1/196-197), &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;“…lalu saya melihat Im&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;a&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;mul Qurr&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;o&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;`, Al-H&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;a&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;fizh Syamsudd&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;i&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;n Ibnul Jauzy berkata dalam kitab beliau yang berjudul &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;‘Urfut Ta’r&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;i&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;f bil Maulid Asy-Syar&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;i&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;f &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;dengan nash sebagai berikut,  [“Telah diperlihatkan Abu Lahab setelah meningalnya di dalam mimpi.  Dikatakan kepadanya, “Bagaimana keadaanmu?”, dia menjawab, “Di dalam  Neraka, hanya saja diringankan bagiku (siksaan) setiap malam Senin dan  dituangkan di antara dua jariku air sebesar ini -dia berisyarat dengan  ujung jarinya- karena saya memerdekakan Tsuwaibah ketika dia memberitahu  kabar gembira kepadaku tentang kelahiran Nabi -Shollallahu ‘alaihi wa  ‘ala alihi wasallam- dan karena dia telah menyusuinya”]. Jika Abu Lahab  yang kafir ini, yang Al-Qur`an telah turun mencelanya, diringankan  (siksaannya) di Neraka dengan sebab kegembiraan dia dengan malam  kelahiran Nabi -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam-, maka  bagaimana lagi keadaan seorang muslim yang bertauhid dari kalangan ummat  Nabi -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- yang gembira dengan  kelahiran beliau dan mengerahkan seluruh kemampuannya dalam mencintai  beliau -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam-?!, saya bersumpah  bahwa tidak ada balasannya dari Allah Yang Maha Pemurah, kecuali Dia  akan memasukkannya berkat keutamaan dari-Nya ke dalam surga-surga yang  penuh kenikmatan”.&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kisah ini juga dipakai berdalil oleh Muhammad bin ‘Alwi Al-M&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;liky dalam risalahnya &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Haulal  Ihtif&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;l bil Maulid&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;,&lt;strong&gt;&lt;em&gt;  &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;hal. 8 tatkala dia berkata, &lt;em&gt;“Telah datang dalam&lt;strong&gt;Shoh&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;i&lt;/span&gt;h Al-Bukh&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;ry&lt;/strong&gt; bahwa  diringankan siksaan Abu lahab setiap hari Senin dengan sebab dia  memerdekakan Tsuwaibah ….”.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;Bantahan:&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Penyandaran kisah di atas kepada Imam Al-Bukh&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;ry adalah suatu kedustaan  yang nyata sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh At-Tuwaijiry dalam &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Ar-Roddul  Qowy &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;hal. 56. Karena tidak ada dalam riwayat Al-Bukh&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;ry sesuatupun yang  disebutkan dalam kisah di atas.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Berikut konteks hadits ini dalam riwayat Imam Al-Bukh&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;ry dalam&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Shoh&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;i&lt;/span&gt;h&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;nya no. 4711  secara &lt;em&gt;mursal &lt;/em&gt;[Hadits &lt;em&gt;Mursal&lt;/em&gt; adalah perkataan seorang  t&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;bi’&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;i&lt;/span&gt;n, “Rasululullah -&lt;em&gt;Shollallahu  ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam&lt;/em&gt;- bersabda ….”, atau ia (t&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;bi’&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;i&lt;/span&gt;n) menyandarkan sesuatu  kepada Nabi &lt;em&gt;-Shollallahu alaihi wasallam&lt;/em&gt;-. Hadits &lt;em&gt;mursal&lt;/em&gt;termasuk  dalam bagian hadits lemah menurut pendapat paling kuat di kalangan para  ulama] dari ‘Urwah bin Zubair -&lt;em&gt;rahimahullah&lt;/em&gt;-:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“‘Tsuwaibah, dulunya adalah budak wanita Abu Lahab. Abu Lahab  membebaskannya, lalu dia menyusui Nabi -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala  alihi wasallam-. Tatkala Abu Lahab mati, dia diperlihatkan kepada  sebagian keluarganya (dalam mimpi) tentang jeleknya keadaan dia. Dia  (keluarganya ini) berkata kepadanya, “Apa yang engkau dapatkan?”, Abu  Lahab menjawab, “Saya tidak mendapati setelah kalian kecuali saya diberi  minum sebanyak ini &lt;/em&gt;[Yakni jumlah yang sangat sedikit]&lt;em&gt; karena  saya memerdekakan Tsuwaibah”.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Syubhat ini dibantah dari beberapa sisi:&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Hadits tentang diringankannya siksa Abu Lahab ini telah dikaji oleh  para ulama dari zaman ke zaman. Akan tetapi tidak ada seorangpun di  antara mereka yang menjadikannya sebagai dalil disyari’atkannya perayaan  maulid.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ini adalah hadits &lt;em&gt;mursal &lt;/em&gt;sebagaimana yang dikatakan oleh  Al-H&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;fizh dalam&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Al-Fath  &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;(9/49) karena ‘Urwah tidak menyebutkan dari siapa dia  mendengar kisah ini. Sedangkan hadits &lt;em&gt;mursal&lt;/em&gt; adalah termasuk  golongan hadits-hadits&lt;em&gt;dho’&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;i&lt;/span&gt;f&lt;/em&gt;  (lemah) yang tidak bisa dipakai berdalil.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Anggaplah hadits ini shohih &lt;em&gt;maush&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;u&lt;/span&gt;l&lt;/em&gt; (bersambung), maka yang tersebut dalam kisah  ini hanyalah mimpi. Sedangkan mimpi -selain mimpinya para Nabi- bukanlah  wahyu yang bisa diterima sebagai hujjah. Bahkan disebutkan oleh  sebagian ahlil ilmi bahwa yang bermimpi di sini adalah Al-‘Abb&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;s bin ‘Abdil Muththolib dan  mimpi ini terjadi sebelum beliau masuk Islam.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Apa yang dinukil oleh As-Suy&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;u&lt;/span&gt;thy dari Ibnul Jauzy di atas bahwa Abu Lahab  memerdekakan Tsuwaibah karena memberitakan kelahiran Nabi -&lt;em&gt;Shollallahu  ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam&lt;/em&gt;- dan karena dia menyusui Nabi -&lt;em&gt;Shollallahu  ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam&lt;/em&gt;- adalah menyelisihi apa yang telah  tetap di kalangan para ulama &lt;em&gt;siroh&lt;/em&gt; (sejarah). Karena dalam  buku-buku siroh ditegaskan bahwa Abu Lahab memerdekakan Tsuwaibah jauh  setelah Tsuwaibah menyusui Nabi&lt;em&gt;Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi  wasallam&lt;/em&gt;.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p&gt;Al-H&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;fizh Ibnu  ‘Abdil Barr &lt;em&gt;-rahimahullah&lt;/em&gt;- berkata dalam &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Al-Ist&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;i&lt;/span&gt;’&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;b &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;(1/12)  ketika beliau membawakan biografi Nabi -&lt;em&gt;Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala  alihi wasallam&lt;/em&gt;-. Setelah menyebutkan kisah menyusuinya Nabi -&lt;em&gt;Shollallahu  ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam&lt;/em&gt;- kepada Tsuwaibah, beliau  menyatakan, &lt;em&gt;“… dan Abu Lahab memerdekakannya setelah Nabi  -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- berhijrah ke Madinah”.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Lihat juga &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Ath-Thobaq&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;o&lt;/span&gt;t &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;karya Muhammad bin Sa’ad bin Man&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;i&lt;/span&gt;` Az-Zuhry -&lt;em&gt;rahimahullah&lt;/em&gt;-  (1/108-109), &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Al-Fath &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;(9/48), dan &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Al-Ish&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;o&lt;/span&gt;bah &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;(4/250).&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Kandungan kisah ini menyelisihi zhohir Al-Qur`an yang menegaskan  bahwa orang-orang kafir tidak akan mendapatkan manfaat dari amalan  baiknya sama sekali di akhirat, akan tetapi hanya dibalas di dunia.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p&gt;Allah -&lt;em&gt;Subhanahu wa Ta’ala&lt;/em&gt;- menegaskan:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami  jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan”. &lt;/em&gt;(&lt;strong&gt;QS.  Al-Furq&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;o&lt;/span&gt;n : 23&lt;/strong&gt;) [Lihat &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Fathul  B&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;ry&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;(9/49).  Kecuali Abu Thalib yang diringankan siksanya karena membela Nabi,  sebagaimana dalam riwayat Muslim]&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Kegembiraan yang dirasakan oleh Abu Lahab hanyalah kegembiraan yang  sifatnya tabi’at manusia biasa karena Nabi -&lt;em&gt;Shollallahu ‘alaihi wa  ‘ala alihi wasallam&lt;/em&gt;- adalah keponakannya. Sedangkan kegembiraan  manusia tidaklah diberikan pahala kecuali bila kegembiraan tersebut  muncul karena Allah -&lt;em&gt;Subhanahu wa Ta’ala&lt;/em&gt;-. Buktinya, setelah  Abu Lahab mengetahui kenabian keponakannya, diapun memusuhinya dan  melakukan tindakan-tindakan yang kasar padanya. Ini bukti yang kuat  menunjukkan bahwa Abu Lahab bukan gembira karena Allah, tapi gembira  karena lahirnya seorang keponakan. Gembira seperti ini ada pada setiap  orang.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p&gt;(Rujukan: &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Al-Bida’ Al-Hauliyah &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;hal.  165-170, &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Ar-Roddu ‘ala Syubuh&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;ti man Aj&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;zal  Ihtif&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;l bil Maulid &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;syubhat  keenam dan &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Al-Hiw&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;r  ma’al M&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;liky &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;Syubhat  pertama)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;4. Mereka (para  pendukung maulid) berkata, “Allah -&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Subhanahu wa Ta’ala&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;- telah memuliakan sebagian tempat yang  memiliki hubungan dengan para Nabi, misalnya &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;maq&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;o&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;m&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;  (tempat berdiri) Ibrahim -&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;‘alaihis sal&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;a&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;m&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;-.  Karena itu, Allah -&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Subhanahu wa Ta’ala&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;- berfirman:&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;“Dan jadikanlah  sebahagian maqam (tempat berdiri) Ibrahim sebagai tempat shalat”. &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;(QS. Al-Baqarah : 125)&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di dalam ayat ini terdapat motifasi untuk memperhatikan semua perkara  yang berhubungan dengan para Nabi. Maka di antara bentuk pengamalan  ayat ini adalah dengan memperhatikan hari kelahiran Nabi -&lt;em&gt;Shollallahu  ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam&lt;/em&gt;-.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;Bantahan:&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Sama dengan jawaban pertama untuk syubhat pertama.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sesungguhnya seluruh ibadah landasannya adalah &lt;em&gt;tauqifiyah&lt;/em&gt;  (terbatas pada dalil yang ada) dan &lt;em&gt;ittib&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;’&lt;/em&gt;, bukan berlandaskan  pendapat dan perbuatan bid’ah. Jadi, perkara apapun yang dimuliakan oleh  Allah dan Rasul-Nya -&lt;em&gt;Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam&lt;/em&gt;-  berupa waktu ataupun tempat, maka hanya itu saja yang berhak untuk  dimuliakan. Dan perkara apapun yang tidak dimuliakan oleh Allah dan  Rasul-Nya, maka perkara tersebut tak boleh dimuliakan. Betul Allah -&lt;em&gt;Subhanahu  wa Ta’ala&lt;/em&gt;- telah memerintahkan seluruh hamba-Nya untuk menjadikan &lt;em&gt;maq&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;o&lt;/span&gt;m &lt;/em&gt;Ibrahim [&lt;em&gt;Maqom &lt;/em&gt;artinya  tempat seseorang berdiri. Dikatakan sebagai &lt;em&gt;maqom &lt;/em&gt;Ibrahim  karena di tempat inilah Nabi Ibrahim berdiri ketika membangun Ka’bah.  Karenanya, jangan sampai ada yang salah faham dan menyangkan &lt;em&gt;maqom&lt;/em&gt;  Ibrahim adalah kuburan beliau. Lagipula, para ulama telah bersepakat  bahwa semua kuburan para nabi -&lt;em&gt;‘alaihimush sholatu was salam&lt;/em&gt;-  tidak ada yang &lt;em&gt;tsabit &lt;/em&gt;(kuat) berdasarkan nash maupun berita  yang autentik. Syaikhul Islam menukil dari Imam Malik bin Anas -&lt;em&gt;rahimahullah&lt;/em&gt;-  beliau berkata, &lt;strong&gt;&lt;em&gt;“Tidak ada seorang nabi pun di dunia ini  yang diketahui kuburnya kecuali kubur Nabi -Shallallahu ‘alaihi  wasallam-”&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;.&lt;/em&gt;( Lihat &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Majm&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;u&lt;/span&gt;’ Al-Fat&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;wa&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; 27/444  )] sebagai tempat sholat, akan tetapi Allah -&lt;em&gt;Subhanahu wa Ta’ala&lt;/em&gt;-  tidak pernah memerintahkan mereka untuk menjadikan hari kelahiran Nabi -&lt;em&gt;Shollallahu  ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam&lt;/em&gt;- sebagai hari raya yang mereka  berbuat bid’ah di dalamnya.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p&gt;[Rujukan: &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Ar-Roddul Qowy &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;karya Syaikh  At-Tuwaijiry hal. 83 dan &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Ar-Roddu ‘ala Syubuh&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;ti man Aj&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;zal Ihtif&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;l bil Maulid&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;,&lt;strong&gt;&lt;em&gt;  &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;syubhat ketiga)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;5. Mereka juga berdalil  dengan hadits Ibnu ‘Abb&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;a&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;s -&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;radhiyallahu ‘anhuma&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;- tentang puasa ‘&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;A&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;sy&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;u&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;r&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;o&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;` :&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;“Nabi datang  (hijrah) ke Madinah dan beliau mendapati orang-orang Yahudi berpuasa  pada hari ‘&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;A&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;sy&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;u&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;r&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;o&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;`. Lalu beliau pun bertanya, “Apa ini?”,  mereka (orang-orang Yahudi) menjawab, “Ini adalah hari yang baik, hari  dimana Allah menyelamatkan Bani Isr&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;a&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;`&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;i&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;l dari musuh mereka, maka Musa berpuasa  padanya”. Beliau bersabda, “Kalau begitu saya lebih berhak terhadap Musa  daripada kalian”. Maka beliau pun berpuasa dan memerintahkan (manusia)  untuk berpuasa”. &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;(HR. Al-Bukh&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;a&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;ry no. 1900 dan Muslim no. 1130)&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Al-H&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;fizh Ibnu Hajar  -&lt;em&gt;rahimahullah&lt;/em&gt;- sebagaimana yang dinukil oleh As-Suy&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;u&lt;/span&gt;thy dalam &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Al-H&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;wy lil Fat&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;w&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt; &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;(1/196)  berkata setelah beliau menyebutkan bahwa perayaan maulid tidak pernah  dikerjakan oleh tiga generasi pertama ummat ini. Beliau menyatakan, &lt;em&gt;“Telah  nampak bagiku untuk menetapkannya -yakni perayaan maulid- di atas  landasan yang shohih yaitu …”&lt;/em&gt; [lalu beliau menyebutkan hadits Ibnu  ‘Abb&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;s di atas].&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kemudian beliau berkata lagi, &lt;em&gt;“Jadi, dari hadits ini diambil  faidah tentang perbuatan kesyukuran kepada Allah atas nikmat yang Dia  berikan pada suatu hari tertentu berupa terhasilkannya suatu kenikmatan  atau tertolaknya suatu bahaya. Sedang kesyukuran kepada Allah adalah  dengan mengamalkan berbagai jenis ibadah, seperti sujud, berpuasa,  sedekah, dan membaca Al-Qur`an. Maka, nikmat apakah yang lebih besar  daripada nikmat munculnya Nabiyyurrohmah ini -Shollallahu ‘alaihi wa  ‘ala alihi wasallam- pada hari itu. Oleh karena itu, sepantasnya untuk  memperhatikan hari itu (yakni hari maulid) agar bersesuaian dengan kisah  Musa -‘alaihis sal&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;m-  pada hari ‘&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;A&lt;/span&gt;sy&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;u&lt;/span&gt;r&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;o&lt;/span&gt;`”.&lt;/em&gt; Selesai berdasarkan  maknanya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hadits ini juga dijadikan dalil oleh Muhammad bin ‘Alwy Al-M&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;liky untuk membolehkan  perayaan maulid dalam kitabnya &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Haulal Ihtif&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;l bil Maulid &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;hal.  11-12.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;Jawaban:&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Lihat jawaban pertama atas syubhat pertama.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sesungguhnya Al-H&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;fizh  -&lt;em&gt;rahimahullah&lt;/em&gt;- telah menegaskan di awal ucapannya bahwa asal  perayaan maulid adalah bid’ah, tidak pernah dikerjakan oleh para ulama  salaf. Perkataan beliau tentang hal ini akan kami sebutkan pada bab  ketiga belas.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pemahaman Al-H&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;fizh  tentang dibolehkannya maulid yang beliau petik dari hadits di atas  merupakan pemahaman yang salah dan tertolak. Karena tidak ada seorangpun  dari kalangan para ulama salaf yang memahami dari hadits tersebut  dibolehkannya perayaan maulid. Lihat kembali pembahasan pada bab pertama  dan juga kitab &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Al-Muw&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;faq&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;o&lt;/span&gt;t  &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;(3/41-44) karya Asy-Sy&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;thiby -&lt;em&gt;rahimahullah&lt;/em&gt;-.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Meng&lt;em&gt;qias&lt;/em&gt;kan (menganologikan) bid’ah maulid dengan puasa ‘&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;A&lt;/span&gt;sy&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;u&lt;/span&gt;r&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;o&lt;/span&gt;` adalah suatu bentuk &lt;em&gt;takalluf  &lt;/em&gt;(pemaksaan) yang nyata dan tertolak karena ibadah landasannya  adalah syari’at, bukan berdasarkan pendapat ataupun anggapan baik.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sesungguhnya puasa ‘&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;A&lt;/span&gt;sy&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;u&lt;/span&gt;r&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;o&lt;/span&gt;` adalah perkara yang telah  diamalkan oleh Nabi -&lt;em&gt;Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam&lt;/em&gt;-,  bahkan beliau memberi motifasi untuk mengamalkannya. Berbeda halnya  dengan perayaan maulid dan menjadikannya sebagai hari raya, karena Nabi -&lt;em&gt;Shollallahu  ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam&lt;/em&gt;- tidak pernah mengerjakannya dan  juga tidak pernah memotifasi untuk mengerjakannya.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p&gt;[Rujukan: &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Al-Bida’ Al-Hauliyah &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;hal. 159-161  dan &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Ar-Roddu ‘ala Syubh&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;ti man Aj&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;zal  Ihtif&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;l bil Maulid &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;syubhat  kelima]&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;6. Setelah menyebutkan  perkataan Al-H&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;a&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;fizh di atas, As-Suy&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;u&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;thy kemudian membawakan dalil yang lain yaitu hadits  Anas bin M&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;a&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;lik -&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;radhiyallahu ‘anhu&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;-, beliau berkata :&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;“Bahwa sesungguhnya  Nabi -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- melakukan aqiqah untuk  diri beliau sendiri setelah beliau diangkat menjadi Nabi”.&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt; (HR. Al-Baihaqy(9/300))&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Lalu dia (As-Suy&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;u&lt;/span&gt;thy)  berkata, &lt;em&gt;“… padahal telah datang (riwayat) bahwa kakek beliau  ‘Abdul Muththolib telah melaksanakan aqiqah untuk beliau pada hari  ketujuh kelahiran beliau, sedangkan aqiqah tidaklah diulangi dua kali.  Maka perbuatan tersebut (yakni aqiqah setelah menjadi Nabi) dibawa  kepada (pemahaman) bahwa yang beliau lakukan itu adalah dalam rangka  menampakkan kesyukuran atas penciptaan Allah terhadap diri beliau  sebagai rahmat bagi seluruh alam dan sekaligus (perbuatan beliau  tersebut) sebagai syari’at bagi ummatnya sebagaimana beliau -Shollallahu  ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- telah bersholawat untuk diri beliau  sendiri. Oleh karena itulah, disunnahkan juga bagi kita untuk  menampakkan kesyukuran dengan kelahiran beliau …”.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;Jawaban:&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Hadits di atas yang menunjukkan bahwa Nabi -&lt;em&gt;Shollallahu alaihi  wa sallam&lt;/em&gt;- mengaqiqahi diri beliau setelah diangkat menjadi nabi  adalah hadits yang lemah dan tidak bisa dipakai berhujjah, karena di  dalamnya terdapat seorang rowi lemah yang bernama ‘Abdullah bin Muharrar  Al-Jazary.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p&gt;Al-Baihaqy setelah meriwayatkan hadits di atas, beliau berkata,&lt;em&gt;“’Abdurrozz&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;q berkata, [“Tidaklah  mereka meninggalkan ‘Abdullah bin Muharrar kecuali karena keadaan hadits  ini, dan juga (hadits ini) diriwayatkan dari jalan lain dari Anas dan  tidak teranggap sama sekali”]”.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;‘Abdullah bin Muharrar ini telah dilemahkan oleh sekian banyak ulama  dengan pelemahan yang sangat keras, di antaranya adalah: Imam Ahmad,  Ad-D&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;raquthny, Ibnu  Hibb&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;n, Ibnu Ma’&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;i&lt;/span&gt;n, Imam Al-Bukh&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;ry, dan juga Al-H&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;fizh Adz-Dzahaby -&lt;em&gt;rahimahumullahu  jam&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;i&lt;/span&gt;’an&lt;/em&gt;-.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Lihat &lt;strong&gt;&lt;em&gt;At-Talkh&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;i&lt;/span&gt;s  Al-Hab&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;i&lt;/span&gt;r &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;(4/147)  dan &lt;strong&gt;&lt;em&gt;M&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;i&lt;/span&gt;z&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;nul I’tid&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;l &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;pada  biografi ‘Abdullah bin Muharrar ini.&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Syaikh Abu Bakr Al-Jaz&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;`iry  -&lt;em&gt;hafizhohullah&lt;/em&gt;- berkata dalam &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Al-Insh&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;o&lt;/span&gt;f f&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;i&lt;/span&gt;m&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt; Q&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;i&lt;/span&gt;la fil Maulid&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;  (61-62), &lt;em&gt;“Apakah ts&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;bit  (shohih) bahwa aqiqah itu dulunya disyari’atkan bagi ahli jahiliyah  (musyrik Quraisy) dan (apakah) mereka mengamalkannya, sehingga kita bisa  mengatakan bahwa ‘Abdul Muththolib telah mengaqiqahi anak lelaki dari  putranya?! Apakah amalan-amalan ahli jahiliyah diperhitungkan dalam  Islam sehingga kita bisa menyatakan bahwa Nabi -Shollallahu ‘alaihi wa  ‘ala alihi wasallam- mengaqiqahi diri beliau hanya sekedar sebagai  kesyukuran dan bukan dalam rangka menegakkan sunnah aqiqah, jika dia  (kakek beliau) telah mengaqiqahi beliau?!. Maha Suci Allah, betapa aneh  dan asingnya pendalilan ini.&lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;Apakah jika shohih (benar) bahwa Nabi -Shollallahu ‘alaihi wa  ‘ala alihi wasallam- menyembelih satu ekor kambing sebagai bentuk  kesyukuran akan nikmat penciptaan diri beliau, apakah hal ini  mengharuskan (bolehnya) menjadikan hari lahir beliau sebagai hari raya  bagi manusia?!”.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[Rujukan: &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Al-Bida’ Al-Hauliyah &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;hal. 161-164  dan &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Ar-Roddu ‘ala Syubh&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;ti man Aj&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;zal  Ihtif&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;l bil Maulid &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;syubhat  kedelapan]&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;7. Muhammad ‘Alwy Al-M&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;a&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;liky dalam kitabnya &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Haulal Ihtif&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;a&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;l bil Maulid &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;hal. 10&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;berdalil tentang disyari’atkannya perayaan  maulid dengan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim no. 1162 dari  hadits Abu Qot&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;a&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;dah Al-Ansh&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;o&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;ry -&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;radhiyallahu ‘anhu&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;- bahwa Nabi -&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi  wasallam&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;- ditanya tentang puasa pada hari Senin, maka beliau menjawab :&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;“Itu adalah hari  saya dilahirkan dan hari diturunkannya (wahyu) kepadaku”.&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sisi pendalilan dari hadits ini -menurutnya- adalah bahwa beliau -&lt;em&gt;Shollallahu  ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam&lt;/em&gt;- memuliakan dan mengagungkan hari  lahir beliau dengan cara berpuasa pada hari itu. Ini (berpuasa) hampir  semakna dengan perayaan walaupun bentuknya berbeda. Yang jelas makna  pemuliaan itu ada, apakah dengan berpuasa atau dengan memberi makan atau  dengan berkumpul-kumpul untuk mengingat dan bersholawat kepada beliau  dan lain-lainnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;Bantahan:&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Lihat bantahan pertama untuk syubhat pertama.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Nabi -&lt;em&gt;Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam&lt;/em&gt;- tidak  berpuasa pada hari kelahiran beliau, yaitu tanggal 12 Rab&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;i&lt;/span&gt;’ul Awwal [Itupun telah kita  tegaskan bahwa yang benarnya beliau dilahirkan pada tanggal 8 Rab&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;i&lt;/span&gt;’ul Awwal], akan tetapi  beliau berpuasa pada hari Senin yang setiap bulan berulang sebanyak  empat kali. Beliau juga tidak pernah mengkhususkan untuk mengerjakan  amalan-amalan tertentu pada tanggal kelahiran beliau. Maka semua ini  adalah bukti yang menunjukkan bahwa beliau -&lt;em&gt;Shollallahu ‘alaihi wa  ‘ala alihi wasallam&lt;/em&gt;- tidaklah menganggap tanggal kelahiran beliau  lebih afdhol daripada yang lainnya. Lihat &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Ar-Roddul Qowy &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;hal.  61-62&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Nabi -&lt;em&gt;Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam&lt;/em&gt;- tidak  mengkhususkan berpuasa hanya pada hari Senin saja akan tetapi beliau  juga berpuasa pada hari Kamis, sebagaimana dalam hadits Abu Hurairah -&lt;em&gt;radhiyallahu  ‘anhu&lt;/em&gt;- secara &lt;em&gt;marf&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;u&lt;/span&gt;‘&lt;/em&gt;:&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Amalan-amalan disodorkan setiap hari Senin dan kamis, maka saya  senang jika amalan saya disodorkan sedang saya dalam keadaan berpuasa”.&lt;/em&gt;  (&lt;strong&gt;HR. At-Tirmidzy&lt;/strong&gt;no. 747 dan dishohihkan oleh Al-Alb&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;ny dalam &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Al-Irw&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;` &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;no. 949)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jadi, berdalilkan dengan puasa hari Senin untuk membolehkan perayaan  Maulid adalah puncak &lt;em&gt;takalluf&lt;/em&gt; (pemaksaan) dan pendapat yang  sangat jauh dari kebenaran.&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Jika yang diinginkan dari perayaan maulid adalah sebagai bentuk  kesyukuran kepada Allah -&lt;em&gt;Ta’ala&lt;/em&gt;- atas nikmat kelahiran Nabi -&lt;em&gt;Shollallahu  ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam&lt;/em&gt;-, maka suatu perkara yang masuk  akal -dan memang inilah yang ditetapkan oleh syari’at- kalau pelaksanaan  kesyukuran tersebut sesuai dengan pelaksanaan kesyukuran Nabi -&lt;em&gt;Shollallahu  ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam&lt;/em&gt;- atasnya,&lt;strong&gt;yakni dengan  berpuasa&lt;/strong&gt;. Oleh karena itu, hendaknya kita berpuasa sebagaimana  beliau berpuasa [Maksudnya berpuasa pada hari Senin sebagaimana Nabi -&lt;em&gt;Shollallahu  ‘alaihi wasallam&lt;/em&gt;- berpuasa hari Senin. Adapun berpuasa tepat pada  tanggal 12 Rabi’ul Awwal -kalaupun ini kita anggap pendapat yang paling  benar tentang hari lahir beliau-, maka tidak disyari’atkan karena tak  ada dalil yang mengkhususkannya dengan puasa, yang ada hanyalah berpuasa  pada hari Senin. [ed]], bukan malah dengan menghambur-hamburkan uang  untuk makanan dan yang semisalnya. Lihat&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Al-Insh&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;o&lt;/span&gt;f f&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;i&lt;/span&gt;m&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt; Q&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;i&lt;/span&gt;la fil Maulid &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;hal.  64-66 karya Abu Bakr Al-Jaz&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;`iry.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p&gt;(Rujukan: &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Al-Bida’ Al-Hauliyah &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;hal. 171-172  dan &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Ar-Roddu ‘ala Syubh&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;ti man Aj&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;zal  Ihtif&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;l bil Maulid &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;syubhat  keempat)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;8. Sabda Rasulullah -&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi  wasallam&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;- tentang keutamaan hari Jum’at:&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;“Sebaik-baik hari  yang matahari terbit padanya adalah hari Jum’at, padanya diciptakan  Adam, padanya dia diwafatkan, padanya dia dimasukkan ke Surga dan  padanya dia dikeluarkan darinya, serta tidak akan tegak Hari Kiamat  kecuali pada hari Jum’at”.&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt; (HR. Muslim no. 854 dari Abu Hurairah -&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;radhiyallahu ‘anhu&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;-)&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dalam kitab &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Haulal Ihtif&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;l &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;hal. 14, Muhammad ‘Alwy Al-M&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;liky menyatakan bahwa jika  hari Jum’at memiliki keutamaan karena pada hari itu Nabi Adam tercipta,  maka tentunya hari ketika pimpinan para Nabi -&lt;em&gt;Shollallahu ‘alaihi wa  ‘ala alihi wasallam&lt;/em&gt;- tercipta itu lebih pantas untuk mendapatkan  keutamaan dan pemuliaan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;Bantahan:&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Sama dengan bantahan pertama atas syubhat pertama.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Syaikh At-Tuwaijiry -&lt;em&gt;rahimahullah&lt;/em&gt;- berkata dalam &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Ar-Roddul  Qowy &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;hal. 82,&lt;em&gt;“Sesungguhnya Nabi -Shollallahu ‘alaihi  wa ‘ala alihi wasallam- tidak pernah mengkhususkan hari Jum’at untuk  melaksanakan sesuatupun berupa amalan-amalan sunnah, dan beliau telah  melarang untuk mengkhususkan hari Jum’at dengan berpuasa atau  mengkhususkan malam Jum’at untuk sholat lail. Di dalam &lt;strong&gt;Shoh&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;i&lt;/span&gt;h Muslim &lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;[No.  hadits 1144]&lt;em&gt; dari Abu Hurairah -radhiyallahu ‘anhu-, dari Nabi  -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- bahwa beliau bersabda:&lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Jangan kalian mengkhususkan malam Jum’at di antara malam-malam  lainnya dengan mengerjakan sholat malam dan jangan kalian khususkan hari  Jum’at di antara hari-hari lainnya dengan berpuasa, kecuali bila (hari  Jum’at) bertepatan dengan hari kebiasaan salah seorang di antara kalian  berpuasa”.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;Jika Nabi -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- tidak  mengkhususkan hari Jum’at dengan sesuatu apapun berupa amalan-amalan  sunnah -padahal Adam ’alaihis sal&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;m diciptakan pada hari itu-, maka apa hubungannya  dengan Ibnul ‘Alwy dan selainnya, yang menyebutkan pendalilan tersebut  tentang dibolehkannya perayaan maulid?!”&lt;/em&gt;. Selesai dengan perubahan&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[Rujukan: &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Ar-Roddu ‘ala Syubh&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;ti man Ajazal Ihtif&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;l bil Maulid, &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;syubhat  ketujuh]&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;9. Hadits Anas bin M&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;a&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;lik -&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;radhiyallahu ‘anhu&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;-, bahwasanya Nabi -&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi  wasallam&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;- bercerita ketika beliau melakukan Isr&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;o&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;` dan Mi’r&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;o&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;j:&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;“Lalu dia (Jibr&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;i&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;l) berkata, “Turun dan sholatlah!”, maka sayapun turun  lalu mengerjakan sholat. Lalu dia bertanya, “Tahukah engkau di mana  engkau sholat? Engkau sholat di Betlehem, tempat ‘&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;I&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;sa -‘alaihis sal&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;a&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;m- dilahirkan””. &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;(HR. An-Nas&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;a&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;`i (1/221-222/450))&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hadits ini dijadikan dalil oleh Muhammad ‘Alwy Al-M&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;liky dalam &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Haulal  Ihtif&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;l &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;hal.  14-15 untuk membolehkan perayaan maulid. Sisi pendalilannya adalah  bahwa beliau -&lt;em&gt;Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam&lt;/em&gt;-  diperintahkan untuk memuliakan tempat kelahiran Nabi ‘&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;I&lt;/span&gt;sa dengan cara sholat di  atasnya. Maka hari dan tempat kelahiran Nabi Muhammad -&lt;em&gt;Shollallahu  ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam&lt;/em&gt;- lebih pantas lagi untuk dimuliakan  dengan mengadakan perayaan maulid.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;Bantahan:&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kisah tentang sholatnya beliau di Betlehem ini juga datang dari  hadits Syadd&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;d bin ‘Aus  -&lt;em&gt;radhiyallahu ‘anhu&lt;/em&gt;- riwayat Al-Bazz&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;r dalam &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Al-Musnad&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;  no. 3484 dan Ath-Thobar&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;o&lt;/span&gt;ny  (7/282-283/7142) dan juga dari hadits Abu Hurairah -&lt;em&gt;radhiyallahu  ‘anhu&lt;/em&gt;- riwayat Ibnu Hibb&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;n  dalam &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Al-Majr&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;u&lt;/span&gt;h&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;i&lt;/span&gt;n &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;(1/187-188)  dalam biografi Bakr bin Ziy&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;d  Al-B&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;hily.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ketiganya adalah hadits yang lemah dan mungkar. Berikut kesimpulan  bantahan Al-‘All&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;mah  Al-Ansh&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;o&lt;/span&gt;ry &lt;em&gt;-rahimahullah&lt;/em&gt;-  dalam &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Al-Qaulul Fashl&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;,&lt;strong&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;hal.  138-145 terhadap kisah di atas:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;1. Hadits Anas bin M&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;lik  -&lt;em&gt;radhiyallahu ‘anhu&lt;/em&gt;-.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ibnu Kats&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;i&lt;/span&gt;r &lt;em&gt;-rahimahullah&lt;/em&gt;-  berkata setelah menyebutkan hadits ini dalam rangkaian hadits-hadits  tentang Isr&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;o&lt;/span&gt;` dan Mi’r&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;o&lt;/span&gt;j ketika menafsirkan ayat  pertama dari surah Al-Isr&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;o&lt;/span&gt;‘, &lt;em&gt;“Di  dalam kisah ini ada ghor&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;o&lt;/span&gt;bah  &lt;/em&gt;[Kata &lt;em&gt;ghor&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;i&lt;/span&gt;b &lt;/em&gt;atau&lt;em&gt;ghor&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;o&lt;/span&gt;bah&lt;/em&gt; jika digunakan  oleh At-Tirmidzy dalam &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Sunan&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;nya, Ibnu Kats&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;i&lt;/span&gt;r dalam &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Tafsir&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;nya  dan Az-Zayla’iy dalam &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Nashbur R&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;o&lt;/span&gt;yah&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; maka  kebanyakannya bermakna &lt;em&gt;dho’&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;i&lt;/span&gt;f  &lt;/em&gt;(lemah)]&lt;em&gt; (keanehan) dan sangat mungkar”.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Beliau juga berkata dalam &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Al-Fush&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;u&lt;/span&gt;l fii Ikhtish&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;o&lt;/span&gt;ri S&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;i&lt;/span&gt;rotur Ros&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;u&lt;/span&gt;l,&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;“Ghor&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;i&lt;/span&gt;b (aneh), sangat mungkar,  dan sanadnya muq&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;o&lt;/span&gt;rib.  Dalam hadits-hadits yang shohih, ada perkara yang menunjukkan tentang  kemungkarannya, wallahu A’lam”.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Yakni kisah tentang sholatnya beliau -&lt;em&gt;Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala  alihi wasallam&lt;/em&gt;- di Betlehem ini, tidak ada disebutkan dalam kisah  Isr&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;o&lt;/span&gt;` dan Mi’r&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;o&lt;/span&gt;j dalam hadits-hadits lain  yang shohih.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;2. Hadits Syad&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;d bin  Aus -&lt;em&gt;radhiyallahu ‘anhu&lt;/em&gt;-.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di dalam sanadnya ada rowi yang bernama Ish&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;q bin Ibr&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;h&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;i&lt;/span&gt;m ibnul ‘Al&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;` Adh-Dhohh&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;k Az-Zubaidy Ibnu Zibr&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;i&lt;/span&gt;q Al-Himshy.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Al-H&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;fizh berkata  dalam &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Al-Fath&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;,&lt;strong&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;“(Orangnya)  Jujur, tapi banyak bersalah (dalam periwayatan). Muhammad bin ‘Auf  mengungkapkan bahwa dia berdusta”.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Adz-Dzahaby berkata dalam &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Al-M&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;i&lt;/span&gt;z&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;n,&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; &lt;em&gt;“An-Nas&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;`iy berkata : “(Orangnya)  tidak tsiqoh”.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Abu Daud berkata, &lt;em&gt;“Tidak ada apa-apanya (baca: tidak ada  nilainya) dan dia dianggap pendusta oleh Muhammad bin ‘Auf Ath-Th&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;o&lt;/span&gt;`iy, seorang ahli hadits  negeri Himsh””.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ibnu Kats&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;i&lt;/span&gt;r -&lt;em&gt;rahimahullah&lt;/em&gt;-  berkata dalam &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Tafsir&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;nya setelah menyebutkan  jalan-jalan periwayatan hadits Syadd&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;d ini, &lt;em&gt;“Tidak ada keraguan, hadits ini -yang  saya maksudkan adalah yang diriwayatkan dari Syadd&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;d bin Aus- mengandung  beberapa perkara, di antaranya ada yang shohih -sebagaimana yang  disebutkan oleh Al-Baihaqy-, dan di antaranya ada yang mungkar, seperti  (kisah) sholat (Nabi –Shollallahu alaihi wa sallam-) di Betlehem dan  (kisah) pertanyaan (Abu Bakar) Ash-Shidd&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;i&lt;/span&gt;q tentang sifat Baitul Maqdis dan selainnya, wallahu  A’lam”.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;3. Hadits Abu Hurairah -&lt;em&gt;radhiyallahu ‘anhu&lt;/em&gt;-.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di dalam sanadnya terdapat Bakr bin Ziy&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;d Al-B&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;hily.  Ibnu Hibb&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;n berkata, &lt;em&gt;“Syaikh  pendusta, membuat hadits palsu dari para tsiq&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;o&lt;/span&gt;t (rowi-rowi terpercaya),  tidak halal menyebut namanya dalam kitab-kitab kecuali untuk dicela”.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Beliau juga berkata mengomentari hadits Abu Hurairah di atas, &lt;em&gt;“Ini  adalah sesuatu yang orang awamnya ahli hadits tidak akan ragu lagi  bahwa ini adalah palsu, terlebih lagi pakar dalam bidang ini”.&lt;/em&gt;  [Perkataan beliau ini dinukil oleh Ibnul Jauzy dalam &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Al-Maudh&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;u&lt;/span&gt;’&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;t&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; (1/113-114),  Adz-Dzahaby dalam &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Al-M&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;i&lt;/span&gt;z&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;n&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;(1/345)  dan Asy-Syauk&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;ny  dalam &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Al-Faw&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;`id  Al-Majm&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;u&lt;/span&gt;’ah fil Ah&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;d&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;i&lt;/span&gt;ts Al-Maudh&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;u&lt;/span&gt;’ah&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; hal. 441]&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ibnu Kats&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;i&lt;/span&gt;r berkata  berkata dalam &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Al-Fush&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;u&lt;/span&gt;l fii Ikhtish&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;o&lt;/span&gt;ri S&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;i&lt;/span&gt;rotur  Ros&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;u&lt;/span&gt;l&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;,&lt;strong&gt;&lt;em&gt;  &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;hal. 22 dalam mengomentari hadits Abu Hurairah ini, &lt;em&gt;“Juga  tidak shohih karena keadaan Bakr bin Ziy&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;d yang telah berlalu”&lt;/em&gt;. Yakni beliau  menghukuminya sebagai rowi yang &lt;em&gt;matr&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;u&lt;/span&gt;k&lt;/em&gt; (ditinggalkan haditsnya).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sebagai kesimpulan, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah &lt;em&gt;-rahimahullah&lt;/em&gt;-  berkata dalam tafsir surah Al-Ikhlash hal. 169, &lt;em&gt;“Apa yang  diriwayatkan oleh sebagian mereka tentang hadits Isr&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;o&lt;/span&gt;` bahwa dikatakan kepada  Nabi -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam-, [“Ini adalah baik,  turun dan sholatlah”, maka beliau turun lalu sholat, “Ini adalah tempat  bapakmu, turun dan sholatlah”],merupakan (riwayat) &lt;strong&gt;dusta dan  palsu&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;.&lt;em&gt; Nabi -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi  wasallam- tidak pernah sholat pada malam itu kecuali di Masjid Al-Aqsh&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;o&lt;/span&gt;sebagaimana dalam &lt;strong&gt;Ash-Shoh&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;i&lt;/span&gt;h &lt;/strong&gt;dan beliau tidak  pernah turun kecuali padanya”.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ibnul Qoyyim &lt;em&gt;-rahimahullah&lt;/em&gt;- dalam &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Z&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;dul Ma’&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;d&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;berkata, &lt;em&gt;“Konon  kabarnya, beliau turun di Betlehem dan sholat padanya. Hal itu tidak  benar dari beliau selama-lamanya”&lt;/em&gt;. -Selesai dari &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Al-Qaulul  Fashl&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;-&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[Rujukan: &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Ar-Roddu ‘ala Syubh&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;t man Aj&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;zal Maulid &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;syubhat  kesembilan]&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;10. Sesungguhnya para  penya’ir dari kalangan sahabat, seperti Ka’ab bin Zuhair, Hass&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;a&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;n bin Ts&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;a&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;bit, dan yang lainnya -&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;radhiyallahu ‘anhum&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;-, mereka membacakan sya’ir-sya’ir  pujian kepada Rasulullah -&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi  wasallam&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;- dan beliau ridho dengan perbuatan mereka serta membalas mereka  dengan membacakan sholawat dan mendo’akan kebaikan kepada mereka.&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ini dijadikan dalil oleh H&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;syim  Ar-Rif&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;’iy sebagaimana  dalam &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Ar-Roddul Qowy&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; hal. 78.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;Bantahan:&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Al-‘All&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;mah  At-Tuwaijiry &lt;em&gt;-rahimahullah&lt;/em&gt;- berkata dalam &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Ar-Roddul  Qowy&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;,&lt;strong&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;hal. 79, &lt;em&gt;“Tidak  pernah disebutkan dari seorangpun dari para penya’ir sahabat  -radhiyallahu ‘anhum- bahwa mereka mengungkapkan kecintaan mereka kepada  Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- dengan melantunkan  qoshidah-qoshidah (sya’ir-sya’ir) pada malam kelahiran beliau, akan  tetapi kebanyakannya mereka melantunkannya ketika terjadinya penaklukan  suatu negeri dan ketika mengalahkan musuh-musuh. Di bangun di atas dasar  ini, berarti pelantunan (sya’ir) di depan Nabi -Shollallahu ‘alaihi wa  ‘ala alihi wasallam- bukanlah sesuatu yang pernah dilakukan oleh Ka’ab  bin Zuhair, Hass&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;n bin  Ts&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;bit, dan selain  keduanya dari kalangan para penya’ir sahabat, (bukanlah) merupakan  perkara yang bisa dipegang oleh Ar-Rif&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;’iy dan selainnya dalam menguatkan bid’ah maulid”.&lt;/em&gt;  -Selesai dengan sedikit meringkas-.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[Rujukan: &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Ar-Roddu ‘ala Syubh&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;t man Aj&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;zal Maulid &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;syubhat  kesepuluh]&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;11. Sesungguhnya  perayaan maulid adalah perkumpulan dzikir, sedekah, dan pengagungan  terhadap sisi kenabian. Dan semua perkara ini tentunya merupakan perkara  yang dituntut dan dipuji dalam syari’at Islam.&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;Jawaban:&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tidak diragukan bahwa semua yang disebutkan di atas berupa dzikir,  sedekah, dan mengingat Nabi -&lt;em&gt;Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi  wasallam&lt;/em&gt;- merupakan ibadah, bahkan termasuk di antara ibadah yang  memiliki kedudukan yang besar dalam Islam. Akan tetapi perlu diketahui  bahwa ibadah nantilah diterima setelah terpenuhi dua syarat, &lt;strong&gt;ikhlas&lt;/strong&gt;  dan &lt;strong&gt;sesuai&lt;/strong&gt; dengan petunjuk Nabi -&lt;em&gt;Shollallahu  ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam&lt;/em&gt;- [Lihat kembali bab &lt;strong&gt;Syarat  Diterimanya Amalan&lt;/strong&gt;]. Kemudian, di antara kaidah yang masyhur di  tengah para ulama dan para penuntut ilmu bahwa suatu ibadah bila  perintah pelaksanaannya datang dalam bentuk umum -yakni tidak terikat  dengan suatu waktu maupun tempat-, maka ibadah tersebut juga harus  dilaksanakan secara mutlak tanpa mengkhususkan waktu dan tempat  tertentu, kapan dikhususkan tanpa adanya dalil maka perbuatan tersebut  dhukumi sebagai bid’ah [Kaidah ini disebutkan oleh Syaikh N&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;shirudin Al-Alb&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;ny dalam &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Ahk&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;mul Jan&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;`iz&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; hal. 306].  Oleh karena itulah, termasuk bid’ah tatkala mengkhususkan pelaksanaan  ibadah dzikir, sedekah, dan mengingat Nabi -&lt;em&gt;Shollallahu ‘alaihi wa  ‘ala alihi wasallam&lt;/em&gt;- hanya pada tanggal kelahiran Nabi -&lt;em&gt;Shollallahu  ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam&lt;/em&gt;-.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[Rujukan: &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Ar-Roddu ‘ala Syubh&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;t man Aj&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;zal Maulid &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;syubhat  ke sebelas]&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;img class="aligncenter" src="http://alifnews.files.wordpress.com/2010/02/muhammad1.jpg?w=300&amp;amp;h=292" alt="" width="300" height="292" /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;12. Sesungguhnya  perayaan maulid adalah perkara yang dianggap baik oleh banyak ulama dan  telah diterima, bahkan dilangsungkan secara turun temurun oleh  kebanyakan kaum muslimin di kebanyakan negeri-negeri kaum muslimin. Maka  tentunya hal itu adalah kebaikan karena kaidah yang diambil dari hadits  Ibnu Mas’ud -&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;radhiyallahu ‘anhu&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;- menyatakan bahwa, [“&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Apa-apa yang dianggap baik oleh kaum  muslimin, maka itu juga baik di sisi Allah”&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;].&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ini adalah termasuk dalil yang disebutkan oleh Muhammad bin ‘Alwy  Al-Maliky dalam &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Haulal Ihtiff&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;l &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;hal. 15.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;Bantahan:&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Telah berlalu jawaban atas hadits Ibnu Mas’&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;u&lt;/span&gt;d -&lt;em&gt;radhiyallahu ‘anhu&lt;/em&gt;-  pada bab ketiga.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Siapa yang dimaksudkan sebagai ulama oleh Al-Maliky di sini??! Kalau  yang dia maksudkan adalah para sahabat serta orang-orang yang mengikuti  mereka dengan baik, maka ini adalah kedustaan atas nama mereka. Kalau  yang dia maksudkan adalah selain mereka dari kalangan Al-Qor&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;o&lt;/span&gt;mithoh, Al-B&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;thiniyah, dan Shufiah, maka  Al-Maliky benar karena memang perayaan maulid ini tidaklah muncul  kecuali atas prakarsa mereka, sebagian mereka -yakni Al-Bathiniyyah-  telah dikafirkan oleh para ulama. Lihat bab kesembilan dari buku ini.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Syaikh Sh&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;o&lt;/span&gt;lih  Al-Fauz&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;n -&lt;em&gt;hafizhohullah&lt;/em&gt;-  berkata dalam risalah beliau &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Hukmul Ihtif&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;l bi Dzikril Maulid  An-Nabawy&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;, &lt;em&gt;“Yang menjadi hujjah adalah sesuatu yang ts&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;bit (shohih) dari Rasul  -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam-. Sedang yang ts&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;bit dari Rasul -Shollallahu  ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- adalah larangan berbuat bid’ah secara  umum, dan ini -yakni perayaan maulid- di antara bentuknya.&lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;Amalan manusia, jika menyelisihi dalil maka bukanlah hujjah  walaupun jumlah mereka banyak.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi  ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah”. &lt;/em&gt;(&lt;strong&gt;QS.  Al-An’&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;m : 116&lt;/strong&gt;)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;Itupun akan terus menerus ada -berkat nikmat Allah- pada setiap  zaman orang-orang yang mengingkari bid’ah ini dan menjelaskan  kebatilannya. Jadi, tidak ada hujjah pada amalan orang yang terus  menghidupkan (bid’ah ini) setelah jelas baginya kebenaran”.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[Rujukan: &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Ar-Roddu ‘ala Syubh&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;t man Aj&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;zal Maulid &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;syubhat  kedua belas]&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;13. Sebagian mereka  berdalih bahwa sebagian ulama sunnah ada yang memperbolehkan perayaan  maulid, seperti Imam As-Suy&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;u&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;thy -&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;rahimahullah&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;- dan yang lainnya. Maka kami hanya  mengikuti mereka karena mereka adalah orang yang berilmu.&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;Bantahan:&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tidak diragukan bahwa ucapan ini adalah ucapan yang penuh dengan  fanatisme, taqlid, dan kesombongan yang telah diharamkan oleh Allah -&lt;em&gt;Subhanahu  wa Ta’ala&lt;/em&gt;- sebagaimana yang telah berlalu penjelasannya pada bab  kelima dari buku ini.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kemudian, perselisihan para ulama dalam masalah ini -yakni bid’ahnya  maulid- adalah perselisihan yang sifatnya &lt;em&gt;tadh&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;o&lt;/span&gt;dh &lt;/em&gt;(saling berlawanan  dan menafikan), yang salah satunya adalah kebenaran dan yang lainnya  adalah kebatilan, bukan perselisihan &lt;em&gt;tanawwu’&lt;/em&gt; (cabang) yang  sifatnya masih menerima toleransi dan kompromi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sebagai seorang muslim, hendaknya mengembalikan semua perselisihan  hanya kepada Allah dan Rasul-Nya, sebagaimana yang telah kami tegaskan  pada bab pertama.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[Rujukan: &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Ar-Roddu ‘ala Syubh&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;t man Aj&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;zal Maulid &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;syubhat  ketiga belas]&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;14. Pengakuan dari  seseorang yang bernama Muhammad ‘Utsm&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;a&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;n Al-M&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;i&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;rgh&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;o&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;ny dalam muqaddimah kitabnya yang berjudul &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Al-Asr&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;o&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;r Ar-Robb&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;a&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;niyah,&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt; hal. 7. Dia nyatakan bahwa dia menerima  syari’at perayaan maulid ini langsung dari Nabi -&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi  wasallam&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;- dalam mimpinya.&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;Bantahan:&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Al-‘All&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;mah Ism&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;’&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;i&lt;/span&gt;l Al-Ansh&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;o&lt;/span&gt;ry -&lt;em&gt;rahimahullah&lt;/em&gt;-  berkata dalam &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Al-Qaulul Fashl&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;, &lt;em&gt;“Sesungguhnya  bersandar di atas pengakuan bahwa seseorang menerima perintah-perintah  Nabi (-Shollallahu alaihi wasallam-) dalam mimpi untuk merayakan maulid  Nabi (-Shollallahu alaihi wasallam-) tidaklah teranggap, karena mimpi  dalam tidur tidak bisa menetapkan sunnah yang tidak ada dan tidak bisa  membatalkan sunnah yang sudah ada sebagaimana yang dijelaskan oleh para  ulama”.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Imam Abu Zakaria An-Nawawy -&lt;em&gt;rahimahullah&lt;/em&gt;- berkata dalam  menjelaskan perkataan Imam Muslim -&lt;em&gt;rahimahullah&lt;/em&gt;- tentang &lt;strong&gt;“Menyingkap  aib-aib para perawi hadits”&lt;/strong&gt; dalam &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Shoh&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;i&lt;/span&gt;h&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;nya (1/115), &lt;em&gt;“Tidak  boleh menetapkan hukum syar’i dengannya -yaitu dengan mimpi-, karena  keadaan tidur bukanlah keadaan menghafal dan yakin terhadap apa yang  didengar oleh yang bermimpi tersebut. Mereka telah bersepakat bahwa  termasuk syarat orang yang diterima riwayat dan persaksiannya adalah  orang yang terjaga, bukan orang yang lalai, bukan orang yang jelek  hafalannya, dan tidak banyak salah (dalam hafalan), …”.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Inilah hukum semua mimpi selain mimpinya para Nabi yakni tidak bisa  menetapkan syari’at yang tidak pernah dituntunkan oleh Nabi -&lt;em&gt;Shollallahu  ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam&lt;/em&gt;- dan sebaliknya mimpi tidak bisa  menghapuskan sesuatu yang telah ditetapkan oleh Nabi -&lt;em&gt;Shollallahu  ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam&lt;/em&gt;- dalam hidup beliau, walaupun yang  dia lihat di dalam mimpinya adalah betul Nabi -&lt;em&gt;Shollallahu ‘alaihi  wa ‘ala alihi wasallam&lt;/em&gt;- [Akan tetapi hal ini tentunya tidak  mungkin. Yang dia lihat di dalam mimpnya pasti adalah setan yang mengaku  sebagai Nabi -&lt;em&gt;Shallallahu ‘alaihi wasallam&lt;/em&gt;-, karena tidak  mungkin beliau memerintahkan seseuatu yang telah beliau larang ketika  beliau masih hidup].&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Imam Asy-Sy&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;thiby &lt;em&gt;-rahimahullah&lt;/em&gt;-  berkata dalam &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Al-I’tish&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;o&lt;/span&gt;m &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;(1/209), &lt;em&gt;“Mimpi selain para Nabi  tidak bisa menghukumi syari’at, bagaimanapun keadaannya kecuali harus  diperhadapkan kepada sesuatu yang ada di depan kita berupa hukum-hukum  syari’at (Al-Kitab dan As-Sunnah). Jika hukum-hukum syari’at ini  membolehkannya, maka kita amalkan berdasarkan hukum-hukum itu. Jika  tidak, maka wajib untuk ditinggalkan dan berpaling darinya. Faidahnya  tidak lain sekedar sebagai kabar gembira (bila mimpinya baik) atau  peringatan (jika mimpinya buruk). Adapun mengambil petikan-petikan hukum  darinya, maka tidak!”.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[Rujukan: &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Ar-Roddu ‘ala Syubh&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;t man Aj&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;zal Maulid &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;syubhat  keempat belas]&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;15. As-Sakh&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;o&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;wy [Beliau adalah salah seorang murid senior dari Al-H&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;a&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;fizh Ibnu Hajar -&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;rahimahullah-&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;] &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;-rahimahullah&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;- berkata, &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;“Jika penganut salib (Nashoro)  menjadikan malam kelahiran Nabi mereka sebagai hari raya besar, maka  penganut Islam lebih pantas dan lebih harus untuk memuliakan (Nabi  mereka)”.&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ini disebutkan oleh H&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;syim  Ar-Rif&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;’iy dan dia  berdalil dengannya dalam membolehkan maulid sebagaimana dalam &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Ar-Roddul  Qowy&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;,&lt;strong&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;hal. 25 karya Syaikh  Hamud bin Abdillah At-Tuwaijiry -&lt;em&gt;rahimahullah&lt;/em&gt;-.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;Jawaban:&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tidak ada keraguan bahwa merayakan maulid dan menjadikannya sebagai  hari raya adalah di bangun atas &lt;em&gt;tasyabbuh&lt;/em&gt; (penyerupaan) kepada  Nashara, sedangkan &lt;em&gt;tasyabbuh&lt;/em&gt; kepada orang-orang kafir adalah  perkara yang diharamkan dan terlarang berdasarkan sabda Nabi -&lt;em&gt;Shollallahu  ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam&lt;/em&gt;-:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk  darinya”.&lt;/em&gt; (&lt;strong&gt;HR. Abu D&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;ud &lt;/strong&gt;no. 4031 dari Ibnu ‘Umar -&lt;em&gt;radhiyallahu  ‘anhuma&lt;/em&gt;- dan dishohihkan oleh Al-Alb&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;ny dalam &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Ash-Shoh&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;i&lt;/span&gt;hah &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;(1/676)  dan &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Al-Irw&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;`  &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;no. 2384)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Lihat kembali pada bab keenam dari buku ini.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[Rujukan: &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Ar-Roddu ‘ala Syubh&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;t man Aj&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;zal Maulid &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;syubhat  kelima belas]&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;16. Sesungguhnya  perayaan maulid adalah amalan yang bisa menghidupkan semangat kita untuk  mengingat Nabi -&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;-, dan ini adalah perkara yang  disyari’atkan.&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ini dijadikan dalil oleh Muhammad bin ‘Alwy Al-Maliky dalam &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Haulal  Ihtif&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;l &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;hal.  20.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;Bantahan:&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Cara mengingat Nabi -&lt;em&gt;Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam&lt;/em&gt;-  bukanlah dengan berbuat bid’ah yang telah beliau larang, akan tetapi  dengan cara meninggalkan semua jenis bid’ah -termasuk di dalamnya  perayaan maulid- dan semua perkara yang beliau larang. [Lihat bab &lt;strong&gt;Hakikat  Kecintaan Kepada Nabi -&lt;em&gt;Shallallahu ‘Alaihi Wasallam&lt;/em&gt;-&lt;/strong&gt;]&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mengingat Nabi -&lt;em&gt;Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam&lt;/em&gt;-,  -kalau sekedar itu yang diinginkan-, maka tidak perlu dengan merayakan  maulid. Karena mengingat Nabi -&lt;em&gt;Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi  wasallam&lt;/em&gt;- bisa dilakukan dengan bersholawat kepada beliau, berdo’a  setelah mendengar adzan, bersholawat kepada beliau ketika mendengar nama  beliau disebut, berdo’a setelah berwudhu, dan amalan-amalan ibadah  lainnya. Semua amalan ini adalah amalan yang sifatnya dilaksanakan  secara kontinyu (terus-menerus) siang dan malam, bukan hanya sekali  setahun. [Di antara sarana yang mengingatkan kita kepada Nabi -&lt;em&gt;Shollallahu  ‘alaihi wasallam&lt;/em&gt;- adalah dengan membaca dan mengkaji hadits-hadits  beliau -&lt;em&gt;Shollallahu ‘alaihi wasallam&lt;/em&gt;- agar bisa diamalkan.  Sehingga orang yang mempelajari hadits-hadits beliau akan tahu dan paham  tentang aqidah, syari’at, ibadah, akhlak, dan perjuangan beliau dalam  menegakkan Islam. Semua ini akan mendorong dirinya dan orang lain untuk  mengamalkan sunnah dan mengingat Nabi -&lt;em&gt;Shollallahu ‘alaihi wasallam&lt;/em&gt;-.  Bahkan seorang yang mengamalkan sunnah akan mengingatkan kita tentang  sosok Nabi -&lt;em&gt;Shollallahu ‘alaihi wasallam&lt;/em&gt;-, seakan-akan beliau  ada di depan kita. Adapun orang yang meramaikan bid’ah maulid, maka  mereka tidaklah mengingatkan kita tentang sosok beliau -&lt;em&gt;Shollallahu  ‘alaihi wasallam&lt;/em&gt;-, akan tetapi justru mengingatkan kita tentang  natal, mengingatkan kita tentang orang-orang &lt;strong&gt;&lt;em&gt;bathiniyyah&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;  dan&lt;strong&gt;&lt;em&gt;shufiyyah&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;karena merekalah yang  pertama kali melakukan maulid menurut para ahli tarikh. [ed]]&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p&gt;[Rujukan: &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Hukmul Ihtif&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;l bil Maulidin Nabawy war Roddu ‘ala man Aj&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;zahu&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;hal. 29-30  karya Syaikh Muhammad bin Ibr&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;h&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;i&lt;/span&gt;m &lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;A&lt;/span&gt;lu Asy-Syaikh]&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;17. Mereka mengatakan,  “Perayaan maulid ini hanyalah sekedar adat istiadat yang tidak ada  kaitannya dengan agama sehingga tidak bisa dianggap bid’ah”.&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Bantahan:&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Perkataan ini adalah tempat pelarian terakhir bagi orang-orang yang  membolehkan perayaan maulid setelah seluruh dalil-dalil mereka  dirontokkan. Itupun alasan yang mereka katakan ini adalah alasan yang  tidak bisa diterima karena para pendahulu mereka yang membolehkan maulid  baik dari kalangan ulama maupun yang bukan ulama telah menetapkan bahwa  perayaan maulid adalah ibadah di sisi mereka, dan seseorang akan  mendapatkan pahala dengannya. [Lihat bab &lt;strong&gt;Orang-Orang yang  Merayakan Maulid Menganggapnya Bagian dari Agama&lt;/strong&gt;]&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;18. Mereka juga berkata,  “Perayaan maulid ini memang adalah bid’ah, tapi dia adalah bid’ah  hasanah (yang baik)”.&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Bantahan:&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bantahan atas syubhat ini telah kami paparkan panjang lebar pada bab  ketiga dari buku ini.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;19. Perayaan maulid ini,  walaupun dia adalah bid’ah akan tetapi telah diterima dan diamalkan  oleh ummat Islam sejak ratusan tahun yang lalu.&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Ini dijadikan dalil oleh  Muhammad Mushthofa Asy-Syinq&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;i&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;thy.&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Bantahan:&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Berikut kami bawakan secara ringkas bantahan Syaikh Muhammad bin Ibr&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;h&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;i&lt;/span&gt;m &lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;A&lt;/span&gt;lu Asy-Syaikh -&lt;em&gt;rahimahullah&lt;/em&gt;-  terhadap syubhat ini dari risalah beliau&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Hukmul Ihtif&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;l bil Maulid war Roddu ala  man Aj&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;zahu&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;.  Beliau berkata, &lt;em&gt;“Ada beberapa perkara yang menunjukkan bodohnya  orang ini:&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Pertama:&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt; Bahwasanya ummat ini ma’sh&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;u&lt;/span&gt;mah (terpelihara) untuk  bersepakat di atas kesesatan sedangkan bid’ah dalam agama adalah  kesesatan berdasarkan nash dari Nabi -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi  wasallam-. Jadi perkataan dia ini, mengharuskan bahwa ummat ini telah  bersepakat (untuk membenarkan) perayaan maulid yang dia sendiri telah  mengakuinya sebagai bid’ah.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Kedua: &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;Sesungguhnya berhujjah dengan  pengakuan seperti ini untuk menganggap baik suatu bid’ah, bukanlah  warisan para ulama yang hidup di ketiga zaman keutamaan dan tidak pula  orang-orang yang mencontoh mereka, sebagaimana hal ini telah diterangkan  oleh Imam Asy-Sy&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;thiby  -rahimahullah- dalam kitab beliau &lt;strong&gt;Al-I’tish&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;o&lt;/span&gt;m&lt;/strong&gt;.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;Beliau (Asy-sy&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;thiby)  berkata, [“Tatkala berbagai bid’ah dan penyimpangan telah disepakati  oleh manusia atasnya (baca : membenarkannya), maka jadilah orang yang  jahil berkata, “Seandainya ini adalah kemungkaran maka tentu tidak akan  dikerjakan oleh manusia””]”.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata dalam &lt;strong&gt;Al-Iqhtidh&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;o&lt;/span&gt;`&lt;/strong&gt;, “Barangsiapa  yang berkeyakinan bahwa kebanyakan adat-adat yang menyelisihi sunnah ini  adalah perkara yang disepakati (akan kebolehannya) dengan berlandaskan  bahwa ummat ini telah menyetujuinya dan mereka tidak mengingkarinya,  maka dia telah salah dalam keyakinannya itu. Sesungguhnya akan  terus-menerus ada orang-orang yang melarang dari seluruh adat-adat yang  dimunculkan, yang menyelisihi sunnah”.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Ketiga: &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;Sesuatu (berupa keterangan)  yang akan kami sebutkan dari para ulama kaum muslimin berupa dipenuhinya  perayaan maulid tersebut dengan perkara-perkara yang diharamkan, serta  penjelasan bahwa perayaan maulid yang tidak mengandung perkara-perkara  yang diharamkan maka dia tetap merupakan bid’ah” &lt;/em&gt;[Lihat bab &lt;strong&gt;Kemungkaran-Kemungkaran  dalam Perayaan Maulid&lt;/strong&gt;].&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;20. Mereka juga berdalil  dengan perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, yang -katanya- beliau  membolehkan perayaan maulid. Beliau berkata, &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;“Demikian pula apa yang dimunculkan oleh  sebagian manusia, -apakah dalam rangka menandingi Nashara dalam  perayaan maulid ‘&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;I&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;sa -‘alaihis sal&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;a&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;m- atau karena kecintaan kepada Nabi -Shollallahu ‘alaihi  wasallam- dan mengagungkan beliau-. Allah kadang memberikan pahala  kepada mereka atas kecintaan dan ijithad ini, bukan atas bid’ah-bid’ah  berupa menjadikan Maulid Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- sebagai  ‘ied …”&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;.  Lihat &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Al-Iqtidh&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;o&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;`&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;hal. 294&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di antara orang yang berdalilkan dengannya adalah Muhammad Musthof&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;Al-’Alwy. Dia berkata, &lt;em&gt;“Maka  perkataan Syaikhul Islam ini jelas menunjukkan bolehnya amalan maulid  Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- yang bersih dari  kemungkaran-kemungkaran yang bercampur dengannya”.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;Bantahan:&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Syaikh Muhammad bin Ibr&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;h&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;i&lt;/span&gt;m &lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;A&lt;/span&gt;lu Asy-Syaikh  menyatakan [Lihat &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Mulhaq&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;dari risalah Syaikh  Muhammad bin Ibr&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;h&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;i&lt;/span&gt;m &lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;A&lt;/span&gt;lu Asy-Syaikh yang berjudul&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Hukmul  Ihtif&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;l bil Maulid war  Roddu ala man Aj&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;zahu&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;], &lt;em&gt;“Syaikhul  Islam Ibnu Taimiyah -rahimahullah- berkata dalam kitabnya &lt;strong&gt;Al-Istigh&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;o&lt;/span&gt;tsah&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;,&lt;em&gt;  [“Suatu kesalahan, jika timbul dari jeleknya pemahaman orang yang  mendengar, bukan karena kelalaian pembicara, maka tidak ada apa-apa  (baca : dosa) atas pembicara. Tidak dipersyaratkan pada seorang alim  jika dia berbicara harus menjaga jangan sampai ada pendengar yang salah  faham”].&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Lagi pula beliau sendiri telah menegaskan dalam lanjutan ucapan  beliau -yang akan kami nukilkan pada bab ketiga belas- bahwa perayaan  maulid Nabi -&lt;em&gt;Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam&lt;/em&gt;- adalah  bid’ah yang mungkar.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Adapun &lt;em&gt;mu’alliq&lt;/em&gt; (komentator) &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Al-Iqthidh&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;o&lt;/span&gt;`&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;, dia  berkata, &lt;em&gt;“Bagaimana mungkin mereka memiliki pahala atas hal ini  padahal mereka telah menyelisihi petunjuk Rasulullah -Shollallahu  ‘alaihi wasallam- dan petunjuk para sahabat beliau”.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;21. Mereka berkata,  “Perayaan maulid Nabi -&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Shallallahu ‘alaihi wasallam&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;- memang tidak pernah dilakukan oleh  Nabi -&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Shallallahu  ‘alaihi wasallam&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;-, akan tetapi dia merupakan syi’ar agama Islam, bukan  merupakan bid’ah”.&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;Bantahan:&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ini menunjukkan kebodohan orang yang mengucapkannya terhadap syari’at  Islam, maka apakah orang yang seperti ini pantas untuk berkomentar  dalam agama Allah?! Orang ini telah membedakan antara agama dan syi’ar  agama padahal Allah -&lt;em&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/em&gt;- telah berfirman:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan  syi`ar-syi`ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.  “.&lt;/em&gt; (&lt;strong&gt;QS. Al-Hajj: 32&lt;/strong&gt;)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dalam ayat ini, Allah -&lt;em&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/em&gt;- menjadikan syi’ar  agama sebagai lambang dari kataqwaan hati yang merupakan kewajiban. Maka  apakah setelah ini, masih ada orang yang mengaku paham agama yang  mengatakan bahwa Nabi -&lt;em&gt;Shallallahu ‘alaihi wasallam&lt;/em&gt;- sengaja  meninggalkan syi’ar agama -menurut sangkaan mereka- yang satu ini  (maulid)?! Karena ucapan ini mengharuskan bahwa Nabi -&lt;em&gt;Shallallahu  ‘alaihi wasallam&lt;/em&gt;- &lt;strong&gt;sengaja&lt;/strong&gt; meninggalkan sebuah  ketaatan yang merupakan kewajiban [Dan meninggalkan ketaatan yang  merupakan kewajiban dengan sengaja adalah dosa besar], padahal para  ulama telah bersepakat bahwa para Nabi terjaga (ma’shum) dari dosa  besar. Al-H&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;fizh Ibnu  Hajar -&lt;em&gt;rahimahullah&lt;/em&gt;- berkata dalam &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Fathul B&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;ry &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;(8/69), &lt;em&gt;“Para  nabi ma’sh&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;u&lt;/span&gt;m dari  dosa-dosa besar berdasarkan ijma’ ”&lt;/em&gt; (Lihat juga &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Majm&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;u&lt;/span&gt;’ Al-Fat&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;w&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt; &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;(4/319) dan  juga &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Minh&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;jus  Sunnah &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;(1/472) karya Ibnu Taimiyah)&lt;em&gt;.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;22. Di antara dalil  mereka adalah bahwa tidak ada satupun dalil yang tegas dan jelas  melarang mengadakan perayaan maulid Nabi -&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Shallallahu ‘alaihi wasallam&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;-.&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;Bantahan:&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sebenarnya dalil semacam ini tidak pantas kami sebutkan, karena dalil  ini hakikatnya sudah lebih dahulu patah sebelum dipatahkan. Akan tetapi  yang sangat disayangkan, dalil ini masih juga diucapkan oleh sebagian  orang yang mengaku berilmu yang dengannya dia menyesatkan manusia dari  jalan Allah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kami tidak akan menjawab dalil ini sampai mereka menjawab beberapa  pertanyaan di bawah ini:&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Tunjukkan pada kami satu dalil yang tegas dan jelas yang melarang  dari narkoba dengan semua jenisnya!.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tunjukkan pada kami satu dalil yang tegas dan jelas yang  mengharamkan praktek-praktek perjudian kontemporer, semacam undian  berhadiah melalui telepon, SMS, dan selainnya!&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tunjukkan pada kami satu dalil yang tegas dan jelas yang menunjukkan  haramnya kaum muslimin menghadiri natal dan perayaan kekafiran lainnya!&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p&gt;Mereka tidak akan mendapatkan satu pun dalil tentangnya -walaupun  mereka bersatu untuk mencarinya- &lt;strong&gt;kecuali dalil-dalil umum yang  melarang dari semua amalan di atas&lt;/strong&gt; dan yang semacamnya. Dan  ketiga perkara di atas, hanya orang yang bodoh tentang agama yang  menyatakan halal dan bolehnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Maka demikian halnya perayaan maulid. Betul, tidak ada dalil yang  tegas dan jelas yang melarangnya, akan tetapi dia tetap merupakan bid’ah  dan keharaman berdasarkan dalil-dalil umum yang sangat banyak berkenaan  larangan berbuat bid’ah dalam agama, berkenaan dengan larangan  menyerupai dan mengikuti orang-orang kafir, berkenaan dengan …,  berkenaan dengan …, dan seterusnya dari perkara-perkara haram yang  terjadi sepanjang pelaksanaan maulid. &lt;em&gt;Wallahul Musta’&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;a&lt;/span&gt;n&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Diambil dari : Buku &lt;/strong&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Studi Kritis  Perayaan Maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;  karya al-Ustadz Hammad Abu Muawiyah, cetakan Maktabah al-Atsariyyah  2007.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Sumber :  http://kaahil.wordpress.com/2011/02/14/paling-lengkap-inilah-22-argumen-orang-orang-yang-membolehkan-perayaan-maulid-beserta-bantahannya/&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;!-- AddThis Button BEGIN --&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt; //&lt;!--var addthis_append_data = 'true';var addthis_options = 'facebook, tweeter, google, blogger, friendster'; //--&gt; &lt;/script&gt; &lt;a href="http://www.addthis.com/bookmark.php?v=250&amp;amp;username=almakassari" class="addthis_button" url="http%3A%2F%2Falmakassari.com%2Fartikel-islam%2Faqidah%2Finilah-22-argumen-orang-orang-yang-membolehkan-perayaan-maulid-tanggal-12-robi%25e2%2580%2599ul-awwal-beserta-bantahannya.html" title="Inilah+22+Argumen+Orang-Orang+yang+Membolehkan+Perayaan+Maulid+Tanggal+12+Robi%E2%80%99ul+Awwal+Beserta+Bantahannya"&gt;&lt;img src="http://s7.addthis.com/static/btn/v2/lg-share-en.gif" alt="Share" width="125" border="0" height="16" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2697845295052805777-6747665124053919305?l=salafiyunm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://salafiyunm.blogspot.com/feeds/6747665124053919305/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://salafiyunm.blogspot.com/2011/02/inilah-22-argumen-orang-orang-yang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2697845295052805777/posts/default/6747665124053919305'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2697845295052805777/posts/default/6747665124053919305'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://salafiyunm.blogspot.com/2011/02/inilah-22-argumen-orang-orang-yang.html' title='Inilah 22 Argumen Orang-Orang yang Membolehkan Perayaan Maulid Tanggal 12 Robi’ul Awwal Beserta Bantahannya'/><author><name>salafy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01883732528935283225</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2697845295052805777.post-7733310932004579599</id><published>2011-02-14T16:35:00.001-08:00</published><updated>2011-02-14T16:35:32.655-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aqidah'/><title type='text'>Fatwa Ulama Besar Seputar Maulid</title><content type='html'>&lt;p&gt; Para pembaca yang budiman, ketahuilah bahwa wajib atas setiap muslim  dan muslimah untuk cinta kepada Rasulullah &lt;em&gt;-Shollallahu ‘alaihi  wasallam-&lt;/em&gt;. Bahkan tidak akan sempurna keimanan seseorang hingga ia  mencintai Nabi &lt;em&gt;-Shollallahu ‘alaihi wasallam-&lt;/em&gt;, melebihi  kecintaannya kepada orang tuanya, anak-anaknya, bahkan seluruh manusia.  Nabi &lt;em&gt;-Shollallahu ‘alaihi wasallam- &lt;/em&gt;bersabda, &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman, Times, serif;"&gt;لاَ  يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ  وَوَلَدِهِ وَ النَّاسِ أَجْمَعِيْنَ&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt; "Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga aku lebih  dicintai daripada orang tuanya, anak-anaknya, dan seluruh manusia." &lt;/em&gt;  [HR. Bukhariy (15), dan Muslim (44)] &lt;span id="more-321"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt; Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu&lt;/strong&gt; -&lt;em&gt;hafizhahullah&lt;/em&gt;-  berkata, &lt;em&gt;"Hadits ini memberikan faedah kepada kita bahwasanya  keimanan tidak akan sempurna hingga seseorang mencintai Rasulullah  -Shollallahu ‘alaihi wasallam- melebihi kecintaannya kepada orang  tuanya, anaknya, dan seluruh manusia." &lt;/em&gt;[Lihat &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Minhajul  Firqatun Najiyah&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; (hal. 111)] &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Setelah kita mengetahui hal ini, lalu &lt;strong&gt;bagaimana cara  mencintai Nabi&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;-Shollallahu ‘alaihi wasallam-&lt;/em&gt;? Cinta  kepada Nabi &lt;em&gt;-Shollallahu ‘alaihi wasallam-&lt;/em&gt; adalah &lt;strong&gt;  dengan mengikuti syari’at beliau.&lt;/strong&gt; Tidaklah dibenarkan bagi  seseorang untuk mengada-adakan suatu perkara baru dalam syariat beliau,  dengan anggapan hal tersebut bisa mendekatkan diri kepada Allah atau  suatu bentuk kecintaan kepada Nabi &lt;em&gt;-Shollallahu ‘alaihi wasallam-&lt;/em&gt;  , atau itu adalah &lt;em&gt;bid’ah hasanah&lt;/em&gt;. Padahal semua bid’ah dalam  agama adalah sesat dan buruk !! &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Di edisi kali ini, kami akan bawakan fatwa ulama besar berkenaan  dengan perkara yang dianggap oleh sebagian orang merupakan bentuk  kecintaan kepada Nabi &lt;em&gt;-Shollallahu ‘alaihi wasallam-&lt;/em&gt;, padahal  perkara tersebut tidak ada dasarnya sama sekali dalam syari’at yang  mulia ini dan bukan pula bentuk kecintaan kepada Nabi -&lt;em&gt;Shallallahu  ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;-, yakni &lt;strong&gt;perayaan maulid Nabi &lt;em&gt;-Shollallahu  ‘alaihi wasallam-&lt;/em&gt; .&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt; Fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Baaz&lt;/strong&gt; (mantan mufti di  sebuah negeri Timur Tengah), ditanya tentang hukum perayaan maulid Nabi &lt;em&gt;-Shollallahu  ‘alaihi wasallam-&lt;/em&gt; . &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt; Syaikh bin Baaz&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;-rahimahullah-&lt;/em&gt; menjawab, &lt;em&gt;"Tidaklah  dibenarkan seorang merayakan hari lahir (maulid) Nabi -Shollallahu  ‘alaihi wasallam- dan hari kelahiran lainnya, karena hal tersebut  termasuk bid’ah yang baru diada-adakan dalam agama. Padahal sesungguhnya  Rasul -Shollallahu ‘alaihi wasallam- , para Khalifah Ar-Rasyidin dan  selainnya dari kalangan sahabat tidak pernah melakukan perayaan tersebut  dan tidak pula para tabi’in yang mengikuti mereka dalam kebaikan di  zaman yang utama lagi terbaik. Mereka adalah manusia yang paling tahu  tentang Sunnah, paling sempurna cintanya kepada Nabi dan ittiba’-nya  (keteladanannya) terhadap syariat beliau dibandingkan orang-orang  setelah mereka. &lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt; Telah shahih (sebuah hadits) dari Nabi -Shollallahu ‘alaihi  wasallam-, beliau bersabda, &lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman, Times, serif;"&gt;مَنْ  أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِناَ هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt; "Barang siapa yang membuat-buat perkara baru dalam agama ini  yang bukan bagian dari agama ini, maka hal itu tertolak". &lt;/em&gt; [HR.  Al-Bukhariy dalam &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Shohih&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;-nya (2697) dan Muslim&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;(1718)]  &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt; Beliau juga bersabda, "Wajib atas kalian berpegang kepada  sunnahku dan sunnah para khalifah ar rasyidin yang mendapat petunjuk  sesudahku. Peganglah ia kuat-kuat dan gigit dengan gigi geraham.  Berhati-hatilah kalian dari perkara-perkara baru yang diada-adakan,  karena semua perkara baru itu adalah bid’ah dan semua bid’ah adalah  sesat." &lt;/em&gt; [Abu Dawud (4617), At-Tirmidziy (2676), dan Ibnu Majah  (42). Di-&lt;em&gt;shohih&lt;/em&gt;-kan Al-Albaniy dalam &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Shahih  Al-Jami'&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; (2546)] &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt; Jadi, dalam dua hadits yang mulia ini terdapat peringatan yang  keras dari berbuat bid’ah dan mengamalkannya. Allah -Ta’ala- berfirman, &lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt; "Apa saja yang diberikan Rasul kepadamu, maka  terimalah; dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan  bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya&lt;/em&gt;  ." (QS. &lt;strong&gt;Al-Hasyr&lt;/strong&gt; :7). &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt; Allah -Ta’ala- berfirman, &lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt; "Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi  perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih." &lt;/em&gt;  (QS.&lt;strong&gt;An-Nur&lt;/strong&gt; :63). &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt; Allah -Ta’ala- berfirman, &lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt; "Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan  yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan  (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah." &lt;/em&gt; (QS.&lt;strong&gt;Al-Ahzab&lt;/strong&gt;  :21). &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt; Allah -Ta’ala- berfirman, &lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt; "Pada hari Ini telah Kusempurnakan untuk kamu  agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai  Islam itu jadi agama bagimu." &lt;/em&gt; (QS.&lt;strong&gt;Al-Maidah&lt;/strong&gt; :3). &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt; Membuat perkara baru -semacam maulid- ini akan memberikan  sangkaan bahwa Allah -Ta’ala- belum menyempurnakan agama untuk umat ini,  dan Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- belum menyampaikan kepada  umatnya apa yang pantas untuk mereka amalkan, sehingga datanglah  orang-orang belakangan ini membuat-buat perkara baru dalam syariat Allah  apa yang tidak diridhoi Allah, dengan sangkaan hal tersebut bisa  mendekatkan diri mereka kepada Allah. Padahal perkara ini –tanpa ada  keraguan- adalah bahaya yang sangat besar, termasuk penentangan kepada  Allah dan Rasul-Nya. Padahal sungguh Allah telah menyempurnakan agama  ini bagi hamba-Nya; Allah telah menyempurnakan nikmat-Nya atas mereka  dan Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- sungguh telah menyampaikan  syariat ini dengan terang dan jelas. Beliau tidaklah meninggalkan suatu  jalan yang bisa mengantarkan ke surga dan menjauhkan dari neraka,  kecuali beliau telah sampaikan kepada umatnya, sebagaimana dalam hadits  yang shahih dari sahabat Abdullah bin Amer -radhiyallahu ‘anhu-, beliau  berkata, Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda, &lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman, Times, serif;"&gt;إِنَّهُ  لَمْ يَكُنْ نَبِيٌّ قَبْلِيْ إِلاَّ كَانَ حَقًّا عَلَيْهِ أَنْ يَدُلَّ  أُمَّتَهُ عَلَى خَيْرِ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ, وَيُنْذِرَهُمْ شَرَّ مَا  يَعْلَمُهُ لَهُمْ&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt; "Tidaklah Allah mengutus seorang nabi, kecuali wajib atasnya  untuk menunjukkan kebaikan atas umatnya apa yang ia telah ketahui bagi  mereka, dan memperingatkan mereka dari kejelekan yang ia ketahui bagi  mereka." &lt;/em&gt; [HR.Muslim dalam &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Shohih&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;-nya  (1844)] &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt; Suatu hal yang dimaklumi bersama, Nabi kita -Shollallahu ‘alaihi  wasallam- adalah Nabi yang paling utama, penutup para nabi dan yang  paling sempurna penyampaiannya dan nasihatnya. Andaikata perayaan maulid  ini termasuk agama yang diridhoi Allah, niscaya Nabi -Shollallahu  ‘alaihi wasallam- akan jelaskan kepada umatnya atau pernah  melaksanakannya atau setidaknya para sahabat pernah melakukannya. Akan  tetapi, tatkala hal tersebut tidak pernah sama sekali mereka lakukan,  maka diketahuilah hal tersebut bukanlah dari Islam sedikit pun juga,  bahkan dia termasuk dari perkara-perkara baru yang telah diperingatkan  bahayanya oleh Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- sebagaimana dalam dua  hadits yang tersebut di atas. Hadits-hadits lain yang semakna dengannya  telah datang (dari Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-), seperti sabda  beliau dalam khutbah jum’at: &lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman, Times, serif;"&gt;أََمَّا  بَعْدُ, فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ  هَدْيُ مُحَمَّدٍ, وَشَرَّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا, وَكُلَّ بِدْعَةٍ  ضَلاَلَةٌ&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt; "Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah,  sebaik-sebaik petunjuk adalah petunjuk Muhammad -Shollallahu ‘alaihi  wasallam-, sejelek-jeleknya perkara adalah yang diada-adakan dan setiap  bid’ah adalah sesat." &lt;/em&gt; [HR.Muslim &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Shohih&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;-nya  (867)] &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Demikian fatwa dari Syaikh Abdul Aziz bin Baaz &lt;em&gt;-rahimahullah-&lt;/em&gt;,  Anda bisa lihat dalam kitab &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Majmu’ Fatawa As-Syaikh&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;bin  Baz&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; (1/183), dan &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Al-Bida’ wal Muhdatsat&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;  (hal 619-621). &lt;/p&gt; &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt; Syaikh Abdul Aziz bin Baaz&lt;/strong&gt; juga ditanya, &lt;em&gt;"Apa  hukum menyampaikan nasihat atau ceramah pada hari maulid Nabi  -Shollallahu ‘alaihi wasallam-? &lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt; Syaikh bin Baaz&lt;/strong&gt; menjawab,&lt;em&gt; "Amar ma’ruf nahi  mungkar, memberikan bimbingan dan arahan kepada manusia, menjelaskan  kepada mereka tentang agama mereka, dan memberikan nasihat kepada mereka  dengan sesuatu yang bisa melembutkan hati mereka adalah perkara yang  disyariatkan pada setiap waktu, karena adanya perintah untuk perkara  tersebut datang secara mutlak, tanpa ada pengkhususan waktu tertentu. &lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt; Allah -Ta’ala-berfirman, &lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt; "Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru  kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang  munkar. Merekalah orang-orang yang beruntung." &lt;/em&gt; (QS.&lt;strong&gt;Al-Maidah&lt;/strong&gt;  : 104). &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt; Allah -Ta’ala- berfirman, &lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt; "Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan  pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.  Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang  tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang  yang mendapat petunjuk." &lt;/em&gt; (QS.&lt;strong&gt;An-Nahl&lt;/strong&gt; :125). &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt; Allah juga menjelaskan keadaan orang-orang munafik dan sikap  para da’i (penyeru) di antara mereka, &lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt; "Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah kamu (tunduk) kepada  hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul", niscaya kamu  lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya  dari (mendekati) kamu. Maka bagaimanakah halnya apabila mereka  (orang-orang munafik) ditimpa sesuatu musibah disebabkan perbuatan  tangan mereka sendiri. Kemudian mereka datang kepadamu sambil bersumpah:  "Demi Allah, kami sekali-kali tidak menghendaki selain penyelesaian  yang baik dan perdamaian yang sempurna". Mereka itu adalah orang-orang  yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. Karena itu  berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan  katakanlah kepada mereka dengan perkataan yang berbekas pada jiwa  mereka." &lt;/em&gt; (QS. &lt;strong&gt;An-Nisa’&lt;/strong&gt;: 61-63);&lt;em&gt; dan ayat-ayat  lain. &lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt; Jadi, Allah memerintahkan untuk berdakwah dan memberikan nasihat  secara mutlak, tidak mengkhususkannya pada waktu tertentu. Sekalipun  nasihat dan bimbingan ini semakin dianjurkan ketika ada tuntutan  kepadanya, seperti khutbah Jum’at dan hari Ied, karena warid  (datang)-nya hal tersebut dari Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam-  .Demikian pula ketika melihat suatu kemungkaran, ini berdasarkan sabda  Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam-, &lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman, Times, serif;"&gt;مَنْ  رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ, فَإِنْ لَمْ  يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ, وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ, وَذَلِكَ  أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt; "Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, maka  hendaklah dia mengubahnya dengan tangannya. Jika dia tidak mampu, maka  dengan lisannya. Jika dia tidak mampu, maka dengan hatinya. Yang  demikian itu adalah selemah-lemahnya iman." &lt;/em&gt; [HR.Muslim (49)] &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt; Adapun pada hari maulid, maka di dalamnya tidak boleh ada suatu  pengkhususan dengan suatu ibadah tertentu yang bisa mendekatkan diri  kepada-Nya, adanya nasihat, bimbingan, pembacaan kisah maulid, karena  Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- tidak pernah mengkhususkan hal  tersebut dengan perkara-perkara tersebut. Andaikan hal tersebut baik,  niscaya Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- adalah orang yang paling  pantas untuk (melakukan) hal tersebut. Akan tetapi nyatanya beliau tidak  pernah melakukannya. Menunjukkan bahwa adanya pengkhususan-pengkhususan  tersebut dengan ceramah, pembacaan kisah maulid atau selainnya termasuk  perkara-perkara bid’ah. Telah shahih dari Nabi -Shollallahu ‘alaihi  wasallam- bahwa beliau bersabda, &lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman, Times, serif;"&gt;مَنْ  أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِناَ هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt; "Barang siapa yang membuat-buat perkara baru dalam agama ini  yang bukan bagian dari agama ini, maka hal itu tertolak". &lt;/em&gt; [HR.  Al-Bukhariy dalam &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Shohih&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;-nya (2697) dan Muslim&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;(1718)]  &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt; Demikian pula halnya para sahabat, mereka tidak pernah melakukan  hal tersebut, padahal mereka adalah manusia yang paling tahu tentang  Sunnah dan paling bersemangat untuk mengamalkannya".&lt;/em&gt; [Lihat &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Fatawa  Al-Lajnah Ad-Da'imah&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; (5591), dan &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Al-Bida' wa  Al-Muhdatsat wa ma laa Ashla lahu&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; (628-630)] &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Jadi, maulid bukanlah sarana syar’i dalam beribadah dan mencintai  Nabi -&lt;em&gt;Shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;-. Tapi ia adalah ajaran  baru yang disusupkan oleh para pelaku bid’ah dan kebatilan . Bid’ah  perayaan hari lahir (ulang tahun) secara umum serta &lt;strong&gt;perayaan  hari lahir Nabi&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;-Shallallahu ‘alaihi wasallam-&lt;/em&gt; (maulid)  secara khusus, tidak muncul, kecuali pada zaman &lt;strong&gt;Al-Ubaidiyyun&lt;/strong&gt;  pada &lt;strong&gt;tahun 362 H&lt;/strong&gt;. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt; Ulama’ bermadzhab Syafi’iyyah, Al-Hafizh Ibnu Katsir  Ad-Dimasyqiy&lt;/strong&gt;&lt;em&gt; -rahimahullah- &lt;/em&gt; dalam &lt;strong&gt;&lt;em&gt;  Al-Bidayah wa An-Nihayah&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; (11/127) berkata, &lt;em&gt;“Sesungguhnya  pemerintahan Al-Fathimiyyun Al-Ubaidiyyun yang bernisbah kepada  Ubaidillah bin Maimun Al-Qoddah, seorang &lt;strong&gt;Yahudi&lt;/strong&gt; yang  memerintah di Mesir dari tahun 357 – 567 H, mereka memunculkan banyak  hari-hari raya. Di antaranya perayaan maulid Nabi -Shallallahu ‘alaihi  wasallam-”.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Sumber : &lt;/strong&gt;&lt;em&gt;Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 79  Tahun II. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Pesantren Tanwirus  Sunnah, Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu,  Gowa-Sulsel. HP : 08124173512 (a/n Ust. Abu Fa’izah). Pimpinan  Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc.  Dewan Redaksi : Santri Ma’had Tanwirus Sunnah – Gowa. Editor/Pengasuh :  Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Dzikro. Untuk  berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al-Atsary (085255974201). (infaq  Rp. 200,-/exp)&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2697845295052805777-7733310932004579599?l=salafiyunm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://salafiyunm.blogspot.com/feeds/7733310932004579599/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://salafiyunm.blogspot.com/2011/02/fatwa-ulama-besar-seputar-maulid.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2697845295052805777/posts/default/7733310932004579599'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2697845295052805777/posts/default/7733310932004579599'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://salafiyunm.blogspot.com/2011/02/fatwa-ulama-besar-seputar-maulid.html' title='Fatwa Ulama Besar Seputar Maulid'/><author><name>salafy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01883732528935283225</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2697845295052805777.post-319663708117146761</id><published>2011-02-14T16:34:00.001-08:00</published><updated>2011-02-14T16:34:54.471-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aqidah'/><title type='text'>Bulan Penuh Telur</title><content type='html'>&lt;p&gt; Pembaca yang budiman, memasuki bulan Rabi’ul Awal, apabila kita  berjalan di pasar-pasar, maka kita akan melihat banyaknya telur yang  dijual melebihi hari-hari pasar biasa. Tentunya kita sudah bisa menebak  bahwa sebagian kaum muslimin akan merayakan maulid di bulan tersebut.  Lalu bagaimana tinjauan syariat tentang hal tersebut? Apa defenisi  maulid? Bagaimana sejarah munculnya maulid? Apa fatwa para ulama tentang  perayaan maulid? Untuk mengetahui jawabannya, berikut kami akan uraikan  secara singkat. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt; Maulid&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; secara bahasa berarti tempat atau  waktu dilahirkannya seseorang. Karenanya, tempat maulid Nabi &lt;em&gt;-Shallallahu  ‘alaihi wasallam-&lt;/em&gt; adalah Mekkah. Sedangkan waktu maulid beliau  adalah pada hari Senin bulan Rabi’ul Awwal pada tahun Gajah tahun 53 SH  (Sebelum Hijriah) yang bertepatan dengan bulan April tahun 571 M. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Adapun tanggal kelahiran beliau, maka para &lt;strong&gt;ulama berselisih&lt;/strong&gt;  dalam penentuannya. Cukuplah ini menjadi tanda dan bukti nyata yang  menunjukkan bahwa Nabi &lt;em&gt;-Shallallahu ‘alaihi wasallam-&lt;/em&gt;, para  sahabat beliau, dan para ulama setelah mereka, tidaklah menaruh  perhatian besar dalam masalah hari maulid (kelahiran) Nabi &lt;em&gt;-Shallallahu  ‘alaihi wasallam-&lt;/em&gt;. Karena seandainya hari maulid beliau adalah  perkara yang penting, memiliki keutamaan yang besar dan memiliki arti  yang mendalam dalam Islam, maka pasti akan ditegaskan oleh Rasulullah &lt;em&gt;-Shallallahu  ‘alaihi wasallam- &lt;/em&gt;dalam hadits-hadits beliau, sebagai konsekwensi  kesempurnaan Islam dan semangat beliau dalam menunjukkan kebaikan kepada  ummatnya. Juga pasti akan dinukil dari para sahabat tentang tanggal  kelahiran beliau sebagai konsekwensi sikap amanah mereka dalam  menyampaikan ilmu. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt; Syaikh Abdullah bin Abdil Aziz At-Tuwaijiry &lt;/strong&gt;&lt;em&gt;  -hafizhahullah-&lt;/em&gt; berkata, &lt;em&gt;“Yang pertama kali memunculkan bid’ah  ini (perayaan maulid) adalah &lt;strong&gt;Bani ‘Ubaid Al-Qoddah &lt;/strong&gt;yang  menamakan diri dengan &lt;strong&gt;Al-Fathimiyyun&lt;/strong&gt; dan menyandarkan  nasab mereka kepada keturunan Ali bin Abi Tholib &lt;/em&gt;&lt;em&gt; -radhiyallahu  ‘anhu-&lt;/em&gt;&lt;em&gt; . Padahal sebenarnya, mereka adalah pendiri dakwah  bathiniyah. Nenek moyang mereka Ibnu Daishan yang dikenal dengan nama  Al-Qoddah, seorang budak milik Ja’far bin Muhammad Ash-Shadiq dan salah  seorang pendiri mazhab bathiniyah di Irak. Kemudian dia pergi ke negeri  Maghrib (Maroko) mengaku sebagai keturunan ‘Aqil bin Abi Thalib. Tatkala  kaum ekstrim Syi’ah-Rafidhah bergabung ke mazhabnya, diapun mengaku  sebagai anak Muhammad bin Isma’il bin Ja’far Ash-Shadiq dan mereka  menerima hal tersebut. Padahal Muhammad bin Isma’il meninggal dalam  keadaan tidak memiliki keturunan. Waktu terus berjalan hingga muncul  dari kalangan mereka seseorang yang dikenal bernama &lt;strong&gt;Sa’id bin  Al-Husain bin Ahmad bin Abdillah bin Maimun bin Dishan Al-Qoddah&lt;/strong&gt;,  yang kemudian mengubah nama dan nasabnya. Dia berkata kepada  pengikutnya, “Saya adalah ‘Ubaidullah bin Al-Hasan bin Muhammad bin  Isma’il bin Ja’far Ash-Shadiq”. Sehingga meluaslah fitnah  (malapetaka)nya di Maghrib”. &lt;/em&gt; [Lihat&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;  Al-Bida’ Al-Hauliyyah&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; (hal. 137-139)] &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt; Al-Hafizh Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;  -rahimahullah- &lt;/em&gt; dalam &lt;strong&gt;&lt;em&gt; Al-Bidayah wa An-Nihayah&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;  (11/127) berkata, &lt;em&gt;“Sesungguhnya pemerintahan Al-Fathimiyyun  Al-Ubaidiyyun yang bernisbah kepada Ubaidillah bin Maimun Al-Qoddah,  seorang &lt;strong&gt;Yahudi&lt;/strong&gt; yang memerintah di Mesir dari tahun 357 –  567 H, mereka memunculkan banyak hari-hari raya. Di antaranya perayaan  maulid Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-”.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Kemudian, bid’ah perayaan hari lahir (ulang tahun) secara umum serta  perayaan hari lahir Nabi &lt;em&gt;-Shallallahu ‘alaihi wasallam-&lt;/em&gt;  (maulid) secara khusus, tidak muncul, kecuali pada zaman &lt;strong&gt;Al-Ubaidiyyun&lt;/strong&gt;  pada &lt;strong&gt;tahun 362 H&lt;/strong&gt;. Tidak ada seorang pun yang  mendahului mereka dalam merayakan maulid ini. Kemudian, mereka diikuti  oleh Al-Muzhaffar Abu Sa’id pada abad ke tujuh sebagaimana yang akan  dijelaskan oleh Asy-Syaukaniy &lt;em&gt;-rahimahullah-&lt;/em&gt; . &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Perayaan maulid merupakan perkara baru dalam agama, lantarannya para  ulama dari zaman ke zaman menampakkan pengingkaran terhadap acara  tersebut. Diantara ulama yang mengingkari perayaan maulid (namun ini  bukan pembatasan): &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt; Syaikhul Islam Ahmad bin ‘Abdil Halim Al-Harraniy&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;-rahimahullah-&lt;/em&gt;  berkata dalam&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Al-Iqhtidho`&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; (hal. 295) saat  menjelaskan bid’ahnya maulid, &lt;em&gt;“Karena sesungguhnya hal ini (yaitu  perayaan maulid) tidak pernah dikerjakan oleh para ulama salaf, padahal  ada faktor-faktor yang mendukung dan tidak adanya faktor-faktor yang  bisa menghalangi pelaksanaannya. Seandainya amalan ini adalah kebaikan  semata-mata atau kebaikannya lebih besar (daripada kejelekannya), maka  tentunya para salaf -radhiyallahu ‘anhum- lebih berhak untuk  mengerjakannya daripada kita, karena mereka adalah orang yang sangat  mencintai dan mengagungkan Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam-  dibandingkan kita, dan mereka juga lebih bersemangat dalam masalah  kebaikan daripada kita. Sesungguhnya kesempurnaan mencintai dan  mengagungkan beliau hanyalah dengan cara mengikuti dan mentaati beliau,  mengikuti perintahnya, menghidupkan sunnahnya secara batin dan zhahir,  dan menyebarkan wahyu yang beliau diutus dengannya serta berjihad di  dalamnya dengan hati, tangan, dan lisan. Inilah jalan orang-orang yang  terdahulu lagi pertama dari kalangan Muhajirin dan Anshar serta  orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik”. &lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt; Al-Imam Tajuddin Abu Hafsh ‘Umar bin ‘Ali Al-Lakhmy  Al-Fakihaniy &lt;/strong&gt; -&lt;em&gt;rahimahullah- &lt;/em&gt;berkata dalam &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Al-Mawrid  fii ‘Amalil Maulid&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;,&lt;em&gt; “Saya tidak mengetahui bagi  perayaan maulid ini ada asalnya (baca: landasannya) dari Al-Kitab, tidak  pula dari Sunnah; tidak pernah dinukil pengamalannya dari seorang pun  di kalangan para ulama ummat ini yang merupakan panutan dalam agama,  yang berpegang teguh dengan jejak-jejak para ulama terdahulu. &lt;strong&gt;Bahkan  ini adalah bid’ah&lt;/strong&gt; yang dimunculkan oleh orang-orang yang tidak  punya pekerjaan (baca : kurang kerjaan) yang dikuasai oleh syahwat  jiwanya. &lt;strong&gt;Bid’ah ini hanya disenangi oleh orang-orang yang suka  makan!!&lt;/strong&gt;”.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt; Al-Imam Muhammad bin ‘Ali Asy-Syaukany &lt;/strong&gt;&lt;em&gt;  -rahimahullah-&lt;/em&gt; berkata, &lt;em&gt;“Saya tidak menemukan satupun dalil  yang membolehkannya. Orang yang pertama kali mengada-adakannya adalah  Raja Al-Muzhaffar Abu Sa’id pada abad ke tujuh. &lt;strong&gt;Kaum muslimin  telah bersepakat bahwa itu adalah bid’ah&lt;/strong&gt;”.&lt;/em&gt; [Lihat &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Al-Mawrid  fii Hukmil Ihtifal bil Maulid&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; karya ‘Aqil bin Muhammad  bin Zaid Al-Yamany (hal. 37)] &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt; Muhammad bin Muhammad Ibnul Hajj Al-Malikiy&lt;/strong&gt; -&lt;em&gt;rahimahullah&lt;/em&gt;-  berkata dalam &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Al-Madkhal &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;(2/2), &lt;em&gt;“Termasuk  perkara yang mereka munculkan berupa bid’ah -bersamaan dengan keyakinan  mereka bahwa itu termasuk sebesar-besar ibadah dan dalam rangka  menampakkan syi’ar-syi’ar (Islam)- adalah apa yang kerjakan dalam bulan  Rabi’ul Awwal berupa maulid. Acara ini telah menghimpun sejumlah bid’ah  dan perkara-perkara yang diharamkan”. &lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt; Seorang ulama Syafi’iyyah dari Mesir, Syaikh ‘Ali Mahfuzh&lt;/strong&gt;  -&lt;em&gt;rahimahullah&lt;/em&gt;- berkata dalam &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Al-Ibda’ fii  Madhorril Ibtida’&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; (hal. 272) tatkala beliau menyebutkan  beberapa contoh hari raya yang disandarkan kepada syari’at, padahal dia  bukan termasuk darinya, beliau berkata, &lt;em&gt;“Di antaranya adalah malam  ke 12 Rabi’ul Awwal, manusia berkumpul di masjid-masjid dan selainnya  untuk merayakannya (bid’ah maulid). Sehingga mereka melanggar kehormatan  rumah-rumah Allah -Ta’ala-, mereka berbuat isrof (berlebih-lebihan) di  dalamnya, para pembaca meninggikan suara-suara mereka dengan melantunkan  qoshidah-qoshidah berupa nyanyian (nasyid dan yang semisalnya) yang  membangkitkan syahwat para pemuda untuk berbuat kefasikan dan kefajiran.  Maka engkau melihat mereka ketika itu berteriak dengan suara-suara  kemungkaran, memunculkan di dalam masjid-masjid goncangan yang  mengagetkan. Terkadang mereka sama sekali tidak menyinggung dalam  qoshidah-qoshidah mereka, sedikitpun di antara kekhususan-kekhususan  Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam-, akhlak-akhlak beliau yang  mulia, dan amalan-amalan beliau yang bermanfaat dan mulia. Di antara  mereka ada yang menyibukkan diri dengan dzikir-dzikir yang dibuat-buat.  Semua perkara ini adalah perkara yang tidak diizinkan oleh Allah dan  Rasul-Nya serta tidak pernah dilakukan oleh para salafush shalih. &lt;strong&gt;Jadi,  ini (maulid) adalah bid’ah dan kesesatan&lt;/strong&gt;”.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Nah, sudah jelas bagi kita tentang bid’ahnya perayaan maulid.  Rasulullah &lt;em&gt;-Shallallahu ‘alaihi wasallam-&lt;/em&gt; telah bersabda, &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt; مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ  رَدٌّ &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt; “Siapa saja yang mengada-adakan dalam urusan (agama) kami  sesuatu yang tidak ada di dalamnya, maka itu tertolak”&lt;/em&gt; [&lt;strong&gt;HR.  Al-Bukhariy dan Muslim&lt;/strong&gt;] &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Beliau juga bersabda, &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt; مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ  أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt; “Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan yang tidak ada  tuntunannya dari kami, maka amalan tersebut tertolak”.&lt;/em&gt; [&lt;strong&gt;HR.  Muslim&lt;/strong&gt;] &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Di dalam agama Islam, hanya ada dua hari raya. Adapun selainnya,  maka ia merupakan hari yang harus ditinggalkan, karena Nabi &lt;em&gt;-Shallallahu  ‘alaihi wasallam-&lt;/em&gt;, dan para sahabatnya tidak mengerjakannya.  Rasulullah&lt;em&gt; -Shallallahu ‘alaihi wasallam- &lt;/em&gt; bersabda, &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt; لَنَا عِيْدَانِ مَعْشَرَ الْمُسْلِمِيْنَ, عِيْدُ الْأَضْحَى  وَعِيْدُ الْفِطْرِ&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt; “Wahai sekalian kaum muslimin, kita &lt;strong&gt;hanya memiliki 2  hari raya&lt;/strong&gt;, yaitu ‘Iedul Adhha dan ‘Iedul Fitri”. &lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Nabi &lt;em&gt; -Shallallahu ‘alaihi wasallam-&lt;/em&gt; pernah bersabda kepada  para sahabat, &lt;/p&gt; &lt;h1&gt; قَدَمْتُ عَلَيْكُمْ وَلَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُوْنَ فِيْهِمَا فِيْ  الجَاهِلِيَةِ وَقَدْ أَبْدَلَكُمُ اللهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا:  يَوْمً النَّحَرِ وَيَوْمَ الْفِطْرِ &lt;/h1&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt; “Saya datang kepada kalian, sedang kalian memiliki dua hari,  kalian bermain di dalamnya pada masa jahiliyyah.&lt;strong&gt; Allah sungguh  telah menggantikannya dengan hari yang lebih baik&lt;/strong&gt; darinya,  yaitu: hari Nahr (baca: iedul Adh-ha), dan hari fithr (baca: iedul  fatri)”.&lt;/em&gt; [HR. Abu Dawud dalam &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Sunan&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;-nya  (1134), An-Nasa`iy dalam &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Sunan&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;-nya (3/179),  Ahmad dalam &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Al-Musnad&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; (3/103), Al-Baghawy  dalam &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Syarh As-Sunnah&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; (1098), dan lainnya.  Lihat &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Shahih Sunan Abi Dawud&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; (1134)] &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Andaikan beliau mengerjakan perayaan maulid atau menyampaikannya,  maka wajib hal itu terpelihara, karena Allah &lt;em&gt;-Ta’ala-&lt;/em&gt;  berfirman, &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt; إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ  لَحَافِظُونَ &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt; “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan  sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”. &lt;/em&gt; (&lt;strong&gt;QS. Al-Hijr  : 9&lt;/strong&gt;) &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Maka tatkala tidak ada sedikitpun keterangan tentang hal tersebut, &lt;strong&gt;maka  diketahuilah bahwa maulid bukan bagian dari agama Allah&lt;/strong&gt;. Jika  dia bukan bagian dari agama Allah, maka tidak boleh kita beribadah dan  ber&lt;em&gt;taqarrub&lt;/em&gt; kepada Allah&lt;em&gt; -‘Azza wa Jalla-&lt;/em&gt; dengannya. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Perayaan ini, jika dia merupakan bagian dari kesempurnaan agama,  maka pasti ada sebelum wafatnya Rasul &lt;em&gt;-‘Alaihish Shalatu was Salam-&lt;/em&gt;.  Jika dia bukan bagian dari kesempurnaan agama, maka tidak mungkin dia  akan menjadi bagian agama, karena Allah &lt;em&gt;-Ta’ala-&lt;/em&gt; berfirman, &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt; الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt; “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu”. &lt;/em&gt;  (QS. Al-Ma`idah : 3) &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Barangsiapa yang menyangka bahwa dia bagian dari kesempurnaan agama,  padahal dia muncul setelah Rasulullah &lt;em&gt;-Shallallahu ‘alaihi  wasallam-&lt;/em&gt;, maka ucapannya itu mengandung pendustaan terhadap ayat  yang mulia ini. Mereka (para sahabat) tidak pernah mengerjakan satu pun  ketaatan, kecuali sesuatu yang disyari’atkan oleh Allah dan Rasul-Nya  sebagai pengamalan firman Allah &lt;em&gt;-Ta’ala-&lt;/em&gt;, &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt; وَمَا ءَاتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ  فَانْتَهُوا &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt; “Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia dan apa  yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah”. &lt;/em&gt; (&lt;strong&gt;QS.  Al-Hasyr: 7&lt;/strong&gt;) &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Jadi, tatkala mereka tidak pernah mengerjakan maulid ini,  diketahuilah bahwa dia adalah bid’ah. Karena tak mungkin ada kebaikan  yang tidak dicontohkan oleh Nabi &lt;em&gt;-Shallallahu ‘alaihi wasallam-&lt;/em&gt;  , dan para sahabatnya. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Beliau bersabda dalam hadits yang shahih, &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt; كُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعُة وَ&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;  كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt; “Setiap perkara baru adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah sesat”.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt; Perayaan maulid ini muncul abad keempat Hijriah yang  dimunculkan oleh Kekhalifahan &lt;em&gt;Al-Fathimiyyun Asy-Syi’ah&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;  dalam rangka mencontoh dan menyerupai orang-orang Nashrani yang  mengadakan perayaan maulid bagi Al-Masih ‘Isa bin Maryam &lt;em&gt;-‘alaihish  shalatu wassalam-&lt;/em&gt;. Hal ini menunjukkan bahwa dia adalah bid’ah.  Demikian pula halnya dengan perayaan malam Isra` Mi’raj, semuanya adalah  termasuk bid’ah-bid’ah. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Selain itu, terdapat berbagai kemungkaran di dalamnya seperti  berbaurnya laki-laki dan perempuan, buang-buang harta, pembacaan  syair-syair yang berisi kesyirikan, serta kemungkaran yang lainnya. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Seandainya pun seseorang itu menangis ketika merayakannya, tapi bila  tangisannya tersebut di atas selain hidayah, maka tangisannya tidak  akan bermanfaat baginya. Terkadang seseorang itu menangis, sedangkan dia  di atas kekafiran sehingga tangisannya tidak bermanfaat baginya.  Tangisannya tidak menambah sesuatu baginya, kecuali semakin jauh dari  Allah&lt;em&gt; -Subhanahu wa Ta‘ala-&lt;/em&gt;. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Tidakkah kita membaca firman Allah -&lt;em&gt;Ta‘ala-&lt;/em&gt;: &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt; وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ خَاشِعَةٌ. عَامِلَةٌ نَاصِبَةٌ. تَصْلَى  نَارًا حَامِيَةً. تُسْقَى مِنْ عَيْنٍ ءَانِيَةٍ &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt; “Banyak muka pada hari itu tunduk terhina,&lt;/em&gt;&lt;em&gt;bekerja keras  lagi kepayahan,&lt;/em&gt;&lt;em&gt;memasuki api yang sangat panas (neraka),&lt;/em&gt;&lt;em&gt;diberi  minum (dengan air) dari sumber yang sangat panas”. &lt;/em&gt;(&lt;strong&gt;QS.  Al-Ghasyiah: 2-5&lt;/strong&gt;) &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt; “Banyak muka pada hari itu tunduk terhina”&lt;/em&gt; : tunduk lagi  rendah. “&lt;em&gt;bekerja keras”&lt;/em&gt;: dia telah beramal, sibuk siang dan  malam dengan shalat dan puasa, tetapi tidak di atas ilmu, tidak sesuai  dengan syari’at lagi berbuat syirik. &lt;em&gt;“Banyak muka pada hari itu  tunduk terhina,&lt;/em&gt;&lt;em&gt;bekerja keras lagi kepayahan”&lt;/em&gt; : lelah dalam  beribadah dan beramal, sekalipun demikian, mereka &lt;em&gt;“memasuki api  yang sangat panas (neraka),&lt;/em&gt;&lt;em&gt;diberi minum (dengan air) dari  sumber yang sangat panas”&lt;/em&gt; yaitu sangat panas, dahsyat panasnya  telah sampai pada puncak didih dan dia diberikan minum darinya. Kita  memohon keselamatan dan &lt;em&gt;‘afiat&lt;/em&gt; kepada Allah. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Sumber : &lt;/strong&gt;&lt;em&gt;Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi  Khusus Tahun I. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Pesantren  Tanwirus Sunnah, Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto  Marannu, Gowa-Sulsel. HP : 08124173512 (a/n Ust. Abu Fa’izah). Pimpinan  Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc.  Dewan Redaksi : Santri Ma’had Tanwirus Sunnah – Gowa. Editor/Pengasuh :  Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Muhammad  Mulyadi. Untuk berlangganan hubungi alamat di atas. (infaq Rp.  200,-/exp) &lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2697845295052805777-319663708117146761?l=salafiyunm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://salafiyunm.blogspot.com/feeds/319663708117146761/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://salafiyunm.blogspot.com/2011/02/bulan-penuh-telur.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2697845295052805777/posts/default/319663708117146761'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2697845295052805777/posts/default/319663708117146761'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://salafiyunm.blogspot.com/2011/02/bulan-penuh-telur.html' title='Bulan Penuh Telur'/><author><name>salafy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01883732528935283225</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2697845295052805777.post-6445258230792407248</id><published>2011-02-14T16:33:00.001-08:00</published><updated>2011-02-14T16:33:49.675-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bahasa Arab'/><title type='text'>Fatwa Kafirnya Ahmadiyyah !!</title><content type='html'>&lt;p&gt;  &lt;strong&gt;&lt;em&gt; Ahmadiyyah&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; adalah gerakan yang mengusung  paham kafir, dan gerakan pemurtadan, sebab mereka meyakini bahwa masih  ada nabi setelah Nabi Muhammad &lt;em&gt;-Shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;-.  Ini adalah &lt;strong&gt;paham kafir&lt;/strong&gt; yang disepakati oleh para  ulama’ dan kaum muslimin dari zaman Nabi &lt;em&gt;-Shallallahu ‘alaihi wa  sallam&lt;/em&gt;- sampai hari ini !! &lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span id="more-296"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt; Ahmadiyyah&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; (biasa disebut &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Qodiyaniyyah&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;)  yang berasal dari Negeri Penyembah Sapi (India) telah mengangkat nabi  baru alias nabi palsu, yaitu pemimpin mereka sendiri yang bernama &lt;strong&gt;Mirza  Ghulam Ahmad&lt;/strong&gt;, seorang kaki tangan penjajah Inggris yang telah  menduduki India saat itu. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Ketika mereka mempermaklumkan paham kafir itu, maka serta-merta para  ulama di seluruh dunia mengeluarkan fatwa resmi, dan mengadakan  pertemuan demi menepis kerancuan dan penyimpangan yang ditimbulkan oleh  kelompok kafir itu. &lt;/p&gt; &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt; Fatwa &amp;amp; Pernyataan MUI &lt;/strong&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;p&gt; Melihat adanya paham kafir yang akan memecah belah masyarakat, maka  Majelis Ulama Indonesia mengeluarkan fatwa sebagai berikut nasnya: &lt;em&gt;"Bismillahir  Rahmanir Rahim, Majelis Ulama Indonesia dalam Musyawarah Nasional II,  tanggal 11-17 Rajab 1400 H/ 26 Mei-1 Juni 1980 &lt;/em&gt;&lt;em&gt; M&lt;/em&gt;&lt;em&gt; , di  Jakarta memfatwakan tentang Jama’ah Ahmadiyyah sebagai berikut: &lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt; Sesuai dengan data dan fakta yang diketemukan dalam 9  (sembilan) buah buku tentang Ahmadiyyah, Majelis Ulama Indonesia  memfatwakan bahwa &lt;strong&gt;Ahmadiyyah adalah&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;jama’ah di  luar Islam&lt;/strong&gt;, sesat, dan menyesatkan. &lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt; Dalam menghadapi persoalan Ahmadiyyah hendaknya Majelis Ulama  Indonesia selalu berhubungan dengan Pemerintah".&lt;/em&gt; [Lihat &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Himpunan  Fatwa Majelis Ulama Indonesia&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; (hal. 96), diterbitkan oleh  Bagian Proyek Sarana &amp;amp; Prasarana Produk Halal, Dirjen Bimbingan  Masyarakat Islam &amp;amp; Penyelenggara Haji, Departemen Agama RI, 2003 M] &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt; Pembaca yang budiman, kenapa kafir??!&lt;/strong&gt; Karena  mendustakan firman Allah, &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Allah &lt;em&gt;-Ta’ala-&lt;/em&gt; berfirman, &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;em&gt;"Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari  seorang laki-laki di antara kamu., tetapi dia adalah Rasulullah dan  penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu".&lt;/em&gt;  (QS. &lt;strong&gt;Al-Ahzab&lt;/strong&gt; : 40) &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt; Al-Hafizh Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;-rahimahullah-&lt;/em&gt;  berkata dalam &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;(3/650),  &lt;em&gt;"Ayat ini adalah nash bahwa tak ada nabi lagi setelah Nabi Muhammad  -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Jika tak ada nabi setelah beliau, maka  tentunya tak ada rasul setelahnya, karena jenjang kerasulan lebih  khusus dibandingkan dengan jenjang kenabian, karena setiap rasul adalah  nabi, dan bukan sebaliknya. Inilah yang tertera dalam hadits-hadits  mutawatir dari Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- yang berasal  dari sekelompok sahabat -radhiyallahu ‘anhum-". &lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Selain itu orang-orang Ahmadiyyah dan pengaku-pengaku kenabian  lainnya di zaman ini telah mengingkari hadits-hadits shohih, seperti  sabda Nabi &lt;em&gt;-Shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;- &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman, Times, serif;"&gt;فِيْ  أُمَّتِيْ كَذَّابُوْنَ وَدَجَّالُوْنَ سَبْعَةٌ وَعِشْرُوْنَ مِنْهُمْ  أَرْبَعُ نِسْوَةٍ وَإِنِّيْ خَاتَمُ النَّبِيِّيْنَ لّا نَبِيَّ بَعْدِيْ &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt; "Di tengah ummatku ada tukang dusta, dan dajjal (jumlahnya) 27  orang, diantara mereka ada empat wanita. Sesungguhnya aku adalah penutup  para nabi, tak ada lagi nabi setelahku".&lt;/em&gt; [HR. Ath-Thohawiy dalam &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Musykil  Al-Atsar&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; (4/104), Ahmad (5/396/no. 23406), Ath-Thobroniy  dalam &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Al-Kabir&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; (3026), dan &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Al-Ausath&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;  (5582). Di-&lt;em&gt;shohih&lt;/em&gt;-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Ash-Shohihah&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;  (1999)] &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt; Muhaddits Negeri Syam, Syaikh Muhammad Nashiruddin  Al-Albaniy&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;-rahimahullah-&lt;/em&gt; berkata, &lt;em&gt;"Dalam hadits  ini terdapat bantahan yang gamblang atas orang-orang Ahmadiyyah  Qodiyaniyyah, dan Ibnu Arobi sebelumnya yang berpendapat tentang adanya  kenabian setelah Nabi Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam-, dan bahwa  nabi gadungan mereka, yaitu Mirza Ghulam Ahmad Al-Qodiyaniy adalah  tukang dusta, dan dajjal di antara dajjal dajjal tersebut".&lt;/em&gt;[Lihat &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Ash-Shohihah&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;  (4/655)] &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Jadi, Mirza Ghulam Ahmad, dan orang-orang Ahmadiyyah adalah  orang-orang kafir. Karenanya, &lt;strong&gt;MUI &lt;/strong&gt;dalam&lt;strong&gt;  Rakernas&lt;/strong&gt; 1-4 Jumadil Akhir 1404 H/4-7 Maret 1984 M setelah  meminta agar Ahmadiyyah dibubarkan, maka &lt;strong&gt;MUI&lt;/strong&gt; menyerukan  beberapa hal berikut teksnya, &lt;/p&gt; &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt; Agar Majelis Ulama Indonesia, Majelis Ulama Daerah Tingkat I,  Daerah Tingkat II, para ulama, dan da’i di seluruh Indonesia,  menjelaskan kepada masyarakat tentang &lt;strong&gt;sesatnya Jema’at  Ahmadiyyah Qodiyaniyyah yang berada di luar Islam. &lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt; Bagi mereka yang telah terlanjur mengikuti Jema’at Ahmadiyyah  Qodiyaniyyah supaya segera kembali kepada ajaran Islam yang benar. &lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt; Kepada seluruh ummat Islam supaya mempertinggi kewaspadaannya,  sehingga tidak akan terpengaruh dengan faham yang sesat itu".&lt;/em&gt;  [Lihat &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Himpunan Fatwa Majelis Ulama Indonesia&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;  (hal. 96-97), diterbitkan oleh Bagian Proyek Sarana &amp;amp; Prasarana  Produk Halal, Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam &amp;amp; Penyelenggara  Haji, Departemen Agama RI, 2003 M] &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt; Pernyataan Lembaga Fatwa Kerajaan Saudi Arabia &lt;/strong&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;p&gt; Pernyataan serupa muncul dari negeri lain, ketika para ulama  Kerajaan Saudi Arabia ditanya tentang munculnya agama baru yang bernama &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Ahmadiyyah&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;  alias &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Qodiyaniyyah&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;, maka para ulama yang  tergabung dalam Lembaga Fatwa (&lt;strong&gt;Al-Lajnah Ad-Da’imah&lt;/strong&gt;) di  negeri itu mengeluarkan fatwa resmi sebagai berikut nasnya: &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt; "Sungguh telah terbit pernyataan dari Pemerintah Pakistan  tentang golongan ini bahwa ia adalah &lt;strong&gt;kelompok yang keluar  (murtad)&lt;/strong&gt; dari Islam!! Demikian pula, telah keluar pernyataan  yang sama tentang kelompok ini dari &lt;strong&gt;Rabithah Alam Islami&lt;/strong&gt;,  di Makkah Al-Mukarramah, dan juga pernyataan dari &lt;strong&gt;Muktamar  Organisasi-organisasi Islam&lt;/strong&gt; yang diadakan di Rabithah, tahun  1394 H. Sungguh telah diedarkan risalah yang menjelaskan prinsip  golongan ini, bagaimana ia muncul, kapan, dan seterusnya, diantara  perkara yang menjelaskan hakikatnya. &lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt; Intinya&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt; , Ahmadiyyah adalah kelompok  yang mengakui bahwa Mirza Ghulam Ahmad (seorang berkebangsaan India)  adalah seorang nabi yang diberi wahyu; mengakui bahwa tak sah keislaman  seseorang sampai ia mau beriman kepadanya. Dia adalah seorang  berkelahiran abad ke-13 Hijriyyah. &lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt; Allah -Subhanahu- sungguh telah mengabarkan dalam Kitab-Nya yang  Mulia bahwa Nabi kita Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam- adalah  penutup para nabi. Ulama kaum muslimin telah menyepakati hal itu.  Barangsiapa yang meyakini bahwa ada nabi yang diberi wahyu dari Allah  -Azza wa Jalla- setelah beliau -Shollallahu ‘alaihi wasallam-, maka ia  kafir !! Karena ia telah mendustakan Kitab Allah -Azza wa Jalla-, dan  hadits-hadits shohih dari Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-  yang menunjukkan bahwa beliau adalah penutup para nabi, dan juga  menyelisihi ijma’ (kesepakatan) ummat. Wabillahit taufiq, washollallahu  ala Nabiyyina Muhammad wa alihi wa shohbihi wa sallam".&lt;/em&gt; [Lihat &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Fatawa  Al-Lajnah Ad-Da'imah li Al-Buhuts Al-Ilmiyyah wa Al-Ifta'&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;  (2/312-313)] &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Sebuah pertanyaan pernah dilayangkan ke &lt;strong&gt;Lembaga Fatwa  Kerajaan Saudi Arabia &lt;/strong&gt;(&lt;strong&gt;Al-Lajnah Ad-Da’imah&lt;/strong&gt;)  berbunyi, &lt;em&gt;"Apa perbedaan antara kaum muslimin dengan orang-orang  Ahmadiyyah?" &lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt; Para ulama yang diketuai oleh Al-Allamah Syaikh Abdul Aziz  bin Baaz saat itu memfatwakan&lt;/strong&gt; , &lt;em&gt;"Perbedaan antara keduanya,  kaum muslimin adalah orang-orang yang hanya menyembah Allah, dan  mengikuti Rasul-Nya Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam- , dan  beriman bahwa beliau adalah penutup para nabi, tak ada lagi nabi  setelahnya. Adapun orang-orang Ahmadiyyah, mereka adalah pengikut Mirza  Ghulam Ahmad. &lt;strong&gt;Mereka ini adalah orang-orang kafir&lt;/strong&gt;,  bukan muslim !! Karena mereka meyakini bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah  seorang nabi setelah Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam- .  Barangsiapa yang meyakini aqidah (keyakinan) ini, maka ia kafir menurut  pernyataan seluruh ulama’ kaum muslimin berdasar firman Allah  –Subhanahu-, &lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;em&gt;"Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari  seorang laki-laki di antara kamu., tetapi dia adalah Rasulullah dan  penutup nabi-nabi".&lt;/em&gt; (QS. &lt;strong&gt;Al-Ahzab&lt;/strong&gt; : 40) &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt; dan juga berdasarkan hadits yang shohih dari Rasulullah  -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bahwa beliau bersabda, &lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman, Times, serif;font-size:130%;"&gt;أَنَا خَاتَمُ  النَّبِيِّيْنَ لاَ نَبِيَّ بَعْدِيْ&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt; "Aku adalah penutup para nabi, tak ada lagi nabi setelahku".&lt;/em&gt;  [HR. Al-Bukhoriy dalam &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Shohih&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;-nya (3535),  Muslim dalam &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Shohih&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;-nya (2286), Abu Dawud  dalam &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Sunan&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;-nya (4252), dan Ahmad dalam &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Musnad&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;-nya  (2/398)] &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt; Wabillahit taufiq, washollallahu ala Nabiyyina Muhammad wa alihi  wa shohbihi wa sallam".&lt;/em&gt; [Lihat &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Fatawa Al-Lajnah  Ad-Da'imah li Al-Buhuts Al-Ilmiyyah wa Al-Ifta' &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;(2/314)] &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt; Sekali lagi&lt;/strong&gt; , ulama kita di Negeri turunnya wahyu  mengeluarkan fatwa sehubungan dengan pertanyaan yang dikirimkan kepada  mereka. Penanya meminta penjelasan tentang kedudukan orang Ahmadiyyah  yang biasa disebut Qodiyaniyyah. Maka para ulama yang tergabung dalam &lt;strong&gt;Lembaga  Fatwa KSA&lt;/strong&gt; (&lt;strong&gt;Al-Lajnah Ad-Da’imah&lt;/strong&gt;) memfatwakan,  &lt;em&gt;"Pintu kenabian telah tertutup dengan (datangnya) Nabi kita  Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam- . Jadi tak ada lagi nabi setelah  beliau, karenanya tetapnya hal itu dalam Al-Kitab dan Sunnah. Barang  siapa yang mengaku nabi setelah itu, maka ia adalah tukang dusta.  Diantaranya, Mirza Ghulam Ahmad. Maka pengakuan kenabian bagi dirinya  adalah kedustaan, dan sesuatu yang diyakini oleh orang-orang  Qodiyaniyyah berupa kenabian Mirza adalah sangkaan yang dusta. Sungguh  telah terbit pernyataan dari Hai’ah Kibar Ulama (Majelis Ulama Besar) di  Kerajaan Saudi Arabia dalam menganggap orang-orang Qodiyaniyyah adalah  kelompok kafir karena alasan tersebut Wabillahit taufiq, washollallahu  ala Nabiyyina Muhammad wa alihi wa shohbihi wa sallam".&lt;/em&gt; [Lihat &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Fatawa  Al-Lajnah Ad-Da'imah li Al-Buhuts Al-Ilmiyyah wa Al-Ifta' &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;(2/313)]  &lt;/p&gt; &lt;ul&gt;&lt;li&gt; Nasihat &amp;amp; Peringatan bagi Kaum Muslimin &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;p&gt; Terakhir kami ingin ingatkan kepada seluruh kaum muslimin bahwa  orang-orang Ahmadiyyah belakangan ini terus menjalankan makarnya untuk  memurtadkan kalian dari agama kalian. Sebuah contoh, saat &lt;strong&gt;FPI&lt;/strong&gt;  melakukan tindak keras kepada orang-orang Ahmadiyyah, maka orang-orang  Ahmadiyyah berusaha membuat opini bahwa mereka adalah orang-orang yang  terzholimi, perlu didukung. Sehingga dengan momen ini, Ahmadiyyah  berusaha &lt;strong&gt; mencari simpati&lt;/strong&gt; dari kaum muslimin dengan  berbagai cara (seperti, membagikan hadiah &amp;amp; shodaqoh di Makasaar).  Pada gilirannya, mereka akan tetap kokoh, dan berjalan bebas di  Indonesia Raya untuk melakukan aksi perusakan aqidah dan keyakinan  sehingga anak bangsa ini akan menjadi murtad !! &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt; Kami juga nasihatkan kepada kaum muslimin agar mempelajari  agama yang tertera dalam Al-Qur’an dan Sunnah pada seorang ulama dan  ustadz Ahlus Sunnah&lt;/strong&gt; , bukan dari orang-orang sesat, apalagi  kafir seperti Ahmadiyyah. Ilmu agama akan menjadi benteng kokoh dalam  menghadapi segala bentuk gelombang, dan serangan aqidah sesat lagi  kafir. &lt;strong&gt;Inilah rahasianya&lt;/strong&gt; seorang pemuda &lt;strong&gt;di&lt;/strong&gt;  akhir zaman nanti akan kokoh di atas agamanya, karena ia membentengi  dirinya dengan ilmu wahyu. Dia tak ragu tentang kebatilan Dajjal  Pendusta, bahkan ia dengan berani menyatakan kepada Dajjal dan  pengikutnya, &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman, Times, serif;"&gt;فَإِذَا  رَآهُ الْمُؤْمِنُ قَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ هَذَا الدَّجَّالُ الَّذِيْ  ذَكَرَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt; "Jika Dajjal telah dilihat (dijumpai) oleh Pemuda mukmin ini,  maka ia berkata, "Wahai manusia, inilah Dajjal yang pernah disebutkan  oleh Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam-". &lt;/em&gt; [HR. Muslim dalam  &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Shohih&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;-nya (2938)] &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt; Syaikh Salim Ied Al-Hilaliy&lt;/strong&gt; -&lt;em&gt;hafizhahullah&lt;/em&gt;-  berkata ketika men-&lt;em&gt;syarah&lt;/em&gt; hadits ini, &lt;em&gt;"Seorang muslim  hendaknya mengambil cahaya (petunjuk) ketika terjadinya masalah-masalah  dari hadits yang shohih dari Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Maka  ia akan sanggup mengenali Dajjal dengan sifat-sifatnya yang tersebut  dalam Sunnah yang shohih".&lt;/em&gt;[Lihat &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Bahjah An-Nazhirin&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;  (3/288)]&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Sumber : &lt;/strong&gt;&lt;em&gt;Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 72  Tahun II. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Pesantren Tanwirus  Sunnah, Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu,  Gowa-Sulsel. HP : 08124173512 (a/n Ust. Abu Fa’izah). Pimpinan  Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc.  Dewan Redaksi : Santri Ma’had Tanwirus Sunnah – Gowa. Editor/Pengasuh :  Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Dzikro. Untuk  berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al-Atsary (085255974201). (infaq  Rp. 200,-/exp)&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;!-- AddThis Button BEGIN --&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt; //&lt;!--var addthis_append_data = 'true';var addthis_options = 'facebook, tweeter, google, blogger, friendster'; //--&gt; &lt;/script&gt; &lt;a href="http://www.addthis.com/bookmark.php?v=250&amp;amp;username=almakassari" class="addthis_button" url="http%3A%2F%2Falmakassari.com%2Fartikel-islam%2Ffatwa%2Ffatwa-kafirnya-ahmadiyyah.html" title="Fatwa+Kafirnya+Ahmadiyyah+%21%21"&gt;&lt;img src="http://s7.addthis.com/static/btn/v2/lg-share-en.gif" alt="Share" width="125" border="0" height="16" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2697845295052805777-6445258230792407248?l=salafiyunm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://salafiyunm.blogspot.com/feeds/6445258230792407248/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://salafiyunm.blogspot.com/2011/02/fatwa-kafirnya-ahmadiyyah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2697845295052805777/posts/default/6445258230792407248'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2697845295052805777/posts/default/6445258230792407248'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://salafiyunm.blogspot.com/2011/02/fatwa-kafirnya-ahmadiyyah.html' title='Fatwa Kafirnya Ahmadiyyah !!'/><author><name>salafy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01883732528935283225</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2697845295052805777.post-7910913805994320677</id><published>2011-02-08T17:06:00.000-08:00</published><updated>2011-02-08T17:13:39.381-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Download'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Daurah'/><title type='text'>Download Daurah Gorontalo</title><content type='html'>Al-Ustadz Luqman Baabduh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;pre&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com.s98986.gridserver.com/kajian/users/manado/dauroh_gorontalo_1432H-2011M/01-ust-luqman-baabduh__solusi-syari-dalam-menghadapi-musibah-di-negeri-ini__dauroh-gorontalo.mp3"&gt;01-ust-luqman-baabduh solusi-syari-dalam-menghadapi-musibah-di-negeri&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com.s98986.gridserver.com/kajian/users/manado/dauroh_gorontalo_1432H-2011M/01-ust-luqman-baabduh__tanya-jawab--tragedi-mesir_pemilu_dsb.mp3"&gt;01-ust-luqman-baabduh__tanya-jawab--tragedi-mesir_pemilu_dsb&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com.s98986.gridserver.com/kajian/users/manado/dauroh_gorontalo_1432H-2011M/02-ust-luqman-baabduh__solusi-syari-dalam-menghadapi-musibah-di-negeri-ini__dauroh-gorontalo.mp3"&gt;02-ust-luqman-baabduh__solusi-syari-dalam-menghadapi-musibah-di-negeri&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com.s98986.gridserver.com/kajian/users/manado/dauroh_gorontalo_1432H-2011M/bersyukur-dan-mencintai-rasul.mp3"&gt;bersyukur-dan-mencintai-rasul&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com.s98986.gridserver.com/kajian/users/manado/dauroh_gorontalo_1432H-2011M/ust-luqman-baabduh__tausiyah-subuh__dauroh-gorontalo.mp3"&gt;ust-luqman-baabduh__tausiyah-subuh__dauroh-gorontalo&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2697845295052805777-7910913805994320677?l=salafiyunm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://salafiyunm.blogspot.com/feeds/7910913805994320677/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://salafiyunm.blogspot.com/2011/02/download-daurah-gorontalo.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2697845295052805777/posts/default/7910913805994320677'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2697845295052805777/posts/default/7910913805994320677'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://salafiyunm.blogspot.com/2011/02/download-daurah-gorontalo.html' title='Download Daurah Gorontalo'/><author><name>salafy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01883732528935283225</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2697845295052805777.post-4288948630104313267</id><published>2011-01-31T17:54:00.000-08:00</published><updated>2011-01-31T18:05:13.527-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Download'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Daurah'/><title type='text'>Dauroh-Al-Ustadz-Dzulqarnain-Jakarta-29-30-Januari-2011</title><content type='html'>&lt;pre&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;1.Kitab Ushulus Sunnah - Masjid Al I’thisham&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;a href="http://www.4shared.com/file/1UMhib4k/Ushulsus_Sunnah.html"&gt;Kitab Ushulus Sunnah&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Enam Pilar Aqidah Dari PejalananRasulullah - Masjid Fatahillah&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com.s98986.gridserver.com/kajian/users/problemamuslim/Audio/Dauroh-Al-Ustadz-Dzulqarnain-Jakarta-29-30-Januari-2011/Masjid-Fatahillah-Depok/EnamPilarAqidahDariPejalananRasulullah1_AlUstadzDzulqarnain.mp3"&gt;EnamPilarAqidahDariPEnamPilarAqidahDariPejalananRasulullah1&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com.s98986.gridserver.com/kajian/users/problemamuslim/Audio/Dauroh-Al-Ustadz-Dzulqarnain-Jakarta-29-30-Januari-2011/Masjid-Fatahillah-Depok/EnamPilarAqidahDariPejalananRasulullah2_AlUstadzDzulqarnain.mp3"&gt;EnamPilarAqidahDariPEnamPilarAqidahDariPejalananRasulullah2&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com.s98986.gridserver.com/kajian/users/problemamuslim/Audio/Dauroh-Al-Ustadz-Dzulqarnain-Jakarta-29-30-Januari-2011/Masjid-Fatahillah-Depok/EnamPilarAqidahDariPejalananRasulullah3_AlUstadzDzulqarnain.mp3"&gt;EnamPilarAqidahDariPEnamPilarAqidahDariPejalananRasulullah3&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.Kiat Membina Keharmonisan Rumah Tangga - Masjid-UNJ-Rawamangun&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com.s98986.gridserver.com/kajian/users/problemamuslim/Audio/Dauroh-Al-Ustadz-Dzulqarnain-Jakarta-29-30-Januari-2011/Masjid-UNJ-Rawamangun/KiatMembinaKeharmonisanRumahTangga_AlUstadzDzulqarnain.mp3"&gt;Kiat Membina Keharmonisan Rumah Tangga&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com.s98986.gridserver.com/kajian/users/problemamuslim/Audio/Dauroh-Al-Ustadz-Dzulqarnain-Jakarta-29-30-Januari-2011/Masjid-UNJ-Rawamangun/Tanya-Jawab_KiatMembinaKeharmonisanRumahTangga_AlUstadzDzulqarnain.mp3"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Tanya-Jawab_Kiat Membina Keharmonisan Rumah Tangga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/pre&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2697845295052805777-4288948630104313267?l=salafiyunm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://salafiyunm.blogspot.com/feeds/4288948630104313267/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://salafiyunm.blogspot.com/2011/01/dauroh-al-ustadz-dzulqarnain-jakarta-29.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2697845295052805777/posts/default/4288948630104313267'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2697845295052805777/posts/default/4288948630104313267'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://salafiyunm.blogspot.com/2011/01/dauroh-al-ustadz-dzulqarnain-jakarta-29.html' title='Dauroh-Al-Ustadz-Dzulqarnain-Jakarta-29-30-Januari-2011'/><author><name>salafy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01883732528935283225</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2697845295052805777.post-5921446606962131109</id><published>2011-01-31T17:34:00.001-08:00</published><updated>2011-01-31T17:34:18.789-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aqidah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manhaj'/><title type='text'>5 Perbedaan Antara Nabi dan Rasul</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Para ulama menyebutkan banyak perbedaan antara nabi dan rasul, tapi di sini kami hanya akan menyebutkan sebahagian di antaranya:&lt;br /&gt;1. Jenjang kerasulan lebih tinggi daripada jenjang kenabian. Karena tidak mungkin seorang itu menjadi rasul kecuali setelah menjadi nabi. Oleh karena itulah, para ulama menyatakan bahwa Nabi Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam- diangkat menjadi nabi dengan 5 ayat pertama dari surah Al-‘Alaq dan diangkat menjadi rasul dengan dengan 7 ayat pertama dari surah Al-Mudatstsir. Telah berlalu keterangan bahwa setiap rasul adalah nabi, tidak sebaliknya.&lt;br /&gt;Imam As-Saffariny -rahimahullah- berkata, “Rasul lebih utama daripada nabi berdasarkan ijma’, karena rasul diistimewakan dengan risalah, yang mana (jenjang) ini lebih ringgi daripada jenjang kenabian”. (Lawami’ Al-Anwar: 1/50)&lt;br /&gt;Al-Hafizh Ibnu Katsir juga menyatakan dalam Tafsirnya (3/47), “Tidak ada perbedaan (di kalangan ulama) bahwasanya para rasul lebih utama daripada seluruh nabi dan bahwa ulul ‘azmi merupakan yang paling utama di antara mereka (para rasul)”.&lt;span id="more-1292"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;2.    Rasul diutus kepada kaum yang kafir, sedangkan nabi diutus kepada kaum yang telah beriman.&lt;br /&gt;Allah -’Azza wa Jalla- menyatakan bahwa yang didustakan oleh manusia adalah para rasul dan bukan para nabi, di dalam firman-Nya:&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;ثُمَّ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا تَتْرَى كُلَّ مَا جَاءَ أُمَّةً رَسُولُهَا كَذَّبُوه&lt;/strong&gt;ُ&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Kemudian Kami utus (kepada umat-umat itu) rasul-rasul Kami berturut-turut. Tiap-tiap seorang rasul datang kepada&lt;/em&gt; umatnya, umat itu mendustakannya”. (QS. Al-Mu`minun : 44)&lt;br /&gt;Dan dalam surah Asy-Syu’ara` ayat 105, Allah menyatakan:&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;كَذَّبَتْ قَوْمُ نُوحٍ الْمُرْسَلِينَ&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Kaum Nuh telah mendustakan para rasul”.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Allah tidak mengatakan “Kaum Nuh telah mendustakan para nabi”, karena para nabi hanya diutus kepada kaum yang sudah beriman dan membenarkan rasul sebelumnya. Hal ini sebagaimana yang dinyatakan oleh Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam-:&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;كَانَتْ بَنُوْ إِسْرَائِيْلَ تَسُوْسُهُمُ الْأَنْبِيَاءُ كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Dulu bani Isra`il diurus(dipimpin) oleh banyak nab. Setiap kali seorang nabi wafat, maka digantikan oleh nabi setelahnya”.&lt;/em&gt; (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;3. Syari’at para rasul berbeda antara satu dengan yang lainnya, atau dengan kata lain bahwa para rasul diutus dengan membawa syari’at baru. Allah -Subhanahu wa Ta’ala- menyatakan:&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, kami berikan aturan dan jalan yang terang”.&lt;/em&gt; (QS. Al-Ma`idah : 48)&lt;br /&gt;Allah mengabarkan tentang ‘Isa bahwa risalahnya berbeda dari risalah sebelumnya di dalam firman-Nya:&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;وَلِأُحِلَّ لَكُمْ بَعْضَ الَّذِي حُرِّمَ عَلَيْكُمْ&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Dan untuk menghalalkan bagi kalian sebagian yang dulu diharamkan untuk kalian”.&lt;/em&gt; (QS. Ali ‘Imran : 50)&lt;br /&gt;Nabi Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam- menyebutkan perkara yang dihalalkan untuk umat beliau, yang mana perkara ini telah diharamkan atas umat-umat sebelum beliau:&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;وَأُحِلَّتْ لِيَ الْغَنَائِمَ وَجُعِلَتْ لِيَ الْأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُوْرًا&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Dihalalkan untukku ghonimah dan dijadikan untukku bumi sebagai mesjid (tempat sholat) dan alat bersuci (tayammum)”&lt;/em&gt;.(HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Jabir)&lt;br /&gt;Adapun para nabi, mereka datang bukan dengan syari’at baru, akan tetapi hanya menjalankan syari’at rasul sebelumnya. Hal ini sebagaimana yang terjadi pada nabi-nabi Bani Isra`il, kebanyakan mereka menjalankan syari’at Nabi Musa -’alaihis salam-.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;4.    Rasul pertama adalah Nuh -’alaihis salam-, sedangkan nabi yang pertama adalah Adam -’alaihis salam-.&lt;br /&gt;Allah -’Azza wa Jalla- menyatakan:&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَى نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِنْ بَعْدِهِ&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang setelahnya”.&lt;/em&gt; (QS. An-Nisa` : 163)&lt;br /&gt;Dan Nabi Adam berkata kepada manusia ketika mereka meminta syafa’at kepada beliau di padang mahsyar:&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;وَلَكِنِ ائْتُوْا نُوْحًا فَإِنَّهُ أَوَّلُ رَسُوْلٍ بَعَثَهُ اللهُ إِلَى أَهْلِ الْأَرْضِ&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Akan tetapi kalian datangilah Nuh, karena sesungguhnya dia adalah rasul pertama yang Allah utus kepada penduduk bumi”. &lt;/em&gt;(HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik)&lt;br /&gt;Jarak waktu antara Adam dan Nuh adalah 10 abad sebagaimana dalam hadits shohih yang diriwayatkah oleh Ibnu Hibban (14/69), Al-Hakim (2/262), dan Ath-Thobarony (8/140).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;5. Seluruh rasul yang diutus, Allah selamatkan dari percobaan pembunuhan yang dilancarkan oleh kaumnya. Adapun nabi, ada di antara mereka yang berhasil dibunuh oleh kaumnya, sebagaimana yang Allah nyatakan dalam surah Al-Baqarah ayat 91:&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;فَلِمَ تَقْتُلُونَ أَنْبِيَاءَ اللَّهِ مِنْ قَبْلُ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Mengapa kalian dahulu membunuh nabi-nabi Allah jika benar kalian orang-orang yang beriman?”. &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Juga dalam firman-Nya:&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;وَيَقْتُلُونَ النَّبِيِّينَ بِغَيْرِ حَقٍّ&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Mereka membunuh para nabi tanpa haq”&lt;/em&gt;. (QS. Al-Baqarah : 61)&lt;br /&gt;Allah menyebutkan dalam surah-surah yang lain bahwa yang terbunuh adalah nabi, bukan rasul.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2697845295052805777-5921446606962131109?l=salafiyunm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://salafiyunm.blogspot.com/feeds/5921446606962131109/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://salafiyunm.blogspot.com/2011/01/5-perbedaan-antara-nabi-dan-rasul.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2697845295052805777/posts/default/5921446606962131109'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2697845295052805777/posts/default/5921446606962131109'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://salafiyunm.blogspot.com/2011/01/5-perbedaan-antara-nabi-dan-rasul.html' title='5 Perbedaan Antara Nabi dan Rasul'/><author><name>salafy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01883732528935283225</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2697845295052805777.post-8275860807855176033</id><published>2011-01-31T17:28:00.001-08:00</published><updated>2011-01-31T17:28:14.718-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fatwa'/><title type='text'>Mana yang Afdhal, Orang Kaya yang Bersyukur Ataukah Orang Miskin yang Bersabar?</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Yang benar dalam permasalahan ini adalah: Bahwa orang kaya yang bersyukur itu lebih utama daripada orang miskin yang bersabar. hal ini berdasarkan banyak dalil, di antaranya:&lt;br /&gt;1. Hadits Abu Hurairah -radhiallahu anhu- tentang kisah datangnya orang-orang fakir Al-Muhajirin kepada Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- lalu mereka berkata, &lt;em&gt;“Para pemilik harta telah pergi jauh (meninggalkan kami) dengan membawa banyak pahala,” &lt;/em&gt;kemudian tatkala mereka berkata, &lt;em&gt;“Saudara-saudara kami yang kaya mengetahui amalan (zikir) itu lalu mereka pun mengerjakan seperti apa yang kami kerjakan.” &lt;/em&gt;Maka beliau bersabda, &lt;em&gt;“Itulah (kekayaan) keutamaan Allah yang Dia berikan kepada siapa yang Dia kehendaki.”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;2. Di antara dalilnya adalah: Bahwa manfaat (kebaikan) dari orang kaya yang bersyukur juga akan mengenai orang di sekitarnya (dengan sedekah dan semacamnya). Sementara manfaat dari orang miskin yang sabar hanya didapatkan oleh dirinya seorang.&lt;br /&gt;3. Di antaranya adalah: Bahwa orang yang kaya akan didatangi oleh banyak syahwat, lalu dia berjihad melawan jiwanya dan mengekang hawa nafsunya dari semua syahwat yang diharamkan, sehingga dia bisa menjadi orang yang bersyukur. (Berbeda halnya dengan orang yang miskin)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[Fawaid Ammah 6, Asy-Syaikh Abdul Aziz Ar-Rajihi -hafizhahullah-. Dan tulisan di dalam kurung adalah dari kami]&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2697845295052805777-8275860807855176033?l=salafiyunm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://salafiyunm.blogspot.com/feeds/8275860807855176033/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://salafiyunm.blogspot.com/2011/01/mana-yang-afdhal-orang-kaya-yang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2697845295052805777/posts/default/8275860807855176033'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2697845295052805777/posts/default/8275860807855176033'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://salafiyunm.blogspot.com/2011/01/mana-yang-afdhal-orang-kaya-yang.html' title='Mana yang Afdhal, Orang Kaya yang Bersyukur Ataukah Orang Miskin yang Bersabar?'/><author><name>salafy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01883732528935283225</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2697845295052805777.post-5369728500043909316</id><published>2011-01-30T17:15:00.000-08:00</published><updated>2011-01-30T17:19:06.015-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Download'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Daurah'/><title type='text'>Bedah Buku “Renungan Bermakna Saat Musibah Melanda”</title><content type='html'>&lt;p&gt;Bismillah.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: left;"&gt;Alhamdulillah, telah terlaksana daurah pada:&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: left;"&gt;Hari / tgl : Ahad, 18 Safar 1432 (23 Januari 2011)&lt;br /&gt;Tempat: Masjid Ibnu Sina, RSUD Dr. Moewardi, Surakarta&lt;br /&gt;Tema: bedah Buku ” Renungan Bermakna saat Musibah Melanda”&lt;br /&gt;Pemateri: &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;Al Ustadz Dzulqornain bin Muhammad Sunusi&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;Sesi Bedah Buku&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/alklateniy/Dauroh/20110123-renungan_bermakna_saat_musibah_melanda/ust_dzulqornain-renungan_musibah.mp3" target="_blank"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;blockquote&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;   &lt;/div&gt; &lt;/blockquote&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/alklateniy/Dauroh/20110123-renungan_bermakna_saat_musibah_melanda/ust_dzulqornain-renungan_musibah.mp3" target="_blank"&gt;Download | MP3 | 15.20 MB&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;Sesi Tanya jawab&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/alklateniy/Dauroh/20110123-renungan_bermakna_saat_musibah_melanda/ust_dzulqornain-tanya_jawab.mp3" target="_blank"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/alklateniy/Dauroh/20110123-renungan_bermakna_saat_musibah_melanda/ust_dzulqornain-tanya_jawab.mp3" target="_blank"&gt;Download |MP3| 1.3 MB&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;blockquote&gt;    &lt;/blockquote&gt; &lt;p style="text-align: left;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2697845295052805777-5369728500043909316?l=salafiyunm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://salafiyunm.blogspot.com/feeds/5369728500043909316/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://salafiyunm.blogspot.com/2011/01/bedah-buku-renungan-bermakna-saat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2697845295052805777/posts/default/5369728500043909316'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2697845295052805777/posts/default/5369728500043909316'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://salafiyunm.blogspot.com/2011/01/bedah-buku-renungan-bermakna-saat.html' title='Bedah Buku “Renungan Bermakna Saat Musibah Melanda”'/><author><name>salafy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01883732528935283225</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2697845295052805777.post-385031725701026109</id><published>2011-01-30T17:13:00.000-08:00</published><updated>2011-01-30T17:14:27.989-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Download'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Daurah'/><title type='text'>Dauroh Jajar Solo Januari 2011 Bersama Ustadz Dzulqarnain</title><content type='html'>&lt;p&gt;Berikut ini kami hadirkan rekaman Dauroh Masjid Jajar Solo Januari 2011 yang disampaikan oleh Ustadz Dzulqarnain -&lt;em&gt;hafizhahullah&lt;/em&gt;-. Materi yang beliau sampaikan adalah Bulughul Maram (Bab Tata Cara Shalat) dan Kitab Asy-Syariah karya Imam Al-Ajurri (Bab Sifat Berbicara Allah).Semoga bermanfaat dan silakan download pada link berikut:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span id="more-8856"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Kitab Asy-Syariah&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com.s98986.gridserver.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh_Jajar_2011_01_21-23/AsySyariah/A1.-Wajib-meyakini-bahwa-Allah-berbicara-kpd-Nabi-Musa.mp3" target="_blank"&gt;Kitab Asy-Syariah – Sifat Berbicara Allah 01&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com.s98986.gridserver.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh_Jajar_2011_01_21-23/AsySyariah/A2.-Hukuman-bagi-yg-tdk-meyakini-bhw-Allah-berbicara-kpd-Nabi-Musa.mp3" target="_blank"&gt;Kitab Asy-Syariah – Sifat Berbicara Allah 02&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com.s98986.gridserver.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh_Jajar_2011_01_21-23/AsySyariah/A3.-Allah-berbicara-kpd-Nabi-Musa_Surah-An-Nisaa-164.mp3" target="_blank"&gt;Kitab Asy-Syariah – Sifat Berbicara Allah 03&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com.s98986.gridserver.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh_Jajar_2011_01_21-23/AsySyariah/A4.-Allah-berbicara-kpd-Nabi-Musa_Surah-Al-Araf-143.mp3" target="_blank"&gt;Kitab Asy-Syariah – Sifat Berbicara Allah 04&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com.s98986.gridserver.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh_Jajar_2011_01_21-23/AsySyariah/A5.-Allah-berbicara-kpd-Nabi-Musa_Surah-Al-Araf-144.mp3" target="_blank"&gt;Kitab Asy-Syariah – Sifat Berbicara Allah 05&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com.s98986.gridserver.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh_Jajar_2011_01_21-23/AsySyariah/A6.-Allah-berbicara-kpd-Nabi-Musa_Surah-Thoha-11.mp3" target="_blank"&gt;Kitab Asy-Syariah – Sifat Berbicara Allah 06&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com.s98986.gridserver.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh_Jajar_2011_01_21-23/AsySyariah/A7.-Allah-berbicara-kpd-Nabi-Musa_Surah-An-Naml-8-9.mp3" target="_blank"&gt;Kitab Asy-Syariah – Sifat Berbicara Allah 07&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com.s98986.gridserver.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh_Jajar_2011_01_21-23/AsySyariah/A8.-Allah-berbicara-kpd-Nabi-Musa_Surah-Al-Qoshosh-30.mp3" target="_blank"&gt;Kitab Asy-Syariah – Sifat Berbicara Allah 08&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com.s98986.gridserver.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh_Jajar_2011_01_21-23/AsySyariah/A9.-Allah-berbicara-kpd-Nabi-Musa_Surah-An-Naziat--16.mp3" target="_blank"&gt;Kitab Asy-Syariah – Sifat Berbicara Allah 09&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com.s98986.gridserver.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh_Jajar_2011_01_21-23/AsySyariah/A10.-Hukuman-bagi-yg-tdk-meyakini-bhw-Allah-berbicara-kpd-Nabi-Musa.mp3" target="_blank"&gt;Kitab Asy-Syariah – Sifat Berbicara Allah 10&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com.s98986.gridserver.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh_Jajar_2011_01_21-23/AsySyariah/B.-Hadits2-yg-menetapkan-bahwa-Allah-berbicara-kpd-Nabi-Musa.mp3" target="_blank"&gt;Kitab Asy-Syariah – Sifat Berbicara Allah 11&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com.s98986.gridserver.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh_Jajar_2011_01_21-23/AsySyariah/C.-Tanya-jawab.mp3" target="_blank"&gt;Kitab Asy-Syariah – Sifat Berbicara Allah 12&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Kitab Bulughul Maram&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com.s98986.gridserver.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh_Jajar_2011_01_21-23/BulughulMaram/A1.-Definisi_kedudukan_dan-keutamaan-masjid.mp3" target="_blank"&gt;Kitab Bulughul Maram – Tata Cara Shalat 01&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com.s98986.gridserver.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh_Jajar_2011_01_21-23/BulughulMaram/A2.-Hadits-263-Mendirikan_membersihkan-dan-mewangikan-masjid.mp3" target="_blank"&gt;Kitab Bulughul Maram – Tata Cara Shalat 02&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com.s98986.gridserver.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh_Jajar_2011_01_21-23/BulughulMaram/A3.-Hadits-264-Larangan-membangun-masjid-diatas-kuburan.mp3" target="_blank"&gt;Kitab Bulughul Maram – Tata Cara Shalat 03&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com.s98986.gridserver.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh_Jajar_2011_01_21-23/BulughulMaram/A4.-Hadits-265-Larangan-membangun-diatas-kuburan.mp3" target="_blank"&gt;Kitab Bulughul Maram – Tata Cara Shalat 04&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com.s98986.gridserver.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh_Jajar_2011_01_21-23/BulughulMaram/A5.-Hadits-266-Kisah-orang-kafir-yang-ditawan-di-dalam-masjid.mp3" target="_blank"&gt;Kitab Bulughul Maram – Tata Cara Shalat 05&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com.s98986.gridserver.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh_Jajar_2011_01_21-23/BulughulMaram/A6.-Hadits-267-Melantunkan-syair-di-dalam-masjid.mp3" target="_blank"&gt;Kitab Bulughul Maram – Tata Cara Shalat 06&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com.s98986.gridserver.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh_Jajar_2011_01_21-23/BulughulMaram/B1.-Hadits-268-Larangan-mencari-barang-hilang-di-masjid.mp3" target="_blank"&gt;Kitab Bulughul Maram – Tata Cara Shalat 07&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com.s98986.gridserver.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh_Jajar_2011_01_21-23/BulughulMaram/B2.-Hadits-269-Larangan-berjual-beli-di-dalam-masjid.mp3" target="_blank"&gt;Kitab Bulughul Maram – Tata Cara Shalat 08&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com.s98986.gridserver.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh_Jajar_2011_01_21-23/BulughulMaram/B3.-Hadits-270-Pelaksanaan-had-dan-qishos-di-dalam-masjid.mp3" target="_blank"&gt;Kitab Bulughul Maram – Tata Cara Shalat 09&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com.s98986.gridserver.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh_Jajar_2011_01_21-23/BulughulMaram/B4.-Hadits-271-Orang-yg-terluka-di-buatkan-kemah-didlm-masjid.mp3" target="_blank"&gt;Kitab Bulughul Maram – Tata Cara Shalat 10&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com.s98986.gridserver.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh_Jajar_2011_01_21-23/BulughulMaram/B5.-Hadits-272-Latihan-tombak-di-dalam-masjid-pada-hari-ied.mp3" target="_blank"&gt;Kitab Bulughul Maram – Tata Cara Shalat 11&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com.s98986.gridserver.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh_Jajar_2011_01_21-23/BulughulMaram/B6.-Hadits-273-Kisah-budak-wanita-yang-membuat-tenda-di-masjid.mp3" target="_blank"&gt;Kitab Bulughul Maram – Tata Cara Shalat 12&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com.s98986.gridserver.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh_Jajar_2011_01_21-23/BulughulMaram/B7.-Hadits-274-Larangan-meludah-di-dalam-masjid.mp3" target="_blank"&gt;Kitab Bulughul Maram – Tata Cara Shalat 13&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com.s98986.gridserver.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh_Jajar_2011_01_21-23/BulughulMaram/B8.-Hadits-275-Larangan-berlomba-dalam-memegahkan-masjid.mp3" target="_blank"&gt;Kitab Bulughul Maram – Tata Cara Shalat 14&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com.s98986.gridserver.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh_Jajar_2011_01_21-23/BulughulMaram/C.-Tanya-jawab.mp3" target="_blank"&gt;Kitab Bulughul Maram – Tata Cara Shalat 15&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com.s98986.gridserver.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh_Jajar_2011_01_21-23/BulughulMaram/C1.-Hadits-276-Larangan-berlebihan-dlm-menghiasi-masjid.mp3" target="_blank"&gt;Kitab Bulughul Maram – Tata Cara Shalat 16&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com.s98986.gridserver.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh_Jajar_2011_01_21-23/BulughulMaram/C2.-Hadits-277-Pahala-membersihkan-masjid.mp3" target="_blank"&gt;Kitab Bulughul Maram – Tata Cara Shalat 17&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com.s98986.gridserver.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh_Jajar_2011_01_21-23/BulughulMaram/C3.-Hadits-278-Sholat-tahiyatul-masjid.mp3" target="_blank"&gt;Kitab Bulughul Maram – Tata Cara Shalat 18&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2697845295052805777-385031725701026109?l=salafiyunm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://salafiyunm.blogspot.com/feeds/385031725701026109/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://salafiyunm.blogspot.com/2011/01/dauroh-jajar-solo-januari-2011-bersama.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2697845295052805777/posts/default/385031725701026109'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2697845295052805777/posts/default/385031725701026109'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://salafiyunm.blogspot.com/2011/01/dauroh-jajar-solo-januari-2011-bersama.html' title='Dauroh Jajar Solo Januari 2011 Bersama Ustadz Dzulqarnain'/><author><name>salafy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01883732528935283225</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2697845295052805777.post-5396119914999234529</id><published>2011-01-01T17:26:00.000-08:00</published><updated>2011-01-31T17:27:26.614-08:00</updated><title type='text'>Di Antara Kisah Orang-Orang yang Bertaubat  Allah Ta’ala berfirman:</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: right;"&gt;&lt;strong&gt;قُلْ&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;يَا&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;عِبَادِيَ&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;الَّذِينَ&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;أَسْرَفُوا&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;عَلَى&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;أَنفُسِهِمْ&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;لا&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;تَقْنَطُوا&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;مِن رَّحْمَةِ&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;اللَّهِ&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;إِنَّ&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;اللَّهَ&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;يَغْفِرُ&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;الذُّنُوبَ&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;جَمِيعًا&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;إِنَّهُ&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;هُوَ&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;الْغَفُورُ&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;الرَّحِيمُ&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Katakanlah: “Wahai hamba-hambaKu yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” &lt;/em&gt;(QS. Az-Zumar: 53)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dari Buraidah dia berkata:&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: right;"&gt;&lt;strong&gt;أَنَّ مَاعِزَ بْنَ مَالِكٍ الْأَسْلَمِيَّ أَتَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي قَدْ ظَلَمْتُ نَفْسِي وَزَنَيْتُ وَإِنِّي أُرِيدُ أَنْ تُطَهِّرَنِي, فَرَدَّهُ. فَلَمَّا كَانَ مِنْ الْغَدِ أَتَاهُ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي قَدْ زَنَيْتُ فَرَدَّهُ الثَّانِيَةَ. فَأَرْسَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى قَوْمِهِ فَقَالَ: أَتَعْلَمُونَ بِعَقْلِهِ بَأْسًا تُنْكِرُونَ مِنْهُ شَيْئًا, فَقَالُوا: مَا نَعْلَمُهُ إِلَّا وَفِيَّ الْعَقْلِ مِنْ صَالِحِينَا فِيمَا نُرَى. فَأَتَاهُ الثَّالِثَةَ فَأَرْسَلَ إِلَيْهِمْ أَيْضًا فَسَأَلَ عَنْهُ فَأَخْبَرُوهُ أَنَّهُ لَا بَأْسَ بِهِ وَلَا بِعَقْلِهِ. فَلَمَّا كَانَ الرَّابِعَةَ حَفَرَ لَهُ حُفْرَةً ثُمَّ أَمَرَ بِهِ فَرُجِمَ. قَالَ فَجَاءَتْ الْغَامِدِيَّةُ فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي قَدْ زَنَيْتُ فَطَهِّرْنِي, وَإِنَّهُ رَدَّهَا. فَلَمَّا كَانَ الْغَدُ قَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ لِمَ تَرُدُّنِي لَعَلَّكَ أَنْ تَرُدَّنِي كَمَا رَدَدْتَ مَاعِزًا فَوَاللَّهِ إِنِّي لَحُبْلَى. قَالَ: إِمَّا لَا, فَاذْهَبِي حَتَّى تَلِدِي. فَلَمَّا وَلَدَتْ أَتَتْهُ بِالصَّبِيِّ فِي خِرْقَةٍ قَالَتْ: هَذَا قَدْ وَلَدْتُهُ. قَالَ: اذْهَبِي فَأَرْضِعِيهِ حَتَّى تَفْطِمِيهِ, فَلَمَّا فَطَمَتْهُ أَتَتْهُ بِالصَّبِيِّ فِي يَدِهِ كِسْرَةُ خُبْزٍ فَقَالَتْ: هَذَا يَا نَبِيَّ اللَّهِ قَدْ فَطَمْتُهُ وَقَدْ أَكَلَ الطَّعَامَ. فَدَفَعَ الصَّبِيَّ إِلَى رَجُلٍ مِنْ الْمُسْلِمِينَ ثُمَّ أَمَرَ بِهَا فَحُفِرَ لَهَا إِلَى صَدْرِهَا وَأَمَرَ النَّاسَ فَرَجَمُوهَا. فَيُقْبِلُ خَالِدُ بْنُ الْوَلِيدِ بِحَجَرٍ فَرَمَى رَأْسَهَا فَتَنَضَّحَ الدَّمُ عَلَى وَجْهِ خَالِدٍ فَسَبَّهَا, فَسَمِعَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَبَّهُ إِيَّاهَا فَقَالَ: مَهْلًا يَا خَالِدُ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَقَدْ تَابَتْ تَوْبَةً لَوْ تَابَهَا صَاحِبُ مَكْسٍ لَغُفِرَ لَهُ. ثُمَّ أَمَرَ بِهَا فَصَلَّى عَلَيْهَا وَدُفِنَتْ&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Ma’iz bin Malik Al Aslami pergi menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah menzhalimi diriku, karena aku telah berzina, oleh karena itu aku ingin agar anda berkenan membersihkan diriku.” Namun beliau menolak pengakuannya. Keesokan harinya, dia datang lagi kepada beliau sambil berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah berzina.” Namun beliau tetap menolak pengakuannya yang kedua kalinya. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus seseorang untuk menemui kaumnya dengan mengatakan: “Apakah kalian tahu bahwa pada akalnya Ma’iz ada sesuatu yang tidak beres yang kalian ingkari?” mereka menjawab, “Kami tidak yakin jika Ma’iz terganggu pikirannya, setahu kami dia adalah orang yang baik dan masih sehat akalnya.” Untuk ketiga kalinya, Ma’iz bin Malik datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk membersihkan dirinya dari dosa zina yang telah diperbuatnya. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun mengirimkan seseorang menemui kaumnya untuk menanyakan kondisi akal Ma’iz, namun mereka membetahukan kepada beliau bahwa akalnya sehat dan termasuk orang yang baik. Ketika Ma’iz bin Malik datang keempat kalinya kepada beliau, maka beliau memerintahkan untuk membuat lubang ekskusi bagi Ma’iz. Akhirnya beliau memerintahkan untuk merajamnya, dan hukuman rajam pun dilaksanakan.” Buraidah melanjutkan, “Suatu ketika ada seorang wanita Ghamidiyah datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata, “Wahai Rasulullah, diriku telah berzina, oleh karena itu sucikanlah diriku.” Tetapi untuk pertama kalinya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak menghiraukan bahkan menolak pengakuan wanita tersebut. Keesokan harinya wanita tersebut datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sambil berkata, “Wahai Rasulullah, kenapa anda menolak pengakuanku? Sepertinya engkau menolak pengakuanku sebagaimana engkau telah menolak pengakuan Ma’iz. Demi Allah, sekarang ini aku sedang mengandung bayi dari hasil hubungan gelap itu.” Mendengar pengakuan itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sekiranya kamu ingin tetap bertaubat, maka pulanglah sampai kamu melahirkan.” Setelah melahirkan, wanita itu datang lagi kepada beliau sambil menggendong bayinya yang dibungkus dengan kain, dia berkata, “Inilah bayi yang telah aku lahirkan.” Beliau lalu bersabda: “Kembali dan susuilah bayimu sampai kamu menyapihnya.” Setelah mamasuki masa sapihannya, wanita itu datang lagi dengan membawa bayinya, sementara di tangan bayi tersebut ada sekerat roti, lalu wanita itu berkata, “Wahai Nabi Allah, bayi kecil ini telah aku sapih, dan dia sudah dapat menikmati makanannya sendiri.” Kemudian beliau memberikan bayi tersebut kepada seseorang di antara kaum muslimin, dan memerintahkan untuk melaksanakan hukuman rajam. Akhirnya wanita itu ditanam dalam tanah hingga sebatas dada. Setelah itu beliau memerintahkan orang-orang supaya melemparinya dengan batu. Sementara itu, Khalid bin Walid ikut serta melempari kepala wanita tersebut dengan batu, tiba-tiba percikan darahnya mengenai wajah Khalid, seketika itu dia mencaci maki wanita tersebut. Ketika mendengar makian Khalid, Nabi Allah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tenangkanlah dirimu wahai Khalid, demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya perempuan itu telah benar-benar bertaubat, sekiranya taubat (seperti) itu dilakukan oleh seorang pemilik &lt;/em&gt;&lt;em&gt;al-maks niscaya dosanya akan diampuni.” Setelah itu beliau memerintahkan untuk menyalati jenazahnya dan menguburkannya.”&lt;/em&gt; (HR. Muslim no. 1695)&lt;span id="more-1586"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Makna pemilik &lt;em&gt;al-maks&lt;/em&gt; adalah orang yang mengambil harta manusia tanpa hak, semisal orang-orang yang menagih pajak dan pungutan wajib dari kaum muslimin tanpa ada hak.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penjelasan ringkas:&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Telah disebutkan pada artikel sebelumnya mengenai keutamaan, syarat, dan adab dalam bertaubat, karena tidak pantas seorang muslim untuk berputus asa dari rahmat Allah. Bahkan berputus asa dari rahmat Allah merupakan dosa yang sangat besar dan termasuk ciri-ciri orang yang kafir, sebagaimana ucapan Ya’qub kepada anak-anaknya, &lt;em&gt;“Dan janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada yang berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir.”&lt;/em&gt; (QS. Yusuf: 87)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ambillah pelajaran dari para sahabat -radhiallahu anhum-, walaupun keimanan dan keilmuan mereka tinggi dan terus-menerus menuju kesempurnaan, tetap saja mereka bukanlah manusia yang ma’shum dari dosa-dosa. Karenanya tidaklah seorang pun di antara mereka yang berbuat dosa kecuali dia segera ‘mengadu’ kepada Rasulullah -alaihishshalatu wassalam- dan segera kembali kepada Allah dengan segera bertaubat, bahkan mereka tidak segan-segan untuk minta ditegakkan had (jika dosanya mempunyai hukum had) guna membersihkan dosa-dosa mereka. Dan ini menunjukkan kuatnya keyakinan mereka kepada Allah dan jujurnya niat mereka dalam bertaubat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kisah dua orang sahabat di atas, juga kisah pembunuh 100 nyawa, juga kisah Ka’ab bin Malik beserta dua temannya yang diboikot tatkala mereka tidak ikut perang bersama Nabi -alaihishshalatu wassalam-, dan kisah-kisah lainnya merupakan pelajaran yang sangat berharga bagi orang-orang yang datang setelah mereka.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;Ada beberapa fawaid yang bisa dipetik dari kisah di atas:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Hukum had itu menghapuskan dosa yang diperbuat jika dia ikhlas menjalaninya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kasih sayang Nabi -alaihishshalatu wassalam- kepada para sahabatnya tatkala beliau berusaha semaksimal mungkin agar mereka tidak terkena hukum had. Ini terbukti dengan beliau tidak mengindahkan pengakuan kedua sahabat ini pada awalnya. Tapi tatkala mereka terus-menerus mengaku maka beliaupun menjatuhkan hukum had kepada mereka.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kisah ini menujukkan jika seseorang berbuat zina tanpa ada yang menyaksikannya atau tidak ada yang melaporkannya, maka hendaknya dia melihat keadaan dirinya: Jika dia khawatir akan terjatuh ke dalam zina untuk kedua kalinya maka hendaknya dia melaporkan dirinya agar dirajam, tapi jika dia betul-betul bertaubat dan yakin tidak akan terjatuh lagi ke dalam zina maka hendaknya dia menyembunyikannya dan tidak melaporkan dirinya. Ini ditunjukkan dalam hadits lain yang shahih.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hukum rajam wajib ditegakkan, hanya saja masalah waktu eksekusinya diserahkan kepada ijtihad penguasa. Dia boleh mengundurkannya (bukan menggugurkannya) karena ada maslahat lain, misalnya maslahat bayi kalau pezina itu hamil.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Orang gila yang berzina tidak dijatuhi hukuman had, itu karena beliau mempertanyakan kesehatan akal Maiz kepada kaumnya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dari sini juga dipahami bahwa imam hendaknya mengumpulkan info yang detail dan akurat sebelum menjatuhkan hukum had.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Rajam adalah ditanamnya tubuh pezina (yang telah menikah) di dalam tanah sampai ke dadanya, kemudian dia dilempari oleh kaum muslimin.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tidak boleh mencela dan menghina orang yang telah bertaubat. Ini juga ditunjukkan oleh kisah perdebatan antara Adam dan Musa -alaihimassalam- yang masyhur di kalangan ulama.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Wallahu Ta’ala a’la wa ahkam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2697845295052805777-5396119914999234529?l=salafiyunm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://salafiyunm.blogspot.com/feeds/5396119914999234529/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://salafiyunm.blogspot.com/2011/01/di-antara-kisah-orang-orang-yang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2697845295052805777/posts/default/5396119914999234529'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2697845295052805777/posts/default/5396119914999234529'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://salafiyunm.blogspot.com/2011/01/di-antara-kisah-orang-orang-yang.html' title='Di Antara Kisah Orang-Orang yang Bertaubat  Allah Ta’ala berfirman:'/><author><name>salafy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01883732528935283225</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2697845295052805777.post-1985413625607256426</id><published>2011-01-01T17:25:00.000-08:00</published><updated>2011-01-31T17:26:02.761-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqh'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manhaj'/><title type='text'>Ciri-Ciri Orang Munafik</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُواْ إِلَى الصَّلاَةِ قَامُواْ كُسَالَى يُرَآؤُونَ النَّاسَ وَلاَ يَذْكُرُونَ اللّهَ إِلاَّ قَلِيلاً&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Sesungguhnya orang-orang munafik itu hendak menipu Allah, maka Allah membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.”&lt;/em&gt; (QS. An-Nisa`: 142)&lt;br /&gt;Dari Abdullah bin Amr radhiallahu anhuma bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا وَمَنْ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ وَإِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Empat hal bila ada pada seseorang maka dia adalah seorang munafiq tulen, dan barangsiapa yang terdapat pada dirinya satu sifat dari empat hal tersebut maka pada dirinya terdapat sifat nifaq hingga dia meninggalkannya. Yaitu, jika diberi amanat dia khianat, jika berbicara dia dusta, jika berjanji dia mengingkari, dan jika berseteru dia berbuat kefajiran”.&lt;/em&gt; (HR. Al-Bukhari no. 89 dan Muslim no. 58)&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;إِنَّ أَثْقَلَ صَلَاةٍ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلَاةُ الْعِشَاءِ وَصَلَاةُ الْفَجْرِ وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Sesungguhnya shalat yang paling berat dilaksanakan oleh orang-orang munafik adalah shalat isya dan shalat subuh. Sekiranya mereka mengetahui keutamaan keduanya, niscaya mereka akan mendatanginya sekalipun dengan merangkak.” &lt;/em&gt;(HR. Al-Bukhari no. 657 dan Muslim no. 651)&lt;span id="more-2432"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penjelasan ringkas:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ciri-ciri orang munafik sangat banyak tersebut di dalam Al-Qur`an, dan Ar-Rasul shallallahu alaihi wasallam juga menyebutkan sebagian di antaranya guna memperingatkan umatnya dari ciri-ciri tersebut, jangan sampai mereka terjatuh ke dalamnya sehingga mereka akhirnya menjadi mirip seperti mereka. Padahal sungguh Nabi shallallahu alaihi wasallam telah menyatakan bahwa barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk dari kaum tersebut.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di antara tanda-tanda kemunafikan adalah empat sifat yang tersebut dalam hadits Abdullah bin Amr di atas: Khianat, curang, dusta, dan fajir. Keempat sifat ini tidaklah terdapat pada seseorang kecuali dia adalah munafik tulen. Nabi shallallahu alaihi wasallam juga mengabarkan sebuah tanda lain dari tanda-tanda orang munafik, yaitu: Sangat berat dalam melaksanakan shalat isya dan subuh. Subhanallah, betapa miripnya kemarin dengan hari ini. Di zaman ini banyak di antara kaum muslimin yang masih bersifat dengan sifat ini, mereka merasa berat mengerjakan kedua shalat ini dengan alasan lelah atau ngantuk sepulang kerja atau alasan lainnya, wallahul Musta’an.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Karenanya wajib atas setiap muslim untuk mengetahui kelima ciri munafik di atas dan ciri-ciri lainnya agar dia bisa menjaga dirinya darinya, karena barangsiapa yang tidak mengetahui suatu kejelekan maka kemungkinan besar dia akan terjatuh ke dalamnya.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2697845295052805777-1985413625607256426?l=salafiyunm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://salafiyunm.blogspot.com/feeds/1985413625607256426/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://salafiyunm.blogspot.com/2011/01/ciri-ciri-orang-munafik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2697845295052805777/posts/default/1985413625607256426'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2697845295052805777/posts/default/1985413625607256426'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://salafiyunm.blogspot.com/2011/01/ciri-ciri-orang-munafik.html' title='Ciri-Ciri Orang Munafik'/><author><name>salafy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01883732528935283225</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2697845295052805777.post-5660109304357274263</id><published>2011-01-01T17:24:00.000-08:00</published><updated>2011-01-31T17:25:11.281-08:00</updated><title type='text'>Ciri-Ciri Dai Sesat</title><content type='html'>&lt;p&gt;Hudzaifah bin Al-Yaman radhiallahu anhuma berkata:&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْخَيْرِ وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنْ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا كُنَّا فِي جَاهِلِيَّةٍ وَشَرٍّ فَجَاءَنَا اللَّهُ بِهَذَا الْخَيْرِ فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ قَالَ نَعَمْ قُلْتُ وَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الشَّرِّ مِنْ خَيْرٍ قَالَ نَعَمْ وَفِيهِ دَخَنٌ قُلْتُ وَمَا دَخَنُهُ قَالَ قَوْمٌ يَهْدُونَ بِغَيْرِ هَدْيِي تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ قُلْتُ فَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ قَالَ نَعَمْ دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا قَالَ هُمْ مِنْ جِلْدَتِنَا وَيَتَكَلَّمُونَ بِأَلْسِنَتِنَا قُلْتُ فَمَا تَأْمُرُنِي إِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ قَالَ تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ قُلْتُ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلَا إِمَامٌ قَالَ فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ بِأَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Orang-orang biasa bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang kebaikan sementara aku biasa bertanya kepada beliau tentang keburukan karena khawatir jangan-jangan aku terkena keburukan itu. Maka aku bertanya, “Wahai Rasulullah, dahulu kami dalam masa jahiliah dan keburukan, lantas Allah datang dengan membawa kebaikan ini, maka apakah setelah kebaikan ini akan ada keburukan lagi?” Nabi menjawab, “Ya.” Saya bertanya, “Apakah sesudah keburukan itu akan ada kebaikan lagi?” Beliau menjawab, “Ya, tapi ketika itu sudah ada kabut.” Saya bertanya, “Apa yang anda maksud dengan kabut itu?” Beliau menjawab, “Adanya sebuah kaum yang memberikan petunjuk dengan selain petunjuk yang aku bawa. Engkau kenal mereka namun pada saat yang sama engkau juga mengingkarinya.” Saya bertanya, “Adakah setelah kebaikan itu akan ada keburukan lagi?” Nabi menjawab, “Ya, yaitu adanya dai-dai yang menyeru menuju pintu jahannam. Siapa yang memenuhi seruan mereka, niscaya mereka akan menghempaskan orang itu ke dalam jahannam.” Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, tolong beritahukanlah kami tentang ciri-ciri mereka!” Nabi menjawab, “Mereka memiliki kulit seperti kulit kita, juga berbicara dengan bahasa kita.” Saya bertanya, “Lantas apa yang anda perintahkan kepada kami ketika kami menemui hari-hari seperti itu?” Nabi menjawab, “Hendaklah kamu selalu bersama jamaah kaum muslimin dan imam (pemimpin) mereka!” Aku bertanya, “Kalau pada waktu itu tidak ada jamaah kaum muslimin dan imam bagaimana?” Nabi menjawab, “Hendaklah kamu jauhi seluruh firqah (kelompok-kelompok) itu, sekalipun kamu menggigit akar-akar pohon hingga kematian merenggutmu dalam keadaan kamu tetap seperti itu.”&lt;/em&gt; (HR. Al-Bukhari no. 7084 dan Muslim no. 1847)&lt;br /&gt;Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu anhu dia berkata:&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;خَطَّ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطًّا ثُمَّ قَالَ هَذَا سَبِيلُ اللَّهِ ثُمَّ خَطَّ خُطُوطًا عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ ثُمَّ قَالَ هَذِهِ سُبُلٌ عَلَى كُلِّ سَبِيلٍ مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ ثُمَّ قَرَأَ: إِنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membuatkan kami satu garis kemudian beliau bersabda, “Ini adalah jalan Allah.” Kemudian beliau menggaris beberapa garis dari sebelah kanan dan sebelah kirinya, lalu beliau bersabda, “Ini adalah jalan-jalan, yang pada setiap jalan tersebut ada setan yang mengajak kepadanya.” Kemudian beliau membaca ayat, “Sesungguhnya ini adalah jalan-Ku yang lurus maka ikutilah ia, dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu akan mencerai beraikan kalian dari jalan-Nya.” &lt;/em&gt;(HR. Ahmad no. 4143 dan dinyatakan hasan oleh Al-Albani dalam Al-Misykah: 1/59)&lt;span id="more-3016"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penjelasan ringkas:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Jalan Allah Ta’ala adalah satu lagi tidak berbilang dan lurus lagi tidak ada kebengkokan padanya. Dan satu jalan ini telah dipaparkan secara jelas dan tegas oleh Allah dan Rasul-Nya dalam wahyu yang diturunkan kepada manusia. Di sisi lain, jalan setan dan kesesatan jauh lebih banyak dan beraneka ragam, karenanya Allah Ta’ala dan Rasul-Nya juga telah menjelaskannya dengan penjelasan yang gamblang, sebagaimana ketika menjelaskan jalan Allah Ta’ala. Dan Allah Ta’ala mengabarkan bahwa dari semua jalan yang ada, hanya satu jalan yang bermuara kepada surga sementara jalan lainnya merupakan pintu-pintu untuk memasuki neraka jahannam.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kenyataan ini diperparah bahwa ternyata pintu-pintu jahannam ini tidak dipampangkan begitu saja, akan tetapi ada dai-dai yang lahiriahnya mengajak kepada Islam akan tetapi hakikatnya dia mengajak kepada kemaksiatan dan bid’ah. Sehingga siapa saja yang menerima seruan dai semacam ini maka dai ini akan mendorong mereka untuk masuk ke dalam neraka, wal ‘iyadzu billah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Akan tetapi bukan Islam namanya jika menyebutkan masalah tapi tidak menyebutkan solusinya. Pada kedua hadits di atas tersurat dan tersirat solusi agar setiap muslim bisa selamat dari banyaknya jalan kesesatan dan bisa menempuh satu jalan yang benar tersebut. Solusinya adalah berpeganga teguh dan senantiasa bersatu bersama keumuman kaum muslimin serta tetap mendengar dan taat kepada penguasa mereka ketika itu. Kalaupun ketika itu kaum muslimin tidak mempunyai pemimpin, maka yang Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak menganjurkan mereka untuk berebut kepemimpinan, akan tetapi beliau memerintahkan mereka untuk menjauhi semua sekte, kelompok, komunitas yang ada dan hanya beribadah kepada Allah Ta’ala di rumahnya tanpa berpihak atau condong kepada pihak manapun.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sebagai tambahan, ketika Imam Ahmad ditanya tentang siapakah pemimpin dalam suatu negara? Maka beliau menjawab, “Dia adalah orang yang jika penduduk negeri tersebut ditanya siapa pemimpin mereka maka mereka akan menunjuk orang tersebut.” Maka dengan demikian pemimpin di setiap negara adalah kepala negaranya, batillah setiap kepemimpinan selainnya.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2697845295052805777-5660109304357274263?l=salafiyunm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://salafiyunm.blogspot.com/feeds/5660109304357274263/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://salafiyunm.blogspot.com/2011/01/ciri-ciri-dai-sesat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2697845295052805777/posts/default/5660109304357274263'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2697845295052805777/posts/default/5660109304357274263'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://salafiyunm.blogspot.com/2011/01/ciri-ciri-dai-sesat.html' title='Ciri-Ciri Dai Sesat'/><author><name>salafy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01883732528935283225</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2697845295052805777.post-6269467218766985478</id><published>2010-12-18T21:27:00.000-08:00</published><updated>2010-12-18T21:28:08.913-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Download'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Daurah'/><title type='text'>Download Daurah Nasional Tabligh Akbar Bantul Yogyakarta Juli 2010</title><content type='html'>&lt;p&gt;Alhamdulillah &lt;strong&gt;Daurah Nasional Tabligh Akbar Masyayikh&lt;/strong&gt; di Bantul Yogyakarta pada tanggal 27—29 Rajab 1431 H (10-12 Juli 2010) telah berjalan dengan lancar. Jazahumullah khairan katsiran kepada segenap panitia dari berbagai daerah yang telah berusaha semaksimal mungkin untuk mensukseskan &lt;strong&gt;Daurah Nasional&lt;/strong&gt; yang ke 6 ini. Berikut link &lt;a href="http://www.ilmoe.com/1394/download-daurah-nasional-tabligh-akbar-bantul-yogyakarta-juli-2010.html"&gt;Download Dauroh Nasional bantul 2010&lt;/a&gt; resmi dari pihak panitia yang telah diunggah di &lt;a title="Download Mp3 Kajian" href="http://www.ilmoe.com/"&gt;iLmoe&lt;/a&gt;.&lt;span id="more-1394"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;h2&gt;Hari 1 Daurah Nasional Bantul 10 Juli 2010&lt;/h2&gt; &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/muslimuny/dauroh/Dauroh-Nasional-2010/001_Daurah_Nasional_Bantul_2010_Tausiyah_Shubuh_Ustadz_Afifuddin.mp3" onclick="javascript:_gaq.push(['_trackEvent','download','statics.ilmoe.com/kajian/users/muslimuny/dauroh/Dauroh-Nasional-2010/001_Daurah_Nasional_Bantul_2010_Tausiyah_Shubuh_Ustadz_Afifuddin.mp3']);"&gt;Tausiyah Subuh Ustadz Afifudin&lt;/a&gt; | Mengikhlaskan Niat Dalam Mengikuti Daurah | 5.5 mb&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/muslimuny/dauroh/Dauroh-Nasional-2010/002_Daurah_Nasional_Bantul_2010_Pembukaan.mp3" onclick="javascript:_gaq.push(['_trackEvent','download','statics.ilmoe.com/kajian/users/muslimuny/dauroh/Dauroh-Nasional-2010/002_Daurah_Nasional_Bantul_2010_Pembukaan.mp3']);"&gt;Pembukaan &lt;/a&gt;| 6.4 mb&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/muslimuny/dauroh/Dauroh-Nasional-2010/003_Daurah_Nasional_Bantul_2010_Sesi01_Syaikh_Muhammad_Bazmul.mp3" onclick="javascript:_gaq.push(['_trackEvent','download','statics.ilmoe.com/kajian/users/muslimuny/dauroh/Dauroh-Nasional-2010/003_Daurah_Nasional_Bantul_2010_Sesi01_Syaikh_Muhammad_Bazmul.mp3']);"&gt;Muhadhoroh Syaikh Muhammad Bazmul&lt;/a&gt; | Bimbingan Syariat Islam dalam Muamalah Seorang Muslim | 3.7 mb&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/muslimuny/dauroh/Dauroh-Nasional-2010/004_Daurah_Nasional_Bantul_2010_Rukun_Iman_01_Syaikh_Khalid_Adz_Dzafirii.mp3" onclick="javascript:_gaq.push(['_trackEvent','download','statics.ilmoe.com/kajian/users/muslimuny/dauroh/Dauroh-Nasional-2010/004_Daurah_Nasional_Bantul_2010_Rukun_Iman_01_Syaikh_Khalid_Adz_Dzafirii.mp3']);"&gt;Muhadhoroh Syaikh Khalid Adz Dzafiri – Rukun Iman 01&lt;/a&gt; | Beriman Terhadap Hari Akhir, Tanda-Tanda Kiamat, Kematian, Hal-Hal yang Terjadi Saat Kematian, Alam Kubur, Adzab Kubur | 5.5 mb&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/muslimuny/dauroh/Dauroh-Nasional-2010/005_Daurah_Nasional_Bantul_2010_Rukun_Iman_02_Syaikh_Khalid_Adz_Dzafirii.mp3" onclick="javascript:_gaq.push(['_trackEvent','download','statics.ilmoe.com/kajian/users/muslimuny/dauroh/Dauroh-Nasional-2010/005_Daurah_Nasional_Bantul_2010_Rukun_Iman_02_Syaikh_Khalid_Adz_Dzafirii.mp3']);"&gt;Muhadhoroh Syaikh Khalid Adz Dzafiri – Rukun Iman 02&lt;/a&gt; | Alam Kubur, Adzab Kubur, Nashihat Mempersiapkan Bekal Untuk Hari Akhir, Hinanya Dunia | 3.6 mb&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/muslimuny/dauroh/Dauroh-Nasional-2010/006_Daurah_Nasional_Bantul_2010_Tawadhdhu_Ustadz_Muhammad_Ikhsan.mp3" onclick="javascript:_gaq.push(['_trackEvent','download','statics.ilmoe.com/kajian/users/muslimuny/dauroh/Dauroh-Nasional-2010/006_Daurah_Nasional_Bantul_2010_Tawadhdhu_Ustadz_Muhammad_Ikhsan.mp3']);"&gt;Ustadz Muhammad Ikhsan – Tawadhdhu’&lt;/a&gt; | 6.3 mb&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;h2&gt;Hari ke 2 Daurah Nasional Bantul 11 Juli 2010&lt;/h2&gt; &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/muslimuny/dauroh/Dauroh-Nasional-2010/007_Daurah_Nasional_Bantul_2010_Nashihat_Lukman_pada_Anaknya_Ustadz_Adnan.mp3" onclick="javascript:_gaq.push(['_trackEvent','download','statics.ilmoe.com/kajian/users/muslimuny/dauroh/Dauroh-Nasional-2010/007_Daurah_Nasional_Bantul_2010_Nashihat_Lukman_pada_Anaknya_Ustadz_Adnan.mp3']);"&gt;Ustadz Adnan – Nasehat Lukman Pada Anaknya &lt;/a&gt;| 10 mb&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/muslimuny/dauroh/Dauroh-Nasional-2010/008_Daurah_Nasional_Bantul_2010_Muamalah_terhadap_Sesama_Muslim_03.mp3" onclick="javascript:_gaq.push(['_trackEvent','download','statics.ilmoe.com/kajian/users/muslimuny/dauroh/Dauroh-Nasional-2010/008_Daurah_Nasional_Bantul_2010_Muamalah_terhadap_Sesama_Muslim_03.mp3']);"&gt;Muhadhoroh Syaikh Muhammad Bazmul – Nasehat Thd Sesama muslim 03&lt;/a&gt; | 9.1 mb&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/muslimuny/dauroh/Dauroh-Nasional-2010/009_Daurah_Nasional_Bantul_2010_Muamalah_terhadap_Sesama_Muslim_04.mp3" onclick="javascript:_gaq.push(['_trackEvent','download','statics.ilmoe.com/kajian/users/muslimuny/dauroh/Dauroh-Nasional-2010/009_Daurah_Nasional_Bantul_2010_Muamalah_terhadap_Sesama_Muslim_04.mp3']);"&gt;Muhadhoroh Syaikh Muhammad Bazmul – Nasehat Thd Sesama Muslim 04&lt;/a&gt; | 3.9 mb&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/muslimuny/dauroh/Dauroh-Nasional-2010/010_Daurah_Nasional_Bantul_2010_Rukun_Iman_03.mp3" onclick="javascript:_gaq.push(['_trackEvent','download','statics.ilmoe.com/kajian/users/muslimuny/dauroh/Dauroh-Nasional-2010/010_Daurah_Nasional_Bantul_2010_Rukun_Iman_03.mp3']);"&gt;Muhadhoroh Syaikh Khalid Adz Dzafiri – Rukun Iman 03&lt;/a&gt; | Peniupan Sangkakala, Dibangkitkannya Manusia, Dikumpulkan di Padang Mahsyar, Pemberian Kitab Catatan Amal, Timbangan di Hari Kiamat, Sifatnya, Ditimbangnya Catatan Amal, Amalan, dan Jasad Hamba | 9.8 mb&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/muslimuny/dauroh/Dauroh-Nasional-2010/011_Daurah_Nasional_Bantul_2010_Berhias_dengan_Akhlaq_Mulia.mp3" onclick="javascript:_gaq.push(['_trackEvent','download','statics.ilmoe.com/kajian/users/muslimuny/dauroh/Dauroh-Nasional-2010/011_Daurah_Nasional_Bantul_2010_Berhias_dengan_Akhlaq_Mulia.mp3']);"&gt;Berhias Dengan Ahklaq Mulia&lt;/a&gt; | 5.6 mb&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/muslimuny/dauroh/Dauroh-Nasional-2010/012_Daurah_Nasional_Bantul_2010_Teleconference_Syaikh_Rabi_bin_Hadi.mp3" onclick="javascript:_gaq.push(['_trackEvent','download','statics.ilmoe.com/kajian/users/muslimuny/dauroh/Dauroh-Nasional-2010/012_Daurah_Nasional_Bantul_2010_Teleconference_Syaikh_Rabi_bin_Hadi.mp3']);"&gt;Teleconference Dengan Syaikh Robi’ bin Hadi Al Madkhali&lt;/a&gt; | 560 kb&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/muslimuny/dauroh/Dauroh-Nasional-2010/013_Daurah_Nasional_Bantul_2010_Tambahan_dari_Syaikh_Khalid_Adz-Dzafirii.mp3" onclick="javascript:_gaq.push(['_trackEvent','download','statics.ilmoe.com/kajian/users/muslimuny/dauroh/Dauroh-Nasional-2010/013_Daurah_Nasional_Bantul_2010_Tambahan_dari_Syaikh_Khalid_Adz-Dzafirii.mp3']);"&gt;Tambahan dari Syaikh Khalid Adz Dzafiri&lt;/a&gt; | Penjelasan Nashihat dari Asy Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madhkhali  | 1.9 mb&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;h2&gt;Hari ke 3 Daurah Nasional Bantul 12 Juli 2010&lt;/h2&gt; &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/muslimuny/dauroh/Dauroh-Nasional-2010/014_Daurah_Nasional_Bantul_2010_Sebab_sebab_Istiqomah_Ustadz_Abdurrahman_Lombok.mp3" onclick="javascript:_gaq.push(['_trackEvent','download','statics.ilmoe.com/kajian/users/muslimuny/dauroh/Dauroh-Nasional-2010/014_Daurah_Nasional_Bantul_2010_Sebab_sebab_Istiqomah_Ustadz_Abdurrahman_Lombok.mp3']);"&gt;Ustadz Abdurrohman Lombok – Sebab-sebab Istiqomah&lt;/a&gt; | 6.9 mb&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/muslimuny/dauroh/Dauroh-Nasional-2010/015_Daurah_Nasional_Bantul_2010_Kedudukan_Ulama_oleh_Syaikh_Muhammad_Bazmul.mp3" onclick="javascript:_gaq.push(['_trackEvent','download','statics.ilmoe.com/kajian/users/muslimuny/dauroh/Dauroh-Nasional-2010/015_Daurah_Nasional_Bantul_2010_Kedudukan_Ulama_oleh_Syaikh_Muhammad_Bazmul.mp3']);"&gt;Muhadhoroh Syaikh Muhammad Bazmul – Kedudukan Ulama&lt;/a&gt; | 6.4 mb&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/muslimuny/dauroh/Dauroh-Nasional-2010/016_Daurah_Nasional_Bantul_2010_Kedudukan_Ulama_02_oleh_Syaikh_Muhammad_Bazmul.mp3" onclick="javascript:_gaq.push(['_trackEvent','download','statics.ilmoe.com/kajian/users/muslimuny/dauroh/Dauroh-Nasional-2010/016_Daurah_Nasional_Bantul_2010_Kedudukan_Ulama_02_oleh_Syaikh_Muhammad_Bazmul.mp3']);"&gt;Muhadhoroh Syaikh Muhammad Bazmul – Kedudukan Ulama 02&lt;/a&gt; | 5.5 mb&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/muslimuny/dauroh/Dauroh-Nasional-2010/017_Daurah_Nasional_Bantul_2010_Iman_Hari-Kiamat_oleh_Syaikh_Khalid_mono.mp3" onclick="javascript:_gaq.push(['_trackEvent','download','statics.ilmoe.com/kajian/users/muslimuny/dauroh/Dauroh-Nasional-2010/017_Daurah_Nasional_Bantul_2010_Iman_Hari-Kiamat_oleh_Syaikh_Khalid_mono.mp3']);"&gt;Muhadhoroh Syaikh Khalid Adz Dzafiri – Iman Kpd Hari Kiamat&lt;/a&gt; | Telaga Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wasalam, Sifat, Luas, Bejana, Diusirnya Ahli Bid’ah | 11 mb&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2697845295052805777-6269467218766985478?l=salafiyunm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://salafiyunm.blogspot.com/feeds/6269467218766985478/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://salafiyunm.blogspot.com/2010/12/download-daurah-nasional-tabligh-akbar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2697845295052805777/posts/default/6269467218766985478'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2697845295052805777/posts/default/6269467218766985478'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://salafiyunm.blogspot.com/2010/12/download-daurah-nasional-tabligh-akbar.html' title='Download Daurah Nasional Tabligh Akbar Bantul Yogyakarta Juli 2010'/><author><name>salafy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01883732528935283225</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2697845295052805777.post-3471937699197751455</id><published>2010-12-18T21:25:00.000-08:00</published><updated>2010-12-18T21:26:28.350-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Download'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Daurah'/><title type='text'>Biografi Asy Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di</title><content type='html'>Berikut adalah kajian bersama Al Ustadz Abu ‘Ubaidah Syafruddin membahas kitab Minhajus Salikin wa Taudhihul Fiqhi Fid Diin karya Asy Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, pada hari Ahad 5 Desember 2010 pukul 09.00 – 11.00 WIB di Masid Al Hasanah Jogja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut link untuk mendowload kajiannya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· &lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/atstsurayya/Minhajus-Salikin/Biografi-Syaikh-_%27Abdurrahman-As-Sa_%27di---Ust-Syafruddin.mp3"&gt;Biografi Syaikh ‘Abdurrahman As Sa’di|11,3MB&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2697845295052805777-3471937699197751455?l=salafiyunm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://salafiyunm.blogspot.com/feeds/3471937699197751455/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://salafiyunm.blogspot.com/2010/12/biografi-asy-syaikh-abdurrahman-bin.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2697845295052805777/posts/default/3471937699197751455'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2697845295052805777/posts/default/3471937699197751455'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://salafiyunm.blogspot.com/2010/12/biografi-asy-syaikh-abdurrahman-bin.html' title='Biografi Asy Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di'/><author><name>salafy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01883732528935283225</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2697845295052805777.post-4153017699752510105</id><published>2010-12-18T21:23:00.000-08:00</published><updated>2010-12-18T21:24:31.672-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Download'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Daurah'/><title type='text'>Download Kajian: Ketika Virus "Futur" Menyerangku</title><content type='html'>Pemateri: Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf Al-Atsary hafizhahullah&lt;br /&gt;Waktu: Sabtu, 5 Muharram 1431 H / 11 Desember 2010 M&lt;br /&gt;Tempat: Musholla DKM Jundullah PKN &amp;amp; STMIK LPKIA Bandung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesi 1 (~12 MB):&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.4shared.com/get/5W5BbD5j/Ketika_Virus-virus_FUTUR_menye.html"&gt;http://www.4shared.com/get/5W5BbD5j/Ketika_Virus-virus_FUTUR_menye.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesi 2 (~7 MB)&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.4shared.com/get/4erh3wuN/Ketika_Virus-virus_FUTUR_menye.html"&gt;http://www.4shared.com/get/4erh3wuN/Ketika_Virus-virus_FUTUR_menye.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber:&lt;br /&gt;&lt;a href="http://pengejarsunnah.blogspot.com/2010/12/ketika-virus-virus-futur-menyerangku.html"&gt;http://pengejarsunnah.blogspot.com/2010/12/ketika-virus-virus-futur-menyerangku.\&lt;br /&gt;html&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2697845295052805777-4153017699752510105?l=salafiyunm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://salafiyunm.blogspot.com/feeds/4153017699752510105/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://salafiyunm.blogspot.com/2010/12/download-kajian-ketika-virus-futur.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2697845295052805777/posts/default/4153017699752510105'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2697845295052805777/posts/default/4153017699752510105'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://salafiyunm.blogspot.com/2010/12/download-kajian-ketika-virus-futur.html' title='Download Kajian: Ketika Virus &quot;Futur&quot; Menyerangku'/><author><name>salafy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01883732528935283225</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2697845295052805777.post-8945767560553652600</id><published>2010-12-06T16:39:00.000-08:00</published><updated>2011-12-06T16:41:10.425-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqh'/><title type='text'>Kesalahan-Kesalahan Dalam Shalat</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;1. Tidak tuma’ninah dalam sholat&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Masalah ini termasuk masalah yang kejahilan merebak di dalamnya, dan  merupakan maksiat yang sangat jelas karena tuma`ninah adalah rukun yang  sholat tidak teranggap syah tanpanya. Hadits al-musi`u sholatuhu (orang  yang jelek sholatnya) sangat menunjukkan akan hal tersebut. Makna  tuma`ninah adalah orang yang sholat tenang di dalam ruku’nya,  i’tidalnya, sujudnya, dan ketika duduk di antara dua sujud, dengan cara  dia tinggal sejenak sampai setiap tulang menempati tempatnya, dan dia  jangan tergesa-gesa untuk berpindah dari suatu rukun (sholat) sampai dia  tuma`ninah dan setiap persendian telah menempati posisinya.&lt;br /&gt;Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda kepada al-musi`u sholatuhu  (orang yang jelek sholatnya) tatkala dia tergesa-gesa dan tidak  tuma`ninah:&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;اِرْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt; ”Kembali ulangi sholatmua, karena (tadi) kamu belum sholat”.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Dan dalam hadits Rifa’ah (juga) dalam kisah al-musi`:&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;ثُمَّ يُكَبِّرَ وَيَرْكَعَ فَيَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى رُكْبَتَيْهِ  حَتَّى تَطْمَئِنَّ مَفَاصِلُهُ وَتَسْتَرْخِي, ثُمَّ يَقُوْلُ: سَمِعَ  اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ, وَيَسْتَوِيَ قَائِمًا حَتَّى يَأْخُذَ كُلُّ  عَظْمٍ مَأْخَذَهُ&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Kemudian dia bertakbir lalu ruku’ dan meletakkan kedua telapak  tangannya di atas kedua lututnya sampai semua tulang-tulangnya tenang  dan rileks. Kemudian dia membaca “Sami’allahu liman hamidah” dan tegak  berdiri sampai semua tulang kembali menempati tempatnya masing-masing”.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;2. Sengaja mendahului dan menyelisihi imam&lt;/strong&gt;.&lt;br /&gt;Ini membatalkan sholat atau (minimal) membatalkan raka’at. Sehingga  barangsiapa yang ruku’ sebelum imamnya, maka batal raka’atnya kecuali  jika dia ruku’ kembali setelah ruku’nya imam, demikian halnya pada  seluruh rukun-rukun sholat. Maka yang wajib bagi orang yang sholat  adalah mengikuti dan mencontoh imamnya, jangan dia mendahuluinya dan  jangan pula terlambat dalam mengikutinya dalam satu rukun (gerakan) atau  lebih.&lt;br /&gt;Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan selainnya  dengan sanad yang shohih dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah  -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;إِنَّمَا جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ: فَإِذَا كَبَّرَ  فَكَبِّرُوْا وَلاَ تُكَبِّرُوْا حَتَّى يُكَبِّرَ, وَإِذَا رَكَعَ  فَارْكَعُوْا وَلاَ تَرْكَعُوْا حَتَّى يَرْكَعَ&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Tidaklah seorang imam dijadikan sebagai imam kecuali untuk diikuti;  maka jika dia bertakbir maka bertakbirlah kalian dan janganlah kalian  bertakbir sampai mereka sudah bertakbir, jika dia ruku’ maka ruku’lah  kalian dan janganlah kalian ruku’ sampai mereka sudah ruku’ …”.&lt;/em&gt;  sampai akhir hadits. Asal haditsnya ada dalam Ash-Shohihain, dan juga  diriwayatkan semisalnya oleh Imam Al-Bukhary dari Anas -radhiyallahu  ‘anhu-.&lt;br /&gt;Dimaafkan dalam masalah ini orang yang lupa dan orang yang jahil.&lt;span id="more-3447"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;3. Berdiri menyempurnakan raka’at yang tertinggal sebelum imam melakukan salam kedua.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam  Shohihnya bahwa Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;لاَ تَسْبِقُوْنِي بِالرُّكُوْعِ وَلاَ السُّجُوْدِ وَلاَ الْاِنْصِرَافِ&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Janganlah kalian mendahuluiku dalam hal ruku’, tidak pula dalam hal sujud, dan juga dalam hal inshorof”.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Para ulama berkata, “Makna &lt;em&gt;inshirof&lt;/em&gt; (pergi) adalah salam”.&lt;br /&gt;Salam dikatakan &lt;em&gt;inshirof&lt;/em&gt; karena orang yang sholat sudah dibolehkan pergi setelah salam, dan dia (imam) dianggap &lt;em&gt;inshirof&lt;/em&gt; setelah salam yang kedua.&lt;br /&gt;Maka orang yang masbuk hendaknya menunggu sampai imam menyempurnakan  sholatnya, kemudian setelah itu baru dia berdiri lalu menyempurnakan dan  mengqodo` raka’at yang luput darinya, wallahu A’lam.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;4. Melafadzkan niat saat hendak sholat.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah bid’ah, dan telah berlalu dalil-dalil akan haramnya berbuat  bid’ah. Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- sama sekali tidak pernah  melafadzkan niat untuk sholat, Imam Ibnul Qoyyim -rahimahullah- berkata  dalam Zadul Ma’ad atau dalam Al-Hadyun Nabawy, “Kebiasaan beliau (Nabi)  jika berdiri untuk sholat, beliau mengucapkan, ["Allahu Akbar"] dan  tidak membaca apapun sebelumnya dan beliau juga tidak melafadzkan niat  sama sekali. Beliau juga tidak pernah mengucapkan, ["Usholli lillahi  sholata kadza mustaqbilal qiblati arba'a raka'atin  imaman aw ma`muman"  (Saya berniat melakukan sholat ini karena Allah dengan menghadap kiblat,  4 raka'at, sebagai imam atau sebagai ma`mum)]. Dan beliau juga tidak  mengucapkan, ["ada-an"], tidak pula ["qodho-an"], dan tidak pula  ["fardhol waqti"]. Ini adalah 10 bid’ah, yang sama sekali tidak pernah  dinukil dari beliau dalam sanad yang shohih, tidak pula yang dho’if  (lemah), tidak secara musnad (bersambung) dan tidak pula mursal  (terputus) satupun lafadz darinya. Bahkan tidak pernah dinukil dari  seorangpun dari para sahabat, tidak dianggap baik oleh seorangpun dari  tabi’in dan tidak pula oleh Imam Empat”. Selesai ucapan beliau.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;5. Mengangkat pandangan ke atas dalam sholat atau berpaling ke kanan dan ke kiri tanpa ada keperluan.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Adapun mengangkat pandangan ke atas, maka hal ini adalah terlarang dan  telah datang ancaman bagi pelakunya. Jabir bin Samuroh telah  meriwayatkan hadits, beliau berkata, Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi  wasallam- bersabda:&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ يَرْفَعُوْنَ أَبْصَارَهُمْ إِلَى السَّمَاءِ فِي الصَّلاَةِ أَوْ لاَ تَرْجِعُ إِلّيْهِمْ&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt; ”Hendaknya orang-orang yang mengangkat penglihatan mereka ke langit  dalam sholat, berhenti dari perbuatan mereka itu. Atau pandangan mereka  tidak akan kembali lagi kepada mereka”.&lt;/em&gt; Riwayat Muslim.&lt;br /&gt;Adapun berpaling tanpa ada keperluan, maka hal ini mengurangi (nilai)  sholat seorang hamba sepanjang tubuhnya tidak seluruhnya berubah arah,  jika tubuhnya sudah berubah arah maka sholatnya batal. Dari ‘A`isyah  -radhiallahu ‘anha- beliau berkata, “Saya bertanya kepada Rasulullah  -Shallallahu ‘alaihi wasallam- perihal berpaling dalam sholat, maka  beliau bersabda:&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;هُوَ اخْتِلاَسٌ يَخْتَلِسُهُ الشَّيْطَانُ مِنْ صَلاَةِ الْعَبْدِ&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Itu adalah curian yang setan curi dari sholat seorang hamba”.&lt;/em&gt; Riwayat Al-Bukhary.&lt;br /&gt;Dan dalam riwayat At-Tirmidzy dan beliau menshohihkannya:&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;إِيَّاكَ وَالْاِلْتِفَاتِ فِي الصَّلاَةِ فَإِنَّهُ هَلَكَةٌ&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Hati-hati kalian dari menoleh dalam sholat, karena sesungguhnya itu adalah kebinasaan”.&lt;/em&gt; sampai akhir hadits.&lt;br /&gt;Dan masih ada hadits-hadits yang lain berkenaan dengan masalah berpaling (dalam sholat).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;6. Tidak mengangkat khimar ke atas kepala dalam sholat bagi wanita atau tidak menutup kedua kakinya.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Aurat wanita dalam sholat adalah seluruh tubuhnya kecuali wajahnya, tapi  tidak mengapa baginya untuk menutup wajahnya jika ada lelaki yang lewat  dan semisalnya. Maka yang wajib atasnya adalah memakai khimar, yaitu  kain yang menutupi kepala dan dada, hal ini berdasarkan sabda Nabi  -Shallallahu ‘alaihi wasallam-:&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;لاَ يَقْبَلُ اللهُ صَلاَةَ حَائِضٍ إِلاَّ بِخِمَارٍ&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Allah tidak menerima sholat wanita (yang sudah) haid (baca: balig) kecuali dengan memakai khimar”.&lt;/em&gt; Riwayat Ahmad dan Ashhabus Sunan kecuali An-Nasa`i dan dishohihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan selainnya&lt;br /&gt;Dan juga wajib menutup kedua kaki berdasarkan hadits:&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;اَلْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Wanita adalah ‘aurat”.&lt;/em&gt; Riwayat At-Tirmidzy dengan sanad yang shohih.&lt;br /&gt;Dan semakna dengannya hadits yang diriwayatkan oleh Imam Malik, Abu  Daud, dan selain keduanya dari Muhammad bin Zaid bin Qonfadz dari ibunya  bahwa dia bertanya kepada Ummu Salamah, istri Nabi -Shallallahu ‘alaihi  wasallam-, “Pakaian apakah yang dipakai oleh seorang wanita dalam  sholat?”, maka beliau menjawab:&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;تُصَلِّي فِي الْخِمَارِ وَالدِّرْعِ السَّابِغِ إِذَا غَيَّبَ ظُهُوْرَ قَدَمَيْهِ&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Dia sholat dengan memakai khimar dan pakaian yang luas sampai kedua kakinya tertutupi”.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Dan semakna dengannya juga dalam hadits Ummu Salamah, “Hendaknya dia  (wanita tersebut) menurunkannya (pakaiannya) sepanjang satu dziro’ (dari  mata kaki)”.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;7. Tidak takbiratul ihram bagi masbuk yang mendapati imam sedang ruku’.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah kesalahan besar karena takbiratul ihram adalah rukun sholat,  maka wajib baginya melakukan takbiratul ihram dalam keadaan dia berdiri,  kemudian setelah itu baru boleh baginya untuk ruku’ bersama imam. Dan  takbiratul ihram sudah mencukupi takbir untuk ruku’ (takbir intiqol),  tapi jika dia bertakbir untuk ihram (takbiratul ihram) lalu bertakbir  juga untuk ruku’ maka maka itu yang lebih sempurna dan lebih  berhati-hati. Abu Hurairah -radhiallahu ‘anhu- meriwayatkan:&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ  إِلَى الصَّلاَةِ يُكَبِّرُ حِيْنَ يَقُوْمُ ثُمَّ يُكَبِّرُ حِيْنَ  يَرْكَعُ&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- jika sholat, selalu bertakbir ketika berdiri kemudian bertakbir ketika ruku’”.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;8. Bermain-main dengan menggunakan pakaian, jam tangan, atau yang lainnya.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Amalan ini menafikan kekhusyukan, dan telah berlalu dalil-dalil (akan  disyari’atkannya) khusyu’ dalam masalah ke-5. Dan sungguh Nabi  -Shallallahu ‘alaihi wasallam- telah melarang untuk menyentuh batu  kerikil dalam sholat karena bisa menafikan kekhusyukan, beliau bersabda:&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;إِذَا قَامَ أَحَدُكُمْ فِي الصَّلاَةِ فَلاَ يَمْسَحِ الْحَصَى فَإِنَّ الرَّحْمَةَ تُوَاجِهُهُ&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Jika salah seorang di antara kalian berdiri dalam sholat, maka  janganlah dia menyapu kerikil (di tempat sujudnya), karena rahmat  (Allah) berada di depannya”.&lt;/em&gt; Riwayat Ahmad dan Ashhabus Sunan dengan sanad yang shohih.&lt;br /&gt;Dan tidak jarang perbuatan sia-sia itu bertambah sampai menjadi gerakan  yang banyak yang mengeluarkan sholat dari gerakan asalnya, sehingga  sholat bisa menjadi batal.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;9. Memejamkan kedua mata dalam sholat tanpa ada keperluan.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah perkara yang makruh, Ibnul Qoyyim -rahimahullah- berkata,  “Bukan termasuk tuntunan beliau -Shallallahu ‘alaihi wasallam-  memejamkan kedua mata dalam sholat”. Beliau (juga) berkata, “Para ahli  fiqhi berselisih pendapat tentang makruhnya, Imam Ahmad dan selain  beliau memakruhkannya, mereka berkata, ["Ini adalah perbuatan  orang-orang Yahudi (dalam sholat mereka)"] dan sebagian lain  membolehkannya dan tidak memakruhkannya, mereka berkata, ["Perbuatan ini  lebih cepat menghasilkan kekhusyukan yang merupakan mana dia merupakan  ruh, rahasia, dan maksud dari sholat.&lt;br /&gt;Yang benarnya adalah dikatakan, ["Jika membuka mata tidak menghilangkan  kekhusyukan maka ini yang paling afdhol. Tapi jika dengannya (membuka  mata) akan menghalangi dia untuk khusyu' karena di kiblatnya ada semacam  hiasan, at-tazrawiq, atau yang semacamnya dari hal-hal yang bisa  mengganggu hatinya, maka ketika itu tentunya tidak dimakrukan untuk  menutup mata"]. Dan pendapat yang menyatakan disunnahkannya dalam  keadaan di atas lebih mendekati ushul dan maksud syari’at dibandingkan  pendapat yang menyatakan makruhnya, wallahu A’lam”. Selesai ucapan Ibnul  Qoyyim -rahimahullah-.&lt;span id="more-3448"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;10. Tidak meluruskan dan merapatkan (arab: taswiyah) shof-shof.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Allah telah memerintahkan untuk menegakkan (arab: iqomah) sholat:&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;وَأَقِيْمُوْا الصَّلاَةَ&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Tegakkanlah shalat”.&lt;/em&gt; (QS. An-Nur: 56, Ar-Rum: 31, dan Al-Muzzammil: 20)&lt;br /&gt;Dan Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;سَوُّوْا صُفُوْفَكُمْ, فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصُّفُوْفِ مِنْ إِقَامَةِ الصَّلاَةِ&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Luruskanlah shof-shof kalian, karena sesungguhnya pelurusan shof termasuk menegakkan sholat”.&lt;/em&gt; Riwayat Al-Bukhary dan Muslim dari Anas.&lt;br /&gt;Dan Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhary dari An-Nu’man bin Basyir -radhiallahu ‘anhu-:&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;لَتَسُوُّنَّ صُفُوْفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللهُ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Demi Allah, kalian harus benar-benar meluruskan shof-shof kalian  atau Allah  betul-betul akan membuat hati-hati kalian saling  berselisih”.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Dan telah datang perintah untuk meluruskan dan merapatkan shaf-shaf dan anjuran terhadapnya dalam beberapa hadits.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;11. Kurang perhatian untuk sujud di atas tujuh tulang, yakni:  Jidad bersama hidung, kedua telapak tangan, kedua lutut dan jari-jari  kedua kaki.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dari Al-’Abbas bin ‘Abdil Muththolib -radhiallahu ‘anhu- bahwa beliau  pernah mendengar Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;إِذَا سَجَدَ الْعَبْدُ سَجَدَ مَعَهُ سَبْعَةُ آرَابٍ: وَجْهُهُ وَكَفَّاهُ وَرُكْبَتَاهُ وَقَدَمَاهُ&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Jika seorang hamba bersujud, maka ikut pula sujud bersamanya tujuh  tulang: Wajahnya, kedua telapak tangannya, kedua lututnya, dan kedua  kakinya”.&lt;/em&gt; Riwayat Muslim sebagaimana yang disandarkan oleh Al-Majd  dalam Al-Muntaqo dan Al-Mizzy, dan (hadits ini) juga diriwayatkan oleh  selainnya (Muslim).&lt;br /&gt;Adapun mengangkat kedua kaki dalam sujud, maka ini menyelisihi apa yang  diperintahkan, berdasarkan hadits yang tsabit dalam Ash-Shohihain dari  Ibnu ‘Abbas -radhiallahu ‘anhuma-:&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;أَمَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَسْجُدَ  عَلَى سَبْعَةِ أَعْضَاءِ, وَلاَ يَكُفَّ شَعْرًا وَلاَ ثَوْبًا:  اَلْجَبْهَةِ, وَالْيَدَيْنِ, وَالرُّكْبَتَيْنِ, وَالرِّجْلَيْنِ&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- memerintahkan untuk bersujud di  atas tujuh tulang, dan memerintahkan agar jangan mengikat rambut dan  menggulung pakaian. (Ketujuh tulang itu adalah) Dahi, kedua telapak  tangan, kedua lutut, dan kedua kaki”.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Maka orang yang sholat diperintahkan untuk sujud di atas kedua kaki, dan  bentuk sempurnanya adalah dengan menjadikan jari-jari kedua kakinya  mengarah ke kiblat. Dan bentuk cukupnya adalah dengan meletakkan  (merapatkan) bagian dari masing-masing kaki di atas bumi. Jika dia  mengangkat salah satunya maka tidak syah sujudnya jika terangkatnya kaki  terus-menerus sepanjang sujudnya.&lt;br /&gt;Di antara manusia ada juga yang tidak meletakkan jidad dan hidungnya  dengan baik ke bumi ketika dia sujud, atau dia mengangkat kedua kakinya  atau tidak meletakkan kedua telapak tangannya dengan baik, dan semua ini  menyelisihi apa yang diperintahkan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;12. Membunyikan jari-jemari.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Hal ini termasuk perkara-perkara yang dibenci dan dilarang dalam sholat.  Adapun membunyikan (jari-jemari) maka Ibnu Abi Syaibah telah  meriwayatkan dari Syu’bah maula Ibnu ‘Abbas dengan sanad yang hasan,  bahwa dia berkata, “Saya pernah sholat di samping Ibnu ‘Abbas lalu saya  membunyikan jari-jemariku. Maka tatkala sholat sudah selesai, beliau  berkata, ["Tidak ada ibu bagimu!, apakah kamu membunyikan jari-jemarimu  sedangkan engkau dalam keadaan sholat?!"]“.&lt;br /&gt;Dan telah diriwayatkan secara marfu’ tentang larangan membunyikan  jari-jemari dari hadits ‘Ali riwayat Ibnu Majah akan tetapi haditsnya  lemah dan tidak bisa dikuatkan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;13. Menyilangkan jari-jemari (arab: Tasybik) dalam sholat dan sebelum sholat.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ini termasuk perkara yang dimakruhkan. Dari Ka’ab bin ‘Ujroh beliau  berkata, saya mendengar Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam-  bersabda:&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;إِذَا تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ ثُمَّ خَرَجَ عَامِدًا إِلَى الصَّلاَةِ, فَلاَ يُشَبِّكَنَّ بَيْنَ يَدَيْهِ فَإِنَّهُ فِي الصَّلاَةِ&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Jika salah seorang di antara kalian berwudhu kemudian dia sengaja  keluar untuk sholat, maka janganlah sekali-kali dia menyilangkan antara  kedua tangannya, karena sesungguhnya dia sedang dalam sholat”.&lt;/em&gt; Riwayat Ahmad, Abu Daud, dan At-Tirmidzy sedang dalam sanadnya ada perselisihan.&lt;br /&gt;Dan Imam Ad-Darimy, Al-Hakim, dan selainnya meriwayatkan dari Abu Hurairah secara marfu’:&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;إِذَا تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ فِي بَيْتِهِ ثُمَّ أَتَى الْمَسْجِدَ,  كَانَ فِي صَلاَةٍ حَتَّى يَرْجِعَ, فَلاَ يَفْعَلْ هَكَذَا -وَشَبَّكَ  بَيْنَ أَصَابِعِهِ-&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Jika salah seorang di antara kalian berwudhu di rumahnya kemudian  dia mendatangi masjid, maka dia terus-menerus dalam keadaan sholat  sampai dia pulang. Karenanya, janganlah dia berbuat seperti ini -beliau  menyilangkan antara jar-jari beliau-”.&lt;/em&gt; Zhohir sanadnya adalah shohih.&lt;br /&gt;Dan dalam masalah tasybik ada hadits-hadits lain yang saling menguatkan satu dengan yang lainnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[Diterjemah dari Al-Minzhar hal. 24-40, karya Asy-Syaikh Saleh Alu Asy-Syaikh, dengan sedikit perubahan]&lt;/p&gt;&lt;p&gt;http://al-atsariyyah.com/kesalahan-kesalahan-dalam-shalat-1.html&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2697845295052805777-8945767560553652600?l=salafiyunm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://salafiyunm.blogspot.com/feeds/8945767560553652600/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://salafiyunm.blogspot.com/2010/12/kesalahan-kesalahan-dalam-shalat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2697845295052805777/posts/default/8945767560553652600'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2697845295052805777/posts/default/8945767560553652600'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://salafiyunm.blogspot.com/2010/12/kesalahan-kesalahan-dalam-shalat.html' title='Kesalahan-Kesalahan Dalam Shalat'/><author><name>salafy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01883732528935283225</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2697845295052805777.post-730217075509186026</id><published>2010-12-06T16:38:00.000-08:00</published><updated>2011-12-06T16:39:25.822-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqh'/><title type='text'>Posisi Makmum Jika Shalat Berdua</title><content type='html'>Jika yang shalat hanya berdua, maka makmum berdiri tepat di sebelah  kanan imam, tidak perlu mundur sedikit. Ini tentunya berlaku jika  keduanya adalah lelaki atau keduanya adalah wanita. Adapun jika si  makmum adalah wanita, maka wanita harus berdiri di belakang imam. &lt;p&gt;Dalil bahwa makmum harus berdiri tepat di sebelah kanan imam jika mereka hanya shalat berdua adalah:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dari Abdullah bin ‘Abbas radhiallahu anhuma dia berkata:&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: right;"&gt;&lt;strong&gt;بِتُّ فِي بَيْتِ خَالَتِي  مَيْمُونَةَ فَصَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  الْعِشَاءَ ثُمَّ جَاءَ فَصَلَّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ ثُمَّ نَامَ ثُمَّ  قَامَ فَجِئْتُ فَقُمْتُ عَنْ يَسَارِهِ فَجَعَلَنِي عَنْ يَمِينِهِ  فَصَلَّى خَمْسَ رَكَعَاتٍ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ نَامَ حَتَّى  سَمِعْتُ غَطِيطَهُ أَوْ قَالَ خَطِيطَهُ ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الصَّلَاةِ&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Aku pernah menginap di rumah bibiku, Maimunah. Lalu Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wasallam pergi shalat ‘isya kemudian kembali ke  rumah dan shalat sunnat empat rakaat, kemudian beliau tidur. Saat tengah  malam beliau bangun dan shalat malam, aku lalu datang untuk ikut shalat  bersama beliau dan berdiri di samping kiri beliau. Kemudian beliau  menggeserku ke sebelah kanannya, lalu beliau shalat lima rakaat,  kemudian dua rakaat, kemudian tidur hingga aku mendengar suara dengkur  beliau. Setelah itu beliau kemudian keluar untuk shalat (shubuh).”&lt;/em&gt; (HR. Al-Bukhari no. 656)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Imam Al-Bukhari rahimahullah memberikan judul bab terhadap hadits di atas:&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: right;"&gt;&lt;strong&gt;بَابُ: يَقُوْمُ عَنْ يَمِيْنِ الإمامِ بِحِذائِهِ سَواء إِذا كانا اثْنَيْنِ&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Bab: Makmum berdiri tepat di samping kanan imam jika mereka hanya shalat berdua.”&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2697845295052805777-730217075509186026?l=salafiyunm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://salafiyunm.blogspot.com/feeds/730217075509186026/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://salafiyunm.blogspot.com/2010/12/posisi-makmum-jika-shalat-berdua.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2697845295052805777/posts/default/730217075509186026'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2697845295052805777/posts/default/730217075509186026'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://salafiyunm.blogspot.com/2010/12/posisi-makmum-jika-shalat-berdua.html' title='Posisi Makmum Jika Shalat Berdua'/><author><name>salafy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01883732528935283225</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2697845295052805777.post-1841858775050543350</id><published>2010-12-06T16:27:00.000-08:00</published><updated>2011-12-06T16:28:32.740-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Biografi'/><title type='text'>Penjelasan Lemahnya Kisah Tsa’labah bin Hathib</title><content type='html'>&lt;p&gt;Di antara keyakinan pokok ahlissunnah wal jama’ah yang tertera dalam  kitab-kitab aqidah mereka adalah: Wajibnya menghormati dan memuliakan  para sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam serta wajibnya menjaga  lisan dari ucapan yang merendahkan mereka. Insya Allah keyakinan ini  akan kami bahas pada tempat yang lain.&lt;br /&gt;Hanya saja di sini kami akan menyebutkan sebuah kisah yang ramai dan  tersebar di kalangan kaum muslimin, dimana kisah tersebut bercerita  tentang kejelekan salah seorang sahabat Nabi shallallahu alaihi  wasallam, yang bernama Tsa’labah bin Hathib radhiallahu anhu. Padahal  mereka tidak mengetahui kalau kisah tersebut sebenarnya merupakan kisah  yang mungkar dan tidak berdasar, baik dari sisi sanadnya maupun dari  sisi matan (isi)nya.&lt;br /&gt;Untuk lebih jelasnya, berikut penjelesannya secara lebih lengkap:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penjelasan Lemahnya Kisah Ini Dari Sisi Sanad.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Umamah Al-Bahiliy -radhiyallahu ‘anhu-, beliau berkata, &lt;em&gt;“Tsa’labah  bin Hathib Al-Anshory telah datang kepada Rasulullah -Shallallahu  ‘alaihi wasallam- seraya berkata, “Wahai Rasulullah, berdo’alah kepada  Allah agar Dia memberikan aku harta. Maka beliau bersabda, “Celaka  engkau, hai Tsa’labah. Harta yang sedikit tapi engkau syukuri lebih baik  dibandingkan harta yang banyak tapi engkau tak mampu (syukuri)”. &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Lalu ia mendatangi beliau lagi setelah itu seraya berkata, “Wahai  Rasulullah, berdo’alah kepada Allah agar Dia memberikan aku harta”. Maka  beliau bersabda, “Bukankah pada diriku ada contoh yang baik bagimu.  Demi (Allah) Yang jiwaku ada di tangan-Nya, andaikan aku ingin  gunung-gunung itu berubah jadi emas dan perak untukku, niscaya akan  berubah”. &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Lalu iapun datang lagi setelah itu seraya berkata,”Wahai Rasulullah,  berdo’alah kepada Allah agar Dia memberikan aku harta. Demi (Allah)  Yang telah mengutusmu dengan kebenaran, andaikan Allah memberikan aku  harta, niscaya aku akan memberikan haknya orang yang berhaka\”. Maka  beliau bersabda (berdo’a), “Ya Allah, berikanlah rezqi kepada Tsa’labah.  Ya Allah, berikanlah rezqi kepada Tsa’labah”.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Tsa’labah pun mengambil (baca: memelihara) kambing. Kambing-kambing  ini lalu berkembang laksana berkembangnya ulat. Maka ia pun akhirnya  hanya bisa melaksanakan sholat zhuhur dan Ashar bersama Rasulullah  -Shollallahu ‘alaihi wasallam-, sedangkan sholat-sholat lainnya dia  kerjakan di tengah-tengah kambingnya. Kemudian kambingnya semakin banyak  dan berkembang. Maka iapun tinggal diam (sibuk) sehingga ia tidak lagi  menghadiri sholat jama’ah, kecuali sholat jum’at.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kambingnya semakin banyak dan berkembang. Ia pun semakin sibuk,  sehingga ia tak lagi menghadiri sholat jum’at dan sholat jama’ah.  Apabila di hari Jum’at, ia pun menemui manusia untuk bertanya tentang  berita-berita.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Pada suatu hari ia disebut-sebut oleh Rasulullah -Shollallahu  ‘alaihi wasallam- seraya berkata, “Apa yang dilakukan Tsa’labah?”.  Mereka menjawab, “Ya Rasulullah, Tsa’labah telah memelihara kambing yang  tidak dimuat oleh satu lembah”. Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi  wasallam- bersabda, “Oh, celakanya Tsa’labah. Oh, celakanya Tsa’labah.  Oh, celakanya Tsa’labah”. Allah pun menurunkan ayat sedakah (baca:  zakat).&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kemudian Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- mengutus seorang  dari Bani Sulaim dan seorang lagi dari Bani Juhainah. Beliau menetapkan  batasan-batasan umur sedekah (baca: zakat) kepada keduanya dan bagaimana  caranya mereka menarik (zakat), seraya bersabda kepada keduanya:  “Datangilah Tsa’labah bin Hathib dan seorang dari Bani Sulaim, lalu  ambillah zakat dari keduanya”. Maka merekapun keluar sehingga keduanya  mendatangi Tsa’labah seraya bertanya tentang zakatnya. Keduanya  membacakan surat Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- kepada  Tsa’labah. Tsa’labah kemudian berkata, “Ini tiada lain, kecuali jizyah  (upeti), ini tiada lain, kecuali semacam jizyah. Pergilah kalian sampai  kalian telah selesai (bertugas), lalu kembalilah kepadaku”. Keduanya pun  pergi, sedangkan As-Sulamy mendengar tentang keduanya. Dia kemudian  melihat kepada umur ontanya yang terbaik dan memisahkannya untuk zakat.  Lalu ia mendatangi keduanya dengan membawa (onta-onta) tersebut. Tatkala  keduanya melihat onta-onta zakat itu, maka keduanya berkata, “Bukanlah  ini yang diwajibkan atas dirimu”. Dia berkata, “Ambillah, karena hatiku  merelakan hal itu”. Keduanya pun mendatangi orang-orang dan menarik  zakat. Kemudia keduanya kembali kepada Tsa’labah. Tsa’labah lalu  berkata, “Perlihatkan surat kalian kepadaku”. Dia pun berkata, “Ini  tiada lain, kecuali jizyah. Ini tiada lain, kecuali semacam jizyah.  Pergilah sampai aku melihat pendapatku”. Keduanya pun pulang menghadap.  Tatkala Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- melihat keduanya,  sebelum mengajak mereka berbicara, maka beliau bersabda: “Oh, celakanya  Tsa’labah”. Kemudian beliau mendo’akan kebaikan bagi As-Sulamy, dan  keduanya mengabarkan tentang sesuatu yang dilakukan Tsa’labah. Maka  Allah -Azza wa Jalla- menurunkan (ayat):&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;وَمِنْهُمْ مَنْ عَاهَدَ اللَّهَ لَئِنْ ءَاتَانَا مِنْ فَضْلِهِ&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah:  “Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karunia-Nya kepada  kami…”.  sampai kepada firman-Nya:&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;وَبِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“…dan juga karena mereka selalu berdusta”.&lt;/em&gt; (QS. At-Taubah : 75-77)&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Di sisi Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- ada seorang  laki-laki dari kalangan keluarga Tsa’labah telah mendengarkan hal itu.  Lalu ia keluar mendatangi Tsa’labah seraya berkata, “Celaka engkau,  wahai Tsa’labah. Sungguh Allah -Azza wa Jalla- telah menurunkan demikian  dan demikian tentang dirimu. Maka keluarlah Tsa’labah sampai ia datang  kepada Nabi -shollallahu ‘alaihi wasallam-. Dia meminta beliau agar  menerima zakatnya. Maka beliau bersabda, “Sesunnguhnya Allah -Tabaraka  wa Ta’ala- mencegah untuk menerima zakatmu”. Diapun mulai menaburkan  tanah di atas kepalanya. Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam-  bersabda, “Inilah (hasil) perbuatanmu. Aku telah memerintahkanmu, akan  tetapi engkau tidak mentaatiku”.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Tatkala Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi- enggan mengambil zakatnya,  maka ia kembali ke rumahnya. Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam-  meninggal, sedang beliau tidak mengambil (zakat) sedikitpun darinya.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kemudian Tsa’labah mendatangi Abu Bakar -radhiyallahu anhu- ketika  ia menjadi kholifah seraya berkata, “Sungguh engkau telah mengetahui  kedudukanku di depan Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- dan  posisiku di mata orang-orang Anshor, maka terimalah zakatku”. Abu Bakar  berkata, “Rasulullah tidak (mau) menerimanya darimu, lantas aku mau  menerimanya?”. Abu Bakar pun meninggal sedang beliau tidak mau  menerimanya.”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Tatkala Umar berkuasa, Tsa’labah datang kepadanya seraya berkata,  “Wahai Amirul Mu’minin, terimalah zakatku”. Maka Umar berkata,  “Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- tak mau menerimanya, dan  tidak pula Abu Bakar, lantas aku mau terima?”. Umar pun meninggal dalam  keadaan ia tak mau menerimanya.”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kemudian Utsman -radhiyallahu anhu- memerintah. Maka Tsa’labah  datang kepadanya memintanya untuk menerima zakatnya. Maka Utsman  berkata, “Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- tak mau menerimanya,  dan tidak pula Abu Bakar dan Umar, lantas aku mau menerimanya?”.  Tsa’labah mati di zaman khilafah Utsman”.&lt;/em&gt;&lt;span id="more-3491"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hadits ini diriwayatkan oleh Ath-Thobary dalam Jami’ul Bayan  (6/425/17002), Ath-Thobrony dalam Al-Mu’jam Al-Kabir (8/218,  219/no.7873), Al-Baihaqiy dalam Syu’ab Al-Iman (4/79, 80/no.4357),  Al-Baghowiy dalam Ma’alim At-Tanzil (4/75-77), Ibnul Atsir dalam Usdul  Ghobah (1/283-285), Ibnu Abdil Barr dalam Al-Isti’ab (1/201-via footnote  Al-Ishobah), dan selainnya. Semuanya dari jalan Mu’an bin Rifa’ah dari  Ali bin Yazid Al-Alhany dari Al-Qosim bin Abdurrahman dari Abu Umamah  Al-Bahily -radhiyallahu ‘anhu-.&lt;br /&gt;Ibnu Hazm Al-Andalusy -rahimahullah- berkata, “Di antara rawi-rawinya  ada Mu’an bin Rifa’ah, Al-Qosim bin Abdirrahman, dan Ali bin Yazid bin  Abdul Malik. Semuanya adalah orang-orang yang lemah”. (Al-Muhalla:  11/208)&lt;br /&gt;Al-Bukhary berkata tentang Ali bin Yazid dalam At-Tarikh Al-Kabir  (6/301), “Mungkar haditsnya”. Al-Uqoily menetapkannya dalam Adh-Dhu’afa’  Al-Kabir (3/254). An-Nasa’i berkata, “Tidak tsiqoh (terpercaya)”. Pada  tempat lain, ia berkata, “Orangnya matruk”. Abu Zur’ah berkata, “Dia  bukan orang yang kuat”. Ad-Daruquthny, Al-Barqy, dan Al-Azdy berkata,  “Dia matruk”. Abu Nu’aim Al-Ashbahany berkata, “Munkar haditsnya”.  (Asy-Syihab Ats-Tsaqib hal. 10-11, karya Syaikh Salim Al-Hilaliy)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kesimpulan hukum hadits ini adalah dha’if jiddan (lemah sekali),  tidak bisa dikuatkan oleh hadits lain dan juga tidak bisa menguatkan  hadits lainnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Pendukung Hadits Di Atas.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Hadits di atas mempunyai pendukung dari hadits Ibnu Abbas radhiallahu anhuma. Beliau berkata ketika menafsirkan firman Allah:&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;وَمِنْهُمْ مَنْ عَاهَدَ اللَّهَ لَئِنْ ءَاتَانَا مِنْ فَضْلِهِ &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah,   “Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karunia-Nya kepada kami…”  &lt;/em&gt;al-ayat.&lt;br /&gt;Beliau berkata, &lt;em&gt;“Demikian itu, karena ada seorang Anshor yang  bernama Tsa’labah bin Hathib telah menghadiri suatu majelis seraya  memberikan persaksian kepada mereka, lalu berkata: “Jika Allah  memberikan karunia-Nya kepadaku, niscaya aku akan memberikan haknya  orang yang berhak, bersedekah darinya, aku akan menyambung tali  kekerabatan darinya”. Kemudian Allah mengujinya, dan memberikan sebagian  karunia-Nya kepadanya. Tsa’labah pun kemudian menyalahi apa yang dia  janjikan, dan membuat Allah murka akibat ia menyalahi apa yang dia  janjikan tersebut. Maka Allah mengisahkan kondisinya dalam Al-Qur’an:&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;وَمِنْهُمْ مَنْ عَاهَدَ اللَّهَ لَئِنْ ءَاتَانَا مِنْ فَضْلِهِ&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah,  “Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karunia-Nya kepada  kami…”. Al-ayat.  Sampai kepada firman-Nya:&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;وَبِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“…dan juga karena mereka selalu berdusta”.&lt;/em&gt; (QS. At-Taubah : 75-77)”.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hadits ini diriwayatkan oleh Ath-Thobary dalam Jami’ul Bayan  (6/425/17001), Ibnu Abi Hatim dalam Tafsirnya (6/1849), dan Al-Baihaqy  dalam Ad-Dala’il (5/289).&lt;br /&gt;Penulis Al-Isti’ab fi Bayan Al-Asbab (2/300) berkata, “Sanadnya dho’if  jiddan (lemah sekali) berentetan dengan orang-orang bergelar Al-Aufiy  yang semuanya dho’if (lemah)”. (Asy-Syihab Ats-Tsaqib hal.13)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Sisi Kemungkaran Matan (redaksi) Hadits Ini:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;1. Hadits ini kontradiksi dengan lahiriyah ayat 75-77 dari surah  At-Taubah di atas, dimana ayat ini jelas-jelas untuk orang munafiq.&lt;br /&gt;2. Tidak diterimanya taubat Tsa’labah di saat ia bertaubat. Padahal  taubat terus terbuka dan akan diterima sampai sebelum datangnya ajal.&lt;br /&gt;3. Tidak diperanginya Tsa’labah yang enggan membayar zakat. Padahal para  sahabat di zaman Abu Bakar telah menghunuskan pedang mereka untuk  memerangi orang-orang yang tidak mau menunaikan zakat. Lalu apa yang  menyebabkan mereka tak memerangi Tsa’labah. Jelas ini ganjil!!&lt;br /&gt;4. Tsa’labah adalah peserta perang Badar yang memiliki keutamaan yang  tinggi, sampai-sampai Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- pernah  bersabda, &lt;em&gt;“Sesungguhnya aku berharap neraka tak akan dimasuki -insya  Allah- oleh orang yang pernah menghadiri perang Badar dan Hudaibiyah”. &lt;/em&gt;(HR. Muslim)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Komentar Para Ulama Mengenai Kisah Di Atas&lt;/strong&gt;.&lt;br /&gt;Ibnu Hazm Azh-Zhohiry Al-Andalusy -rahimahullah- berkata, “Hadits ini  adalah batil -tanpa ada keraguan -, karena Allah memerintahkan untuk  menarik zakat dari kaum muslimin, dan juga Nabi -’alaihis salam- telah  memerintahkan -ketika akan wafat- agar tidak boleh ada dua agama yang  berada di Semenanjung Arab. Tsa’labah tak lepas kondisinya sebagai  seorang muslim. Maka wajib atas Abu Bakar dan Umar untuk menarik  zakatnya, ini harus dan tidak ada kelonggaran dalam hal ini. Jika ia  (Tsa’labah) adalah seorang yang kafir, maka wajib untuk tidak tinggal di  Semenanjung Arab. Jadi, gugurlah atsar ini -tanpa ada keraguan-. Di  antara rawi-rawinya ada Mu’an bin Rifa’ah, Al-Qosim bin Abdurrahman, dan  Ali bin Yazid bin Abdul Malik. Semuanya adalah orang-orang yang lemah”.  (Al-Muhalla: 11/208)&lt;br /&gt;Al-Haitsamy berkata, “Hadits ini diriwayatkan oleh Ath-Thobrony, sedang  di dalamnya terdapat Ali bin Yazid Al-Alhany dan ia adalah matruk  (ditinggalkan)”. (Majma’ Az-Zawa’id: 7/31-32)&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albany -rahimahullah- berkata, “Dho’if Jiddan (lemah sekali).” (Adh-Dho’ifah: 4/111)&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2697845295052805777-1841858775050543350?l=salafiyunm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://salafiyunm.blogspot.com/feeds/1841858775050543350/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://salafiyunm.blogspot.com/2010/12/penjelasan-lemahnya-kisah-tsalabah-bin.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2697845295052805777/posts/default/1841858775050543350'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2697845295052805777/posts/default/1841858775050543350'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://salafiyunm.blogspot.com/2010/12/penjelasan-lemahnya-kisah-tsalabah-bin.html' title='Penjelasan Lemahnya Kisah Tsa’labah bin Hathib'/><author><name>salafy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01883732528935283225</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2697845295052805777.post-8839012394830380535</id><published>2010-12-06T16:26:00.000-08:00</published><updated>2011-12-06T16:27:50.452-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Biografi'/><title type='text'>Imam Ahmad bin Hanbal, Teladan dalam Semangat dan Kesabaran</title><content type='html'>&lt;p&gt;Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata: “Ahmad bin Hanbal adalah  seorang tauladan dalam 8 hal: tauladan dalam bidang hadits, fiqih,  bahasa arab, Al-Qur’an, kefakiran, zuhud, wara’ dan dalam berpegang  teguh dengan sunnah Nabi shalallahu’alaihi wa sallam.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;Kun-yah dan Nama Lengkap beliau rahimahullah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Beliau adalah Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal bin  Asad bin Idris bin Abdillah bin Hayyan bin Abdillah bin Anas bin ‘Auf  bin Qosith bin Mazin bin Syaiban Adz Dzuhli Asy-Syaibani Al-Marwazi  Al-Baghdadi.&lt;br /&gt;Lahir pada bulan Rabi’ul Awal tahun 164 Hijriyah di kota Marwa. Beliau  lebih dikenal dengan Ahmad bin Hanbal, disandarkan kepada kakeknya.  Karena sosok kakeknya lebih dikenal daripada ayahnya. Ayahnya meninggal  ketika beliau masih berusia 3 tahun. Kemudian sang ibu yang bernama  Shafiyah binti Maimunah membawanya ke kota Baghdad. Ibunya benar-benar  mengasuhnya dengan pendidikan yang sangat baik hingga beliau tumbuh  menjadi seorang yang berakhlak mulia.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;Perjalanan beliau dalam menuntut ilmu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sungguh mengagumkan semangat Al-Imam Ahmad bin Hanbal di dalam menuntut  ilmu. Beliau hafal Al-Qur’an pada masa kanak-kanak. Beliau juga belajar  membaca dan menulis. Semasa kecil beliau aktif mendatangi kuttab  (semacam TPA di zaman sekarang).&lt;br /&gt;Kemudian pada tahun 179 Hijriyah, saat usianya 15 tahun, beliau memulai  menuntut ilmu kepada para ulama terkenal di masanya. Beliau awali dengan  menimba ilmu kepada para ulama Baghdad, di kota yang ia tinggali.&lt;br /&gt;Di kota Baghdad ini, beliau belajar sejumlah ulama, diantaranya:&lt;br /&gt;1. Al-Imam Abu Yusuf, murid senior Al-Imam Abu Hanifah.&lt;br /&gt;2. Al-Imam Husyaim bin Abi Basyir. Beliau mendengarkan dan sekaligus menghafal banyak hadits darinya selama 4 tahun.&lt;br /&gt;3. ‘Umair bin Abdillah bin Khalid.&lt;br /&gt;4. Abdurrahman bin Mahdi.&lt;br /&gt;5. Abu Bakr bin ‘Ayyasy.&lt;br /&gt;Pada tahun 183 Hijriyah pada usia 20 tahun, beliau pergi untuk menuntut  ilmu kepada para ulama di kota Kufah. Pada tahun 186 H beliau belajar ke  Bashrah. Kemudian pada tahun 187 H beliau belajar kepada Sufyan bin  ‘Uyainah di Qullah, sekaligus menunaikan ibadah haji yang pertama kali.  Kemudian pada tahun 197 H beliau belajar kepada Al-Imam ‘Abdurrazaq Ash  Shan’ani di Yaman bersama Yahya bin Ma’in.&lt;br /&gt;Yahya bin Ma’in menceritakan: “Aku keluar ke Shan’a bersama Ahmad bin  Hanbal untuk mendengarkan hadits dari ‘Abdurrazaq Ash Shan’ani. Dalam  perjalanan dari Baghdad ke Yaman, kami melewati Makkah. Kami pun  menunaikan ibadah haji. Ketika sedang thawaf, tiba-tiba aku berjumpa  dengan ‘Abdurrazaq, beliau sedang thawaf di Baitullah. Beliau sedang  menunaikan ibadah haji pada tahun itu. Aku pun mengucapkan salam kepada  beliau dan aku kabarkan bahwa aku bersama Ahmad bin Hanbal. Maka beliau  mendoakan Ahmad dan memujinya. Yahya bin Ma’in melanjutkan, “Lalu aku  kembali kepada Ahmad dan berkata kepadanya, “Sungguh Allah telah  mendekatkan langkah kita, mencukupkan nafkah atas kita, dan  mengistirahatkan kita dari perjalanan selama satu bulan. Abdurrazaq ada  di sini. Mari kita mendengarkan hadits dari beliau!”&lt;br /&gt;Maka Ahmad berkata, “Sungguh tatkala di Baghdad aku telah berniat untuk  mendengarkan hadits dari ‘Abdurrazaq di Shan’a. Tidak demi Allah, aku  tidak akan mengubah niatku selamanya.’ Setelah menyelesaikan ibadah  haji, kami berangkat ke Shan’a. Kemudian habislah bekal Ahmad ketika  kami berada di Shan’a. Maka ‘Abdurrazaq menawarkan uang kepadanya,  tetapi dia menolaknya dan tidak mau menerima bantuan dari siapa pun.  Beliau pun akhirnya bekerja membuat tali celana dan makan dari hasil  penjualannya.” Sebuah perjalanan yang sangat berat mulai dari Baghdad  (‘Iraq) sampai ke Shan’a (Yaman). Namun beliau mengatakan: “Apalah arti  beratnya perjalanan yang aku alami dibandingkan dengan ilmu yang aku  dapatkan dari Abdurrazaq.”&lt;br /&gt;Al-Imam Abdurrazaq sering menangis jika disebutkan nama Ahmad bin Hanbal  dihadapannya, karena teringat akan semangat dan penderitaannya dalam  menuntut ilmu serta kebaikan akhlaknya.&lt;br /&gt;Beliau melakukan perjalanan dalam rangka menuntut ilmu ke berbagai  negeri seperti Syam, Maroko, Aljazair, Makkah, Madinah, Hijaz, Yaman,  Irak, Persia, Khurasan dan berbagai daerah yang lain. Kemudian barulah  kembali ke Baghdad.&lt;br /&gt;Pada umur 40 tahun, beliau mulai mengajar dan memberikan fatwa. Dan pada  umur tersebut pula beliau menikah dan melahirkan keturunan yang menjadi  para ulama seperti Abdullah dan Shalih. Beliau tidak pernah berhenti  untuk terus menuntut ilmu. Bahkan, walaupun usianya telah senja dan  telah mencapai tingkatan seorang Imam, beliau tetap menuntut ilmu.&lt;span id="more-3502"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;Guru-guru beliau&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Beliau menuntut ilmu dari para ulama besar seperti Husyaim bin Abi  Basyir, Sufyan bin Uyainah, Al-Qadhi Abu Yusuf, Yazid bin Harun,  Abdullah bin Al-Mubarak, Waki’, Isma’il bin ‘Ulayyah, Abdurrahman bin  Mahdi, Al-Imam Asy-Syafi’i, Abdurrazaq, Muhammad bin Ja’far (Ghundar),  Jarir bin Abdul Hamid, Hafsh bin Ghiyats, Al-Walid bin Muslim, Yahya bin  Sa’id Al-Qaththan, Abu Nu’aim Al-Fadhl bin Dukain dan lain-lain.&lt;br /&gt;Al-Imam Adz Dzahabi menyebutkan dalam kitab As-Siyar, jumlah guru-guru  Al-Imam Ahmad yang beliau riwayatkan dalam Musnadnya lebih dari 280  orang.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;Murid-murid beliau&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Para ulama yang pernah belajar kepada beliau adalah para ulama besar  pula seperti Muhammad bin Yahya Adz-Dzuhli, Al-Imam Al-Bukhari, Al-Imam  Muslim, Abu Dawud, An-Nasai, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Abu Zur’ah, Abu  Hatim Ar-Razi, Abu Qilabah, Baqi bin Makhlad, Ali bin Al-Madini, Abu  Bakr Al-Atsram, Shalih dan Abdullah (putra beliau), dan sejumlah ulama  besar lainnya.&lt;br /&gt;Bahkan yang dulunya pernah menjadi guru-guru beliau, kemudian mereka  meriwayatkan hadits dari beliau seperti Al-Imam Abdurrazaq, Al-Hasan bin  Musa Al-Asyyab, Al-Imam Asy-Syafi’i.&lt;br /&gt;Al-Imam Asy-Syafi’i ketika meriwayatkan dari Al-Imam Ahmad tidak  menyebutkan namanya bahkan dengan gelarnya, “Telah menghaditskan  kepadaku Ats-Tsiqat (seorang yang terpercaya).&lt;br /&gt;Demikian pula teman-temannya seperjuangan dalam menuntut ilmu, mereka juga meriwayatkan dari beliau, seperti Yahya bin Ma’in.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;Ahlak dan Ibadah Beliau rahimahullah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pertumbuhan beliau berpengaruh terhadap kematangan dan kedewasaannya.  Sampai-sampai sebagian ulama menyatakan kekaguman akan adab dan kebaikan  akhlaknya, “Aku mengeluarkan biaya untuk anakku dengan mendatangkan  kepada mereka para pendidik agar mereka mempunyai adab, namun aku lihat  mereka tidak berhasil. Sedangkan ini (Ahmad bin Hanbal) adalah seorang  anak yatim, lihatlah oleh kalian bagaimana dia!”&lt;br /&gt;Beliau adalah seorang yang menyukai kebersihan, suka memakai pakaian  berwarna putih, paling perhatian terhadap dirinya, merawat dengan baik  kumisnya, rambut kepalanya dan bulu tubuhnya.&lt;br /&gt;Orang-orang yang hadir di majelis beliau tidak sekedar menimba ilmunya  saja bahkan kebanyakan mereka hanya sekedar ingin mengetahui akhlaq  beliau.&lt;br /&gt;Majelis yang diadakan oleh beliau dihadiri oleh sekitar 5000 orang. Yang  mencatat pelajaran yang beliau sampaikan jumlahnya adalah kurang dari  500 orang. Sementara sisanya sekitar 4500 orang tidak mencatat pelajaran  yang beliau sampaikan namun sekedar memperhatikan akhlak dan samt  (baiknya penampilan dalam perkara agama) beliau.&lt;br /&gt;Yahya bin Ma’in berkata: “Aku tidak pernah melihat orang yang seperti  Ahmad. Kami bersahabat dengannya selama 50 tahun. Dan belum pernah  kulihat ia membanggakan dirinya atas kami dengan sesuatu yang memang hal  itu ada pada dirinya.”&lt;br /&gt;Beliau juga sangat benci apabila namanya disebut-sebut (dipuji) di  tengah-tengah manusia, sehingga beliau pernah berkata kepada seseorang:  “Jadilah engkau orang yang tidak dikenal, karena sungguh aku benar-benar  telah diuji dengan kemasyhuran.”&lt;br /&gt;Beliau menolak untuk dicatat fatwa dan pendapatnya. Berkata seseorang  kepada beliau: “Aku ingin menulis permasalahan-permasalahan ini, karena  aku takut lupa.” Berkata beliau: “Sesungguhnya aku tidak suka, engkau  mencatat pendapatku.”&lt;br /&gt;Beliau adalah seorang yang sangat kuat ibadahnya. Putra beliau yang  bernama Abdullah menceritakan tentang kebiasaan ayahnya: ” Dahulu ayahku  shalat sehari semalam sebanyak 300 rakaat. Dan tatkala kondisi fisik  beliau mulai melemah akibat pengaruh dari penyiksaan yang pernah  dialaminya maka beliau hanya mampu shalat sehari semalam sebanyak 150  rakaat.”&lt;br /&gt;Abdullah mengatakan: “Terkadang aku mendengar ayah pada waktu sahur  mendoakan kebaikan untuk beberapa orang dengan menyebut namanya. Ayah  adalah orang yang banyak berdoa dan meringankan doanya. Jika ayah shalat  Isya, maka ayah membaguskan shalatnya kemudian berwitir lalu tidur  sebentar kemudian bangun dan shalat lagi. Bila ayah puasa, beliau suka  untuk menjaganya kemudian berbuka sampai waktu yang ditentukan oleh  Allah. Ayah tidak pernah meninggalkan puasa Senin-Kamis dan puasa  ayyamul bidh (puasa tiga hari, tanggal 13, 14, 15 dalam bulan Hijriyah).&lt;br /&gt;Dalam riwayat lain beliau berkata: “Ayah membaca Al-Qur’an setiap  harinya 1/7 Al-Qur’an. Beliau tidur setelah Isya dengan tidur yang  ringan kemudian bangun dan menghidupkan malamnya dengan berdoa dan  shalat.&lt;br /&gt;Suatu hari ada salah seorang murid beliau menginap di rumahnya. Maka  beliau menyiapkan air untuknya (agar ia bisa berwudhu). Maka tatkala  pagi harinya, beliau mendapati air tersebut masih utuh, maka beliau  berkata: “Subhanallah, seorang penuntut ilmu tidak melakukan dzikir pada  malam harinya?”&lt;br /&gt;Beliau telah melakukan haji sebanyak lima kali, tiga kali diantaranya  beliau lakukan dengan berjalan kali dari Baghdad dan pada salah satu  hajinya beliau pernah menginfakkan hartanya sebanyak 30 dirham.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;Ujian yang menimpa beliau&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Beliau menerima ujian yang sangat berat dan panjang selama 3 masa  kekhalifahan yaitu Al-Ma’mun, Al-Mu’tashim, dan Al-Watsiq. Beliau  dimasukkan ke dalam penjara kemudian dicambuk atau disiksa dengan  berbagai bentuk penyiksaan. Itu semua beliau lalui dengan kesabaran  dalam rangka menjaga kemurnian aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yaitu  Al-Qur’an adalah kalamullah dan bukan makhluk. Di masa itu, aqidah sesat  yang menyatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk (bukan kalamullah)  diterima dan dijadikan ketetapan resmi oleh pemerintah.&lt;br /&gt;Sedangkan umat manusia menunggu untuk mencatat pernyataan (fatwa)  beliau. Seandainya beliau tidak sabar menjaga kemurnian aqidah yang  benar, dan menyatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk, niscaya manusia  akan mengiktui beliau. Namun beliau tetap tegar dan tabah menerima semua  ujian tersebut. Walaupun beliau harus mengalami penderitaan yang  sangat. Pernah beliau mengalami 80 kali cambukan yang kalau seandainya  cambukan tersebut diarahkan kepada seekor gajah niscaya ia akan mati.  Namun beliau menerima semua itu dengan penuh kesabaran demi  mempertahankan aqidah Ahlus Sunnah.&lt;br /&gt;Sampai akhirnya, pada masa khalifah Al-Mutawakkil, beliau dibebaskan dari segala bentuk penyiksaan tersebut.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;Wafat beliau rahimahullah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pada Rabu malam tanggal 3 Rabi’ul Awal tahun 241 Hijriyah, beliau  mengalami sakit yang cukup serius. Sakit beliau semakin hari semakin  bertambah parah. Manusia pun berduyun-duyun siang dan malam datang untuk  menjenguk dan menyalami beliau. Kemudian pada hari Jum’at tanggal 12  Rabi’ul Awal, di hari yang ke sembilan dari sakitnya, mereka berkumpul  di rumah beliau sampai memenuhi jalan-jalan dan gang. Tak lama kemudian  pada siang harinya beliau menghembuskan nafas yang terakhir. Maka  meledaklah tangisan dan air mata mengalir membasahi bumi Baghdad. Beliau  wafat dalam usia 77 tahun. Sekitar 1,7 juta manusia ikut mengantarkan  jenazah beliau. Kaum muslimin dan bahkan orang-orang Yahudi, Nasrani  serta Majusi turut berkabung pada hari tersebut.&lt;br /&gt;Selamat jalan, semoga Allah merahmatimu dengan rahmat-Nya yang luas dan menempatkanmu di tempat yang mulia di Jannah-Nya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;Maraji’:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. Musthalah Hadits karya Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin, hal. 63-66.&lt;br /&gt;2. Pewaris Para Nabi hal. 49,55,91,94,173,1843. Mahkota yang hilang hal.39&lt;br /&gt;4. Kitab Fadhail Ash-Shahabah jilid I hal 25-32.&lt;br /&gt;5. Siyar A’lamin Nubala&lt;br /&gt;6. Al-Bidayah wan Nihayah&lt;br /&gt;7. Mawa’izh Al-Imam Ahmad&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[sumber: http://ulamasunnah.wordpress.com/2011/05/08/imam-ahmad-bin-hanbal-teladan-dalam-semangat-dan-kesabaran/]&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2697845295052805777-8839012394830380535?l=salafiyunm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://salafiyunm.blogspot.com/feeds/8839012394830380535/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://salafiyunm.blogspot.com/2010/12/imam-ahmad-bin-hanbal-teladan-dalam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2697845295052805777/posts/default/8839012394830380535'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2697845295052805777/posts/default/8839012394830380535'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://salafiyunm.blogspot.com/2010/12/imam-ahmad-bin-hanbal-teladan-dalam.html' title='Imam Ahmad bin Hanbal, Teladan dalam Semangat dan Kesabaran'/><author><name>salafy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01883732528935283225</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2697845295052805777.post-13898027672618411</id><published>2010-11-18T18:48:00.001-08:00</published><updated>2010-11-18T18:48:32.734-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqh'/><title type='text'>Puasa Arafah dan Idul Adha, Ikut Pemerintah atau Arab Saudi?</title><content type='html'>Tahun ini, pemerintah Indonesia secara resmi menetapkan bahwa hari raya Idul Adha 10 Dzulhijjah 1431 Hijriyah bertepatan dengan tanggal 17 November 2010 Masehi, berbeda dengan pemerintah Arab Saudi yang menetapkan bahwa hari raya yang juga disebut hari haji akbar itu jatuh pada sehari sebelumnya, bertepatan 16 November 2010. Ini berarti bahwa jama’ah haji melakukan wukuf di Arafah pada tanggal 15 November 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sinilah kemudian muncul pertanyaan, kapan kita yang berada di Indonesia ini berpuasa Arafah dan berhari raya kurban? Apakah tetap mengikuti pemerintah kita atau mengikuti Arab Saudi? Dan apakah memungkinkan kalau puasa Arafahnya mengikuti waktu wukufnya jama’ah haji, sementara idul adhanya mengikuti pemerintah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami akan menyebutkan dua pendapat yang pernah dijelaskan oleh para ulama, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat pertama: puasa Arafah dan idul adha tetap mengikuti pemerintah walaupun berbeda dengan negara Arab Saudi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah pendapat yang disebutkan oleh Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah. Beliau pernah ditanya oleh para pekerja yang bertugas di kedutaan Arab Saudi (di negara lain), ketika mereka menghadapi masalah terkait dengan puasa Ramadhan dan puasa Arafah. Mereka tepecah menjadi tiga kelompok:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok pertama mengatakan: “Kami akan berpuasa dan berbuka mengikuti kerajaan Arab Saudi”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok kedua mengatakan: “Kami berbuka dan berpuasa mengikuti negara yang kami bertugas di sana.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kelompok ketiga mengatakan: “Kami akan berpuasa Ramadhan sesuai dengan negara tempat kami bertugas, namun untuk puasa Arafah, kami mengikuti kerajaan Arab Saudi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka beliau menjawab:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama rahimahumullah berbeda pendapat, apakah jika hilal telah tampak di suatu negeri,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Kemudian mengharuskan kaum muslimin di seluruh negeri untuk mengikuti negeri tersebut,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- ataukah kewajiban itu hanya bagi yang melihat hilal saja dan juga bagi negeri yang satu mathla’ dengannya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- atau kewajiban itu juga berlaku bagi yang melihat hilal dan siapa saja yang berada di pemerintahan (negara) yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam permasalahan ini terdapat beberapa pendapat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang rajih (kuat) adalah bahwasannya permasalahan ini dikembalikan kepada ahlul ma’rifah. Jika dua negeri berada dalam satu mathla’ yang sama, maka keduanya terhitung seperti satu negeri, sehingga jika di salah satu negeri tersebut sudah terlihat hilal, maka hukum ini juga berlaku bagi negeri yang satunya tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun jika dua negeri tadi tidak berada pada satu mathla’, maka setiap negeri memiliki hukum tersendiri. Ini adalah pendapat yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu ta’ala. Dan inilah yang sesuai dengan zhahir Al-Qur’an dan As-Sunnah, serta qiyas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalil dari Al-Qur’an:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُواْ الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُواْ اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” [Al-Baqarah: 185]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dipahami dari ayat ini adalah barangsiapa yang tidak melihat maka tidak diwajibkan baginya berpuasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun dalil dari As-Sunnah adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إذا رأيتموه فصوموا ، وإذا رأيتموه فأفطروا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apabila kalian melihat hilal (Ramadhan), maka berpuasalah, dan apabila melihat hilal (syawwal), maka berbukalah (beridul fithrilah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dipahami dari hadits ini adalah jika kita tidak melihat hilal, maka tidak wajib berpuasa ataupun berbuka (beridul fithri).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun dalil qiyas adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena waktu mulainya berpuasa dan berbuka itu hanya berlaku untuk negeri itu sendiri dan negeri lain yang waktu terbit dan tenggelamnya matahari adalah sama. Ini adalah hal yang telah disepakati, sehingga anda saksikan bahwa kaum muslimin di Asia sebelah timur mulai berpuasa sebelum kaum muslimin yang berada di sebelah baratnya, demikian pula dengan waktu berbukanya. Hal ini terjadi karena fajar di belahan bumi timur terbit lebih dahulu daripada di belahan barat, begitu juga dengan tenggelamnya matahari. Jika perbedaan seperti ini bisa terjadi pada waktu mulainya berpuasa dan berbuka yang itu terjadi setiap hari, maka demikian juga hal itu bisa terjadi pada waktu mulainya berpuasa di awal bulan dan waktu mulainya berhari raya. Tidak ada bedanya antara keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun jika ada dua negeri yang berada dalam satu pemerintahan, dan pemerintah negeri tersebut telah memerintahkan untuk berpuasa atau berbuka (berhari raya), maka wajib mengikuti perintah (keputusan) pemerintah tersebut. Masalah seperti ini adalah masalah khilafiyah, sehingga keputusan pemerintahlah yang akan menyelesaikan perselisihan yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan ini semua, hendaklah kalian berpuasa dan berbuka (berhari raya) sebagaimana puasa dan berbuka (berhari raya) yang dilakukan di negeri kalian berada (yaitu mengikuti keputusan pemerintah). Sama saja apakah keputusan ini sesuai dengan negeri asal kalian atau berbeda. Begitu juga dengan hari (puasa) Arafah, hendaklah kalian mengikuti negeri yang kalian berada di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kesempatan yang lain, Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu ta’ala juga ditanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika terdapat perbedaan tentang penetapan hari Arafah dari negeri-negeri yang berbeda disebabkan perbedaan mathla’, apakah kami berpuasa mengikuti ru’yah negeri yang kami berada padanya, ataukah mengikuti ru’yah Haramain (Arab Saudi)?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau menjawab:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Permasalahan ini dibangun (muncul) dari perbedaan pendapat di kalangan ulama, apakah munculnya hilal (di suatu daerah) itu berlaku untuk seluruh dunia, ataukah berbeda-beda tergantung perbedaan mathla’nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat yang benar adalah berbeda-beda sesuai dengan perbedaan mathla’nya. Misalnya di Makkah terlihat hilal tanggal 9 Dzulhijjah, namun di negari lain, hilal tersebut sudah terlihat sehari sebelumnya, sehingga hari Arafah (di Makkah) menurut negeri itu adalah sudah memasuki tanggal 10 Dzulhijjah. Maka tidak boleh bagi penduduk negeri tersebut untuk berpuasa pada hari itu, karena hari itu adalah hari ‘Idul Adha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga jika munculnya hilal Dzulhijjah di negeri itu sehari setelah ru’yatul hilal di Makkah, maka tanggal 9 Dzulhijjah di Makkah itu adalah bertepatan dengan tanggal 8 Dzulhijjah di negeri tersebut. Sehingga penduduk negeri tersebut berpuasa Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah menurut mereka, yang bertepatan dengan tanggal 10 Dzulhijjah di Mekkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah pendapat yang kuat dalam permasalahan ini, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إذا رأيتموه فصوموا وإذا رأيتموه فأفطروا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika kalian melihat hilal (Ramadhan) hendaklah kalian berpuasa, dan jika kalian melihat hilal (Syawwal) hendaknya kalian berbuka (berhari raya).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penduduk di daerah yang tidak tampak oleh mereka hilal, maka mereka bukan termasuk orang yang melihatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana manusia bersepakat bahwa terbitnya fajar dan tenggelamnya matahari itu sesuai (mengikuti) daerahnya masing-masing yang berbeda-beda, maka demikian juga penetapan (awal) bulan itu, sebagaimana penetapan waktu harian (mengikuti daerahnya masing-masing).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat kedua: puasa Arafah mengikuti Arab Saudi, namun idul adha mengikuti pemerintah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini sebagaimana yang disebutkan oleh Asy-Syaikh ‘Utsman bin ‘Abdillah As-Salimi hafizhahullah, salah seorang ulama besar di Yaman, dan termasuk murid senior Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi rahimauhllah. Dalam salah satu pelajaran yang disampaikan ba’da zhuhur tanggal 3 Dzulhijjah yang lalu, beliau ditanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah kita beridul Adha (yakni mulai menyembelih hewan kurban) dengan mengikuti Arab Saudi, sementara kami di Maroko, meskipun hal ini menyelisihi dan mendahului waliyul amr (pemerintah), dan hal ini juga bisa menimbulkan fitnah sebagaimana yang anda ketahui?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka beliau menjawab:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idul Adha wajib atas seluruh kaum muslimin untuk mengikuti negeri Al-Haramain (Arab Saudi), karena pelaksanaan ibadah haji berada di sana, sehingga yang dijadikan patokan adalah pelaksanaan ibadah haji dan hari Arafah (sesuai dengan yang di Arab Saudi), maka hendaknya kalian melaksanakan puasa hari Arafah ketika di negara Arab Saudi juga berpuasa, yaitu ketika para jama’ah haji melakukan wukuf di Arafah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun waliyul amr (pemerintah), baik di Maroko maupun negeri yang lain, tidak boleh bagi mereka untuk menyelisihi umat Islam (yang berpatokan pada pelaksanaan ibadah haji dan hari Arafah di Saudi tersebut).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun apabila kalian khawatir terjadinya fitnah, jika kalian sanggup, maka hendaknya kalian menyembelih hewan kurban pada hari nahr secara sembunyi-sembunyi. Kalau tidak mampu, maka pada hari keduanya tidak mengapa. Hari-hari penyembelihan itu banyak, yaitu hari nahr (10 Dzulhijjah), tanggal 11, tanggal 12, dan menurut pendapat yang benar adalah juga tanggal 13 sebagaimana yang dikatakan Asy-Syafi’i dan sekelompok ulama yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga kalian boleh memilih, tidak mengapa bagi kalian untuk mengakhirkan dan mengikuti negeri kalian dalam menyembelih hewan kurban jika khawatir timbul fitnah. Wabillahit taufiq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi hendaknya kalian tetap merasa bahwa hari Id (yang benar) adalah bersama dengan negeri Saudi Arabia. Semoga Allah memberikan taufik kepada kalian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun untuk shalat id, maka dilakukan pada hari kedua (dari hari nahr, yaitu tanggal 11 Dzulhijjah) selama di negeri tersebut semuanya melaksanakan id bersama dengan pemerintah setempat, sehingga jika khawatir terjadi fitnah, maka boleh mengakhirkan shalat id pada hari kedua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaum muslimin di Indonesia -sebagaimana yang telah diumumkan sendiri oleh pemerintah-, diberi keleluasaan untuk memilih waktu puasa Arafah dan hari Id-nya, silakan mengikuti pemerintah atau boleh juga mengikuti Arab Saudi. Dari keterangan para ulama di atas, maka Insya Allah tidak mengapa bagi setiap muslim di negeri ini untuk menentukan waktu puasa dan hari rayanya sesuai dengan pendapat yang menurut dia lebih tepat (tentunya dalam memilih pendapatnya itu harus dengan didasari oleh ilmu, tanpa ada sikap taqlid, apalagi memilih pendapat yang sesuai dengan hawa nafsu diri dan kelompoknya), karena masing-masing pendapat tersebut berdasarkan ijtihad para ulama yang bersumber dari dalil-dalil yang syar’i.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi yang mengikuti pendapat pertama, maka dia memiliki dasar:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Bahwa dari keterangan Asy-Syaikh Al-‘Utsaimin tadi, dalam menentukan waktu masuknya bulan Dzulhijjah, insya Allah Pemerintah Indonesia sudah menempuh upaya-upaya yang sesuai dengan syar’i, yaitu ru’yatul hilal[1], yang kenyataannya pada 29 Dzulqa’dah petang, hilal bulan Dzulhijjah belum nampak, sehingga dilakukan ikmal (menyempurnakan/menggenapkan bulan Dzulqa’dah menjadi 30 hari). Ini semua adalah upaya yang sudah sesuai dengan bimbingan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.[2]&lt;br /&gt;* Dengan mengikuti pemerintah, syi’ar kebersamaan umat Islam di negeri ini akan lebih terjaga, sebagaimana yang diisyaratkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الصوم يوم تصومون ، و الفطر يوم تفطرون ، و الأضحى يوم تضحون&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berpuasa (adalah dilakukan di) hari kalian semua berpuasa, beridul fithri (adalah dilakukan di) hari kalian beridul fithri, dan beridul adha (adalah dilakukan di) kalian beridul adha (melakukan penyembelihan).” [HR. At-Tirmidzi, dishahihkan oleh Al-Imam Al-Albani rahimahullah]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan bagi yang mengikuti pendapat kedua, dia memiliki dasar:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Puasa Arafah disesuaikan waktunya dengan waktu wukufnya jama’ah haji di Arafah. Sesuai dengan namanya, bahwa puasa Arafah adalah puasa yang dilakukan ketika jama’ah haji melakukan wukuf di Arafah. Wallahu a’lam.&lt;br /&gt;* Pemerintah memberikan keleluasaan kepada masyarakat untuk memilih waktu puasa dan hari rayanya, sehingga kalau dia berpuasa dan berhari raya tidak bersamaan waktunya dengan pemerintah, ini bukan termasuk bentuk ketidaktaatan kepada waliyul amr.&lt;br /&gt;* Adapun untuk shalat id-nya, boleh bagi dia untuk melakukannya bersamaan dengan pemerintah karena biasanya mayoritas umat Islam di negeri ini mengikuti pemerintah, sehingga jika dikhawatirkan timbul fitnah, tidak mengapa untuk melakukan shalat id sesuai dengan pemerintah negeri ini, berbeda dengan puasa yang itu merupakan amalan yang tidak nampak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu a’lam bish shawab.&lt;br /&gt;[1] Walaupun pemerintah juga menggunakan metode hisab, namun metode ini tidak teranggap karena tidak sesuai dengan bimbingan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Semoga Allah memberikan taufik dan hidayah-Nya kepada kita semua dan kepada pemerintah negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] Berbeda dengan yang dituduhkan oleh kelompok sempalan yang dalam pergerakannya banyak menyelisihi syari’at semisal Majelis Mujahidin (Indonesia) yang menyatakan bahwa penetapan awal Dzulhijjah oleh pemerintah RI adalah tidak sah sebagai pegangan Syar’i karena menyalahi penetapan wukuf Arafah. Demikian maklumat yang mereka keluarkan. Wallahu a’lam, sebagaimana yang biasa mereka lakukan, apakah keputusan ini lebih dominan didorong dari sikap kebencian mereka kepada pemerintah atau karena yang lain?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Sumber &lt;a href="http://www.assalafy.org/mahad/?p=556" target="_blank"&gt;http://www.assalafy.org/mahad/?p=556&lt;/a&gt;)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2697845295052805777-13898027672618411?l=salafiyunm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://salafiyunm.blogspot.com/feeds/13898027672618411/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://salafiyunm.blogspot.com/2010/11/puasa-arafah-dan-idul-adha-ikut.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2697845295052805777/posts/default/13898027672618411'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2697845295052805777/posts/default/13898027672618411'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://salafiyunm.blogspot.com/2010/11/puasa-arafah-dan-idul-adha-ikut.html' title='Puasa Arafah dan Idul Adha, Ikut Pemerintah atau Arab Saudi?'/><author><name>salafy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01883732528935283225</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2697845295052805777.post-1051188702811842418</id><published>2010-11-06T19:27:00.000-07:00</published><updated>2010-11-06T19:29:13.832-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Download'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Daurah'/><title type='text'>Rekaman Kajian Buku Mendulang Pahala di Bulan Dzulhijjah (Fiqih Berkurban, Idul Adha, dan Hari Tasyrik)</title><content type='html'>&lt;p&gt;Alhamdulillah link download &lt;strong&gt;"Kajian  Buku Mendulang Pahala di Bulan Dzulhijjah (Fiqih Berkurban, Idul Adha,  dan Hari Tasyrik)" &lt;/strong&gt;yang diadakan hari Jum’at, tanggal 25  Dzulqa’dah 1431 H / 05 Oktober 2010 saat ini sudah kami sediakan untuk  didownload. Kajian ini diadakan di Masjid Al-Markaz Al-Islamy Jend. M.  Yusuf Makassar dengan moderator &lt;strong&gt;Prof. Ali Parman&lt;/strong&gt; dan  pemateri &lt;strong&gt;Ustadz Dzulqarnain M. Sunusi&lt;/strong&gt;. Silahkan disebar  tanpa tujuan komersil, semoga bermanfaat.&lt;br /&gt; &lt;span id="more-770"&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;img src="http://ber.ilmoe.com/resources/icons/sound.gif" alt="Muqaddimah Prof. Ali Parman (Moderator).mp3 (1MB)" /&gt; &lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/makassar/an-nashihah/Bedah-Buku-Mendulang-Pahala-di-Bulan-Dzulhijjah/Muqaddimah%20Prof.%20Ali%20Parman%20%28Moderator%29.mp3"&gt;Muqaddimah  Prof. Ali Parman (Moderator).mp3&lt;/a&gt; &lt;em&gt;(1MB, 5th November 2010)&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;img src="http://ber.ilmoe.com/resources/icons/sound.gif" alt="1.   Mendulang Pahala di Bulan Dzulhijjah - Ustadz Dzulqarnain.mp3 (11.3MB)" /&gt;  &lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/makassar/an-nashihah/Bedah-Buku-Mendulang-Pahala-di-Bulan-Dzulhijjah/1.%20Mendulang%20Pahala%20di%20Bulan%20Dzulhijjah%20-%20Ustadz%20Dzulqarnain.mp3"&gt;1.   Mendulang Pahala di Bulan Dzulhijjah – Ustadz Dzulqarnain.mp3&lt;/a&gt; &lt;em&gt;(11.3MB,   5th November 2010)&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;  &lt;img src="http://ber.ilmoe.com/resources/icons/sound.gif" alt="3.  (Tanya-Jawab) Mendulang Pahala di Bulan Dzulhijjah - Ustadz  Dzulqarnain.mp3 (2.4MB)" /&gt; &lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/makassar/an-nashihah/Bedah-Buku-Mendulang-Pahala-di-Bulan-Dzulhijjah/3.%20%28Tanya-Jawab%29%20Mendulang%20Pahala%20di%20Bulan%20Dzulhijjah%20-%20Ustadz%20Dzulqarnain.mp3"&gt;3.  (Tanya-Jawab) Mendulang Pahala di Bulan Dzulhijjah – Ustadz  Dzulqarnain.mp3&lt;/a&gt; &lt;em&gt;(2.4MB, 5th November 2010)&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;  &lt;img src="http://ber.ilmoe.com/resources/icons/sound.gif" alt="2.  Mendulang Pahala di Bulan Dzulhijjah - Ustadz Dzulqarnain.mp3 (5.5MB)" /&gt; &lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/makassar/an-nashihah/Bedah-Buku-Mendulang-Pahala-di-Bulan-Dzulhijjah/2.%20Mendulang%20Pahala%20di%20Bulan%20Dzulhijjah%20-%20Ustadz%20Dzulqarnain.mp3"&gt;2.  Mendulang Pahala di Bulan Dzulhijjah – Ustadz Dzulqarnain.mp3&lt;/a&gt; &lt;em&gt;(5.5MB,  5th November 2010)&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2697845295052805777-1051188702811842418?l=salafiyunm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://salafiyunm.blogspot.com/feeds/1051188702811842418/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://salafiyunm.blogspot.com/2010/11/rekaman-kajian-buku-mendulang-pahala-di.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2697845295052805777/posts/default/1051188702811842418'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2697845295052805777/posts/default/1051188702811842418'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://salafiyunm.blogspot.com/2010/11/rekaman-kajian-buku-mendulang-pahala-di.html' title='Rekaman Kajian Buku Mendulang Pahala di Bulan Dzulhijjah (Fiqih Berkurban, Idul Adha, dan Hari Tasyrik)'/><author><name>salafy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01883732528935283225</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2697845295052805777.post-7075772596209633049</id><published>2010-10-29T18:21:00.001-07:00</published><updated>2010-10-29T18:21:50.201-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Info Kajian'/><title type='text'>Kajian Buku Mendulang Pahala di Bulan Dzulhijjah (Fiqih Berqurban, Sepuluh Hari Dzulhijjah, dan Hari-hari Tasyriq)</title><content type='html'>&lt;!-- Start LeftBar --&gt;      &lt;div id="leftbar"&gt;                  &lt;div id="leftbar-main"&gt;          &lt;!-- Category --&gt;          &lt;div class="leftbox"&gt;              &lt;!--&lt;h3&gt;Kategori Artikel&lt;/h3&gt;--&gt;                          &lt;ul id="catList"&gt;&lt;!-- &lt;li class="categories"&gt;Categories&lt;ul&gt; &lt;li class="cat-item cat-item-22"&gt;&lt;a href="http://almakassari.com/category/artikel-islam/akhlak" title="View all posts filed under akhlak"&gt;akhlak&lt;/a&gt; &lt;/li&gt;  &lt;li class="cat-item cat-item-5"&gt;&lt;a href="http://almakassari.com/category/artikel-islam/aqidah" title="View all posts filed under aqidah"&gt;aqidah&lt;/a&gt; &lt;/li&gt;  &lt;li class="cat-item cat-item-15"&gt;&lt;a href="http://almakassari.com/category/tanya-jawab/aqidah-2" title="View all posts filed under aqidah"&gt;aqidah&lt;/a&gt; &lt;/li&gt;  &lt;li class="cat-item cat-item-21"&gt;&lt;a href="http://almakassari.com/category/artikel-islam/bidah" title="View all posts filed under bid&amp;#039;ah"&gt;bid&amp;#039;ah&lt;/a&gt; &lt;/li&gt;  &lt;li class="cat-item cat-item-2"&gt;&lt;a href="http://almakassari.com/category/dawah/dauroh-donasi-dll" title="View all posts filed under dauroh, donasi, dll"&gt;dauroh, donasi, dll&lt;/a&gt; &lt;/li&gt;  &lt;li class="cat-item cat-item-131"&gt;&lt;a href="http://almakassari.com/category/dawah/download" title="View all posts filed under download"&gt;download&lt;/a&gt; &lt;/li&gt;  &lt;li class="cat-item cat-item-8"&gt;&lt;a href="http://almakassari.com/category/artikel-islam/fatwa" title="View all posts filed under fatwa"&gt;fatwa&lt;/a&gt; &lt;/li&gt;  &lt;li class="cat-item cat-item-7"&gt;&lt;a href="http://almakassari.com/category/artikel-islam/fiqh" title="View all posts filed under fiqh"&gt;fiqh&lt;/a&gt; &lt;/li&gt;  &lt;li class="cat-item cat-item-17"&gt;&lt;a href="http://almakassari.com/category/tanya-jawab/fiqh-2" title="View all posts filed under fiqh"&gt;fiqh&lt;/a&gt; &lt;/li&gt;  &lt;li class="cat-item cat-item-9"&gt;&lt;a href="http://almakassari.com/category/artikel-islam/hadits" title="View all posts filed under hadits lemah"&gt;hadits lemah&lt;/a&gt; &lt;/li&gt;  &lt;li class="cat-item cat-item-1"&gt;&lt;a href="http://almakassari.com/category/dawah" title="View all posts filed under Info Da&amp;#039;wah"&gt;Info Da&amp;#039;wah&lt;/a&gt; &lt;/li&gt;  &lt;li class="cat-item cat-item-13"&gt;&lt;a href="http://almakassari.com/category/dawah/info-umum" title="View all posts filed under info umum"&gt;info umum&lt;/a&gt; &lt;/li&gt;  &lt;li class="cat-item cat-item-11"&gt;&lt;a href="http://almakassari.com/category/artikel-islam/keluarga" title="View all posts filed under keluarga"&gt;keluarga&lt;/a&gt; &lt;/li&gt;  &lt;li class="cat-item cat-item-23"&gt;&lt;a href="http://almakassari.com/category/artikel-islam/kesehatan" title="View all posts filed under kesehatan"&gt;kesehatan&lt;/a&gt; &lt;/li&gt;  &lt;li class="cat-item cat-item-6"&gt;&lt;a href="http://almakassari.com/category/artikel-islam/manhaj" title="View all posts filed under manhaj"&gt;manhaj&lt;/a&gt; &lt;/li&gt;  &lt;li class="cat-item cat-item-16"&gt;&lt;a href="http://almakassari.com/category/tanya-jawab/manhaj-2" title="View all posts filed under manhaj"&gt;manhaj&lt;/a&gt; &lt;/li&gt;  &lt;li class="cat-item cat-item-10"&gt;&lt;a href="http://almakassari.com/category/artikel-islam/muslimah" title="View all posts filed under muslimah"&gt;muslimah&lt;/a&gt; &lt;/li&gt;  &lt;li class="cat-item cat-item-24"&gt;&lt;a href="http://almakassari.com/category/artikel-islam/ramadhan" title="View all posts filed under ramadhan"&gt;ramadhan&lt;/a&gt; &lt;/li&gt;  &lt;li class="cat-item cat-item-12"&gt;&lt;a href="http://almakassari.com/category/artikel-islam/resensi" title="View all posts filed under resensi"&gt;resensi&lt;/a&gt; &lt;/li&gt;  &lt;li class="cat-item cat-item-3"&gt;&lt;a href="http://almakassari.com/category/dawah/talim" title="View all posts filed under ta&amp;#039;lim"&gt;ta&amp;#039;lim&lt;/a&gt; &lt;/li&gt;  &lt;li class="cat-item cat-item-14"&gt;&lt;a href="http://almakassari.com/category/tanya-jawab" title="View all posts filed under Tanya-Jawab"&gt;Tanya-Jawab&lt;/a&gt; &lt;/li&gt; &lt;/ul&gt;&lt;/li&gt; --&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://an-nashihah.net/images/bedah-buku-almarkaz.jpg"&gt;&lt;img src="http://an-nashihah.net/images/bedah-buku-almarkaz-m.jpg" align="left" border="0" hspace="5" /&gt;&lt;/a&gt;InsyaAllah dengan kemudahan dari Allah, Popes As-Sunnah Makassar dan Pengurus Masjid Al-Markaz Al-Islamy akan mengadakan Kajian Buku “&lt;strong&gt;Mendulang Pahala di Bulan Dzulhijjah (Fiqih Berqurban, Sepuluh Hari Dzulhijjah, dan Hari-hari Tasyriq)&lt;/strong&gt;” yang akan diadakan di &lt;strong&gt;Masjid Al-Markaz Al-Islamy Jend. M. Jusuf Makassar &lt;/strong&gt;. Berikut ini adalah rincian info kajian buku tersebut : &lt;p&gt;Waktu : &lt;strong&gt;Hari Jum’at, 25 Dzulqa’dah 1431 H / 5 November 2010 &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;  Pukul : &lt;strong&gt;Ba’da Shalat Jum’at – Selesai &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;  Tempat : &lt;strong&gt;Masjid Al-Markaz Al-Islamy Jend. M. Jusuf Makassar&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;  Pemateri : &lt;strong&gt;Ustadz Dzulqarnain M. Sunusi&lt;/strong&gt; (Penulis Buku)&lt;br /&gt;Tema : “&lt;strong&gt;Mendulang Pahala di Bulan Dzulhijjah (Fiqih Berqurban, Sepuluh Hari Dzulhijjah, dan Hari-hari Tasyriq)&lt;/strong&gt;“&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Peserta&lt;strong&gt; : Umum (Ikhwan dan Akhwat)&lt;/strong&gt;&lt;span id="more-769"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;InsyaAllah Kajian Buku ini disiarkan Live via &lt;strong&gt;&lt;a href="http://an-nashihah.com/"&gt;www.an-nashihah.com&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt; / &lt;strong&gt;&lt;a href="http://almakassari.com/"&gt;  www.almakassari.com&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt; / &lt;strong&gt;&lt;a href="http://www.syiarsunnah.com/"&gt;www.syiarsunnah.com&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt; dan disiarkan melalui &lt;strong&gt;Radio An-Nashihah 107.5 FM&lt;/strong&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Info Panitia : &lt;strong&gt;085242920351&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Mohon disebarkan kepada kaum muslimin. Jazakumullah khoir.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2697845295052805777-7075772596209633049?l=salafiyunm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://salafiyunm.blogspot.com/feeds/7075772596209633049/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://salafiyunm.blogspot.com/2010/10/kajian-buku-mendulang-pahala-di-bulan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2697845295052805777/posts/default/7075772596209633049'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2697845295052805777/posts/default/7075772596209633049'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://salafiyunm.blogspot.com/2010/10/kajian-buku-mendulang-pahala-di-bulan.html' title='Kajian Buku Mendulang Pahala di Bulan Dzulhijjah (Fiqih Berqurban, Sepuluh Hari Dzulhijjah, dan Hari-hari Tasyriq)'/><author><name>salafy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01883732528935283225</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2697845295052805777.post-8554699793612674443</id><published>2010-10-29T18:18:00.000-07:00</published><updated>2010-10-29T18:19:13.549-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Info Kajian'/><title type='text'>Kajian Intensif Sabtu-Ahad (Aqidah Salaf dari Uraian Imam Sufyan Ats-Tsaury dan Al-Manzhumah Al-Mimiyah (Akhlak dan Kriteria Penuntut Ilmu))</title><content type='html'>InsyaAllah akan diadakan Daurah Kajan Intensif Sabtu-Ahad. Daurah intensif ini akan membahas tuntas 2 kitab aqidah, yaitu &lt;strong&gt;Aqidah Salaf dari Uraian Imam Sufyan Ats-Tsaury&lt;/strong&gt; dan &lt;strong&gt;Al-Manzhumah Al-Mimiyah&lt;/strong&gt; &lt;strong&gt;(Akhlak dan Kriteria Penuntut Ilmu)&lt;/strong&gt;. Berikut ini adalah info daurah tersebut :&lt;br /&gt;  &lt;span id="more-764"&gt;&lt;/span&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;1. Aqidah Salaf dari Uraian Imam Sufyan Ats-Tsaury&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;  Waktu : 23-24 Syawal 1431 H / 2-3 Oktober 2010&lt;br /&gt;  Pukul 09.00 – 14.00 WITA&lt;br /&gt;  Pemateri : &lt;strong&gt;Ustadz Dzulqarnain M. Sunusi &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;  Tempat : &lt;strong&gt;Ponpes As-Sunnah Makassar&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;2. &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;Al-Manzhumah Al-Mimiyah&lt;/strong&gt; &lt;strong&gt;(Akhlak dan Kriteria Penuntut Ilmu)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;  Waktu : 15-16 &amp;amp; 29-30 Dzulqa’dah 1431 H&lt;br /&gt;(23-24 Oktober 2010 &amp;amp; 6-7 November 2010)&lt;br /&gt;Pukul 09.00-14.00 WITA&lt;br /&gt;Pemateri : &lt;strong&gt;Ustadz Dzulqarnain M. Sunusi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tempat : &lt;strong&gt;Ponpes As-Sunnah Makassar&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;InsyaAllah jika tidak ada halangan, daurah ini bisa didengarkan via &lt;a href="http://www.an-nashihah.net/"&gt;www.an-nashihah.com&lt;/a&gt; / &lt;a href="http://www.an-nashihah.net/"&gt; www.an-nashihah.net&lt;/a&gt; / &lt;a href="http://www.almakassari.com/"&gt;www.almakassari.com&lt;/a&gt;. Dan bagi kaum muslimin yang berada di sekitar Kota Makassar bisa mendengarkannya via &lt;strong&gt;Radio An-Nashihah di 107.5 FM&lt;/strong&gt;. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Info : &lt;strong&gt;Abu Mu’adz&lt;/strong&gt;   085242920351&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2697845295052805777-8554699793612674443?l=salafiyunm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://salafiyunm.blogspot.com/feeds/8554699793612674443/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://salafiyunm.blogspot.com/2010/10/kajian-intensif-sabtu-ahad-aqidah-salaf.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2697845295052805777/posts/default/8554699793612674443'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2697845295052805777/posts/default/8554699793612674443'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://salafiyunm.blogspot.com/2010/10/kajian-intensif-sabtu-ahad-aqidah-salaf.html' title='Kajian Intensif Sabtu-Ahad (Aqidah Salaf dari Uraian Imam Sufyan Ats-Tsaury dan Al-Manzhumah Al-Mimiyah (Akhlak dan Kriteria Penuntut Ilmu))'/><author><name>salafy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01883732528935283225</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2697845295052805777.post-4312643812301671445</id><published>2010-10-19T19:34:00.000-07:00</published><updated>2010-10-19T19:36:57.206-07:00</updated><title type='text'>Penyakit Demam Menghapuskan Dosa</title><content type='html'>&lt;p&gt;Dari Abu Said Al-Khudri dan dari Abu Hurairah radhiallahu anhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;“Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu kelelahan, atau penyakit, atau kehawatiran, atau kesedihan, atau gangguan, bahkan duri yang melukainya melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya karenanya.” &lt;/em&gt;(HR. Al-Bukhari no. 5642 dan Muslim no. 2573)&lt;br /&gt;Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu dia berkata: Aku pernah menjenguk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika sakit, sepertinya beliau sedang merasakan rasa sakit yang parah. Maka aku berkata:&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;إِنَّكَ لَتُوعَكُ وَعْكًا شَدِيدًا قُلْتُ إِنَّ ذَاكَ بِأَنَّ لَكَ أَجْرَيْنِ قَالَ أَجَلْ مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيبُهُ أَذًى إِلَّا حَاتَّ اللَّهُ عَنْهُ خَطَايَاهُ كَمَا تَحَاتُّ وَرَقُ الشَّجَرِ&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Sepertinya anda sedang merasakan rasa sakit yang amat berat, oleh karena itukah anda mendapatkan pahala dua kali lipat.” Beliau menjawab, “Benar, tidaklah seorang muslim yang terkena gangguan melainkan Allah akan menggugurkan kesalahan-kesalahannya sebagaimana gugurnya daun-daun di pepohonan.” &lt;/em&gt;(HR. Al-Bukhari no. 5647 dan Muslim no. 2571)&lt;br /&gt;Dari Jabir bin Abdullah radhiallahu anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang berkunjung ke rumah Ummu Sa`ib atau Ummu Musayyab, maka beliau bertanya:&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;مَا لَكِ يَا أُمَّ السَّائِبِ أَوْ يَا أُمَّ الْمُسَيَّبِ تُزَفْزِفِينَ قَالَتْ الْحُمَّى لَا بَارَكَ اللَّهُ فِيهَا فَقَالَ لَا تَسُبِّي الْحُمَّى فَإِنَّهَا تُذْهِبُ خَطَايَا بَنِي آدَمَ كَمَا يُذْهِبُ الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Ada apa denganmua wahai Ummu Sa`ib -atau Ummu Musayyab- sampai menggigil begitu?” Dia menjawab, “Demam! Semoga Allah tidak memberkahinya.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Janganlah kamu mencela penyakit demam, karena dia dapat menghilangkan kesalahan (dosa-dosa) anak Adam, seperti halnya kir (alat peniup atau penyala api) membersihkan karat-karat besi.”&lt;/em&gt; (HR. Muslim no. 4575)&lt;span id="more-2398"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penjelasan ringkas:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Di antara bentuk kesabaran terhadap takdir Allah yang menyakitkan adalah bersabar atas semua penyakit yang menimpa. Dan sebagaimana yang telah kita ketahui bersama bahwa kesabaran hukumnya adalah wajib dan bukan sunnah. Karenanya barangsiapa yang tidak bersabar menghadapi penyakit yang menimpanya maka sungguh dia telah terjatuh ke dalam dosa yang sangat besar.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;Bagaimana caranya seseorang bisa bersabar?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Banyak faktor yang bisa membantu dan memudahkan seseorang untuk bersabar. Di antaranya adalah dengan mengetahui keutamaan orang yang terkena musibah termasuk sakit. ‘Tidak kenal maka tak sayang’, karenanya siapa yang tidak mengenal hakikat dari musibah dan penyakit niscaya dia tidak akan senang untuk sakit, dan sebaliknya siapa yang mengetahui hakikat dari semua musibah dan penyakit niscaya dia bukan hanya akan bersabar tapi justru dia akan bersyukur karena telah tertimpa musibah dan penyakit.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;Trus, apa keutamaan orang yang tertimpa musibah dan penyakit?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebagiannya sudah disebutkan dalam hadits-hadits di atas yaitu dosa-dosanya akan diampuni selama dia terkena musibah dan penyakit. Dan banyak lagi yang lain bisa dibaca dalam kitab Riyadh Ash-Shalihin karya Imam An-Nawawi pada bab-bab pertama tentang keutamaan sabar.&lt;br /&gt;Karenanya, semakin lama seseorang sakit atau semakin sering seseorang tertimpa musibah maka dosa-dosa yang terhapus akan lebih banyak. Kalau begitu, bukankah orang yang terkena musibah dan penyakit sangat pantas untuk bersyukur kepada Allah.&lt;br /&gt;Karenanya Syaikhul Islam Ibnu Taimiah menyebutkan 4 tingkatan manusia dalam menghadapi musibah, mulai dari yang terendah sampai ke yang tertinggi:&lt;br /&gt;1.    Marah dan tidak bersabar. Baginya dosa yang besar.&lt;br /&gt;2.    Sabar. Dia telah selamat dari dosa dan mendapatkan pahala karena kesabarannya&lt;br /&gt;3.    Ridha terhadap musibah yang menimpa. Dia mendapatkan pahala tambahan yang jauh lebih besar daripada pahala kesabaran.&lt;br /&gt;4.    Syukur. Inilah jenjang tertinggi dalam menghadapi musibah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;Apakah terhapusnya dosa dipersyaratkan sabar?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ada silang pendapat di kalangan ulama dalam masalah ini. Hanya saja yang lebih tepat insya Allah: Bahwa terhapusnya dosa itu sudah terjadi hanya dengan seseorang tertimpa musibah atau penyakit, baik dia bersabar menghadapinya maupun tidak. Hal itu karena dalil-dalil di atas bersifat umum bahwa Allah akan mengampuni dosa hanya dengan seseorang terkena musibah, tanpa menyinggung apakah dia bersabar atau tidak.&lt;br /&gt;Yang jelas orang yang tertimpa musibah dan penyakit akan terhapus dosa-dosanya. Jika dia bersabar maka dia mendapatkan tambahan pahala, tapi jika dia tidak bersabar maka dia telah berbuat dosa yang besar.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;http://al-atsariyyah.com/akhlak-dan-adab/penyakit-demam-menghapuskan-dosa.html&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2697845295052805777-4312643812301671445?l=salafiyunm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://salafiyunm.blogspot.com/feeds/4312643812301671445/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://salafiyunm.blogspot.com/2010/10/penyakit-demam-menghapuskan-dosa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2697845295052805777/posts/default/4312643812301671445'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2697845295052805777/posts/default/4312643812301671445'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://salafiyunm.blogspot.com/2010/10/penyakit-demam-menghapuskan-dosa.html' title='Penyakit Demam Menghapuskan Dosa'/><author><name>salafy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01883732528935283225</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2697845295052805777.post-5290959174104321902</id><published>2010-10-19T19:32:00.000-07:00</published><updated>2010-10-19T19:33:25.130-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqh'/><title type='text'>Perbedaan Mani, Madzi, Kencing, dan Wadi</title><content type='html'>&lt;p&gt;Tahukan anda apa perbedaan antara keempat perkara di atas?&lt;br /&gt;Mengetahui hal ini adalah hal yang sangat penting, khususnya perbedaan antara mani dan madzi, karena masih banyak di kalangan kaum muslimin yang belum bisa membedakan antara keduanya. Yang karena ketidaktahuan mereka akan perbedaannya menyebabkan mereka ditimpa oleh fitnah was-was dan dipermainkan oleh setan. Sehingga tidaklah ada cairan yang keluar dari kemaluannya (kecuali kencing dan wadi) yang membuatnya ragu-ragu kecuali dia langsung mandi, padahal boleh jadi dia hanyalah madzi dan bukan mani. Sudah dimaklumi bahwa yang menyebabkan mandi hanyalah mani, sementara madzi cukup dicuci lalu berwudhu dan tidak perlu mandi untuk menghilangkan hadatsnya.&lt;span id="more-1583"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Karenanya berikut definisi dari keempat cairan di atas, yang dari definisi tersebut bisa dipetik sisi perbedaan di antara mereka:&lt;br /&gt;1.    Kencing: Masyhur sehingga tidak perlu dijelaskan, dan dia najis berdasarkan Al-Qur`an, Sunnah, dan ijma’.&lt;br /&gt;2.    Wadi: Cairan tebal berwarna putih yang keluar setelah kencing atau setelah melakukan pekerjaan yang melelahkan, misalnya berolahraga berat. Wadi adalah najis berdasarkan kesepakatan para ulama sehingga dia wajib untuk dicuci. Dia juga merupakan pembatal wudhu sebagaimana kencing dan madzi.&lt;br /&gt;3.    Madzi: Cairan tipis dan lengket, yang keluar ketika munculnya syahwat, baik ketika bermesraan dengan wanita, saat pendahuluan sebelum jima’, atau melihat dan mengkhayal sesuatu yang mengarah kepada jima’. Keluarnya tidak terpancar dan tubuh tidak menjadi lelah setelah mengeluarkannya. Terkadang keluarnya tidak terasa. Dia juga najis berdasarkan kesepakatan para ulama berdasarkan hadits Ali yang akan datang dimana beliau memerintahkan untuk mencucinya.&lt;br /&gt;4.    Mani: Cairan tebal yang baunya seperti adonan tepung, keluar dengan terpancar sehingga terasa keluarnya, keluar ketika jima’ atau ihtilam (mimpi jima’) atau onani -wal ‘iyadzu billah-, dan tubuh akan terasa lelah setelah mengeluarkannya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Berhubung kencing dan wadi sudah jelas kapan waktu keluarnya sehingga mudah dikenali, maka berikut kesimpulan perbedaan antara mani dan madzi:&lt;br /&gt;a.    Madzi adalah najis berdasarkan ijma’, sementara mani adalah suci menurut pendapat yang paling kuat.&lt;br /&gt;b.    Madzi adalah hadats ashghar yang cukup dihilangkan dengan wudhu, sementara mani adalah hadats akbar yang hanya bisa dihilangkan dengan mandi junub.&lt;br /&gt;c.    Cairan madzi lebih tipis dibandingkan mani.&lt;br /&gt;d.    Mani berbau, sementara madzi tidak (yakni baunya normal).&lt;br /&gt;e.    Mani keluarnya terpancar, berbeda halnya dengan madzi. Allah Ta’ala berfirman tentang manusia, &lt;em&gt;“Dia diciptakan dari air yang terpencar.” &lt;/em&gt;(QS. Ath-Thariq: 6)&lt;br /&gt;f.    Mani terasa keluarnya, sementara keluarnya madzi kadang terasa dan kadang tidak terasa.&lt;br /&gt;g.    Waktu keluar antara keduanyapun berbeda sebagaimana di atas.&lt;br /&gt;h.    Tubuh akan melemah atau lelah setelah keluarnya mani, dan tidak demikian jika yang keluar adalah madzi.&lt;br /&gt;Karenanya jika seseorang bangun di pagi hari dalam keadaan mendapatkan ada cairan di celananya, maka hendaknya dia perhatikan ciri-ciri cairan tersebut, berdasarkan keterangan di atas. Jika dia mani maka silakan dia mandi, tapi jika hanya madzi maka hendaknya dia cukup mencuci kemaluannya dan berwudhu. Berdasarkan hadits Ali -radhiallahu anhu- bahwa Nabi -alaihishshalatu wassalam- bersabda tentang orang yang mengeluarkan madzi:&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;اِغْسِلْ ذَكَرَكَ وَتَوَضَّأْ&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Cucilah kemaluanmu dan berwudhulah kamu.” &lt;/em&gt;(HR. Al-Bukhari no. 269 dan Muslim no. 303)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;[Update:&lt;/strong&gt; Anas bin Malik -radhiallahu anhu- berkata:&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;أَنَّ أُمَّ سُلَيْمٍ حَدَّثَتْ أَنَّهَا سَأَلَتْ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْمَرْأَةِ تَرَى فِي مَنَامِهَا مَا يَرَى الرَّجُلُ, فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا رَأَتْ ذَلِكِ الْمَرْأَةُ فَلْتَغْتَسِلْ. فَقَالَتْ أُمُّ سُلَيْمٍ: وَاسْتَحْيَيْتُ مِنْ ذَلِكَ. قَالَتْ: وَهَلْ يَكُونُ هَذَا؟ فَقَالَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: نَعَمْ, فَمِنْ أَيْنَ يَكُونُ الشَّبَهُ؟! إِنَّ مَاءَ الرَّجُلِ غَلِيظٌ أَبْيَضُ وَمَاءَ الْمَرْأَةِ رَقِيقٌ أَصْفَرُ فَمِنْ أَيِّهِمَا عَلَا أَوْ سَبَقَ يَكُونُ مِنْهُ الشَّبَهُ&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Bahwa Ummu Sulaim pernah bercerita bahwa dia bertanya kepada Nabi Shallallahu'alaihiwasallam tentang wanita yang bermimpi (bersenggama) sebagaimana yang terjadi pada seorang lelaki. Maka Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam bersabda, "Apabila perempuan tersebut bermimpi keluar mani, maka dia wajib mandi." Ummu Sulaim berkata, "Maka aku menjadi malu karenanya". Ummu Sulaim kembali bertanya, "Apakah keluarnya mani memungkinkan pada perempuan?" Nabi Shallallahu'alaihiwasallam bersabda, "Ya (wanita juga keluar mani, kalau dia tidak keluar) maka dari mana terjadi kemiripan (anak dengan ibunya)? Ketahuilah bahwa mani lelaki itu kental dan berwarna putih, sedangkan mani perempuan itu encer dan berwarna kuning. Manapun mani dari salah seorang mereka yang lebih mendominasi atau menang, niscaya kemiripan terjadi karenanya."&lt;/em&gt; (HR. Muslim no. 469)&lt;br /&gt;Imam An-Nawawi  berkata dalam Syarh Muslim (3/222), "Hadits ini merupakan kaidah yang sangat agung dalam menjelaskan bentuk dan sifat mani, dan apa yang tersebut di sini itulah sifatnya di dalam keadaan biasa dan normal. Para ulama menyatakan: Dalam keadaan sehat, mani lelaki itu berwarna putih pekat dan memancar sedikit demi sedikit di saat keluar. Biasa keluar bila dikuasai dengan syahwat dan sangat nikmat saat keluarnya. Setelah keluar dia akan merasakan lemas dan akan mencium bau seperti bau mayang kurma, yaitu seperti bau adunan tepung.&lt;br /&gt;Warna mani bisa berubah disebabkan beberapa hal di antaranya: Sedang sakit, maninya akan berubah cair dan kuning, atau kantung testis melemah sehingga mani keluar tanpa dipacu oleh syahwat, atau karena terlalu sering bersenggama sehingga warna mani berubah merah seperti air perahan daging dan kadangkala yang keluar adalah darah.”]&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;Tambahan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1.    Mandi junub hanya diwajibkan saat ihtilam (mimpi jima’) ketika ada cairan yang keluar. Adapun jika dia mimpi tapi tidak ada cairan yang keluar maka dia tidak wajib mandi. Berdasarkan hadits Abu Said Al-Khudri secara marfu’:&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;إِنَّمَا الْمَاءُ مِنَ الْمَاءِ&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Sesungguhnya air itu hanya ada dari air.” &lt;/em&gt;(HR. Muslim no. 343)&lt;br /&gt;Maksudnya: Air (untuk mandi) itu hanya diwajibkan ketika keluarnya air (mani).&lt;br /&gt;2.    Mayoritas ulama mempersyaratkan wajibnya mandi dengan adanya syahwat ketika keluarnya mani -dalam keadaan terjaga. Artinya jika mani keluar tanpa disertai dengan syahwat -misalnya karena sakit atau cuaca yang terlampau dingin atau yang semacamnya- maka mayoritas ulama tidak mewajibkan mandi junub darinya. Berbeda halnya dengan Imam Asy-Syafi’i dan Ibnu Hazm yang keduanya mewajibkan mandi junub secara mutlak bagi yang keluar mani, baik disertai syahwat maupun tidak. Wallahu a’lam.&lt;br /&gt;Demikian sekilas hukum dalam masalah ini, insya Allah pembahasan selengkapnya akan kami bawakan pada tempatnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;http://al-atsariyyah.com/fiqh/perbedaan-mani-madzi-kencing-dan-wadi.html&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2697845295052805777-5290959174104321902?l=salafiyunm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://salafiyunm.blogspot.com/feeds/5290959174104321902/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://salafiyunm.blogspot.com/2010/10/perbedaan-mani-madzi-kencing-dan-wadi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2697845295052805777/posts/default/5290959174104321902'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2697845295052805777/posts/default/5290959174104321902'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://salafiyunm.blogspot.com/2010/10/perbedaan-mani-madzi-kencing-dan-wadi.html' title='Perbedaan Mani, Madzi, Kencing, dan Wadi'/><author><name>salafy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01883732528935283225</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2697845295052805777.post-7557797155911373599</id><published>2010-10-19T19:26:00.000-07:00</published><updated>2010-10-19T19:29:40.802-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqh'/><title type='text'>Makalah Ringkas Manasik Haji &amp; Umrah</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: Tahoma,Verdana,Arial,sans-serif; color: rgb(51, 51, 51);"&gt;&lt;span class="dateartikel"&gt;Al-Ustadz .Abdul Qodir Abu Fa’izah,Lc   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Manasik Haji &amp;amp; Umroh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manasik haji yang afdhol dan utama adalah tamattu’, yaitu seorang melakukan&lt;br /&gt;umrah pada bulan-bulan haji (Syawwal, Dzulqo’dah, dan  awal bulan&lt;br /&gt;Dzulhijjah) yang diakhiri tahallul. Kemudian dilanjutkan kegiatan haji pada&lt;br /&gt;tanggal 8  Dzulhijjah dengan memakai ihram menuju Mina.Intinya, dimulai&lt;br /&gt;dengan umrah, lalu dilanjutkan dengan haji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tata Cara Umrah (bagi haji tamattu’)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ihram:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Sebelum pakai ihram, maka mandilah, pakailah minyak wangi&lt;br /&gt;pada badan , bukan pada pakaian.q&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Lalu pakailah ihram bagi pria. Wanita tetap memakai jilbab&lt;br /&gt;panjang/kerudung.q&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Ketika di miqot   ,menghadaplah ke kiblat sambil&lt;br /&gt;membaca doa masuk ihram:q&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لَبََّيْـكَ اللهُمَّ بعُمْرَََةٍ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya Allah aku penuhi panggilanmu melaksanakan umrah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Setelah itu, perbanyak membaca talbiyah yang berbunyi:q&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لـَبَّيْـكَ اللهُمَّ لـَبَّيْكَ, لـَبََّيْكَ لا شَريْكَ لَكَ لَبَّيْكَ,&lt;br /&gt;إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَة لَكَ وَالْمُلْكَ لا شَريْكَ لَكَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Talbiyah ini dibaca hingga tiba di Makkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Jika seorang sudah ihram dan baca doa ihram di miqot, maka&lt;br /&gt;telahq&lt;br /&gt;diharamkan baginya melakukan perkara berikut: Jimak beserta&lt;br /&gt;pengantarnya,melakukan dosa, debat dalam perkara sia-sia,memakai pakaian biasa&lt;br /&gt;yang berjahit, tutup kepala bagi pria, pakai parfum, memotong/cabut rambut dan&lt;br /&gt;bulu, memotong kuku, berburu, melamar, dan akad nikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Namun dibolehkan perkara berikut: Mandi, garuk badan,&lt;br /&gt;menyisiriq&lt;br /&gt;kepala, bekam, cium bau harum, menggunting kuku yang hampir patah,melepas gigi&lt;br /&gt;palsu, bernaung pada sesuatu yang tak menyentuh kepala-seperti, payung, mobil,&lt;br /&gt;pohon, bangunan, dll-, memakai ikat pinggang, memakai sandal, cincing, jam dan&lt;br /&gt;kaca mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tawaf&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Putuskan talbiyah, jika tiba di Makkah.q&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Masuk masjidil Haram sambil baca doa masuk masjid:q&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اللّهُمَّ افـْتَحْ لِيْ أبْوَابَ رَحْمَتِكَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Tawaflah dari Hajar Aswad sambil menampakkan lengan kananq&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Jika tiba di Hajar Aswad , bacalah doa: “Bismillahi wallahu&lt;br /&gt;akbar”q&lt;br /&gt;sambil cium Hajar Aswad atau jika tak bisa diisyaratkan dengan tangan kanan.&lt;br /&gt;Lalu mulailah berputar dengan perbanyak doa dan dzikir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Tiba di Rukun Yamani, maka usap Rukun Yamani. Setelah itu&lt;br /&gt;baca doa ini:q&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَة وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَة وَقِـنَا&lt;br /&gt;عَـذَابَ النَّار&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baca doa ini dari Rukun Yamani Sampai ke Hajar Aswad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Demikianlah seterusnya sampai selesai 7 putaran yang&lt;br /&gt;diakhiri di Hajar Aswad atau garis lurus ke Hajar Aswad.q&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Usai tawaf, sholat sunnatlah dua raka’at di belakang maqom&lt;br /&gt;Ibrahim q&lt;br /&gt;menghadap kiblat dengan membaca Al-Fatihah dan Al-Kafirun dalam raka’at&lt;br /&gt;pertama.Lalu Al-Fatihah dan Al-Ikhlash dalam raka’at.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Belakangilah kiblat untuk menuju ke kran-kran air Zam-Zam.&lt;br /&gt;Minumq&lt;br /&gt;air Zam-Zam sebanyaknya, lalu siram kepala, tapi jangan mandi atau wudhu&lt;br /&gt;disitu!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Usai minum, datanglah ke Hajar Aswad/garis lurus HajarAswad&lt;br /&gt;untukq&lt;br /&gt;mencium atau isyarat kepadanya sambil baca: “Bismillahi wallahu akbar”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Setelah itu, belakangi kiblat. Maka disana anda temukan&lt;br /&gt;bukit Shofa untuk melaksanakan sa’i.q&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sa’i&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Mendakilah ke shofa sambil berdoa:q&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إنَّ الصَّفا وَالْمَرْوَة مِنْ شَعَائِر ِاللهَ, أبْدَأ بمَا بَدَأ اللهُ&lt;br /&gt;به&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Jika telah berada di atas Shofa, menghadap ke kiblat , maka&lt;br /&gt;bacalahq&lt;br /&gt;Allahu akbar (3X), dan Laa ilaaha illallah (3X) sambil angkat tangan berdoa:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لا إلهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَريْكَ لَهُ, لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ&lt;br /&gt;الْحمد وهو على كل شيئ قدير&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لا إله إلا الله وحده , أنجز وعده ونصر عبده  وهزم الأحزاب وحده&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini dilakukan tiga kali. Setiap kali selesai membaca doa ini, maka dianjurkan&lt;br /&gt;berdoa banyak dan doanya bebas. Tak ada doa khusus. Silakan pilih doa sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Setelah itu berjalanlah dengan pelan menuju bukit Marwah. Jika&lt;br /&gt;tibaq&lt;br /&gt;dibatas/isyarat lampu hijau, berlarilah semampunya hingga diisyarat berikutnya&lt;br /&gt;yang juga warna hijau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Jika telah lewat isyarat tsb, jalanlah pelan hingga tiba di&lt;br /&gt;Marwah.q&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Kalau sudah di atas Marwah, baca lagi Allahu akbar (3X), dan&lt;br /&gt;Laa ilaaha illallah (3X) sambil angkat tangan berdoa:q&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لا إله إلا الله وحده لا شريك له, له الملك وله الحمد وهو على كل شيئ قدير&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لا إله إلا الله وحده , أنجز وعده ونصر عبده  وهزم الأحزاب وحده&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini dilakukan tiga kali. Setiap kali selesai membaca doa ini, maka dianjurkan&lt;br /&gt;berdoa banyak dan doanya bebas. Tak ada doa khusus. Silakan pilih doa sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Dari Shofa ke Marwah, terhitung satu putaran. Lalu dari&lt;br /&gt;Marwah keq&lt;br /&gt;Shofa, itu sudah dua putaran. Intinya: bilangan genap selalu di Shofa, dan&lt;br /&gt;ganjil di Marwah. Jadi, 7 putaran yang akan kita lakukan berakhir di Marwah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Jika selesai 7 putaran yang tetap diakhiri doa di atas, makaq&lt;br /&gt;keluarlah dari Marwah ke tukang cukur dan lakukan tahallul. Bagi pria rambut&lt;br /&gt;dicukur rata-tanpa digundul-, dan bagi wanita potong ujung rambut seukuran 1&lt;br /&gt;ruas jari.Wanita usahakan bawa gunting sendiri sehingga bisa potong sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Nah, selesailah umrah kita dengan tahallul tsb. Sekarang&lt;br /&gt;bolehq&lt;br /&gt;pakai baju biasa dan melakukan beberapa hal yang dilarang dalam umrah, selain&lt;br /&gt;ma’shiyat. Boleh jimak dengan istri, pakai parfum, potong kuku,dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tata Cara Haji&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun tata haji secara ringkas dan sesuai sunnah, maka silakan ikuti petunjuk&lt;br /&gt;dan amalan-amalan berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ihram&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Usai melaksanakan umrah, kita tunggu tanggal 8 Dzulhijjah&lt;br /&gt;yangq&lt;br /&gt;disebut “Hari Tarwiyah”.Maka mulailah ihram di hotel masing-masing di Makkah&lt;br /&gt;yang diawali dengan mandi, dan pakai parfum di badan, bukan di pakaian ihram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Setelah pakai ihram, bacalah doa ihram:q&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لبيك اللهم حجة&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mabit/Bermalam di Mina&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Lalu berangkatlah ke Mina pada pagi hari setelah terbit&lt;br /&gt;matahari, tanggal 8 Dzulhijjah tsb.q&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Sesampai di Mina, qoshor ,tanpa di jama’ antara  sholat&lt;br /&gt;Zhuhur danq&lt;br /&gt;Ashar. Artinya: Kerjakan sholat Zhuhur 2 raka’at pada waktunya dan Ashar dua&lt;br /&gt;raka’at pada waktunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Demikian pula Sholat Maghrib dan Isya’ diqoshor, tanpa&lt;br /&gt;dijama’.q&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Bermalamlah di Mina agar bisa sholat Shubuh disana&lt;br /&gt;sebagaimana sunnah Nabi –Shollallahu alaihi wasallam-.q&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wuquf/Berdiam Diri di Arafah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Usai sholat Shubuh di Mina, berangkatlah ke Arafah setelah&lt;br /&gt;terbitq&lt;br /&gt;matahari.Waktu itu sudah tanggal 9 Dzulhijjah.Sambil bertalbiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Tiba di Arafah lakukan sholat Zhuhur dan Ashar dua-dua&lt;br /&gt;raka’at, yaitu dijama’taqdim dan qoshor.q&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Jika anda sudah jelas berada dalam batas Arafah, berdolah&lt;br /&gt;sambilq&lt;br /&gt;angkat tangan.Disini tak ada doa yang diwajibkan, bebas berdoa. Namun jika mau&lt;br /&gt;berdoa, maka pakailah doa Nabi-Shollallahu alaih wasallam- dan perbanyak baca:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لا إله إلا الله وحده لا شريك له, له الملك وله الحمد وهو على كل شيئ قدير&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Tetaplah berdoa sampai tenggelam matahari. Ingat jangan&lt;br /&gt;sampaiq&lt;br /&gt;waktu kalian habis bicara dan jalan. Gunakan baik-baik untuk berdoa karena&lt;br /&gt;Allah Ta’ala mendekat ke langit dunia di hari Arafah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Ingat jangan sampai tinggalkan Arafah sebelum  matahari&lt;br /&gt;terbenam !!q&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mabit/Bermalam di Muzdalifah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Tinggalkanlah Arafah setelah matahari terbenam menuju&lt;br /&gt;Muzdalifah.q&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Setiba di Muzdalifah, langsung kerjakan sholat Maghrib dan&lt;br /&gt;Isya’q&lt;br /&gt;dengan jama’ta’khir dan qoshor.Artinya: Maghrib dikerjakan di waktu Isya’ tetap&lt;br /&gt;3 raka’at, dan Isya’ 2 raka’at.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Usai sholat, istirahat dan tidurlah, jangan ada kegiatan&lt;br /&gt;karenaq&lt;br /&gt;besok ada kegiatan berat. Jika mau, berwitir sebelum tidur seperti kebiasaan&lt;br /&gt;anda sehari-hari. Tak usah pungut batu di malam itu seperti sebagian orang&lt;br /&gt;karena itu juga tak ada sunnahnya !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Bermalamlah di Muzdalifah sampai shubuh agar bisa kerjakan&lt;br /&gt;sholat shubuh disana.q&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Usai sholat shubuh, duduklah banyak berdzikir dan berdoa&lt;br /&gt;sambilq&lt;br /&gt;angkat tangan atau bertalbiyah. Hindari dzikir jama’ah karena tak ada&lt;br /&gt;tuntunannya dalam agama kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Jangan tinggalkan Muzdalifah selain orang-orang lemah,&lt;br /&gt;sepertiq&lt;br /&gt;orang tua lansia, wanita, anak kecil, dan petugas haji. Orang ini boleh pergi&lt;br /&gt;setelah pertengahan malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melempar Jumrah Aqobah/Kubro&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Tinggalkan Muzdalifah sebelum terbit matahari pada tanggal&lt;br /&gt;10q&lt;br /&gt;Dzulhijjah hari ied , sambil bertakbir, dan bertalbiyah menuju Mina melempar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Boleh pungut batu yang seukuran antara biji coklat dan biji&lt;br /&gt;kacangq&lt;br /&gt;dimana saja, baik di perjalanan menuju Mina atau di Mina sendiri ataupun dimana&lt;br /&gt;saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Lemparlah Jumrah Aqobah setelah terbitnya matahari sebanyak&lt;br /&gt;7q&lt;br /&gt;lemaparan batu kecil yang anda pungut tadi. Ketika melempar menghadap Jumrah,&lt;br /&gt;maka jadikan Makkah sebelah kirimu, dan Mina (lokasi perkemahan) sebelah&lt;br /&gt;kananmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Setiap kali melemparkan batu kecil tsb, ucapkanlah “Allahu&lt;br /&gt;akbar”q&lt;br /&gt;dan usahakan masuk ke dalam kolam. Jika meleset dari kolam, ulangi.Dan Seusai&lt;br /&gt;melempar, putuskan talbiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencukur Rambut/Tahallul Pertama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Seusai melempar, maka gundullah rambut kalian  atau&lt;br /&gt;pendekkan/cukurq&lt;br /&gt;rata. Adapun wanita, maka potong rambut sendiri dengan gunting yang dibawa&lt;br /&gt;seukuran 1 ruas jari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Dengan ini berarti anda telah melakukan tahallul awal. Maka&lt;br /&gt;andaq&lt;br /&gt;sekarang boleh pakaian biasa, gunakan parfum, gunting kuku dan bulu, dll. Namun&lt;br /&gt;Jimak dengan istri belum boleh !!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyembelih Kambing&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Sembelihlah kambing pada tanggal 10 Dzulhijjah atau&lt;br /&gt;setelahnya pada hari-hari tasyriq (tanggal 11,12, dan 13 Dzulhijjah).q&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Dilarang keras menyembelih kambing sebelum tanggal 10&lt;br /&gt;Dzulhijjah.q&lt;br /&gt;Barangsiapa yang menyembelih sebelum tgl tsb, maka sembelihannya tidak sah,&lt;br /&gt;harus diganti, atau puasa 3 hari pada hari-hari tasyriq, dan 7 hari di&lt;br /&gt;Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Bagi petugas pembeli dan penyembelih kambing yang biasanya&lt;br /&gt;dijabatq&lt;br /&gt;oleh ketua kloter atau pembimbing, maka kami nasihatkan agar takut kepada Allah&lt;br /&gt;jangan sampai menyembelih hadyu/kambingnya sebelum tgl 10.Jika kalian lakukan&lt;br /&gt;itu, maka kalian telah berdosa karena membuat ibadah orang kurang paahalanya.&lt;br /&gt;Jika pengurus ambil keuntungan dari kambing yang disembelih sebelum tgl 10&lt;br /&gt;tersebut, maka ia telah memakan harta orang dengan cara yang haram dan batil.&lt;br /&gt;Bertaqwalah kepada Allah dan takut pada hari kalian akan diadili di padang&lt;br /&gt;Mahsyar !!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Menyembelih hewan korban bagi jama’ah haji tidaklah wajib,&lt;br /&gt;yangq&lt;br /&gt;wajib hari itu adalah menyembelih kambing yang memang wajib dilakukan oleh haji&lt;br /&gt;tamattu’ atau qiron. Kambing ini disebut “hadyu”. Jangan sampai tertipu dengan&lt;br /&gt;sebagian orang yang tidak takut kepada Allah yang mewajibkan potong hewan&lt;br /&gt;korban di waktu itu, padahal tidak wajib karena hanya semata-mata ingin meraih&lt;br /&gt;keuntungan yang banyak !!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tawaf  Ifadhoh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Setelah cukur dan memakai baju biasa, berangkatlah menuju&lt;br /&gt;Makkah untuk tawaf ifadhoh.q&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Lakukan tawaf sebagaimana waktu umrah sebanyak 7 putaran,&lt;br /&gt;laluq&lt;br /&gt;sholat sunnat 2 raka’at di belakang maqom Ibrahim.Kemudian mengarahlah ke&lt;br /&gt;kran-kran air Zamzam untuk minum sebanyak-banyak dan siram kepala. Setelah itu&lt;br /&gt;kembali ke Hajar Aswad cium atau lambaikan tangan pada garis lurus dengan Hajar&lt;br /&gt;Aswad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sa’i&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Berikutnya anda menuju ke shofa dan lakukan amalan-amalanq&lt;br /&gt;sebagaimana telah dijelaskan pada “Tata Cara Umrah”, tadi di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Usai 7 Putaran, maka anda dianggap telah bertahallul&lt;br /&gt;kedua, namunq&lt;br /&gt;tanpa bercukur lagi. Maka dengan ini anda dibolehkan melakukan jimak dengan&lt;br /&gt;istri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Tawaf Ifadhoh dan sa’I boleh dilakukan hari-hari tasyriq&lt;br /&gt;atau sisaq&lt;br /&gt;hari-hari haji lainnya selama Anda disana. Tapi lebih cepat lebih bagus. Namun&lt;br /&gt;ingat, jangan sampai jimak sebelum lakukan 2 hal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mabit/Bermalam di Mina&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Selesai tawaf Ifadhoh dan sa’I di Makkah,maka kembalilah ke&lt;br /&gt;Minaq&lt;br /&gt;untuk bermalam selama 2 atau 3 hari. Bermalam disana wajib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Selama 3 hari di Mina, sholat Zhuhur, Ashar, Maghrib, dan&lt;br /&gt;Isya’q&lt;br /&gt;dikerjakan secara qoshor. Artinya dikerjakan Zhuhur dua raka’at pada waktunya,&lt;br /&gt;Ashar 2 raka’at pada waktunya, dan Maghrib tetap pada waktunya, serta Isya’ 2&lt;br /&gt;raka’at pada waktunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Siang harinya tgl 11 setelah shalat zhuhur, berangkatlah ke&lt;br /&gt;3q&lt;br /&gt;jumrah untuk melempar, dan ambil batu dimana saja sebanyak 21 biji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Berikut anda berangkat ke tempat pelemparan, dan lemparlah 3&lt;br /&gt;jumrahq&lt;br /&gt;tsb, yang dimulai dengan Jumrah Shughra dekat Masjid Khoif sebanyak 7 lemparan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Di Jumrah Shughra ini, lakukan beberapa amalan berikut: 1-&lt;br /&gt;Ketikaq&lt;br /&gt;melempar disini menghadaplah ke arah Jumrah dengan menjadikan Makkah sebelah&lt;br /&gt;kirimu &amp;amp; Mina (lokasi perkemahan) sebelah kananmu, 2- Lemparlah Jumrah&lt;br /&gt;shughra dengan batu kecil sambil ucapkan “Allahu akbar” setiap kali melempar,&lt;br /&gt;3-Carilah tempat sunyi untuk berdo’a disini menghadap kiblat sambil angkat&lt;br /&gt;tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Lalu anda menuju ke Jumrah Wustho (tengah) dan lakukanlah 3&lt;br /&gt;amalan yang anda lakukan tadi di Jumrah Wustho.q&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Selanjutnya menuju ke Jumrah Kubro yg biasa disebut “Jumrahq&lt;br /&gt;Aqobah”, dan lakukan juga amalan disini yang anda lakukan di Jumrah Shughro dan&lt;br /&gt;Wustho. Cuma disini anda tak dianjurkan berdoa. Tapi lansung pergi !! Inilah&lt;br /&gt;yang dilakukan pada tgl 11.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Pada tgl 12q &amp;amp; 13 Dzulhijjah, lakukanlah saat itu apa yang anda&lt;br /&gt;lakukan pada tgl 11 tadi di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Jika anda tergesa-gesa karena ada hajat, anda boleh&lt;br /&gt;tinggalkan Minaq&lt;br /&gt;pada tgl 12 Dzulhijjah. Ingat jangan sampai kedapatan waktu maghrib. Jika&lt;br /&gt;kedapatan maghrib sementara masih di Mina, maka anda harus bermalam lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Jika anda selesai melempar tgl 13 Dzulhijjah-dan inilah yg&lt;br /&gt;afdhol-,q&lt;br /&gt;maka anda dianggap telah menyelesaikan ibadah haji. Semoga ibadah hajinya&lt;br /&gt;ikhlash dan mabrur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tawaf Wada’/Tawaf Perpisahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Tawaf wada’ hukumnya wajib dilakukan jika seseorang sudah&lt;br /&gt;hendakq&lt;br /&gt;bersafar meninggalkan Makkah. Kota kenangan dalam beribadah dan taat kepada&lt;br /&gt;Allah. Semoga Allah masih perkenankan kita kembali lagi ke Makkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Lakukanlah tawaf wada’ sebagaimana halnya tawaf ifadhoh dan&lt;br /&gt;tawaf umrah. Tapi dengan memakai pakaian biasa.q&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Jika anda ingin-sebelum keluar dari Masjidil, berdoalah diq&lt;br /&gt;Multazam, yaitu suatu tempat antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah. Berdoa’alah&lt;br /&gt;disini banyak-banyak tanpa harus angkat tangan. Doa dengan sungguh-sungguh&lt;br /&gt;sambil menempelkan dada, wajah, kedua lengan dan tangan untuk mengingat akan&lt;br /&gt;kondisi kita di padang Mahsyar dan menunjukkan di hadapan Allah akan kelemahan&lt;br /&gt;kita dan butuhnya kita kepada-Nya. Ini merupakan sunnah. Namun jangan diyakini&lt;br /&gt;bahwa kita tempelkan badan kita disitu karena ada berkahnya. Itu hanya sekedar&lt;br /&gt;menunjukkan perasaan butuh dan rendah diri kita kepada Allah,serta sekedar&lt;br /&gt;ikuti sunnah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Sebelum kembali, berilah kabar gembira keluarga di&lt;br /&gt;Indonesia. Laluq&lt;br /&gt;sesampai di Indonesia, jangan langsung ke rumah, tapi ke masjid dulu sholat&lt;br /&gt;sebagaimana sunnah Nabi –Shollallahu alaihi wasallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Demikian manasik yang bisa tuliskan disini menurut sunnah.&lt;br /&gt;Wallahuq&lt;br /&gt;a’lam. Semoga ini merupakan amal sholeh kami. Akhir doa kami, alhamdulillah&lt;br /&gt;washollallahu alaih wasallam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2697845295052805777-7557797155911373599?l=salafiyunm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://salafiyunm.blogspot.com/feeds/7557797155911373599/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://salafiyunm.blogspot.com/2010/10/makalah-ringkas-manasik-haji-umrah.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2697845295052805777/posts/default/7557797155911373599'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2697845295052805777/posts/default/7557797155911373599'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://salafiyunm.blogspot.com/2010/10/makalah-ringkas-manasik-haji-umrah.html' title='Makalah Ringkas Manasik Haji &amp; Umrah'/><author><name>salafy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01883732528935283225</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2697845295052805777.post-8512200029892815044</id><published>2010-10-19T18:50:00.000-07:00</published><updated>2010-10-19T18:52:09.032-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Download'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Daurah'/><title type='text'>Kumpulan Kajian Persiapan Manasik Ibadah Haji dan Umrah</title><content type='html'>Berikut kami hadirkan koleksi kajian dengan pembahasan seputar permasalahan haji yang meliputi : syarat haji, niat, jenis-jenis manasik haji, talbiyah, ihram, thawaf, sa’i, bermalam di Muzdalifah, , wukuf di Arafah, melempar jumrah, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembahasan disampaikan oleh Al Ustadz Dzulqarnain dalam pembahasan kitab Haji dari Bulughul Maram dan Kitab Durarul Bahiyah dalam kesempatan Daurah Fiqh Nasional di Makassar. Juga kajian yang disampaikan oleh Al Ustadz Abdul Mu’thi dalam pembahasan haji dari kitab Umdatul Ahkam yang diunggah oleh kontributor Ashthy.wordpress.com. Juga terdapat tambahan ebook Petunjuk Haji Umrah dan Ziarah Masjid Nabawi. Semoga bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;span id="more-1900"&gt;&lt;/span&gt; &lt;h2&gt;Al Ustadz Dzulqarnain kitab Haji Bulughul Maram&lt;/h2&gt; &lt;p&gt;&lt;img src="http://ber.ilmoe.com/resources/icons/sound.gif" alt="" /&gt; &lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/fiqh/Haji/01_Kitab_Haji_BulughulMaram_AlUstadzDzulqarnain.mp3" onclick="javascript:_gaq.push(['_trackEvent','download','statics.ilmoe.com/kajian/fiqh/Haji/01_Kitab_Haji_BulughulMaram_AlUstadzDzulqarnain.mp3']);"&gt;01 Kitab Haji Bulughul Maram Al Ustadz Dzulqarnain.mp3&lt;/a&gt; (7.7MB)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;img src="http://ber.ilmoe.com/resources/icons/sound.gif" alt="" /&gt; &lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/fiqh/Haji/02_Kitab_Haji_BulughulMaram_AlUstadzDzulqarnain.mp3" onclick="javascript:_gaq.push(['_trackEvent','download','statics.ilmoe.com/kajian/fiqh/Haji/02_Kitab_Haji_BulughulMaram_AlUstadzDzulqarnain.mp3']);"&gt;02 Kitab Haji Bulughul Maram Al Ustadz Dzulqarnain.mp3&lt;/a&gt; (5.2MB)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;img src="http://ber.ilmoe.com/resources/icons/sound.gif" alt="" /&gt; &lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/fiqh/Haji/03_Kitab_Haji_BulughulMaram_AlUstadzDzulqarnain.mp3" onclick="javascript:_gaq.push(['_trackEvent','download','statics.ilmoe.com/kajian/fiqh/Haji/03_Kitab_Haji_BulughulMaram_AlUstadzDzulqarnain.mp3']);"&gt;03 Kitab Haji Bulughul Maram Al Ustadz Dzulqarnain.mp3&lt;/a&gt; (10.3MB)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;img src="http://ber.ilmoe.com/resources/icons/sound.gif" alt="" /&gt; &lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/fiqh/Haji/04_Kitab_Haji_BulughulMaram_Tanya_Jawab_AlUstadzDzulqarnain.mp3" onclick="javascript:_gaq.push(['_trackEvent','download','statics.ilmoe.com/kajian/fiqh/Haji/04_Kitab_Haji_BulughulMaram_Tanya_Jawab_AlUstadzDzulqarnain.mp3']);"&gt;04 Kitab Haji Bulughul Maram Al Ustadz Dzulqarnain.mp3&lt;/a&gt; (2.4MB)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;img src="http://ber.ilmoe.com/resources/icons/sound.gif" alt="" /&gt; &lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/fiqh/Haji/05_Kitab_Haji_BulughulMaram_AlUstadzDzulqarnain.mp3" onclick="javascript:_gaq.push(['_trackEvent','download','statics.ilmoe.com/kajian/fiqh/Haji/05_Kitab_Haji_BulughulMaram_AlUstadzDzulqarnain.mp3']);"&gt;05 Kitab Haji Bulughul Maram Al Ustadz Dzulqarnain.mp3&lt;/a&gt; (3.1MB)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;img src="http://ber.ilmoe.com/resources/icons/sound.gif" alt="" /&gt; &lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/fiqh/Haji/06_Kitab_Haji_BulughulMaram_AlUstadzDzulqarnain_low.mp3" onclick="javascript:_gaq.push(['_trackEvent','download','statics.ilmoe.com/kajian/fiqh/Haji/06_Kitab_Haji_BulughulMaram_AlUstadzDzulqarnain_low.mp3']);"&gt;06 Kitab Haji Bulughul Maram Al Ustadz Dzulqarnain.mp3&lt;/a&gt; (3.8MB)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;img src="http://ber.ilmoe.com/resources/icons/sound.gif" alt="" /&gt; &lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/fiqh/Haji/07_Kitab_Haji_BulughulMaram_Tanya_Jawab_AlUstadzDzulqarnain.mp3" onclick="javascript:_gaq.push(['_trackEvent','download','statics.ilmoe.com/kajian/fiqh/Haji/07_Kitab_Haji_BulughulMaram_Tanya_Jawab_AlUstadzDzulqarnain.mp3']);"&gt;07 Kitab Haji Bulughul Maram Al Ustadz Dzulqarnain.mp3&lt;/a&gt; (9.7MB)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;img src="http://ber.ilmoe.com/resources/icons/sound.gif" alt="" /&gt; &lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/fiqh/Haji/08_Kitab_Haji_BulughulMaram_AlUstadzDzulqarnain.mp3" onclick="javascript:_gaq.push(['_trackEvent','download','statics.ilmoe.com/kajian/fiqh/Haji/08_Kitab_Haji_BulughulMaram_AlUstadzDzulqarnain.mp3']);"&gt;08 Kitab Haji Bulughul Maram Al Ustadz Dzulqarnain.mp3&lt;/a&gt; (12.5MB)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;img src="http://ber.ilmoe.com/resources/icons/sound.gif" alt="" /&gt; &lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/fiqh/Haji/09_Kitab_Haji_BulughulMaram_AlUstadzDzulqarnain.mp3" onclick="javascript:_gaq.push(['_trackEvent','download','statics.ilmoe.com/kajian/fiqh/Haji/09_Kitab_Haji_BulughulMaram_AlUstadzDzulqarnain.mp3']);"&gt;09 Kitab Haji Bulughul Maram Al Ustadz Dzulqarnain.mp3&lt;/a&gt; (6.9MB)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;img src="http://ber.ilmoe.com/resources/icons/sound.gif" alt="" /&gt; &lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/fiqh/Haji/10_Kitab_Haji_BulughulMaram_AlUstadzDzulqarnain.mp3" onclick="javascript:_gaq.push(['_trackEvent','download','statics.ilmoe.com/kajian/fiqh/Haji/10_Kitab_Haji_BulughulMaram_AlUstadzDzulqarnain.mp3']);"&gt;10 Kitab Haji Bulughul Maram Al Ustadz Dzulqarnain.mp3&lt;/a&gt; (10MB)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;img src="http://ber.ilmoe.com/resources/icons/sound.gif" alt="" /&gt; &lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/fiqh/Haji/11_Kitab_Haji_BulughulMaram_AlUstadzDzulqarnain.mp3" onclick="javascript:_gaq.push(['_trackEvent','download','statics.ilmoe.com/kajian/fiqh/Haji/11_Kitab_Haji_BulughulMaram_AlUstadzDzulqarnain.mp3']);"&gt;11 Kitab Haji Bulughul Maram Al Ustadz Dzulqarnain.&lt;/a&gt;&lt;a href="http://www.ilmoe.com/"&gt;mp3&lt;/a&gt; (3.7MB)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;img src="http://ber.ilmoe.com/resources/icons/sound.gif" alt="" /&gt; &lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/fiqh/Haji/12_Kitab_Haji_BulughulMaram_AlUstadzDzulqarnain.mp3" onclick="javascript:_gaq.push(['_trackEvent','download','statics.ilmoe.com/kajian/fiqh/Haji/12_Kitab_Haji_BulughulMaram_AlUstadzDzulqarnain.mp3']);"&gt;12 Kitab Haji Bulughul Maram Al Ustadz Dzulqarnain.mp3&lt;/a&gt; (7.7MB)&lt;/p&gt; &lt;h2&gt;Al Ustadz Dzulqarnain kitab Durarul Bahiyah&lt;/h2&gt; &lt;p&gt;&lt;img src="http://ber.ilmoe.com/resources/icons/sound.gif" alt="" /&gt; &lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/makassar/an-nashihah/daurah-fiqh-nasional/20.%20Haji,%20Penentuan%20Jenis%20Manasik,%20Larangan%20dalam%20Ihram,%20Thawaf%20-%20www.an-nashihah.net.mp3" onclick="javascript:_gaq.push(['_trackEvent','download','statics.ilmoe.com/kajian/users/makassar/an-nashihah/daurah-fiqh-nasional/20.%20Haji,%20Penentuan%20Jenis%20Manasik,%20Larangan%20dalam%20Ihram,%20Thawaf%20-%20www.an-nashihah.net.mp3']);"&gt;Kitab Durarul Bahiyah Daurah Fiqh Nasional Al Ustadz Dzulqarnain Bab Haji, Penentuan Jenis Manasik, Larangan dalam Ihram, Thawaf.mp3&lt;/a&gt; (20.3MB)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;img src="http://ber.ilmoe.com/resources/icons/sound.gif" alt="" /&gt; &lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/makassar/an-nashihah/daurah-fiqh-nasional/21.%20Sa%27i,%20Perincian%20Manasik%20Haji,%20Hadyu%20%28Sembelihan%20Haji%29,%20Umrah%20secara%20khusus%20-%20www.an-nashihah.net.mp3" onclick="javascript:_gaq.push(['_trackEvent','download','statics.ilmoe.com/kajian/users/makassar/an-nashihah/daurah-fiqh-nasional/21.%20Sa%27i,%20Perincian%20Manasik%20Haji,%20Hadyu%20%28Sembelihan%20Haji%29,%20Umrah%20secara%20khusus%20-%20www.an-nashihah.net.mp3']);"&gt;Kitab Durarul Bahiyah Daurah Fiqh Nasional Al Ustadz Dzulqarnain Sa’i, Perincian Manasik Haji, Hadyu (Sembelihan Haji), Umrah secara khusus.mp3&lt;/a&gt; (6.9MB)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;img src="http://ber.ilmoe.com/resources/icons/zip.gif" alt="" /&gt; &lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/sunniy/Petunjuk-Haji-Umrah-dan-Ziarah-Masjid-Nabawi.zip" onclick="javascript:_gaq.push(['_trackEvent','download','statics.ilmoe.com/kajian/users/sunniy/Petunjuk-Haji-Umrah-dan-Ziarah-Masjid-Nabawi.zip']);"&gt;Ebook Petunjuk Haji Umrah dan Ziarah Masjid Nabawi.zip&lt;/a&gt; (92KB)&lt;/p&gt; &lt;h2&gt;Al Ustadz Abdul Mu’thi kitab Umdatul Ahkam&lt;/h2&gt; &lt;p&gt;&lt;img src="http://ber.ilmoe.com/resources/icons/sound.gif" alt="" /&gt; &lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/Umdatul%20Ahkam/UA%202009_02_19%20Haji.mp3" onclick="javascript:_gaq.push(['_trackEvent','download','statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/Umdatul%20Ahkam/UA%202009_02_19%20Haji.mp3']);"&gt;Al Ustadz Abdul Mu’thi Kitab Umdatul Ahkam Bab Haji 2009 02 19 Haji.&lt;/a&gt;&lt;a href="http://www.ilmoe.com/1900/kumpulan-kajian-persiapan-manasik-ibadah-haji-umrah.html"&gt;mp3&lt;/a&gt; (5.6MB)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;img src="http://ber.ilmoe.com/resources/icons/sound.gif" alt="" /&gt; &lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/Umdatul%20Ahkam/UA%202009_02_23%20Haji%20-%20Miqat.mp3" onclick="javascript:_gaq.push(['_trackEvent','download','statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/Umdatul%20Ahkam/UA%202009_02_23%20Haji%20-%20Miqat.mp3']);"&gt;Al Ustadz Abdul Mu’thi Kitab Umdatul Ahkam Bab Haji 2009 02 23 Haji – Miqat.mp3&lt;/a&gt; (4.7MB)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;img src="http://ber.ilmoe.com/resources/icons/sound.gif" alt="" /&gt; &lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/Umdatul%20Ahkam/UA%202009_02_24%20Haji%20-%20Miqat.mp3" onclick="javascript:_gaq.push(['_trackEvent','download','statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/Umdatul%20Ahkam/UA%202009_02_24%20Haji%20-%20Miqat.mp3']);"&gt;Al Ustadz Abdul Mu’thi Kitab Umdatul Ahkam Bab Haji 2009 02 24 Haji – Miqat.mp3&lt;/a&gt; (4.5MB)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;img src="http://ber.ilmoe.com/resources/icons/sound.gif" alt="" /&gt; &lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/Umdatul%20Ahkam/UA%202009_03_05%20Haji%20-%20Pakaian%20haji.mp3" onclick="javascript:_gaq.push(['_trackEvent','download','statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/Umdatul%20Ahkam/UA%202009_03_05%20Haji%20-%20Pakaian%20haji.mp3']);"&gt;Al Ustadz Abdul Mu’thi Kitab Umdatul Ahkam Bab Haji 2009 03 05 Haji – Pakaian haji.mp3&lt;/a&gt; (2.9MB)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;img src="http://ber.ilmoe.com/resources/icons/sound.gif" alt="" /&gt; &lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/Umdatul%20Ahkam/UA%202009_03_05%20Haji%20-%20Pakaian%20muhrim.mp3" onclick="javascript:_gaq.push(['_trackEvent','download','statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/Umdatul%20Ahkam/UA%202009_03_05%20Haji%20-%20Pakaian%20muhrim.mp3']);"&gt;Al Ustadz Abdul Mu’thi Kitab Umdatul Ahkam Bab Haji 2009 03 05 Haji – Pakaian muhrim (orang yang ber-ihram).mp3&lt;/a&gt; (2.9MB)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;img src="http://ber.ilmoe.com/resources/icons/sound.gif" alt="" /&gt; &lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/Umdatul%20Ahkam/UA%202009_03_12%20Haji%20-%20Pakaian%20muhrim%20%282%29.mp3" onclick="javascript:_gaq.push(['_trackEvent','download','statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/Umdatul%20Ahkam/UA%202009_03_12%20Haji%20-%20Pakaian%20muhrim%20%282%29.mp3']);"&gt;Al Ustadz Abdul Mu’thi Kitab Umdatul Ahkam Bab Haji 2009 03 12 Haji – Pakaian muhrim (orang yang ber-ihram) bagian 2.mp3&lt;/a&gt; (3.5MB)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;img src="http://ber.ilmoe.com/resources/icons/sound.gif" alt="" /&gt; &lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/Umdatul%20Ahkam/UA%202009_03_16%20Pakaian%20Muhrim%20&amp;amp;%20perkara%20yg%20diharamkan%20dlm%20haji%20%283%29.mp3" onclick="javascript:_gaq.push(['_trackEvent','download','statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/Umdatul%20Ahkam/UA%202009_03_16%20Pakaian%20Muhrim%20&amp;amp;%20perkara%20yg%20diharamkan%20dlm%20haji%20%283%29.mp3']);"&gt;Al Ustadz Abdul Mu’thi Kitab Umdatul Ahkam Bab Haji 2009 03 16 Pakaian Muhrim (orang yang ber-ihram) dan Perkara yang diharamkan dalam haji (3).mp3&lt;/a&gt; (3MB)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;img src="http://ber.ilmoe.com/resources/icons/sound.gif" alt="" /&gt; &lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/Umdatul%20Ahkam/UA%202009_03_24%20Talbiyah,%20Niat%20haji,%20Persyaratan.mp3" onclick="javascript:_gaq.push(['_trackEvent','download','statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/Umdatul%20Ahkam/UA%202009_03_24%20Talbiyah,%20Niat%20haji,%20Persyaratan.mp3']);"&gt;Al Ustadz Abdul Mu’thi Kitab Umdatul Ahkam Bab Haji 2009 03 24 Talbiyah, Niat haji, Persyaratan.mp3&lt;/a&gt; (4.1MB)&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2697845295052805777-8512200029892815044?l=salafiyunm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://salafiyunm.blogspot.com/feeds/8512200029892815044/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://salafiyunm.blogspot.com/2010/10/kumpulan-kajian-persiapan-manasik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2697845295052805777/posts/default/8512200029892815044'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2697845295052805777/posts/default/8512200029892815044'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://salafiyunm.blogspot.com/2010/10/kumpulan-kajian-persiapan-manasik.html' title='Kumpulan Kajian Persiapan Manasik Ibadah Haji dan Umrah'/><author><name>salafy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01883732528935283225</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2697845295052805777.post-2643292836038378273</id><published>2010-10-19T18:48:00.000-07:00</published><updated>2010-10-19T18:50:34.585-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Download'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Daurah'/><title type='text'>Kumpulan Kajian Fikih Hukum Syarat Hewan Kurban dan Idul Adha</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Berikut kami hadirkan koleksi kumpulan kajian yang membahas permasalahan hukum fiqh mengenai penyembelihan hewan Qurban yang disampaikan oleh Al Ustadz Askari bin Jamal Al Bugisi dari kitab Ahkam Al Udhiyah, Al Ustadz Dzulqarnain dari kitab Umdatul Ahkam Al Kubra dan Durarul Bahiyah. Serta rekaman khutbah shalat Idul Adha oleh Al Ustadz Muhammad Umar As Sewed dan Al Ustadz Abu Hamzah Yusuf. Semoga bermanfaat.&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span id="more-1932"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;h2&gt;Kitab Ahkam Udhiyyah bagian ke-1&lt;/h2&gt; &lt;p&gt;&lt;img src="http://ber.ilmoe.com/resources/icons/zip.gif" alt="01._Tentang_hewan_qurban_dan_hukum_yg_berkenaan_dengannya__Qc_-ust_Asykari.zip (6.8MB)" /&gt; &lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/alklateniy/Admin/ahkam_udhiyyah/2004/01._Tentang_hewan_qurban_dan_hukum_yg_berkenaan_dengannya__Qc_-ust_Asykari.zip" onclick="javascript:_gaq.push(['_trackEvent','download','statics.ilmoe.com/kajian/users/alklateniy/Admin/ahkam_udhiyyah/2004/01._Tentang_hewan_qurban_dan_hukum_yg_berkenaan_dengannya__Qc_-ust_Asykari.zip']);"&gt;01. Tentang hewan qurban dan hukum yang berkenaan dengannya Al Ustadz Asykari.zip&lt;/a&gt; &lt;em&gt;(6.8MB, 14th January 2010)&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;img src="http://ber.ilmoe.com/resources/icons/zip.gif" alt="02._Yang_afdhol_dari_hewan_yg_dijadikan_sbg_qurban__Qc_-ust_Asykari.zip (4.9MB)" /&gt; &lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/alklateniy/Admin/ahkam_udhiyyah/2004/02._Yang_afdhol_dari_hewan_yg_dijadikan_sbg_qurban__Qc_-ust_Asykari.zip" onclick="javascript:_gaq.push(['_trackEvent','download','statics.ilmoe.com/kajian/users/alklateniy/Admin/ahkam_udhiyyah/2004/02._Yang_afdhol_dari_hewan_yg_dijadikan_sbg_qurban__Qc_-ust_Asykari.zip']);"&gt;02. Yang utama dari hewan yang dijadikan sebagai qurban Al Ustadz Asykari.zip&lt;/a&gt; &lt;em&gt;(4.9MB, 14th January 2010)&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;img src="http://ber.ilmoe.com/resources/icons/zip.gif" alt="03._Siapa-siapa_yg_di_wajibkan_berqurban__Qc_-ust_Asykari.zip (4.2MB)" /&gt; &lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/alklateniy/Admin/ahkam_udhiyyah/2004/03._Siapa-siapa_yg_di_wajibkan_berqurban__Qc_-ust_Asykari.zip" onclick="javascript:_gaq.push(['_trackEvent','download','statics.ilmoe.com/kajian/users/alklateniy/Admin/ahkam_udhiyyah/2004/03._Siapa-siapa_yg_di_wajibkan_berqurban__Qc_-ust_Asykari.zip']);"&gt;03. Siapa-siapa yang diwajibkan berqurban Al Ustadz Asykari.zip&lt;/a&gt; &lt;em&gt;(4.2MB, 14th January 2010)&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;img src="http://ber.ilmoe.com/resources/icons/zip.gif" alt="04._Fiima_tata__ayyanabihi_al_udhiyyah_wa_ahkamuhu_-_Arrobi___innaha_idza_ta__ayyabat__Qc_-ust_Asykari.zip (4.8MB)" /&gt; &lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/alklateniy/Admin/ahkam_udhiyyah/2004/04._Fiima_tata__ayyanabihi_al_udhiyyah_wa_ahkamuhu_-_Arrobi___innaha_idza_ta__ayyabat__Qc_-ust_Asykari.zip" onclick="javascript:_gaq.push(['_trackEvent','download','statics.ilmoe.com/kajian/users/alklateniy/Admin/ahkam_udhiyyah/2004/04._Fiima_tata__ayyanabihi_al_udhiyyah_wa_ahkamuhu_-_Arrobi___innaha_idza_ta__ayyabat__Qc_-ust_Asykari.zip']);"&gt;04. Fiima tata__ayyanabihi al udhiyyah wa ahkamuhu – Arrobi innaha idza ta’ayyabat Al Ustadz Asykari.zip&lt;/a&gt; &lt;em&gt;(4.8MB, 14th January 2010)&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;img src="http://ber.ilmoe.com/resources/icons/zip.gif" alt="05._Hal-hal_yg_berkenaan_dg_hewan_qurban,dimakan___dibagikan_kpd_siapa.mp3__Qc_-ust_Asykari.zip (4.7MB)" /&gt; &lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/alklateniy/Admin/ahkam_udhiyyah/2004/05._Hal-hal_yg_berkenaan_dg_hewan_qurban,dimakan___dibagikan_kpd_siapa.mp3__Qc_-ust_Asykari.zip" onclick="javascript:_gaq.push(['_trackEvent','download','statics.ilmoe.com/kajian/users/alklateniy/Admin/ahkam_udhiyyah/2004/05._Hal-hal_yg_berkenaan_dg_hewan_qurban,dimakan___dibagikan_kpd_siapa.mp3__Qc_-ust_Asykari.zip']);"&gt;05. Hal-hal yang berkenaan dengan hewan qurban, dimakan dan dibagikan kepada siapa.mp3 Al Ustadz Asykari.zip&lt;/a&gt; &lt;em&gt;(4.7MB, 14th January 2010)&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;img src="http://ber.ilmoe.com/resources/icons/zip.gif" alt="06._Hal-hal_yg_hrs_dijauhi_oleh_orang-orang_yg_hendak_berkurban___Syarat_penyembelihan,syarat-1_0-ust_Asykari.zip (5.1MB)" /&gt; &lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/alklateniy/Admin/ahkam_udhiyyah/2004/06._Hal-hal_yg_hrs_dijauhi_oleh_orang-orang_yg_hendak_berkurban___Syarat_penyembelihan,syarat-1_0-ust_Asykari.zip" onclick="javascript:_gaq.push(['_trackEvent','download','statics.ilmoe.com/kajian/users/alklateniy/Admin/ahkam_udhiyyah/2004/06._Hal-hal_yg_hrs_dijauhi_oleh_orang-orang_yg_hendak_berkurban___Syarat_penyembelihan,syarat-1_0-ust_Asykari.zip']);"&gt;06. Hal-hal yang harus dijauhi oleh orang-orang yang hendak berkurban – Syarat penyembelihan, syarat-1 Al Ustadz Asykari.zip&lt;/a&gt; &lt;em&gt;(5.1MB, 14th January 2010)&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;img src="http://ber.ilmoe.com/resources/icons/zip.gif" alt="07._Penyembelihan___syarat-syaratnya_syarat-2.mp3__Qc_-ust_Asykari.zip (4.9MB)" /&gt; &lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/alklateniy/Admin/ahkam_udhiyyah/2004/07._Penyembelihan___syarat-syaratnya_syarat-2.mp3__Qc_-ust_Asykari.zip" onclick="javascript:_gaq.push(['_trackEvent','download','statics.ilmoe.com/kajian/users/alklateniy/Admin/ahkam_udhiyyah/2004/07._Penyembelihan___syarat-syaratnya_syarat-2.mp3__Qc_-ust_Asykari.zip']);"&gt;07. Penyembelihan – syarat-syaratnya – syarat-2.mp3 Al Ustadz Asykari.zip&lt;/a&gt; &lt;em&gt;(4.9MB, 14th January 2010)&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;img src="http://ber.ilmoe.com/resources/icons/zip.gif" alt="08._Penyembelihan___syarat-syaratnya_syarat-4_060204.mp3__Qc_-ust_Asykari.zip (5.3MB)" /&gt; &lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/alklateniy/Admin/ahkam_udhiyyah/2004/08._Penyembelihan___syarat-syaratnya_syarat-4_060204.mp3__Qc_-ust_Asykari.zip" onclick="javascript:_gaq.push(['_trackEvent','download','statics.ilmoe.com/kajian/users/alklateniy/Admin/ahkam_udhiyyah/2004/08._Penyembelihan___syarat-syaratnya_syarat-4_060204.mp3__Qc_-ust_Asykari.zip']);"&gt;08. Penyembelihan – syarat-syaratnya syarat-4 Al Ustadz Asykari.zip&lt;/a&gt; &lt;em&gt;(5.3MB, 14th January 2010)&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;img src="http://ber.ilmoe.com/resources/icons/zip.gif" alt="09._Penyembelihan___syarat-syaratnya_syarat_ke-8,Adab_menyembelih___hal-hal_yg_dimakruhkan_130204-ust_Asykari.zip (5.2MB)" /&gt; &lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/alklateniy/Admin/ahkam_udhiyyah/2004/09._Penyembelihan___syarat-syaratnya_syarat_ke-8,Adab_menyembelih___hal-hal_yg_dimakruhkan_130204-ust_Asykari.zip" onclick="javascript:_gaq.push(['_trackEvent','download','statics.ilmoe.com/kajian/users/alklateniy/Admin/ahkam_udhiyyah/2004/09._Penyembelihan___syarat-syaratnya_syarat_ke-8,Adab_menyembelih___hal-hal_yg_dimakruhkan_130204-ust_Asykari.zip']);"&gt;09. Penyembelihan – syarat-syaratnya syarat ke-8, Adab menyembelih – hal-hal yang dimakruhkan Al Ustadz Asykari.zip&lt;/a&gt; &lt;em&gt;(5.2MB, 14th January 2010)&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;h2&gt;Kitab Ahkam Udhiyyah bagian ke-2&lt;/h2&gt; &lt;p&gt;&lt;img src="http://ber.ilmoe.com/resources/icons/zip.gif" alt="01._Ahkam_Udhiyyah_281205_Qc-ust_Asykari.zip (5MB)" /&gt; &lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/alklateniy/Admin/ahkam_udhiyyah/2006/01._Ahkam_Udhiyyah_281205_Qc-ust_Asykari.zip" onclick="javascript:_gaq.push(['_trackEvent','download','statics.ilmoe.com/kajian/users/alklateniy/Admin/ahkam_udhiyyah/2006/01._Ahkam_Udhiyyah_281205_Qc-ust_Asykari.zip']);"&gt;01. Ahkam Udhiyyah 281205 Al Ustadz Asykari.zip&lt;/a&gt; &lt;em&gt;(5MB, 14th January 2010)&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;img src="http://ber.ilmoe.com/resources/icons/zip.gif" alt="02._Ahkam_Udhiyyah_301205_Qc-ust_Asykari.zip (6.7MB)" /&gt; &lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/alklateniy/Admin/ahkam_udhiyyah/2006/02._Ahkam_Udhiyyah_301205_Qc-ust_Asykari.zip" onclick="javascript:_gaq.push(['_trackEvent','download','statics.ilmoe.com/kajian/users/alklateniy/Admin/ahkam_udhiyyah/2006/02._Ahkam_Udhiyyah_301205_Qc-ust_Asykari.zip']);"&gt;02. Ahkam Udhiyyah 281205 Al Ustadz Asykari.zip&lt;/a&gt; &lt;em&gt;(6.7MB, 14th January 2010)&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;img src="http://ber.ilmoe.com/resources/icons/zip.gif" alt="03._Ahkam_Udhiyyah_020106_Qc-ust_Asykari.zip (6MB)" /&gt; &lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/alklateniy/Admin/ahkam_udhiyyah/2006/03._Ahkam_Udhiyyah_020106_Qc-ust_Asykari.zip" onclick="javascript:_gaq.push(['_trackEvent','download','statics.ilmoe.com/kajian/users/alklateniy/Admin/ahkam_udhiyyah/2006/03._Ahkam_Udhiyyah_020106_Qc-ust_Asykari.zip']);"&gt;03. Ahkam Udhiyyah 281205 Al Ustadz Asykari.&lt;/a&gt;&lt;a href="http://www.ilmoe.com/1932/kumpulan-kajian-fikih-hukum-syarat-hewan-kurban-dan-idul-adha.html"&gt;zip&lt;/a&gt; &lt;em&gt;(6MB, 14th January 2010)&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;img src="http://ber.ilmoe.com/resources/icons/zip.gif" alt="04._Ahkam_Udhiyyah_030106_Qc-ust_Asykari.zip (6.1MB)" /&gt; &lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/alklateniy/Admin/ahkam_udhiyyah/2006/04._Ahkam_Udhiyyah_030106_Qc-ust_Asykari.zip" onclick="javascript:_gaq.push(['_trackEvent','download','statics.ilmoe.com/kajian/users/alklateniy/Admin/ahkam_udhiyyah/2006/04._Ahkam_Udhiyyah_030106_Qc-ust_Asykari.zip']);"&gt;04. Ahkam Udhiyyah 281205 Al Ustadz Asykari.zip&lt;/a&gt; &lt;em&gt;(6.1MB, 14th January 2010)&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;img src="http://ber.ilmoe.com/resources/icons/zip.gif" alt="05._Ahkam_Udhiyyah_040106_Qc-ust_Asykari.zip (7.3MB)" /&gt; &lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/alklateniy/Admin/ahkam_udhiyyah/2006/05._Ahkam_Udhiyyah_040106_Qc-ust_Asykari.zip" onclick="javascript:_gaq.push(['_trackEvent','download','statics.ilmoe.com/kajian/users/alklateniy/Admin/ahkam_udhiyyah/2006/05._Ahkam_Udhiyyah_040106_Qc-ust_Asykari.zip']);"&gt;05. Ahkam Udhiyyah 281205 Al Ustadz Asykari.zip&lt;/a&gt; &lt;em&gt;(7.3MB, 14th January 2010)&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;img src="http://ber.ilmoe.com/resources/icons/zip.gif" alt="06._Ahkam_Udhiyyah_060106_Qc-ust_Asykari.zip (7MB)" /&gt; &lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/alklateniy/Admin/ahkam_udhiyyah/2006/06._Ahkam_Udhiyyah_060106_Qc-ust_Asykari.zip" onclick="javascript:_gaq.push(['_trackEvent','download','statics.ilmoe.com/kajian/users/alklateniy/Admin/ahkam_udhiyyah/2006/06._Ahkam_Udhiyyah_060106_Qc-ust_Asykari.zip']);"&gt;06. Ahkam Udhiyyah 281205 Al Ustadz Asykari.zip&lt;/a&gt; &lt;em&gt;(7MB, 14th January 2010)&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;img src="http://ber.ilmoe.com/resources/icons/zip.gif" alt="07._Ahkam_Udhiyyah_090106_Qc-ust_Asykari.zip (6.7MB)" /&gt; &lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/alklateniy/Admin/ahkam_udhiyyah/2006/07._Ahkam_Udhiyyah_090106_Qc-ust_Asykari.zip" onclick="javascript:_gaq.push(['_trackEvent','download','statics.ilmoe.com/kajian/users/alklateniy/Admin/ahkam_udhiyyah/2006/07._Ahkam_Udhiyyah_090106_Qc-ust_Asykari.zip']);"&gt;07. Ahkam Udhiyyah 281205 Al Ustadz Asykari.zip&lt;/a&gt; &lt;em&gt;(6.7MB, 14th January 2010)&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;h2&gt;Khutbah Shalat Idul Adha oleh Al Ustadz Abu Hamzah Yusuf Al Atsary&lt;/h2&gt; &lt;p&gt;&lt;img src="http://ber.ilmoe.com/resources/icons/sound.gif" alt="" /&gt; &lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/el-iskandar/kumpulan-khutbah-al-ustadz-abu-hamzah-yusuf-al-atsary/Khutbah-_%27Iedul-Adha-10-Dzulhijjah-1427H.mp3" onclick="javascript:_gaq.push(['_trackEvent','download','statics.ilmoe.com/kajian/users/el-iskandar/kumpulan-khutbah-al-ustadz-abu-hamzah-yusuf-al-atsary/Khutbah-_%27Iedul-Adha-10-Dzulhijjah-1427H.mp3']);"&gt;Khutbah ‘Iedul Adha 10 Dzulhijjah 1427H Al Ustadz Abu Hamzah Yusuf Al Atsary.mp3&lt;/a&gt; (6.7MB)&lt;/p&gt; &lt;h2&gt;Khutbah Shalat Idul Adha oleh Al Ustadz Muhammad As Sewed&lt;/h2&gt; &lt;p&gt;&lt;img src="http://ber.ilmoe.com/resources/icons/sound.gif" alt="" /&gt; &lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/alklateniy/Admin/khotbah_jumat/007%20Khutbah%20Iedhul%20Adha_Ust_Muhammad_As_Sewed.mp3" onclick="javascript:_gaq.push(['_trackEvent','download','statics.ilmoe.com/kajian/users/alklateniy/Admin/khotbah_jumat/007%20Khutbah%20Iedhul%20Adha_Ust_Muhammad_As_Sewed.mp3']);"&gt;007 Khutbah Iedhul Adha Al Ustadz Muhammad As Sewed.mp3&lt;/a&gt; (3.7MB)&lt;/p&gt; &lt;h2&gt;Kitab Umdatul Ahkam Al Kubra oleh Al Ustadz Dzulqarnain&lt;/h2&gt; &lt;p&gt;&lt;img src="http://ber.ilmoe.com/resources/icons/sound.gif" alt="" /&gt; &lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/fiqh/Umdatul-Ahkam-Al-Kubra/Kajian-Fiqh-Umdatul-Ahkam-Al-Kubra-Bab-Shalat-Idul-Fitri-Adha.mp3" onclick="javascript:_gaq.push(['_trackEvent','download','statics.ilmoe.com/kajian/fiqh/Umdatul-Ahkam-Al-Kubra/Kajian-Fiqh-Umdatul-Ahkam-Al-Kubra-Bab-Shalat-Idul-Fitri-Adha.mp3']);"&gt;Kajian Fiqh Umdatul Ahkam Al Kubra – Bab Shalat Idul Fitri dan Iedul Adha.mp3&lt;/a&gt; (6.4MB)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;img src="http://ber.ilmoe.com/resources/icons/sound.gif" alt="" /&gt; &lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/fiqh/Umdatul-Ahkam-Al-Kubra/Kajian-Fiqh-Umdatul-Ahkam-Al-Kubra-Bab-Shalat-Idul-Fitri-Adha-Tanya-Jawab.mp3" onclick="javascript:_gaq.push(['_trackEvent','download','statics.ilmoe.com/kajian/fiqh/Umdatul-Ahkam-Al-Kubra/Kajian-Fiqh-Umdatul-Ahkam-Al-Kubra-Bab-Shalat-Idul-Fitri-Adha-Tanya-Jawab.mp3']);"&gt;Kajian Fiqh Umdatul Ahkam Al Kubra – Bab Shalat Idul Fitri dan Iedul Adha Tanya-Jawab.&lt;/a&gt;&lt;a href="http://www.ilmoe.com/"&gt;mp3&lt;/a&gt; (2.1MB)&lt;/p&gt; &lt;h2&gt;Kitab Durarul Bahiyah oleh Al Ustadz Dzulqarnain&lt;/h2&gt; &lt;p&gt;&lt;img src="http://ber.ilmoe.com/resources/icons/sound.gif" alt="" /&gt; &lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/makassar/an-nashihah/daurah-fiqh-nasional/39.%20Menjamu%20Tamu,%20Etika%20Makanan,%20Minuman,%20Pakaian,%20Hewan%20Qurban%20-%20www.an-nashihah.net.mp3" onclick="javascript:_gaq.push(['_trackEvent','download','statics.ilmoe.com/kajian/users/makassar/an-nashihah/daurah-fiqh-nasional/39.%20Menjamu%20Tamu,%20Etika%20Makanan,%20Minuman,%20Pakaian,%20Hewan%20Qurban%20-%20www.an-nashihah.net.mp3']);"&gt;39. Menjamu Tamu, Etika Makanan, Minuman, Pakaian, Hewan Qurban – www.an-nashihah.net.mp3&lt;/a&gt; (14.2MB)&lt;/p&gt; &lt;h2&gt;Tambahan&lt;/h2&gt; &lt;p&gt;&lt;img src="http://ber.ilmoe.com/resources/icons/sound.gif" alt="" /&gt; &lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/fiqh/Hari-Raya/Hari-Raya-Idul-Fitri-Iedul-Adha-Bertepatan-Hari-Jumat.mp3" onclick="javascript:_gaq.push(['_trackEvent','download','statics.ilmoe.com/kajian/fiqh/Hari-Raya/Hari-Raya-Idul-Fitri-Iedul-Adha-Bertepatan-Hari-Jumat.mp3']);"&gt;Apabila Hari Raya Idul Fitri atau Iedul Adha Bertepatan dengan Hari Jumat.mp3&lt;/a&gt; (599.9KB)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;img src="http://ber.ilmoe.com/resources/icons/zip.gif" alt="" /&gt; &lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/alklateniy/Kajian%20Rutin/Tsalatsatul_Ushul-Masjid_Poltekes/09-11-25_Fiqh_Qurban.zip" onclick="javascript:_gaq.push(['_trackEvent','download','statics.ilmoe.com/kajian/users/alklateniy/Kajian%20Rutin/Tsalatsatul_Ushul-Masjid_Poltekes/09-11-25_Fiqh_Qurban.zip']);"&gt;Fiqh Qurban.zip&lt;/a&gt; (6.3MB)&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2697845295052805777-2643292836038378273?l=salafiyunm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://salafiyunm.blogspot.com/feeds/2643292836038378273/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://salafiyunm.blogspot.com/2010/10/kumpulan-kajian-fikih-hukum-syarat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2697845295052805777/posts/default/2643292836038378273'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2697845295052805777/posts/default/2643292836038378273'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://salafiyunm.blogspot.com/2010/10/kumpulan-kajian-fikih-hukum-syarat.html' title='Kumpulan Kajian Fikih Hukum Syarat Hewan Kurban dan Idul Adha'/><author><name>salafy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01883732528935283225</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2697845295052805777.post-6992922492539574362</id><published>2010-08-13T20:18:00.000-07:00</published><updated>2010-08-13T20:31:23.906-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Download'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Daurah'/><title type='text'>Download Bedah Buku “Panduan Puasa Ramadhan” dan “Indahnya Shalat Malam”</title><content type='html'>&lt;p&gt;Berikut ini adalah file download Bedah Buku “&lt;strong&gt;Panduan Puasa  Ramadhan di Bawah Naungan Al-Quran dan As-Sunnah&lt;/strong&gt;” dan “&lt;strong&gt;Indahnya  Shalat Malam, Tuntunan Qiyamul Lail dan Shalat Tarawih&lt;/strong&gt;” oleh &lt;strong&gt;Al-Ustadz  Dzulqarnain&lt;/strong&gt; yang dilaksanakan pada tanggal &lt;strong&gt;26 Sya’ban  1431 / 7 Agustus 2010 &lt;/strong&gt;dan &lt;strong&gt;27 Sya’ban 1431 / 8 Agustus  2010. &lt;/strong&gt;Buku yang disajikan di Kajian Bedah Buku tersebut adalah  materi dari &lt;strong&gt;Majalah An-Nashihah&lt;/strong&gt; edisi beberapa tahun  lalu yang kemudian dibukukan dan Alhamdulillah pada awal bulan Sya’ban  1431 H / Juli 2010 sudah dicetak kembali dalam cetakan edisi revisi.&lt;span id="more-754"&gt;&lt;/span&gt; InsyaAllah materi yang disampaikan di bedah buku  sebagian besar sudah ada di artikel Majalah An-Nashihah edisi lama yang  bisa kaum muslimin baca di website &lt;a href="http://an-nashihah.com/"&gt;&lt;strong&gt;www.an-nashihah.com  &lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;A. &lt;u&gt;Bedah Buku “Panduan Puasa Ramadhan di Bawah Naungan  Al-Quran dan As-Sunnah”&lt;/u&gt; | Sabtu, 26 Sya’ban 1431 / 7 Agustus 2010  H  | Masjid Baabur Risqy (Pusat Niaga Daya (Pasar Baru), depan Terminal  Regional Daya&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;pre&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/makassar/an-nashihah/Bedah-Buku-Puasa-Ramadhan-Indahnya-Shalat-Malam/1.-Bedah-Buku-Panduan-Puasa-Ramadhan-Ustadz-Dzul-www.an-nashihah.net.mp3"&gt;1.-Bedah-Buku-Panduan-Puasa-Ramadhan-Ustadz-Dzul&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/makassar/an-nashihah/Bedah-Buku-Puasa-Ramadhan-Indahnya-Shalat-Malam/2.-Bedah-Buku-Panduan-Puasa-Ramadhan-Ustadz-Dzul-www.an-nashihah.net.mp3"&gt;2.-Bedah-Buku-Panduan-Puasa-Ramadhan-Ustadz-Dzul&lt;/a&gt;  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/pre&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;A. &lt;u&gt;Bedah Buku “&lt;strong&gt;Indahnya Shalat Malam, Tuntunan  Qiyamul Lail dan Shalat Tarawih&lt;/strong&gt;”&lt;/u&gt; | Ahad, 27 Sya’ban 1431 / 8  Agustus 2010 H | Masjid Nurul Izzah (Jl. Poros Pallangga, sekitar 150m  setelah Stadion Kalegowa)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;pre&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/makassar/an-nashihah/Bedah-Buku-Puasa-Ramadhan-Indahnya-Shalat-Malam/3.-Bedah-Buku-Indahnya-Shalat-Malam-Ustadz-Dzul-www.an-nashihah.net.mp3"&gt;3.-Bedah-Buku-Indahnya-Shalat-Malam-Ustadz-Dzul&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/makassar/an-nashihah/Bedah-Buku-Puasa-Ramadhan-Indahnya-Shalat-Malam/4.-Bedah-Buku-Indahnya-Shalat-Malam-Ustadz-Dzul-www.an-nashihah.net.mp3"&gt;4.-Bedah-Buku-Indahnya-Shalat-Malam-Ustadz-Dzul&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/makassar/an-nashihah/Bedah-Buku-Puasa-Ramadhan-Indahnya-Shalat-Malam/5.-Bedah-Buku-Tanya-Jawab-Indahnya-Shalat-Malam-www.an-nashihah.net.mp3"&gt;5.-Bedah-Buku-Tanya-Jawab-Indahnya-Shalat-Malam&lt;/a&gt;  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;b&gt;1. Panduan Puasa Ramadhan&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;a rel="nofollow" target="_blank" href="http://an-nashihah.com/file/Panduan%20Puasa%20Ramadhan%20di%20Bawah%20Naungan%20Al-Qur%27an%20dan%20As-Sunnah.pdf"&gt;Panduan Puasa Ramadhan di Bawah Naungan Al-Qur'an dan As-Sunnah.pdf&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;b&gt;2.Indahnya Shalat Malam (Tuntunan Qiyamul Lail dan Sholat Tarawih)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;a rel="nofollow" target="_blank" href="http://an-nashihah.com/file/Indahnya%20Shalat%20Malam%20%28Tuntunan%20Qiyamul%20Lail%20dan%20Sholat%20Tarawih%29.pdf"&gt;Indahnya Shalat Malam (Tuntunan Qiyamul Lail dan Sholat Tarawih).pdf  &lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/pre&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2697845295052805777-6992922492539574362?l=salafiyunm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://salafiyunm.blogspot.com/feeds/6992922492539574362/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://salafiyunm.blogspot.com/2010/08/download-bedah-buku-panduan-puasa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2697845295052805777/posts/default/6992922492539574362'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2697845295052805777/posts/default/6992922492539574362'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://salafiyunm.blogspot.com/2010/08/download-bedah-buku-panduan-puasa.html' title='Download Bedah Buku “Panduan Puasa Ramadhan” dan “Indahnya Shalat Malam”'/><author><name>salafy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01883732528935283225</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2697845295052805777.post-7650329648465926745</id><published>2010-07-04T17:23:00.000-07:00</published><updated>2011-02-04T17:26:30.857-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Download'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Daurah'/><title type='text'>Dauroh Cepogo 28 – 30 Mei 2010</title><content type='html'>Bismillaah..&lt;br /&gt;silahkan si download.&lt;br /&gt;pemateri: Ustadz Dzulqarnain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_28-A-Penetapan-sifat-tertawa-bagi-Allah.mp3"&gt;D-2010_05_28-A-Penetapan-sifat-tertawa-bagi-Allah.mp3&lt;/a&gt;  8.0M&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_28-B-Penetapan-sifat-tertawa-bagi-Allah.mp3"&gt;D-2010_05_28-B-Penetapan-sifat-tertawa-bagi-Allah.mp3&lt;/a&gt;  7.4M&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_28-BTJ01-Hukum-sholat-di-masjid-yang-terbuat-dr-emas.mp3"&gt;D-2010_05_28-BTJ01-Hukum-sholat-di-masjid-yang-terbuat-dr-emas.mp3&lt;/a&gt;  382K&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_28-BTJ02-Hadits-ttg-kunyah-Abul-Qasim.mp3"&gt;D-2010_05_28-BTJ02-Hadits-ttg-kunyah-Abul-Qasim.mp3  &lt;/a&gt;118K&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_28-BTJ03-Hadits-Ibnu-Mas-ud-ttg-org-yang-terakhir-masuk-neraka.mp3"&gt;D-2010_05_28-BTJ03-Hadits-Ibnu-Mas-ud-ttg-org-yang-terakhir-masuk-neraka.mp3  &lt;/a&gt;67K&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_28-BTJ04-Muallaf-yang-menyembunyikan-keislamannya.mp3"&gt;D-2010_05_28-BTJ04-Muallaf-yang-menyembunyikan-keislamannya.mp3&lt;/a&gt;  638K&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_28-BTJ05-Apakah-peperangan-muslim-dgn-kafir-hanya-menggunakan-pedang.mp3"&gt;D-2010_05_28-BTJ05-Apakah-peperangan-muslim-dgn-kafir-hanya-menggunakan-pedang.mp3&lt;/a&gt;  107K&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_28-BTJ06-Transaksi-via-internet.mp3"&gt;D-2010_05_28-BTJ06-Transaksi-via-internet.mp3&lt;/a&gt;  102K&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_28-BTJ07-Tdk-menikah-unt-membahagiakan-org-tua.mp3"&gt;D-2010_05_28-BTJ07-Tdk-menikah-unt-membahagiakan-org-tua.mp3&lt;/a&gt;  362K&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_28-BTJ08-Adakah-Sholat-Al-Isyraq.mp3"&gt;D-2010_05_28-BTJ08-Adakah-Sholat-Al-Isyraq.mp3&lt;/a&gt;  272K&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_28-BTJ09-Mengangkat-tangan-pada-takbir-sholat-jenazah.mp3"&gt;D-2010_05_28-BTJ09-Mengangkat-tangan-pada-takbir-sholat-jenazah.mp3&lt;/a&gt;  71K&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_28-BTJ10-Apakah-setiap-yg-haram-itu-najis-atau-setiap-yg-najis-itu-haram.mp3"&gt;D-2010_05_28-BTJ10-Apakah-setiap-yg-haram-itu-najis-atau-setiap-yg-najis-itu-haram.mp3&lt;/a&gt;  245K&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_28-BTJ11-Apakah-Al-Qur-an-setara-dgn-hadits.mp3"&gt;D-2010_05_28-BTJ11-Apakah-Al-Qur-an-setara-dgn-hadits.mp3&lt;/a&gt;  170K&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_28-BTJ12-Bgmn-menasehati-org-yg-terpengaruh-pemikiran-Asy-ariyah.mp3"&gt;D-2010_05_28-BTJ12-Bgmn-menasehati-org-yg-terpengaruh-pemikiran-Asy-ariyah.mp3&lt;/a&gt;  137K&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_28-BTJ13-Menikah-dgn-gadis-atau-janda.mp3"&gt;D-2010_05_28-BTJ13-Menikah-dgn-gadis-atau-janda.mp3  &lt;/a&gt;308K&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_28-BTJ14-Luput-dr-sholat-jumat.mp3"&gt;D-2010_05_28-BTJ14-Luput-dr-sholat-jumat.mp3&lt;/a&gt;  40K&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_28-BTJ15-Dukun-dan-jimat.mp3"&gt;D-2010_05_28-BTJ15-Dukun-dan-jimat.mp3&lt;/a&gt;  1.1M&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_28-C-Bahjah-Qulubil-Abror-26.mp3"&gt;D-2010_05_28-C-Bahjah-Qulubil-Abror-26.mp3&lt;/a&gt;  5.0M&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_28-D-Bahjah-Qulubil-Abror-26.mp3"&gt;D-2010_05_28-D-Bahjah-Qulubil-Abror-26.mp3&lt;/a&gt;  6.3M&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_28-DTJ01-Bolehkah-wanita-haidh-menyentuh-Al-Qur-an.mp3"&gt;D-2010_05_28-DTJ01-Bolehkah-wanita-haidh-menyentuh-Al-Qur-an.mp3  &lt;/a&gt;485K&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_28-DTJ02-Hadits-Amr-bin-Hazm.mp3"&gt;D-2010_05_28-DTJ02-Hadits-Amr-bin-Hazm.mp3&lt;/a&gt;  394K&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_28-DTJ03-Seorg-mukmin-yang-bertaubat-dr-dosa-lalu-melakukannya-lg.mp3"&gt;D-2010_05_28-DTJ03-Seorg-mukmin-yang-bertaubat-dr-dosa-lalu-melakukannya-lg.mp3&lt;/a&gt;  533K&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_29-A-Tausiyah-ba-da-shubuh.mp3"&gt;D-2010_05_29-A-Tausiyah-ba-da-shubuh.mp3&lt;/a&gt;  7.4M&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_29-B-Syarat-syarat-sholat.mp3"&gt;D-2010_05_29-B-Syarat-syarat-sholat.mp3&lt;/a&gt;  19M&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_29-C-Syarat-syarat-sholat.mp3"&gt;D-2010_05_29-C-Syarat-syarat-sholat.mp3&lt;/a&gt;  13M&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_29-D-Syarat-syarat-sholat.mp3"&gt;D-2010_05_29-D-Syarat-syarat-sholat.mp3&lt;/a&gt;  4.9M&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_29-DTJ01-Tugas-jaga-pd-saat-sholat-fardhu-dan-sholat-jumat.mp3"&gt;D-2010_05_29-DTJ01-Tugas-jaga-pd-saat-sholat-fardhu-dan-sholat-jumat.mp3  &lt;/a&gt;311K&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_29-DTJ02-Hadits-Abu-Sa-id-Al-Khudriy-ttg-menjaui-fitnah.mp3"&gt;D-2010_05_29-DTJ02-Hadits-Abu-Sa-id-Al-Khudriy-ttg-menjaui-fitnah.mp3&lt;/a&gt;  326K&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_29-DTJ03-Nama-muhsin-bagi-Allah.mp3"&gt;D-2010_05_29-DTJ03-Nama-muhsin-bagi-Allah.mp3  &lt;/a&gt;334K&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_29-DTJ04-Tata-cara-sholat-dan-berdoa-pd-shalat-tahajjud.mp3"&gt;D-2010_05_29-DTJ04-Tata-cara-sholat-dan-berdoa-pd-shalat-tahajjud.mp3  &lt;/a&gt;382K&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_29-DTJ05-Telapak-tangan-wanita-termasuk-aurat.mp3"&gt;D-2010_05_29-DTJ05-Telapak-tangan-wanita-termasuk-aurat.mp3&lt;/a&gt;  181K&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_29-DTJ06-Pengganti-mandi-junub-adalah-tayammum.mp3"&gt;D-2010_05_29-DTJ06-Pengganti-mandi-junub-adalah-tayammum.mp3  &lt;/a&gt;158K&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_29-DTJ07-Berdakwah-dgn-cara-lemah-lembut.mp3"&gt;D-2010_05_29-DTJ07-Berdakwah-dgn-cara-lemah-lembut.mp3&lt;/a&gt;  303K&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_29-DTJ08-Bila-tdk-semangat-dlm-menuntut-ilmu.mp3"&gt;D-2010_05_29-DTJ08-Bila-tdk-semangat-dlm-menuntut-ilmu.mp3&lt;/a&gt;  382K&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_29-DTJ09-Kapan-makmum-membaca-al-fatihah.mp3"&gt;D-2010_05_29-DTJ09-Kapan-makmum-membaca-al-fatihah.mp3&lt;/a&gt;  153K&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_29-DTJ10-Bolehkah-berwudhu-di-dlm-kamar-mandi.mp3"&gt;D-2010_05_29-DTJ10-Bolehkah-berwudhu-di-dlm-kamar-mandi.mp3&lt;/a&gt;  146K&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_29-DTJ11-Hadits-ttg-meludah-didlm-masjid-dan-sewaktu-sholat.mp3"&gt;D-2010_05_29-DTJ11-Hadits-ttg-meludah-didlm-masjid-dan-sewaktu-sholat.mp3&lt;/a&gt;  248K&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_29-DTJ12-Apa-saja-yang-termasuk-syirik-kecil.mp3"&gt;D-2010_05_29-DTJ12-Apa-saja-yang-termasuk-syirik-kecil.mp3&lt;/a&gt;  417K&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_29-DTJ13-Apakah-jubah-dan-gamis-termsk-pakaian-kemasyhuran.mp3"&gt;D-2010_05_29-DTJ13-Apakah-jubah-dan-gamis-termsk-pakaian-kemasyhuran.mp3&lt;/a&gt;  872K&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_29-E-Bahjah-Qulubil-Abror-27.mp3"&gt;D-2010_05_29-E-Bahjah-Qulubil-Abror-27.mp3&lt;/a&gt;  5.4M&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_29-F-Bahjah-Qulubil-Abror-27.mp3"&gt;D-2010_05_29-F-Bahjah-Qulubil-Abror-27.mp3&lt;/a&gt;  3.8M&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_30-A-Adab2-menuntut-ilmu.mp3"&gt;D-2010_05_30-A-Adab2-menuntut-ilmu.mp3  &lt;/a&gt;11M&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_30-B01-Aqidah-Imam-Asy-Syafi-i_Keutamaan-mempelajari-aqidah-.mp3"&gt;D-2010_05_30-B01-Aqidah-Imam-Asy-Syafi-i_Keutamaan-mempelajari-aqidah-.mp3&lt;/a&gt;  2.8M&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_30-B02-Aqidah-Imam-Asy-Syafi-i_Pembacaan-sanad.mp3"&gt;D-2010_05_30-B02-Aqidah-Imam-Asy-Syafi-i_Pembacaan-sanad.mp3  &lt;/a&gt;1.9M&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_30-B03-Aqidah-Imam-Asy-Syafi-i_Ucapan-Radhiyallahuanhu-untk-para-ulama.mp3"&gt;D-2010_05_30-B03-Aqidah-Imam-Asy-Syafi-i_Ucapan-Radhiyallahuanhu-untk-para-ulama.mp3  &lt;/a&gt;139K&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_30-B04-Aqidah-Imam-Asy-Syafi-i_Menetapkan-nama-dan-sifat-bagi-Allah.mp3"&gt;D-2010_05_30-B04-Aqidah-Imam-Asy-Syafi-i_Menetapkan-nama-dan-sifat-bagi-Allah.mp3  &lt;/a&gt;1.4M&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_30-B05-Aqidah-Imam-Asy-Syafi-i_Hukum-org-yg-mengingkari-nama-dan-sifat-Allah.mp3"&gt;D-2010_05_30-B05-Aqidah-Imam-Asy-Syafi-i_Hukum-org-yg-mengingkari-nama-dan-sifat-Allah.mp3  &lt;/a&gt;1.3M&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_30-B06-Aqidah-Imam-Asy-Syafi-i_Kaidah-dlm-menetapkan-nama-dan-sifat-Allah.mp3"&gt;D-2010_05_30-B06-Aqidah-Imam-Asy-Syafi-i_Kaidah-dlm-menetapkan-nama-dan-sifat-Allah.mp3&lt;/a&gt;  284K&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_30-B07-Aqidah-Imam-Asy-Syafi-i_Menetapkan-makna.mp3"&gt;D-2010_05_30-B07-Aqidah-Imam-Asy-Syafi-i_Menetapkan-makna.mp3  &lt;/a&gt;441K&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_30-B08-Aqidah-Imam-Asy-Syafi-i_Kaidah-dlm-menetapkan-nama-dan-sifat-Allah.mp3"&gt;D-2010_05_30-B08-Aqidah-Imam-Asy-Syafi-i_Kaidah-dlm-menetapkan-nama-dan-sifat-Allah.mp3&lt;/a&gt;  337K&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_30-B09-Aqidah-Imam-Asy-Syafi-i_Sifat-tangan-bg-Allah.mp3"&gt;D-2010_05_30-B09-Aqidah-Imam-Asy-Syafi-i_Sifat-tangan-bg-Allah.mp3  &lt;/a&gt;463K&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_30-B10-Aqidah-Imam-Asy-Syafi-i_Sifat-wajah-bagi-Allah.mp3"&gt;D-2010_05_30-B10-Aqidah-Imam-Asy-Syafi-i_Sifat-wajah-bagi-Allah.mp3&lt;/a&gt;  880K&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_30-B11-Aqidah-Imam-Asy-Syafi-i_Sifat-Qadam-bagi-Allah.mp3"&gt;D-2010_05_30-B11-Aqidah-Imam-Asy-Syafi-i_Sifat-Qadam-bagi-Allah.mp3  &lt;/a&gt;364K&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_30-B12-Aqidah-Imam-Asy-Syafi-i_Sifat-Tertawa-bagi-Allah.mp3"&gt;D-2010_05_30-B12-Aqidah-Imam-Asy-Syafi-i_Sifat-Tertawa-bagi-Allah.mp3&lt;/a&gt;  154K&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_30-B13-Aqidah-Imam-Asy-Syafi-i_Sifat-turunnya-Allah-kelangit-dunia.mp3"&gt;D-2010_05_30-B13-Aqidah-Imam-Asy-Syafi-i_Sifat-turunnya-Allah-kelangit-dunia.mp3  &lt;/a&gt;508K&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_30-B14-Aqidah-Imam-Asy-Syafi-i_Sifat-mata-bagi-Allah.mp3"&gt;D-2010_05_30-B14-Aqidah-Imam-Asy-Syafi-i_Sifat-mata-bagi-Allah.mp3&lt;/a&gt;  563K&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_30-B15-Aqidah-Imam-Asy-Syafi-i_Kaum-mukminin-melihat-Allah-di-sorga.mp3"&gt;D-2010_05_30-B15-Aqidah-Imam-Asy-Syafi-i_Kaum-mukminin-melihat-Allah-di-sorga.mp3  &lt;/a&gt;1.6M&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_30-B16-Aqidah-Imam-Asy-Syafi-i_Jari-jemari-Allah.mp3"&gt;D-2010_05_30-B16-Aqidah-Imam-Asy-Syafi-i_Jari-jemari-Allah.mp3&lt;/a&gt;  969K&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_30-B17-Aqidah-Imam-Asy-Syafi-i_Menetapkan-nama-dan-sifat-bagi-Allah.mp3"&gt;D-2010_05_30-B17-Aqidah-Imam-Asy-Syafi-i_Menetapkan-nama-dan-sifat-bagi-Allah.mp3  &lt;/a&gt;921K&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_30-B18-Aqidah-Imam-Asy-Syafi-i_Al-Qur-an-kalamullah-bukan-mahluk.mp3"&gt;D-2010_05_30-B18-Aqidah-Imam-Asy-Syafi-i_Al-Qur-an-kalamullah-bukan-mahluk.mp3&lt;/a&gt;  1.9M&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_30-B19-Aqidah-Imam-Asy-Syafi-i_Berpegang-teguh-dengan-sunnah.mp3"&gt;D-2010_05_30-B19-Aqidah-Imam-Asy-Syafi-i_Berpegang-teguh-dengan-sunnah.mp3  &lt;/a&gt;771K&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_30-C01-Aqidah-Imam-Asy-Syafi-i_Berpegang-teguh-dengan-sunnah.mp3"&gt;D-2010_05_30-C01-Aqidah-Imam-Asy-Syafi-i_Berpegang-teguh-dengan-sunnah.mp3&lt;/a&gt;  1.0M&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_30-C02-Aqidah-Imam-Asy-Syafi-i_Mengikuti-para-shabahat-rasulullah.mp3"&gt;D-2010_05_30-C02-Aqidah-Imam-Asy-Syafi-i_Mengikuti-para-shabahat-rasulullah.mp3&lt;/a&gt;  1.4M&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_30-C03-Aqidah-Imam-Asy-Syafi-i_Menjauhi-perdebatan.mp3"&gt;D-2010_05_30-C03-Aqidah-Imam-Asy-Syafi-i_Menjauhi-perdebatan.mp3&lt;/a&gt;  469K&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_30-C04-Aqidah-Imam-Asy-Syafi-i_Tdk-mengkafirkan-pelaku-dosa-besar.mp3"&gt;D-2010_05_30-C04-Aqidah-Imam-Asy-Syafi-i_Tdk-mengkafirkan-pelaku-dosa-besar.mp3  &lt;/a&gt;1.0M&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_30-C05-Aqidah-Imam-Asy-Syafi-i_Tangan-Allah-diatas-Al-JamaAh.mp3"&gt;D-2010_05_30-C05-Aqidah-Imam-Asy-Syafi-i_Tangan-Allah-diatas-Al-JamaAh.mp3&lt;/a&gt;  346K&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_30-C06-Aqidah-Imam-Asy-Syafi-i_Al-Qur-an-kalamullah-bukan-mahluk.mp3"&gt;D-2010_05_30-C06-Aqidah-Imam-Asy-Syafi-i_Al-Qur-an-kalamullah-bukan-mahluk.mp3  &lt;/a&gt;2.4M&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_30-C07-Aqidah-Imam-Asy-Syafi-i_Manusia-yg-paling-utama-setelah-rasulullah.mp3"&gt;D-2010_05_30-C07-Aqidah-Imam-Asy-Syafi-i_Manusia-yg-paling-utama-setelah-rasulullah.mp3&lt;/a&gt;  3.4M&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_30-C08-Aqidah-Imam-Asy-Syafi-i_Permasalahan-taqdir.mp3"&gt;D-2010_05_30-C08-Aqidah-Imam-Asy-Syafi-i_Permasalahan-taqdir.mp3&lt;/a&gt;  2.8M&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_30-D01-Aqidah-Imam-Asy-Syafi-i_Permasalahan-taqdir.mp3"&gt;D-2010_05_30-D01-Aqidah-Imam-Asy-Syafi-i_Permasalahan-taqdir.mp3&lt;/a&gt;  2.8M&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_30-D02-Aqidah-Imam-Asy-Syafi-i_Larangan-mempersaksikan-seseorg-masuk-sorga-atau-neraka.mp3"&gt;D-2010_05_30-D02-Aqidah-Imam-Asy-Syafi-i_Larangan-mempersaksikan-seseorg-masuk-sorga-atau-neraka.mp3&lt;/a&gt;  1.6M&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_30-D03-Aqidah-Imam-Asy-Syafi-i_Kaum-mukminin-melihat-Allah-di-sorga.mp3"&gt;D-2010_05_30-D03-Aqidah-Imam-Asy-Syafi-i_Kaum-mukminin-melihat-Allah-di-sorga.mp3&lt;/a&gt;  1.8M&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_30-D04-Aqidah-Imam-Asy-Syafi-i_Wajib-mendengar-dan-taat-kpd-pemerintah.mp3"&gt;D-2010_05_30-D04-Aqidah-Imam-Asy-Syafi-i_Wajib-mendengar-dan-taat-kpd-pemerintah.mp3  &lt;/a&gt;784K&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_30-D05-Aqidah-Imam-Asy-Syafi-i_Menshalati-mayat-kaum-muslimin.mp3"&gt;D-2010_05_30-D05-Aqidah-Imam-Asy-Syafi-i_Menshalati-mayat-kaum-muslimin.mp3&lt;/a&gt;  633K&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_30-D06-Aqidah-Imam-Asy-Syafi-i_Allah-turun-ke-langit-dunia-pada-tiap-malam.mp3"&gt;D-2010_05_30-D06-Aqidah-Imam-Asy-Syafi-i_Allah-turun-ke-langit-dunia-pada-tiap-malam.mp3&lt;/a&gt;  778K&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_30-D07-Aqidah-Imam-Asy-Syafi-i_Keadaan-penduduk-neraka-dan-penduduk-sorga.mp3"&gt;D-2010_05_30-D07-Aqidah-Imam-Asy-Syafi-i_Keadaan-penduduk-neraka-dan-penduduk-sorga.mp3  &lt;/a&gt;482K&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_30-D08-Aqidah-Imam-Asy-Syafi-i_Nikmat-dan-adzab-kubur.mp3"&gt;D-2010_05_30-D08-Aqidah-Imam-Asy-Syafi-i_Nikmat-dan-adzab-kubur.mp3  &lt;/a&gt;816K&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_30-D09-Aqidah-Imam-Asy-Syafi-i_Manusia-dibangkitkan-setelah-kematian.mp3"&gt;D-2010_05_30-D09-Aqidah-Imam-Asy-Syafi-i_Manusia-dibangkitkan-setelah-kematian.mp3  &lt;/a&gt;929K&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_30-D10-Aqidah-Imam-Asy-Syafi-i_Hari-dihisabnya-amalan.mp3"&gt;D-2010_05_30-D10-Aqidah-Imam-Asy-Syafi-i_Hari-dihisabnya-amalan.mp3&lt;/a&gt;  750K&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_30-D11-Aqidah-Imam-Asy-Syafi-i_Timbangan-amalan.mp3"&gt;D-2010_05_30-D11-Aqidah-Imam-Asy-Syafi-i_Timbangan-amalan.mp3&lt;/a&gt;  646K&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_30-D12-Aqidah-Imam-Asy-Syafi-i_Syafaat-dari-Allah.mp3"&gt;D-2010_05_30-D12-Aqidah-Imam-Asy-Syafi-i_Syafaat-dari-Allah.mp3&lt;/a&gt;  1.9M&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_30-D13-Aqidah-Imam-Asy-Syafi-i_Rahmat-Allah-kpd-seluruh-manusia.mp3"&gt;D-2010_05_30-D13-Aqidah-Imam-Asy-Syafi-i_Rahmat-Allah-kpd-seluruh-manusia.mp3&lt;/a&gt;  934K&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_30-D14-Aqidah-Imam-Asy-Syafi-i_Telaga-rasulullah.mp3"&gt;D-2010_05_30-D14-Aqidah-Imam-Asy-Syafi-i_Telaga-rasulullah.mp3&lt;/a&gt;  701K&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_30-D15-Aqidah-Imam-Asy-Syafi-i_Jembatan-Ash-Shirooth.mp3"&gt;D-2010_05_30-D15-Aqidah-Imam-Asy-Syafi-i_Jembatan-Ash-Shirooth.mp3&lt;/a&gt;  764K&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_30-D16-Aqidah-Imam-Asy-Syafi-i_Menjauhi-perdebatan.mp3"&gt;D-2010_05_30-D16-Aqidah-Imam-Asy-Syafi-i_Menjauhi-perdebatan.mp3&lt;/a&gt;  1.1M&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_30-E.mp3"&gt;D-2010_05_30-E.mp3&lt;/a&gt;  242K&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_30-ETJ01-Melafadzkan-dzikir-setelah-sholat.mp3"&gt;D-2010_05_30-ETJ01-Melafadzkan-dzikir-setelah-sholat.mp3  &lt;/a&gt;267K&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_30-ETJ02-Siapakah-yang-disebut-ahlul-bid-ah.mp3"&gt;D-2010_05_30-ETJ02-Siapakah-yang-disebut-ahlul-bid-ah.mp3&lt;/a&gt;  215K&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_30-ETJ03-Ucapan-aku-akan-sehat-terus.mp3"&gt;D-2010_05_30-ETJ03-Ucapan-aku-akan-sehat-terus.mp3&lt;/a&gt;  99K&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_30-ETJ04-Kotoran-hewan-sembelihan-bukan-najis.mp3"&gt;D-2010_05_30-ETJ04-Kotoran-hewan-sembelihan-bukan-najis.mp3  &lt;/a&gt;94K&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_30-ETJ05-Seorang-dukun-yang-meninggal.mp3"&gt;D-2010_05_30-ETJ05-Seorang-dukun-yang-meninggal.mp3&lt;/a&gt;  256K&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_30-ETJ06-Apakah-sunnah-sholat-tahajjud-setiap-hari.mp3"&gt;D-2010_05_30-ETJ06-Apakah-sunnah-sholat-tahajjud-setiap-hari.mp3&lt;/a&gt;  106K&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_30-ETJ07-Apa-batasan-laki2-menyerupai-wanita.mp3"&gt;D-2010_05_30-ETJ07-Apa-batasan-laki2-menyerupai-wanita.mp3&lt;/a&gt;  230K&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_30-ETJ08-Apakah-yazid-bin-muawiyah-memenggal-leher-Al-Husai-bin-Ali.mp3"&gt;D-2010_05_30-ETJ08-Apakah-yazid-bin-muawiyah-memenggal-leher-Al-Husai-bin-Ali.mp3&lt;/a&gt;  159K&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_30-ETJ09-Apakah-orang-kafir-jg-melewati-jembatan-AshShirooth.mp3"&gt;D-2010_05_30-ETJ09-Apakah-orang-kafir-jg-melewati-jembatan-AshShirooth.mp3&lt;/a&gt;  146K&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_30-ETJ10-Apakah-yang-dihisab-akan-mendapatkan-adzab.mp3"&gt;D-2010_05_30-ETJ10-Apakah-yang-dihisab-akan-mendapatkan-adzab.mp3&lt;/a&gt;  109K&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_30-ETJ11-Bagaimana-jk-ular-msk-kedlm-rumah.mp3"&gt;D-2010_05_30-ETJ11-Bagaimana-jk-ular-msk-kedlm-rumah.mp3&lt;/a&gt;  142K&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_30-ETJ12-Apakah-rasulullah-sholat-witir-atau-tahajjud-11-rakaat.mp3"&gt;D-2010_05_30-ETJ12-Apakah-rasulullah-sholat-witir-atau-tahajjud-11-rakaat.mp3  &lt;/a&gt;60K&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_30-ETJ13-Bila-imam-salah-bacaannya-apakah-makmum-blh-memutus-Al-Fatihahnya.mp3"&gt;D-2010_05_30-ETJ13-Bila-imam-salah-bacaannya-apakah-makmum-blh-memutus-Al-Fatihahnya.mp3&lt;/a&gt;  111K&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_30-ETJ14-Bila-telat-sholat-shubuh-apakh-blh-sholat-sunnah-dulu.mp3"&gt;D-2010_05_30-ETJ14-Bila-telat-sholat-shubuh-apakh-blh-sholat-sunnah-dulu.mp3  &lt;/a&gt;90K&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_30-ETJ15-Apakah-kitab2-imam-syafi-i-dipakai-olh-masy-indonesia.mp3"&gt;D-2010_05_30-ETJ15-Apakah-kitab2-imam-syafi-i-dipakai-olh-masy-indonesia.mp3&lt;/a&gt;  195K&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_30-ETJ16-Hukum-mengucapkan-shalawat-ktika-mendengar-nama-rasulullah.mp3"&gt;D-2010_05_30-ETJ16-Hukum-mengucapkan-shalawat-ktika-mendengar-nama-rasulullah.mp3  &lt;/a&gt;140K&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/UD/Dauroh-Cepogo-2010_05_28-30/D-2010_05_30-ETJ17-Apakah-sama-antara-maksiat-dengan-kesyirikan.mp3"&gt;D-2010_05_30-ETJ17-Apakah-sama-antara-maksiat-dengan-kesyirikan.mp3&lt;/a&gt;  81K&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ashthy.wordpress.com/"&gt;&lt;br /&gt;http://ashthy.wordpress.com&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2697845295052805777-7650329648465926745?l=salafiyunm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://salafiyunm.blogspot.com/feeds/7650329648465926745/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://salafiyunm.blogspot.com/2010/07/dauroh-cepogo-28-30-mei-2010.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2697845295052805777/posts/default/7650329648465926745'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2697845295052805777/posts/default/7650329648465926745'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://salafiyunm.blogspot.com/2010/07/dauroh-cepogo-28-30-mei-2010.html' title='Dauroh Cepogo 28 – 30 Mei 2010'/><author><name>salafy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01883732528935283225</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2697845295052805777.post-7129722655039701686</id><published>2010-06-12T17:25:00.000-07:00</published><updated>2010-06-12T17:26:22.197-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Info Kajian'/><title type='text'>Daurah Tajwid dan Daurah Salafiyah XVII Makassar</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;InsyaAllah tanggal &lt;strong&gt;&lt;u&gt;3 – 13 Rajab 1431 H&lt;/u&gt;&lt;/strong&gt; / &lt;strong&gt;&lt;u&gt;17  – 26 Juni 2010&lt;/u&gt;&lt;/strong&gt;, Panitia Daurah dan Kajian Ahlussunnah dan  Pesantren As-Sunnah Makassar akan mengadakan Daurah Salafiyah yang  insyaAllah akan menghadirkan beberapa asatidzah Salafy di Makassar,  Pangkep, Gowa dan sekitarnya. Alhamdulillah Daurah Salafiyah kali ini di  rangkaikan dengan &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;Daurah Tajwid&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;  yang akan disampaikan oleh &lt;strong&gt;Al-Ustadz Na’im&lt;/strong&gt; (Pengasuh  Pesantren Al-Madinah Solo yang juga merupakan tim redaksi Majalah  An-Nashihah dan Majalah Akhwat). Selain Al-Ustadz Na’im, 2 ustadz dari  Jakarta insyaAllah akan berpartisipasi sebagai pemateri di daurah ini  yaitu &lt;strong&gt;Al-Ustadz Ja’far Sholih&lt;/strong&gt; (Da’i Jakarta dan  Penasehat website &lt;a href="http://www.ahlussunnah-jakarta.com/"&gt;&lt;strong&gt;www.ahlussunnah-jakarta.com&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;)  dan &lt;strong&gt;Al-Ustadz Ali Basuki&lt;/strong&gt; (Da’i Jakarta dan penulis di  Majalah Akhwat)&lt;span id="more-745"&gt;&lt;/span&gt;. Daurah yang berlangsung  sekitar 8 hari ini insyaAllah akan diadakan di &lt;strong&gt;Pesantren  As-Sunnah Makassar &lt;/strong&gt;dengan total pemateri berjumlah 9 ustadz  dengan tema-tema kajian yang insyaAllah bermanfaat untuk kaum muslimin.  Peserta Daurah terbuka untuk umum (&lt;strong&gt;Ikhwan&lt;/strong&gt; dan &lt;strong&gt;Akhwat&lt;/strong&gt;).   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Daurah ini insyaAllah akan selalu kami siarkan langsung via &lt;strong&gt;&lt;span style="color:#0000ff;"&gt;Radio An-Nashihah 107.5 FM&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; serta via  Radio Streaming Internet di &lt;strong&gt;&lt;a href="http://www.an-nashihah.com/"&gt;www.an-nashihah.com&lt;/a&gt;  / &lt;a href="http://www.an-nashihah.net/"&gt;www.an-nashihah.net&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;  / &lt;strong&gt;&lt;a href="http://www.almakassari.com/"&gt;www.almakassari.com&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;  / &lt;strong&gt;&lt;a href="http://www.syiarsunnah.com/"&gt;www.syiarsunnah.com&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;  , dan para pendengar via Internet dapat mengirimkan pertanyaan via  Yahoo Messenger kami dengan ID &lt;strong&gt;ahlussunnahmakassar&lt;/strong&gt;.&lt;br /&gt;  InsyaAllah rekaman Daurah Tajwid dan Daurah Salafiyah akan kami  usahakan sediakan juga untuk didownload. Untuk jadwal Daurah Salafiyah  ini bisa dilihat di tabel kegiatan daurah berikut ini :&lt;br /&gt;  &lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;u&gt;Jadwal  Daurah Tajwid &amp;amp; Daurah Salafiyah&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;(Daurah Tajwid=17-22 Juni Pagi dan sore, Daurah  Salafiyah 17-22 Juni Ba’da Maghrib-21.00, dan 23 Juni, 09.00-21.00)&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;table style="text-align: left; margin-left: 0px; margin-right: 0px;" width="644" border="1" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt; &lt;tbody&gt;&lt;tr valign="middle" bgcolor="#66ccff"&gt; &lt;td width="41"&gt; &lt;p align="center"&gt;&lt;strong&gt;Tgl&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;/td&gt; &lt;td width="187"&gt; &lt;p align="center"&gt;&lt;strong&gt;Pagi &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;/td&gt; &lt;td width="194"&gt; &lt;p align="center"&gt;&lt;strong&gt;Sore&lt;br /&gt;      (Ba’da Ashar-17.30)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;/td&gt; &lt;td width="202"&gt; &lt;p align="center"&gt;&lt;strong&gt;Malam&lt;br /&gt;    &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;(Ba’da Maghrib-21.00) &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr valign="middle"&gt; &lt;td width="41" bgcolor="#ffc64f"&gt; &lt;p align="center"&gt;&lt;strong&gt;17 &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;/td&gt; &lt;td width="187" bgcolor="#99ff99"&gt; &lt;p align="center"&gt;Tajwid&lt;br /&gt;      (&lt;strong&gt;Ustadz Muhammad Na’im&lt;/strong&gt;)&lt;br /&gt;06.00.11.30&lt;/p&gt; &lt;/td&gt; &lt;td width="194" bgcolor="#99ff99"&gt; &lt;p align="center"&gt;Tajwid&lt;br /&gt;    (&lt;strong&gt;Ustadz Muhammad Na’im&lt;/strong&gt;)    &lt;/p&gt; &lt;/td&gt; &lt;td width="202" bgcolor="#99ff99"&gt; &lt;p align="center"&gt;Tajwid&lt;br /&gt;(&lt;strong&gt;Ustadz Muhammad Na’im&lt;/strong&gt;)&lt;/p&gt; &lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr valign="middle"&gt; &lt;td width="41" bgcolor="#ffc64f"&gt; &lt;p align="center"&gt;&lt;strong&gt;18&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;/td&gt; &lt;td width="187" bgcolor="#99ff99"&gt; &lt;p align="center"&gt;Tajwid&lt;br /&gt;(&lt;strong&gt;Ustadz Muhammad Na’im&lt;/strong&gt;)&lt;br /&gt;06.00.11.30&lt;/p&gt; &lt;/td&gt; &lt;td width="194" bgcolor="#99ff99"&gt; &lt;p align="center"&gt;Tajwid&lt;br /&gt;(&lt;strong&gt;Ustadz Muhammad Na’im&lt;/strong&gt;)&lt;/p&gt; &lt;/td&gt; &lt;td width="202" bgcolor="#99ff99"&gt; &lt;p align="center"&gt;Tajwid&lt;br /&gt;(&lt;strong&gt;Ustadz Muhammad Na’im&lt;/strong&gt;)&lt;/p&gt; &lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr valign="middle"&gt; &lt;td width="41" bgcolor="#ffc64f"&gt; &lt;p align="center"&gt;&lt;strong&gt;19&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;/td&gt; &lt;td width="187" bgcolor="#99ff99"&gt; &lt;p align="center"&gt;Tajwid&lt;br /&gt;(&lt;strong&gt;Ustadz Muhammad Na’im&lt;/strong&gt;)&lt;br /&gt;06.00.11.30&lt;/p&gt; &lt;/td&gt; &lt;td width="194" bgcolor="#99ff99"&gt; &lt;p align="center"&gt;Tajwid&lt;br /&gt;(&lt;strong&gt;Ustadz Muhammad Na’im&lt;/strong&gt;)&lt;/p&gt; &lt;/td&gt; &lt;td width="202" bgcolor="#99cccc"&gt; &lt;p align="center"&gt;&lt;strong&gt;Ustadz Azhari&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;        &lt;u&gt;Etika Seorang Penuntut Ilmu (Surat Imam Adz-Dzahabi kepada  muridnya : Muhammad bin Rofi’ As-Salami&lt;/u&gt;)&lt;/p&gt; &lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr valign="middle"&gt; &lt;td width="41" bgcolor="#ffc64f" height="95"&gt; &lt;p align="center"&gt;&lt;strong&gt;20&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;/td&gt; &lt;td width="187" bgcolor="#99ff99"&gt; &lt;p align="center"&gt;Tajwid&lt;br /&gt;(&lt;strong&gt;Ustadz Muhammad Na’im&lt;/strong&gt;)&lt;br /&gt;06.00.11.30&lt;/p&gt; &lt;/td&gt; &lt;td width="194" bgcolor="#99ff99"&gt; &lt;p align="center"&gt;Tajwid&lt;br /&gt;(&lt;strong&gt;Ustadz Muhammad Na’im&lt;/strong&gt;)&lt;/p&gt; &lt;/td&gt; &lt;td width="202" bgcolor="#ccffcc"&gt; &lt;p align="center"&gt;&lt;strong&gt;Ustadz Abdul Qadir &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;    (&lt;u&gt;Mengenal Jalan Keselamatan, Bab Amar Ma’ruf Nahi Mungkar/ Kitab  Riyadhush Sholihin&lt;/u&gt;)&lt;/p&gt; &lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr valign="middle"&gt; &lt;td width="41" bgcolor="#ffc64f" height="70"&gt; &lt;p align="center"&gt;&lt;strong&gt;21&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;/td&gt; &lt;td width="187" bgcolor="#99ff99"&gt; &lt;p align="center"&gt;Tajwid&lt;br /&gt;(&lt;strong&gt;Ustadz Muhammad Na’im&lt;/strong&gt;)&lt;br /&gt;06.00.11.30&lt;/p&gt; &lt;/td&gt; &lt;td width="194" bgcolor="#99ff99"&gt; &lt;p align="center"&gt;Tajwid&lt;br /&gt;(&lt;strong&gt;Ustadz Muhammad Na’im&lt;/strong&gt;)&lt;/p&gt; &lt;/td&gt; &lt;td width="202" bgcolor="#ffff99"&gt; &lt;p align="center"&gt;&lt;strong&gt;Ustadz Dzulqarnain &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;    (&lt;u&gt;Kaidah-kaidah Menuju Kesucian Jiwa&lt;/u&gt;)&lt;/p&gt; &lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr valign="middle"&gt; &lt;td width="41" bgcolor="#ffc64f"&gt; &lt;p align="center"&gt;&lt;strong&gt;22&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;/td&gt; &lt;td width="187" bgcolor="#99ff99"&gt; &lt;p align="center"&gt;Tajwid&lt;br /&gt;(&lt;strong&gt;Ustadz Muhammad Na’im&lt;/strong&gt;)&lt;br /&gt;06.00.11.30&lt;/p&gt; &lt;/td&gt; &lt;td width="194" bgcolor="#99ff99"&gt; &lt;p align="center"&gt;Tajwid&lt;br /&gt;(&lt;strong&gt;Ustadz Muhammad Na’im&lt;/strong&gt;)&lt;/p&gt; &lt;/td&gt; &lt;td width="202" bgcolor="#66ccff"&gt; &lt;p align="center"&gt;&lt;strong&gt;Ustadz Khidir&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;      (&lt;u&gt;Hidup dengan Al-Qur’an&lt;/u&gt;)&lt;/p&gt; &lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr valign="middle"&gt; &lt;td width="41" bgcolor="#ffc64f" height="91"&gt; &lt;p align="center"&gt;&lt;strong&gt;23&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;/td&gt; &lt;td width="187" bgcolor="#00cc66"&gt; &lt;p align="center"&gt;&lt;strong&gt;Ust Ali Abbas&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;      (&lt;u&gt;Meraih Berkah diatas Jalan Salafus Shalih&lt;/u&gt;)&lt;br /&gt;      09.00-15.00&lt;/p&gt; &lt;/td&gt; &lt;td width="194" bgcolor="#00cc66"&gt; &lt;p align="center"&gt;&lt;strong&gt;Ustadz Ali Abbas&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;(&lt;u&gt;Meraih Berkah diatas Jalan Salafus Shalih&lt;/u&gt;)&lt;br /&gt;09.00-15.00&lt;/p&gt; &lt;/td&gt; &lt;td width="202" bgcolor="#33cc99"&gt; &lt;p align="center"&gt;&lt;strong&gt;Ustadz Abdurrahim&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;      (&lt;u&gt;Islam Rahmatan Lil ‘Alamin, Kaitannya dengan Syariat Islam&lt;/u&gt;)&lt;/p&gt; &lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr valign="middle"&gt; &lt;td width="41" bgcolor="#ffc64f"&gt; &lt;p align="center"&gt;&lt;strong&gt;26&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;/td&gt; &lt;td width="187" bgcolor="#ffe375"&gt; &lt;p align="center"&gt;&lt;strong&gt;Ustadz Ja’far Shalih&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;        &lt;u&gt;Menggali Kandungan Surah Al-Fathihah&lt;/u&gt;&lt;br /&gt;        (Pembacaan Kitab Ba’du Fawaid Surah Al-Fathihah karya Syaikh  Muhammad bin Abdul Wahhab)&lt;br /&gt;        09.00-11.30&lt;/p&gt; &lt;/td&gt; &lt;td width="194" bgcolor="#ffff00"&gt; &lt;p align="center"&gt;&lt;strong&gt;Ustadz Ali Basuki &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;        &lt;u&gt;Karakteristik Orang yang Berakal&lt;br /&gt;        &lt;/u&gt;16.00-17.30&lt;u&gt;&lt;br /&gt;        &lt;/u&gt;&lt;/p&gt; &lt;/td&gt; &lt;td width="202"&gt; &lt;p align="center"&gt;&lt;strong&gt;Penutupan&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;strong&gt;&lt;u&gt;Catatan : &lt;/u&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;* Khusus tanggal 24-25 Juni 2010 Materi Daurah diliburkan dan  insyaAllah akan dilanjutkan tanggal 26 Juni 2010&lt;br /&gt;  * Bagi kaum muslimin yang ingin menginap di lokasi daurah insyaAllah  bisa menggunakan fasilitas yang telah disediakan Ma’had di lokasi Daurah  ini. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Info&lt;/strong&gt; : &lt;strong&gt;081343581520&lt;/strong&gt; / &lt;strong&gt;081241788087&lt;/strong&gt;  / email : &lt;strong&gt;panitia @ almakassari.com &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2697845295052805777-7129722655039701686?l=salafiyunm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://salafiyunm.blogspot.com/feeds/7129722655039701686/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://salafiyunm.blogspot.com/2010/06/daurah-tajwid-dan-daurah-salafiyah-xvii.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2697845295052805777/posts/default/7129722655039701686'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2697845295052805777/posts/default/7129722655039701686'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://salafiyunm.blogspot.com/2010/06/daurah-tajwid-dan-daurah-salafiyah-xvii.html' title='Daurah Tajwid dan Daurah Salafiyah XVII Makassar'/><author><name>salafy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01883732528935283225</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2697845295052805777.post-414827846031651710</id><published>2010-06-10T17:51:00.000-07:00</published><updated>2010-06-10T17:55:30.511-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Download'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Daurah'/><title type='text'>Daurah Madiun – Ustadz Muhammad Umar As Sewed – Persatuan Umat dengan Al Quran As Sunnah</title><content type='html'>&lt;div id="attachment_1232" class="wp-caption aligncenter" style="width: 523px;"&gt;&lt;img class="size-full wp-image-1232" title="Daurah Madiun -  Ustadz Muhammad Umar As Sewed - Persatuan Umat dengan Al Quran As  Sunnah" src="http://www.ilmoe.com/wp-content/uploads/2010/06/Daurah-Madiun-Ustadz-Muhammad-Umar-As-Sewed-Persatuan-Umat-dengan-Al-Quran-As-Sunnah.jpg" alt="Daurah Madiun - Ustadz Muhammad Umar As Sewed - Persatuan Umat  dengan Al Quran As Sunnah" width="513" height="386" /&gt;&lt;p class="wp-caption-text"&gt;Daurah Madiun - Ustadz Muhammad Umar As Sewed -  Persatuan Umat dengan Al Quran As Sunnah&lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;p&gt;Alhamdulillah, dapat filenya dari www.abu-adam.com/Blog. &lt;strong&gt;Al  Ustadz Muhammad Umar As Sewed&lt;/strong&gt; menerangkan makna berpegang  dengan &lt;strong&gt;Al Quran&lt;/strong&gt; dan &lt;strong&gt;As Sunnah&lt;/strong&gt;,  bagaimana aplikasinya dalam kehidupan untuk mewujudkan&lt;strong&gt; persatuan  umat yang hakiki&lt;/strong&gt;. Pada bagian akhir ceramah sesi ke dua  terdapat nashihat untuk ikhwan mengenai dakwah di dunia maya (internet).&lt;/p&gt; &lt;pre&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/manhaj/Persatuan-Umat-Islam/Persatuan-Umat-Islam-Daurah-Madiun-Ustadz-Muhammad-Umar-As-Sewed-Sesi-1.mp3" onclick="javascript:pageTracker._trackPageview('/downloadsstatics./kajian/manhaj/Persatuan-Umat-Islam/Persatuan-Umat-Islam-Daurah-Madiun-Ustadz-Muhammad-Umar-As-Sewed-Sesi-1.mp3');"&gt;Persatuan-Umat-Islam-Daurah-Madiun-Ustadz-Muhammad-Umar-As-Sewed-Sesi-1.mp3&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/manhaj/Persatuan-Umat-Islam/Persatuan-Umat-Islam-Daurah-Madiun-Ustadz-Muhammad-Umar-As-Sewed-Sesi-2.mp3" onclick="javascript:pageTracker._trackPageview('/downloadsstatics./kajian/manhaj/Persatuan-Umat-Islam/Persatuan-Umat-Islam-Daurah-Madiun-Ustadz-Muhammad-Umar-As-Sewed-Sesi-2.mp3');"&gt;Persatuan-Umat-Islam-Daurah-Madiun-Ustadz-Muhammad-Umar-As-Sewed-Sesi-2.mp3&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/pre&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2697845295052805777-414827846031651710?l=salafiyunm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://salafiyunm.blogspot.com/feeds/414827846031651710/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://salafiyunm.blogspot.com/2010/06/daurah-madiun-ustadz-muhammad-umar-as.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2697845295052805777/posts/default/414827846031651710'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2697845295052805777/posts/default/414827846031651710'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://salafiyunm.blogspot.com/2010/06/daurah-madiun-ustadz-muhammad-umar-as.html' title='Daurah Madiun – Ustadz Muhammad Umar As Sewed – Persatuan Umat dengan Al Quran As Sunnah'/><author><name>salafy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01883732528935283225</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2697845295052805777.post-1501001886496226722</id><published>2010-05-21T18:23:00.000-07:00</published><updated>2010-05-21T18:24:41.976-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Info Kajian'/><title type='text'>Kajian Ilmiyah “SYIAH-SUNNI Bergandengan Tangan, Mungkinkah ?</title><content type='html'>&lt;span class="addthis_separator"&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://almakassari.com/wp-images/daurah-syiah.jpg"&gt;&lt;img src="http://almakassari.com/wp-images/daurah-syiah-kecil.jpg" align="left" border="1" hspace="5" /&gt;&lt;/a&gt;InsyaAllah dengan kemudahan dari Allah, akan diadakan Kajian Ilmiyah tentang Syiah yang akan diadakan di Masjid Al-Aafiyah Fakultas Kedokteran UNHAS.. Adapun tema untuk tabligh akbar tersebut adalah "&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:#0000ff;"&gt;SYIAH-SUNNI Bergandengan Tangan, Mungkinkah ? (Catatan-catatan Ilmiah untuk Quraish Shihab)&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;". Berikut ini adalah rincian infonya : &lt;p&gt;Waktu : &lt;strong&gt;Hari Ahad, 6 Jumadil Akhir 1431H / 23 Mei 2010&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;  Pukul : &lt;strong&gt;09.00.00 WITA – selesai &lt;/strong&gt;&lt;span id="more-742"&gt;&lt;/
